Kesultanan Buton Anugerahkan Gelar Adat Bergengsi ke Menteri Agama, Simbol Kepercayaan dan Harapan Umat

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner

Jumat, 09 Januari 2026

Kesultanan Buton Anugerahkan Gelar Adat Bergengsi ke Menteri Agama, Simbol Kepercayaan dan Harapan Umat

Kesultanan Buton Anugerahkan Gelar Adat Bergengsi ke Menteri Agama, Simbol Kepercayaan dan Harapan Umat
Kesultanan Buton Anugerahkan Gelar Adat Bergengsi ke Menteri Agama, Simbol Kepercayaan dan Harapan Umat.

JAKARTA - Kesultanan Buton kembali menunjukkan perannya sebagai penjaga tradisi dan nilai keislaman Nusantara. Pada Kamis 8 Januari 2026, Menteri Agama Nasaruddin Umar resmi menerima Gelar Kehormatan Adat dari Kesultanan Buton dalam sebuah prosesi khidmat di Baruga Keraton Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Gelar yang disematkan kepada Menteri Agama adalah Mia Ogena I Sara Agama, sebuah gelar adat yang sarat makna dan tanggung jawab. Kapitalau Aukanoyo Kesultanan Buton, La Ode Hasmin Ilimi, menjelaskan bahwa Mia Ogena berarti pembesar atau tokoh besar negeri, sementara I Sara Agama merujuk pada urusan pemerintahan di bidang keagamaan. Jika digabungkan, gelar tersebut dimaknai sebagai pemimpin besar yang mengemban dan memimpin urusan keagamaan dalam pemerintahan.

Menurut La Ode Hasmin, seorang pemegang gelar Mia Ogena dituntut memiliki sifat tabligh, siddiq, fathanah, dan amanah. Artinya, setiap ucapan, sikap, dan langkah hidupnya harus menjadi bentuk pengabdian kepada umat, bangsa, dan negara, dengan tetap menjunjung tinggi ketaatan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul-Nya, serta kebanggaan terhadap agama yang dianut.

Prosesi penganugerahan ini turut disaksikan langsung oleh Sultan Buton La Ode Muhamad Kariu, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka, Wali Kota Baubau Yusran Fahim, Bupati Buton Selatan Muhammad Adios, Kepala Kanwil Kemenag Sulawesi Tenggara Mansur, serta Pelaksana Tugas Kepala Kemenag Kota Baubau Khairiyati Rahmah.

Dalam sambutannya, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan rasa haru dan kerendahan hati atas gelar adat yang diterimanya. Ia mengaku sempat bertanya pada dirinya sendiri apakah layak menerima gelar sebesar itu.

“Secara pribadi, saya merasa mungkin bukan orang yang paling pantas. Namun saya memahami bahwa gelar ini adalah bentuk harapan dan kepercayaan dari Yang Mulia Paduka Sultan serta masyarakat Buton,” ungkapnya dengan nada tulus.

Menag berharap amanah tersebut bisa menjadi pengingat sekaligus pendorong untuk terus berbuat lebih baik, terutama dalam melayani umat Islam. Ia juga menegaskan keyakinannya bahwa semakin besar amanah yang dipikul seseorang, jika dijalankan dengan ikhlas, maka pertolongan dan doa akan lebih mudah dikabulkan oleh Allah SWT.

Pada kesempatan yang sama, Menag juga bercerita tentang kedekatannya dengan masyarakat Buton. Sebagai wujud kecintaannya, ia telah mendirikan Pondok Pesantren Al-Ikhlas di Pulau Buton yang kini menampung hampir 500 santri. Ke depan, ia bahkan berencana membangun pesantren-pesantren lainnya.

Menurutnya, pesantren dan madrasah adalah kebutuhan masa depan. Saat ini, banyak kalangan elit Indonesia justru memilih menyekolahkan anak-anak mereka ke madrasah karena keunggulan akhlak sekaligus prestasi akademik yang ditawarkan.

“Pesantren dan madrasah sudah terbukti melahirkan generasi unggul dengan biaya yang relatif terjangkau, tapi kualitasnya sangat menjanjikan. Bahkan banyak madrasah unggulan sekarang punya daftar tunggu panjang karena prestasinya,” jelas Menag.

Ia juga menegaskan bahwa Buton memiliki posisi istimewa dalam sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara. Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk terus menjaga tradisi keislaman dan budaya lokal, memperkuat ibadah, serta memakmurkan masjid.

“Ukuran keberhasilan seorang Menteri Agama bukanlah banyaknya penghargaan, tapi seberapa dekat umat dengan ajaran agamanya,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Tenggara Andi Sumangerukka menyampaikan bahwa pemberian gelar kehormatan dalam tradisi Kesultanan Buton bukanlah hal biasa. Gelar adat diberikan sebagai bentuk penghormatan atas keteladanan, kebijaksanaan, dan sikap mulia seseorang yang dinilai layak menjadi panutan masyarakat.

Ia menilai penganugerahan gelar Mia Ogena I Sara Agama kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar menjadi simbol kuat harmonisasi antara nilai kebangsaan, nilai keagamaan, dan kearifan budaya lokal. Menurutnya, Menag layak menerima gelar tersebut karena konsistensinya menjaga kemuliaan agama sekaligus memperkuat persatuan bangsa.

“Beliau adalah sosok teladan yang mengabdikan diri sepenuh hati untuk menjaga kemuliaan agama sebagai roh kehidupan bermasyarakat, sekaligus memperkokoh persatuan bangsa,” ujar Gubernur.

Gubernur berharap gelar kehormatan ini semakin menguatkan langkah Menteri Agama dalam mengemban amanah serta menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk terus berkontribusi bagi umat dan bangsa. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Lembaga Adat dan Budaya Kesultanan Buton atas komitmennya melestarikan adat istiadat dan kearifan lokal yang sejalan dengan pembangunan daerah.

Menutup sambutannya, Gubernur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus bersinergi mewujudkan Sulawesi Tenggara yang maju, aman, sejahtera, dan religius, tanpa meninggalkan jati diri budaya yang telah diwariskan para leluhur.

  

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com

Follow Borneotribun.com untuk mendapatkan informasi terkini.

Bagikan artikel ini

Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.