Ikuti kami:
Awali Senin dengan senyuman, maksudnya dengan berita yang membanggakan. Soalnya hampir setiap hari kita membaca berita korupsi merajalela, narkoboy, judol, pejabat ditangkap, dll. Kali ini kita sebagai rakyat Indonesia patut bangga untuk Veda Ega yang bersinar di Moto3.
“Bukannya yang membanggakan negeri ini, MBG dan Kopdes, Bang.”
“Hus, ente ni jangan nyinggung itulah. Ini cerita balap-membalap.” Ups
Maaf, kawan saya itu mulutnya lamir, efek belum kena Koptagul, wak. Kita lanjutkan soal balap. Namanya, Veda Ega Pratama. Anak muda Indonesia yang sekarang mulai bikin paddock Moto3 gelisah seperti caleg gagal lihat hasil quick count.
Di GP Prancis 2026 di Bugatti Circuit, Veda finis keempat. Tambahan 13 poin membuat rider Honda Team Asia itu kini mengoleksi 50 poin dan duduk di posisi kelima klasemen sementara Moto3 2026. Posisi lima! Ini bukan lomba balap karung tujuhbelasan. Ini Moto3, tempat bocah-bocah Eropa menikung seperti utang pinjol sudah jatuh tempo.
Yang bikin dunia balap mulai batuk kecil sambil melirik curiga adalah catatan awal Veda ternyata lebih ganas dibanding debut Valentino Rossi dan Marc Marquez.
Rossi pada debut 125cc musim 1996 cuma mengumpulkan 33 poin dalam empat balapan awal. Marquez malah lebih seret lagi. Debut 125cc musim 2008, dia hanya dapat empat poin dari empat race awal. Sementara Veda? Lima seri awal langsung 50 poin.
Lima puluh!
Ini angka yang bikin paddock Moto3 mulai bertanya, “ini anak Indonesia dikasih makan apa?” Karena selama ini Indonesia dikenal sebagai bangsa penonton MotoGP paling barbar sedunia. Jam dua pagi rela begadang sambil teriak di depan TV seperti komentator bayaran. Tapi sekarang beda. Indonesia mulai punya monster sendiri.
Sebelumnya Veda sudah naik podium di GP Brasil. Sekarang finis keempat di Le Mans. Total 50 poin membuatnya menggeser Marco Morelli yang turun ke posisi keenam dengan 48 poin. Jarak ke Valentin Perrone di posisi empat cuma dua poin. Ke Alvaro Carpe di posisi tiga hanya tiga angka. Tipis sekali. Lebih tipis daripada janji politik menjelang pemilu.
Memang Maximo Quiles masih nyaman di puncak klasemen dengan 115 poin bersama CFMOTO Gaviota Aspar Team. Adrian Fernandez juga masih kuat di posisi kedua dengan 69 angka. Tapi masalahnya bukan di situ. Yang bikin kagum adalah untuk pertama kalinya Indonesia tidak cuma numpang lewat di arena Grand Prix.
Selama ini kita cuma jadi penonton fanatik. Beli jersey, debat Rossi vs Marquez sampai putus silaturahmi, tapi pembalap Indonesia sendiri jarang benar-benar diperhitungkan. Veda mengubah itu semua.
Seperti biasa, kalau ada prestasi begini, para pejabat mulai siap-siap pidato, seolah sejak bayi mereka sudah mengajari Veda racing line. Padahal dulu mungkin proposal olahraga nyasar di bawah map studi banding.
Tapi sudahlah. Kali ini rakyat mau menikmati saja. Karena akhirnya ada anak Merah Putih yang bikin dunia balap melirik Indonesia bukan karena pasar penonton terbesar, melainkan karena ancaman baru di lintasan.
Veda Ega Pratama bukan cuma pembalap muda. Dia sedang berubah menjadi simbol, anak Indonesia ternyata bisa ikut mengacak-acak arena yang selama ini terasa eksklusif milik Eropa.
Jujur saja, melihat Merah Putih mulai diperhitungkan di Grand Prix dunia rasanya lebih menyegarkan dari mendengar pidato pejabat yang katanya “menuju Indonesia emas” sambil rakyat masih debat panas soal “benaran swasembada pangan.”
Untuk sekarang, biarkan dulu rakyat menikmati ini. Sebab di tengah berita yang isinya sering bikin migrain nasional, akhirnya ada satu kabar yang membuat Indonesia bisa tersenyum tanpa perlu sensor dan klarifikasi.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
REKOMENDASI KAMI
- Memuat artikel...

