![]() |
| Misteri hilangnya Otto Iskandar Dinata setelah diculik Laskar Hitam pada 1945 menjadi salah satu kisah tragis sejarah awal kemerdekaan Indonesia. (Foto ilustrasi AI) |
JAKARTA - Menteri Negara era awal kemerdekaan Indonesia, Otto Iskandar Dinata, diculik kelompok bersenjata Laskar Hitam di Tangerang pada 19 Desember 1945. Tokoh yang dikenal sebagai Otista itu menghilang setelah dibawa ke kawasan pesisir Pantai Mauk dan hingga kini nasibnya tidak pernah diketahui secara pasti.
Otto Iskandar Dinata merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional Indonesia. Pada dekade 1920-an, dia aktif di organisasi Boedi Oetomo dan kemudian terlibat dalam proses persiapan kemerdekaan sebagai anggota BPUPKI serta PPKI.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Presiden Soekarno menunjuk Otto sebagai Menteri Negara. Saat itu, pemerintah Indonesia masih menghadapi situasi keamanan yang belum stabil.
Otto mendapat tugas membantu pembentukan kekuatan militer nasional. Namun, upaya itu tidak mudah karena banyak kelompok bersenjata berasal dari latar belakang berbeda, mulai dari eks anggota PETA, Heiho, hingga bekas prajurit KNIL.
Perbedaan kepentingan memicu ketegangan di sejumlah kelompok bersenjata. Sebagian menolak berada di bawah satu komando pemerintah pusat dan bergerak sendiri dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Situasi tersebut menjadi awal petaka bagi Otto. Pada 19 Desember 1945, dia diculik Laskar Hitam di Tangerang lalu dibawa ke wilayah Pantai Mauk. Sejak saat itu, Otto tidak pernah kembali.
Dalam buku Oto Iskandar di Nata: The Untold Stories karya Iip D. Yahya, disebutkan penculikan Otto diduga dipicu isu yang disebarkan agen-agen NICA. Otto dituduh sebagai mata-mata Belanda untuk melemahkan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh nasional yang mendukung persatuan Indonesia.
Di kalangan Laskar Hitam juga beredar kabar bahwa Otto menguasai uang satu juta gulden Belanda. Tuduhan itu semakin memperkuat anggapan bahwa dirinya berpihak kepada Belanda. Padahal, menurut Iip, uang tersebut berasal dari rampasan perang Jepang yang memang berbentuk mata uang gulden Belanda.
Hingga kini, keberadaan Otto Iskandar Dinata tidak pernah diketahui secara pasti. Dia diduga telah dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut.
Karena tidak ada kepastian mengenai nasibnya, pemerintah kemudian menetapkan 20 Desember 1945 sebagai tanggal wafat Otto Iskandar Dinata.
Tujuh tahun setelah peristiwa penculikan itu, pemerintah menggelar pemakaman simbolis di Bandung. Peti yang dimakamkan tidak berisi jasad Otto, melainkan hanya pasir dan air laut. Makam simbolis tersebut berada di Monumen Pasir Pahlawan.
- Memuat artikel...

