![]() |
| Tim gemologi Australia dan Prancis meneliti potensi berlian serta warisan geologi Geopark Meratus di Kalimantan Selatan untuk promosi geowisata dunia. |
BANJAR – Kawasan Geopark Meratus di Kalimantan Selatan kembali menarik perhatian peneliti internasional. Tim gemologi dari Australia dan Prancis melakukan penelitian langsung ke sejumlah geosite unggulan di Pegunungan Meratus untuk mengkaji potensi berlian sekaligus menelusuri jejak geologi purba yang membentuk wilayah tersebut.
Rangkaian penelitian dilakukan di beberapa lokasi penting, termasuk kawasan Taman Hutan Raya Sultan Adam, Kabupaten Banjar. Salah satu fokus utama penelitian tertuju pada batu serpentinit atau dikenal sebagai batu kulit ular yang diyakini memiliki keterkaitan dengan proses terbentuknya berlian di Kalimantan Selatan.
Kepala UPT Tahura Sultan Adam Ainun Jariah menjelaskan batu serpentinit memiliki nilai ilmiah tinggi karena menjadi bukti sejarah geologi purba Pulau Kalimantan.
Menurut Ainun Jariah, batuan tersebut berasal dari dasar samudera purba yang terangkat ke permukaan bumi dan membawa berbagai kandungan mineral bernilai ekonomi, termasuk berlian serta batu ametis.
Kunjungan peneliti internasional diawali di kawasan Mandiangin melalui pemaparan mengenai kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan pengelolaan kawasan konservasi di Tahura Sultan Adam. Rombongan juga menyaksikan pemutaran video profil kawasan di Geo Theater sebagai bagian pengenalan Geopark Meratus.
Selain meneliti potensi geologi, tim gemologi turut mengunjungi area konservasi anggrek dan lokasi habituasi satwa endemik Kalimantan. Kegiatan tersebut bertujuan melihat langsung upaya pelestarian flora dan fauna yang dijalankan secara berkelanjutan di kawasan konservasi Meratus.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju situs Batu Serpentinit Sisik Ular yang dikenal memiliki tekstur unik dan nilai akademik penting dalam kajian geologi dunia. Penelitian ditutup dengan kunjungan ke kawasan Pesanggrahan Belanda di Pegunungan Meratus.
Wakil Ketua Badan Pengurus Geopark Meratus Ali Mustafa mengatakan kunjungan peneliti dari Australia dan Prancis tidak hanya berfokus pada aspek geologi, tetapi juga meneliti karakteristik berlian hasil tambang tradisional Kalimantan Selatan.
Ali Mustafa menyebut penelitian mencakup identifikasi jenis, warna, hingga sistem pertambangan rakyat yang berlangsung turun-temurun di sejumlah wilayah seperti Pumpung, Gabin, dan Karang Intan.
Menurut Ali Mustafa, riset tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat dokumentasi ilmiah terhadap tambang intan tradisional yang selama ini menjadi identitas budaya masyarakat Kalimantan Selatan.
Kunjungan internasional tersebut juga dinilai membuka peluang besar bagi promosi Geopark Meratus di tingkat global. Selain dikenal sebagai kawasan konservasi dan wisata alam, Meratus kini mulai diperhitungkan sebagai pusat penelitian geologi dan warisan bumi dunia.
Ali Mustafa menilai eksposur internasional terhadap berlian Kalimantan dapat memperkuat posisi Geopark Meratus sebagai destinasi geowisata unggulan Indonesia yang memiliki nilai ilmiah, budaya, dan ekonomi sekaligus.
FAQ
Apa tujuan kunjungan peneliti Australia dan Prancis ke Geopark Meratus?
Penelitian dilakukan untuk mengkaji potensi berlian, karakteristik batuan geologi, dan sistem pertambangan tradisional di Kalimantan Selatan.
Apa itu batu serpentinit?
Batu serpentinit merupakan batuan hasil proses geologi purba yang diyakini berkaitan dengan pembentukan mineral bernilai ekonomi seperti berlian.
Di mana lokasi penelitian dilakukan?
Penelitian dilakukan di Tahura Sultan Adam, Mandiangin, Batu Serpentinit Sisik Ular, hingga kawasan Pegunungan Meratus.
Mengapa Geopark Meratus penting?
Geopark Meratus memiliki kekayaan geologi, biodiversitas, dan budaya lokal yang dinilai penting sebagai warisan bumi dan destinasi geowisata dunia.
Apa kaitan Meratus dengan berlian Kalimantan?
Kawasan Meratus memiliki sejarah geologi yang mendukung terbentuknya berlian, termasuk aktivitas tambang intan tradisional yang masih berlangsung hingga kini.
- Memuat artikel...

