![]() |
| IHSG diproyeksikan bergerak volatile dan konsolidasi akibat risiko geopolitik global, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, serta tekanan fiskal Indonesia. (Gambar ilustrasi AI) |
JAKARTA -- Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan cenderung volatile dan bergerak dalam fase konsolidasi.
Proyeksi tersebut disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437 sebagai rentang teknikal yang patut dicermati investor.
Menurut Imam, meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar.
Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, khususnya di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan premi risiko global.
Jalur pelayaran ini merupakan rute vital distribusi energi dunia, yang setiap hari dilalui sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG global.
Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung melakukan rotasi dana ke aset safe haven, memperkuat dolar AS, dan mengurangi eksposur terhadap emerging markets termasuk Indonesia.
Dampaknya, arus modal asing berpotensi tertekan dan meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah serta pergerakan IHSG.
Harga Energi Jadi Pedang Bermata Dua
Kenaikan harga minyak dan batu bara akibat risiko geopolitik memang bisa menjadi sentimen positif bagi saham sektor energi dan pertambangan di Bursa Efek Indonesia.
Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpeluang menikmati kenaikan average selling price (ASP) serta potensi perbaikan margin emiten terkait.
Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi dan geopolitik.
Artinya, jika harga energi bertahan di level tinggi namun tetap terkendali, sektor energi dapat menjadi penopang IHSG.
Namun, Imam mengingatkan bahwa lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan justru dapat menimbulkan tekanan baru.
Risiko inflasi global berpotensi meningkat, sementara rupiah bisa mengalami depresiasi akibat membengkaknya impor migas.
Tekanan ini dapat memperlebar defisit transaksi berjalan serta meningkatkan volatilitas pasar obligasi.
Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang. Situasi tersebut dapat memperbesar tekanan pada IHSG dalam jangka pendek.
Dampak Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat
Selain faktor geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar.
Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif impor global era Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum.
Namun, Trump kemudian merespons dengan mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.
Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif antara 86 persen hingga 143,3 persen.
Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS serta memberikan tekanan tambahan pada neraca perdagangan sektor terkait.
Ketidakpastian kebijakan dagang global ini menambah beban psikologis investor, terutama ketika pasar tengah sensitif terhadap risiko geopolitik dan inflasi.
Peringatan Fiskal dari S&P Global Ratings
Dari dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan adanya tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia.
Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal.
Apabila rasio tersebut tetap tinggi dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat kredit (downgrade) dapat muncul, meskipun saat ini outlook Indonesia masih stabil.
Peringatan ini mendorong pelaku pasar dan pembuat kebijakan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola risiko eksternal dan domestik secara bersamaan.
Data Ekonomi Penting Awal Maret 2026
Memasuki awal Maret 2026, pasar juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting, antara lain:
PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026
Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026
Inflasi Indonesia Februari 2026
PMI ISM Manufaktur AS Februari 2026
PMI ISM Jasa AS Februari 2026
PMI NBS China Februari 2026
Initial Jobless Claims AS
Cadangan Devisa Indonesia
Non-Farm Payrolls AS
Tingkat Pengangguran AS
Data-data tersebut berpotensi memicu pergerakan signifikan di pasar saham, terutama jika hasilnya menyimpang dari ekspektasi pasar.
Arah IHSG Sangat Bergantung pada Stabilitas Energi
Secara keseluruhan, arah IHSG dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh dinamika harga energi dan stabilitas makroekonomi global.
Jika kenaikan harga komoditas bersifat terkendali dan mendukung kinerja emiten energi, maka tekanan pada IHSG bisa relatif terbatas.
Namun, jika lonjakan harga energi berubah menjadi shock inflasi global yang memperlemah rupiah dan meningkatkan imbal hasil obligasi global, maka volatilitas pasar saham Indonesia berpotensi meningkat.
Bagi investor, periode seperti ini menuntut strategi yang lebih selektif dan disiplin dalam manajemen risiko.
Memahami faktor global dan domestik secara menyeluruh akan membantu Anda mengambil keputusan investasi yang lebih rasional di tengah ketidakpastian.
FAQ Seputar Proyeksi IHSG Pekan Ini
1. Mengapa IHSG diproyeksikan volatile?
Karena meningkatnya risiko geopolitik global, ketegangan di Selat Hormuz, serta perubahan kebijakan perdagangan AS yang memicu ketidakpastian pasar.
2. Apa arti support 8.031 dan resistance 8.437?
Support adalah batas bawah yang berpotensi menahan penurunan indeks, sedangkan resistance adalah batas atas yang menjadi area tekanan jual.
3. Apakah sektor energi akan diuntungkan?
Jika harga minyak dan batu bara tetap tinggi namun stabil, sektor energi dan pertambangan berpotensi mencatat kinerja lebih baik.
4. Bagaimana dampak terhadap rupiah?
Lonjakan harga energi yang ekstrem dapat meningkatkan impor migas, menekan neraca transaksi berjalan, dan memicu pelemahan rupiah.
5. Apa yang perlu diperhatikan investor minggu ini?
Investor perlu mencermati rilis data ekonomi domestik dan global serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Borneotribun.com
