Iklan Tutup X

Sabtu, 20 Juni 2026

Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?

Ikuti kami:
Google
Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalau MBG Salah, Perbaiki, Bukan Disetop, Apakah Kalian Percaya?
Kalian pasti dengar teriak para pendemo pro MBG. “Kalau ada masalah, diperbaiki." "Kalau ada kebocoran, dibenahi." "Kalau ada korupsi, pelakunya ditangkap." "Jangan programnya yang dihentikan." Begitukan? 

Sekilas terdengar masuk akal. Bahkan sangat masuk akal. Siapa juga yang tega menolak anak-anak mendapatkan makanan bergizi? Siapa yang berani terang-terangan bilang anak sekolah tidak perlu makan siang?

Masalahnya bukan di situ. Masalahnya justru ada pada pertanyaan paling sederhana yang terus dihindari, “Diperbaiki bagaimana?”

Karena yang sedang dihadapi bukan sekadar kesalahan teknis. Bukan sekadar nasi kurang matang atau lauk kurang garam. Yang sedang dihadapi adalah penyakit kronis bernama korupsi yang sudah bermetastasis ke hampir seluruh organ birokrasi. Sudah jadi budaya, local wisdom, ciri khas negeri.

Kalau pipa bocor, ya diganti. Kalau jalan berlubang, ya ditambal. Kalau mental korupsi sudah akut, mau ditambal pakai apa? Lem Korea? Lakban anti-air? Atau doa bersama tiga malam berturut-turut?

Publik sudah terlalu sering mendengar janji "perbaikan tata kelola". Kalimat itu sudah seperti ringtone lama yang diputar berulang-ulang sejak KPK ngejar Harun Masiku.

Setiap ada skandal, jawabannya sama. Perbaiki tata kelola. Perkuat pengawasan. Tingkatkan transparansi. Evaluasi menyeluruh.

Hasilnya? Koruptor baru lahir lebih cepat dari laporan evaluasinya selesai.

Lihat saja apa yang terjadi di tubuh Badan Gizi Nasional (BGN). Baru seumur jagung, belum juga program berjalan penuh ke seluruh Indonesia, publik sudah disuguhi parade tersangka. Gerombolan Haji Dadan cs betapa rakus mengeruk uang rakyat. Siswa dapat jatah MBG seharga Rp10 ribu, mereka sehari Rp1 miliar. Sudah enam jadi tersangka. 

Enam. Bukan satu. Bukan dua. Enam. Jumlah yang cukup untuk membuat satu tim futsal korupsi lengkap dengan pemain cadangan.

Lalu muncul lagi pernyataan yang lebih bikin jidat berkerut. Menurut Sony, ada sekitar 41 nama yang diduga terlibat dalam praktik jual beli titik SPPG. Empat puluh satu. Kalau angka itu benar, berarti yang terlihat sekarang mungkin baru ujung kumis tikus.

Yang ekornya masih berkeliaran di lorong-lorong gelap birokrasi sambil membawa proposal dan stempel. Yang lebih menarik, Kejaksaan Agung masih terus melakukan pendalaman.

Artinya apa? Artinya cerita ini belum tamat. Filmnya mungkin baru masuk episode pembuka. Karena itulah publik mulai kehilangan kepercayaan. Bukan karena mereka anti-gizi. Bukan karena mereka ingin anak-anak kelaparan. Bukan juga karena mereka membenci MBG. Mereka hanya sudah terlalu lelah dibohongi.

Hari ini ditemukan korupsi. Besok diumumkan perbaikan. Lusa ditemukan korupsi baru. Minggu depan diumumkan reformasi. Bulan depan muncul tersangka tambahan. Siklusnya berputar seperti komidi putar yang mesinnya tidak pernah dimatikan. Lalu ada pertanyaan yang semakin sulit dijawab oleh para pembela program.

Jika sejak awal dana triliunan rupiah saja sudah mengundang kerumunan pemburu rente, apa yang membuat publik yakin gelombang berikutnya tidak akan lebih besar? Apa yang mau diperbaiki? Sistemnya? Orangnya? Pengawasnya? Atau tikusnya yang diminta bertugas menjaga gudang beras?

Karena masalah terbesar MBG hari ini bukan lagi soal menu. Bukan soal telur atau susu. Bukan soal ayam atau tempe. Masalah terbesar MBG adalah krisis kepercayaan.

Publik tidak percaya uangnya akan sampai utuh. Publik tidak percaya nilai gizinya akan sesuai laporan. Publik tidak percaya pengawasnya mampu mengawasi. Publik tidak percaya pelakunya hanya enam orang.

Ketika kepercayaan sudah runtuh, presentasi PowerPoint setebal apa pun tidak akan cukup untuk memperbaikinya. Maka ketika ada yang berkata, "Kalau MBG salah, perbaiki, jangan disetop," publik sebenarnya ingin bertanya balik.

Baik. Diperbaiki. Tapi siapa yang memperbaiki? Orang yang sama? Sistem yang sama? Lingkaran yang sama? Atau tikus-tikus yang selama ini ikut menikmati keju?

Sebab kalau jawabannya masih itu-itu juga, jangan salahkan rakyat jika mereka mulai berpikir, yang sedang diperbaiki bukan programnya, melainkan cara membagi-bagi remahannya.

Semoga dibaca yang masih bersemangat mendukung MBG. Kalau merasa baper, yok kita seruput Koptagul, malam minggu ni, wak!

Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
#camanewak
#jurnalismeyangmenyapa
#JYM
Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Follow
Reza Aditiya g
Reza Aditiya g
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.