Industri Migas Dunia Diperkirakan Kucurkan Tambahan US$300 Miliar Akibat Konflik Timur Tengah

CSS/JS FIT

CSS IKLAN

IKLAN - Geser keatas untuk melanjutkan
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.

Senin, 11 Mei 2026

Industri Migas Dunia Diperkirakan Kucurkan Tambahan US$300 Miliar Akibat Konflik Timur Tengah

Ikuti kami:
Google Google
Konflik Timur Tengah dan perang di Iran diperkirakan memicu tambahan investasi minyak global hingga US$300 miliar dalam lima tahun ke depan.
Konflik Timur Tengah dan perang di Iran diperkirakan memicu tambahan investasi minyak global hingga US$300 miliar dalam lima tahun ke depan.

Borneotribun - Konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Iran, diperkirakan akan memicu lonjakan investasi minyak global hingga US$300 miliar dalam lima tahun ke depan. Prediksi itu disampaikan Managing Partner Kasatkin Consulting, Dmitry Kasatkin, dalam wawancara dengan Sputnik.

Kasatkin mengatakan tambahan investasi tersebut setara dengan kenaikan sekitar 10 persen dibanding proyeksi sebelum konflik terjadi. Menurutnya, ketegangan geopolitik di kawasan mendorong perusahaan energi meningkatkan belanja di sektor hulu migas.

“Tambahan investasi hulu yang terkait dengan konflik diperkirakan mencapai sekitar US$300 miliar dalam lima tahun ke depan,” kata Kasatkin.

Dalam jangka pendek, perang di Iran dinilai mengganggu operasional energi di kawasan Timur Tengah. Risiko terhadap pekerja, distribusi pasokan, logistik, hingga biaya asuransi meningkat seiring memanasnya situasi keamanan.

Namun dalam jangka menengah, kenaikan harga minyak diperkirakan akan mendorong perusahaan energi memperbesar investasi untuk pengeboran, perawatan sumur, dan peningkatan produksi.

Kasatkin memperkirakan sebagian besar tambahan investasi, sekitar US$185 miliar, akan mengalir ke kawasan Teluk Persia. Meski begitu, wilayah produsen minyak lain juga berpotensi mendapatkan dampak positif dari meningkatnya kebutuhan produksi energi global.

Proyek dengan hasil cepat seperti pengeboran shale di Amerika Serikat, hydraulic fracturing, perbaikan sumur, serta pengembangan peralatan bawah tanah diprediksi menjadi sektor yang paling diuntungkan.

Meski permintaan jasa migas diperkirakan meningkat, Kasatkin mengingatkan keuntungan perusahaan kontraktor belum tentu ikut melonjak. Kenaikan biaya peralatan, bahan bakar, asuransi, hingga utang dapat menekan margin industri jasa ladang minyak.

Ia juga menilai tekanan terhadap sektor jasa migas berpotensi memperlambat pertumbuhan produksi minyak global mulai 2026.

Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Diterbitkan oleh: Saputra Berry

Bagikan artikel ini

  
Tambahkan Komentar Anda
Tombol Komentar

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.

IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.
IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.

TAMPIL DI POSTING AJA

Logo Borneotribun
CARI WARTAWAN
Bergabung bersama tim media Borneotribun.com sekarang juga.