Landak Tanggap Darurat Banjir, Puting Beliung, dan Longsor: 36 Ribu Jiwa Terdampak

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Minggu, 26 Januari 2025

Landak Tanggap Darurat Banjir, Puting Beliung, dan Longsor: 36 Ribu Jiwa Terdampak

Landak Tanggap Darurat Banjir, Puting Beliung, dan Longsor: 36 Ribu Jiwa Terdampak.

LANDAK - Bupati Landak resmi menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, angin puting beliung, dan tanah longsor yang berlaku mulai 22 Januari hingga 22 Februari 2025. Keputusan ini tertuang dalam Surat Nomor 8/BPBD/TAHUN/2025, berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Landak per 26 Januari 2025. Status ini diberlakukan setelah bencana melanda 9 kecamatan dan 34 desa di Landak dengan total sekitar 36.030 jiwa terdampak.

BPBD Landak mencatat banjir paling parah terjadi di Kecamatan Ngabang, Menyuke, Mempawah Hulu, Sompak, hingga Kuala Behe. Bahkan, banjir kiriman dari beberapa kecamatan juga sudah sampai ke ibu kota kabupaten, Ngabang. "Kami terus melakukan evakuasi, pendataan, dan menyiapkan posko pengungsian di aula kecamatan," ungkap Kepala BPBD Landak dalam laporan resminya.

Ribuan Rumah Terdampak, Infrastruktur Rusak

Data sementara menunjukkan 8.606 KK terdampak dengan 9.024 unit rumah terendam, satu sekolah ikut kena banjir, serta dua akses jalan di Desa Sailo dan Desa Tunang terputus. Di Kecamatan Kuala Behe, satu jembatan hanyut, sementara di Kecamatan Jelimpo satu jembatan rusak berat sehingga kendaraan roda empat tak bisa melintas.

Saat ini, sebanyak 34 KK atau 89 jiwa masih mengungsi di Aula Camat Ngabang dan posko-posko mandiri di dusun-dusun. Meski sebagian air sudah mulai surut di beberapa kecamatan seperti Mempawah Hulu, Sompak, Sengah Temila, dan Menjalin, kondisi di Ngabang masih cukup parah terutama di wilayah hilir. Jalan nasional sempat terputus akibat genangan yang terlalu dalam, sehingga perahu karet menjadi kebutuhan mendesak untuk evakuasi warga.

Pemerintah Gerak Cepat Salurkan Bantuan

Sejak status tanggap darurat diberlakukan, berbagai langkah penanganan dilakukan pemerintah. Mulai dari pencarian dan pertolongan, penyediaan tempat pengungsian, hingga bantuan logistik berupa makanan instan, family kit, dan selimut. Tim kesehatan juga dikerahkan untuk berjaga di posko pengungsian. Bantuan dari organisasi masyarakat serta relawan terus berdatangan, namun pemerintah daerah masih membutuhkan dukungan operasional dan tambahan logistik.

"Air di Ngabang mulai turun sekitar 30 cm, tapi kondisi masih perlu diwaspadai. Relawan, perahu karet, serta logistik tambahan sangat dibutuhkan untuk membantu warga yang masih terisolasi," jelas BPBD Landak.

Kondisi Terkini dan Dampak

Hingga Minggu malam, 26 Januari 2025, tinggi muka air tercatat 20–100 cm di sejumlah titik. Sebagian wilayah sudah mulai surut, namun ancaman banjir susulan masih ada mengingat curah hujan yang cukup tinggi di Landak. Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat pemulihan akses jalan, distribusi bantuan, dan penanganan warga terdampak.

Dengan lebih dari 36 ribu jiwa terdampak dan infrastruktur yang rusak, bencana ini menjadi salah satu yang terbesar di Landak beberapa tahun terakhir. Warga diharapkan tetap waspada dan mengikuti arahan dari petugas lapangan, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah rawan banjir dan longsor.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.