Ikuti kami:
Pesta Babi memang lagi heboh, sepakat. Tahu ente ndak wak, justru Pak Ahmad jauh lebih geger. Begitu keluar gedung KPK, ia lari terbirit-birit, ngacir kencang, pakai langkah seribu. Asli saya yang nonton videonya sampai kram perut ngakak. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indonesia memang negeri ajaib. Di saat rakyat masih ribut soal pesta babi yang bikin jagat maya mendidih, tiba-tiba muncul tontonan baru yang jauh lebih menghibur. Seorang pegawai Bea Cukai keluar dari Gedung KPK lalu berubah jadi atlet lari nasional dadakan.
Namanya Ahmad Dedi. Sumpah, gegernya lebih heboh dari pesta babi. Kalau pesta babi bikin netizen debat soal deforestasi di Papua, aksi Pak Ahmad justru menyatukan bangsa. Semua kompak tertawa. Semua kompak bertanya, “Kenapa bapak lari?”
Video itu sekarang sudah seperti warisan budaya digital Indonesia. Begitu keluar dari Gedung Merah Putih KPK, wartawan mendekat pelan seperti singa mengintai rusa. Kamera siap. Mic siap. Pertanyaan siap.
“Pak Ahmad, boleh komentar?” Eh beliau malah aktifkan mode escape. Bukan jalan cepat ya. Ini lari tipe “aku baru lihat tagihan pinjol tiga generasi.” Langkahnya panjang. Kencang. Fokus. Tatapannya lurus ke depan seperti habis dengar suara sirene kiamat.
Wartawan sampai teriak, “Jangan lari pak!” Tapi Pak Ahmad terus melesat menuju arah Royal Kuningan. Kamera goyang. Nafas wartawan putus-putus. Satu reporter hampir nyerah lalu buka lowongan kerja baru di LinkedIn karena merasa profesinya berubah jadi pelari estafet.
Netizen langsung heboh. Ada yang bilang beliau cocok masuk Olimpiade cabang “menghindari kenyataan.” Ada yang usul Kementerian Pemuda dan Olahraga segera menghubungi beliau untuk Asian Games. Karena jujur saja, sejak video itu muncul, pesta babi langsung tenggelam.
Biasanya Indonesia kalau ada isu heboh bisa tahan seminggu. Tapi ini beda. Timeline langsung penuh analisis langkah kaki Pak Ahmad. Bahkan ada yang menghitung kecepatan larinya pakai ilmu fisika SMA. Katanya kalau ditambah efek suara Naruto, beliau bisa menembus dimensi Bea Cukai Multiverse.
Yang bikin rakyat makin ngakak adalah konteksnya. Beliau diperiksa KPK terkait dugaan penerimaan uang dalam perkara importasi barang di lingkungan Ditjen Bea dan Cukai. KPK mendalami kemungkinan adanya aliran dana dari pihak swasta, termasuk PT Blueray. Nah di sinilah aroma sinetron birokrasi mulai tercium.
Menurut KPK, ada dugaan pengaturan jalur impor supaya barang-barang tertentu bisa masuk tanpa pemeriksaan ketat. Bahasa sederhananya, barang lewat seperti tamu VIP di kondangan pejabat. Tidak dicek. Tidak ditanya. Tinggal lewat sambil senyum.
Padahal rakyat kecil kalau beli barang online dari luar negeri kadang diperlakukan seperti mau impor tank tempur. Beli sepatu? Dicek. Beli tas? Dicek. Beli action figure? Ditahan dulu seperti tersangka kriminal lintas negara. Tapi kalau dugaan ini benar, barang KW malah bisa melenggang santai seperti anak magang titipan. Luar biasa.
KPK juga sudah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus ini. Ada pejabat Bea Cukai dan pihak swasta. Nama-namanya panjang seperti line-up grup WA proyek nasional. Namun tetap saja, di mata rakyat, bintang utama episode ini bukan daftar tersangka.
Tapi Pak Ahmad dan jurus langkah seribunya. Karena jujur saja, rakyat Indonesia itu gampang lupa kasus korupsi. Saking seringnya, otak sudah kebal. Tapi kalau ada pejabat sprint dari wartawan seperti dikejar 40 ormas, nah itu baru membekas di hati.
Bahkan ada yang bilang, “Kalau benar tidak bersalah, kenapa lari?” Pertanyaan sederhana, tapi menghantui republik ini lebih lama dari lagu jedag-jedug TikTok.
Begitulah negeri saya, negeri ente, dan negeri kita, wak. Negeri tempat pesta babi bisa kalah viral oleh bapak-bapak kemeja putih yang mendadak jadi Mardi Lestari.
Besok-besok mungkin wartawan investigasi wajib tes VO2 max sebelum liputan. Siapa tahu narasumber berikutnya bukan cuma lari, tapi sekalian parkour lewat halte TransJakarta.
Satu hal yang pasti. Di negara ini, korupsi mungkin sudah biasa. Tapi koruptor cardio? Nah, itu hiburan premium. Selamat menikmati malam minggu dengan segelas Koptagul. Don’t miss it!
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
REKOMENDASI KAMI
- Memuat artikel...

