![]() |
| BPJS Kesehatan mencatat biaya gagal ginjal mencapai Rp13 triliun pada 2025. Tingginya biaya terapi seperti hemodialisis membuat pembiayaan per pasien lebih besar dibanding penyakit lain. (Gambar ilustrasi AI) |
Biaya Gagal Ginjal Rp13 Triliun Pada 2025
JAKARTA – Biaya penanganan pasien gagal ginjal di Indonesia tercatat sangat tinggi. Data BPJS Kesehatan menunjukkan total pembiayaan penyakit gagal ginjal sepanjang 2025 mencapai sekitar Rp13 triliun, menjadikannya penyakit dengan biaya tertinggi kedua setelah penyakit jantung.
Analis Kebijakan Penjaminan Manfaat Rujukan Pratama BPJS Kesehatan, drg. Tiffany Monica menyampaikan hal tersebut dalam diskusi kesehatan memperingati Hari Ginjal Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu. Ia menjelaskan tingginya pembiayaan gagal ginjal tidak hanya dipengaruhi jumlah pasien, tetapi juga jenis terapi yang harus dijalani secara berkelanjutan.
Menurut Tiffany, jumlah pasien gagal ginjal pada 2025 tercatat sekitar 640 ribu jiwa. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan pasien penyakit jantung yang mencapai sekitar tiga juta jiwa.
Namun jika dilihat dari sisi pembiayaan per pasien, biaya penanganan gagal ginjal jauh lebih besar. Dengan total biaya Rp13 triliun untuk sekitar 600 ribu pasien, pengeluaran per orang menjadi sangat tinggi dibandingkan penyakit jantung yang menelan Rp17 triliun untuk tiga juta pasien.
“Jadi walaupun memang secara nominal kerusakan atau dampaknya lebih besar jantung, tapi secara pembiayaan per orang ini sebenarnya di ginjal sangat besar,” ujar Tiffany.
Tingginya biaya tersebut berkaitan dengan terapi yang harus dijalani pasien gagal ginjal. Salah satu terapi yang paling umum adalah hemodialisis atau cuci darah yang harus dilakukan secara rutin dua hingga tiga kali setiap minggu.
Selain itu, terdapat juga terapi lain seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) dan transplantasi ginjal yang memerlukan biaya obat-obatan dalam jangka panjang.
BPJS Kesehatan juga mencatat peningkatan klaim layanan hemodialisis pada 2025 sekitar 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun tersebut tercatat sekitar 147 ribu kunjungan klaim layanan hemodialisis.
Dari sisi pembiayaan, total biaya hemodialisis diperkirakan mencapai sekitar Rp7 triliun secara umum sejak 2021. Sementara frekuensi terapi bagi pasien dapat mencapai 9 hingga 12 kali dalam satu bulan.
Untuk terapi CAPD, data klaim BPJS Kesehatan pada 2025 mencatat sekitar 3.247 pasien dengan total pembiayaan sekitar Rp210 miliar. Meski peningkatannya tidak terlalu cepat, jumlah pasien yang beralih ke terapi ini terus bertambah setiap tahun.
Sementara itu, jumlah transplantasi ginjal juga mengalami peningkatan meski tidak signifikan. Pada 2025 tercatat 135 peserta menjalani transplantasi ginjal, sedikit lebih tinggi dibandingkan 130 peserta pada 2024.
BPJS Kesehatan juga mencatat mayoritas kasus gagal ginjal terjadi pada pasien laki-laki, khususnya pada kelompok usia 50 hingga 60 tahun.
Namun demikian, Tiffany menyoroti munculnya kasus gagal ginjal pada kelompok usia produktif. Data klaim BPJS Kesehatan menunjukkan terdapat pasien berusia belasan hingga 20-an tahun yang telah mengalami gangguan ginjal.
Ia menilai kondisi ini menjadi perhatian serius karena penyakit gagal ginjal mulai muncul pada usia yang lebih muda.
Tiffany menekankan pentingnya perubahan pendekatan penanganan penyakit ginjal dari yang bersifat kuratif menuju strategi preventif. Langkah ini dinilai penting untuk menekan beban pembiayaan kesehatan sekaligus menjaga keberlanjutan sistem jaminan kesehatan.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui deteksi dini penyakit ginjal serta edukasi gaya hidup sehat kepada masyarakat. Dengan langkah preventif yang lebih kuat, diharapkan risiko gagal ginjal dapat ditekan dan beban ekonomi jangka panjang bisa dikendalikan.
Dalam konteks ini, tiga kata kunci utama yang menjadi sorotan adalah biaya gagal ginjal, BPJS Kesehatan, dan hemodialisis yang terus meningkat setiap tahunnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com
