Ratusan Akademisi dan Cendekiawan Bela Rekan Eropa yang Dikenai Sanksi oleh pemerintah China
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.

Jumat, 02 April 2021

Ratusan Akademisi dan Cendekiawan Bela Rekan Eropa yang Dikenai Sanksi oleh pemerintah China

Ikuti kami:
Google
Ratusan Akademisi dan Cendekiawan Bela Rekan Eropa yang Dikenai Sanksi oleh pemerintah China
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin menjawab pertanyaan para wartawan di Beijing, 14 Desember 2020. Kementerian itu menjatuhkan sanksi kepada Mercator Institute for China Studies di Jerman, Alliance of Democracies Foundation di Denmark dan lainnya.

BorneoTribun.com -- Ratusan akademisi dan cendekiawan dari seluruh dunia menandatangani pernyataan bersama yang mendukung rekan-rekan Eropa yang dilarang oleh pemerintah China untuk datang ke negara itu, dan karya-karya mereka dikenai sanksi.

Kementerian Luar Negeri China mengumumkan sanksi-sanksi itu minggu lalu, antara lain terhadap Mercator Institute for China Studies di Jerman, the Alliance of Democracies Foundation di Denmark, serta berbagai lembaga dan individu lain. 

Mereka dituduh “melemahkan kedaulatan dan kepentingan China, serta menyebarkan kebohongan dan disinformasi secara jahat.”

Ketika mengumumkan langkah itu, Kementerian Luar Negeri China mengatakan sanksi-sanksi itu merupakan tanggapan terhadap sanksi-sanksi yang diumumkan Inggris dan Uni Eropa sebelumnya terkait sikap China terhadap minoritas Uighur di kawasan Xinjiang, di bagian barat negara itu.

Kini para akademisi di seluruh Amerika, Eropa, dan Asia menambahkan nama mereka sebuah daftar yang semakin panjang dibawah sebuah pernyataan solidaritas dengan rekan-rekan mereka yang diboikot pemerintah China itu. Sebuah pernyataan serupa telah ditandatangani oleh 37 direktur dari lembaga penelitian di Eropa.

“Cukup merisaukan bahwa pemerintah China di bawah Xi Jin Ping berusaha membungkam diskusi mengenai topik-topik yang mereka nilai kontroversial di kalangan akademisi di China, termasuk Xinjiang, dan sekarang Hong Kong,” kata Profesor Martin Flaherty di Princeton University, salah satu dari hampir 1.000 akademisi di Eropa, Amerika Utara, dan Asia yang menandatangani pernyataan ini.

Di antara mereka yang dikenai sanksi China ini adalah Jo Smith Finley, seorang antropolog dan ahli ilmu politik di Newcastle University di Inggris; Adrian Zenz, seorang akademisi Jerman di Victims of Communism Memorial Foundation; dan Björn Jerdén yang memimpin Pusat China Nasional di Swedia.

Di Washington, empat akademisi di salah satu lembaga kajian terkemuka Amerika, the Center for Strategic and International Studies (CSIS), ikut memberikan suara dengan pernyataan yang mendukung Mercator Institute.

“Kalau prasyarat China bagi hubungan yang stabil dengan Barat adalah semua akademisi setuju dengan posisi Beijing seputar Xinjiang, Hong Kong, Taiwan, Tibet, dan ‘garis-garis merah’ lain dan naratifnya – terlepas di mana atau dalam bahasa apa opini itu disebarluaskan – China sayangnya telah menutup pintu bagi pertukaran intelektual yang sesungguhnya,” demikian bunyi pernyataan itu. [jm/em/Voa Indonesia]
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Add on Google
Redaksi
Redaksi
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Bagikan artikel ini

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.

IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.
IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.