![]() |
| Rumah Wamen Perminyakan Irak digerebek penyelidik. Uang tunai Rp251,3 miliar ditemukan tersembunyi di balik dinding dalam operasi besar pemberantasan korupsi. |
Penemuan uang Rp251 miliar yang disembunyikan di balik dinding rumah Wakil Menteri Perminyakan untuk Urusan Distribusi Irak, Ali Maarij Al Bahadly, menjadi salah satu perkembangan paling mencolok dalam operasi pemberantasan korupsi yang sedang digencarkan pemerintah Irak.
Penggerebekan yang dilakukan penyelidik pada akhir pekan lalu mengungkap uang tunai senilai sekitar US$14 juta atau setara Rp251,3 miliar. Uang tersebut terdiri dari US$11 juta dan empat miliar dinar Irak yang disimpan di dalam dinding bangunan di area kolam renang rumah pejabat tersebut.
Dokumentasi yang dirilis Dewan Kehakiman Irak memperlihatkan penyelidik membobol dinding menggunakan palu bor. Setelah tembok dibuka, ditemukan sejumlah koper berisi tumpukan dolar Amerika Serikat dan dinar Irak yang telah diikat rapi. Selain uang tunai, penyidik juga menemukan sebuah jam tangan Rolex berwarna emas di antara barang bukti.
Kasus ini menjadi bagian dari operasi besar yang diperintahkan Perdana Menteri Irak, Ali al-Zaidi, sejak dilantik pada 14 Mei 2026. Pemerintah sebelumnya mengumumkan telah menangkap 47 tersangka dalam sehari, mulai dari pejabat kabinet hingga anggota parlemen, sebagai bagian dari upaya membersihkan praktik korupsi Irak yang selama bertahun-tahun menjadi sorotan publik.
![]() |
| Rumah Wamen Perminyakan Irak digerebek penyelidik. Uang tunai Rp251,3 miliar ditemukan tersembunyi di balik dinding dalam operasi besar pemberantasan korupsi. |
Sebagai Wakil Menteri Perminyakan untuk Urusan Distribusi, Al Bahadly memiliki kewenangan mengawasi distribusi dan penjualan produk bahan bakar olahan. Jabatan tersebut dinilai sangat strategis karena berkaitan dengan perusahaan distribusi, pedagang bahan bakar swasta, hingga pembagian kuota bahan bakar di setiap provinsi.
Hakim Ketua Pengadilan Kriminal Pusat untuk Korupsi Irak menyatakan bahwa seluruh uang tersebut ditemukan pada tahap penyelidikan awal. Ia menegaskan proses penyidikan masih terus berjalan untuk mengungkap dugaan tindak pidana yang lebih luas.
Al Bahadly kini telah ditahan dan menjalani proses hukum di Pengadilan Pidana Anti-Korupsi Pusat di Baghdad. Pengadilan tersebut selama ini menangani berbagai perkara kejahatan keuangan yang melibatkan pejabat tinggi negara.
Pemerintah Irak juga melaporkan telah menyita sejumlah aset, memulihkan miliaran dinar hasil dugaan korupsi, serta menjatuhkan hukuman penjara kepada beberapa pejabat. Langkah tersebut dipandang sebagai upaya mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan baru.
Meski demikian, efektivitas operasi ini masih menjadi perdebatan. Peneliti Arab Centre for Research and Policy Studies, Harith Hasan, menilai kampanye antikorupsi berpotensi menghadapi tantangan ketika mulai menyentuh kepentingan politik yang lebih besar.
![]() |
| Rumah Wamen Perminyakan Irak digerebek penyelidik. Uang tunai Rp251,3 miliar ditemukan tersembunyi di balik dinding dalam operasi besar pemberantasan korupsi. |
Menurutnya, keberhasilan operasi tidak hanya diukur dari jumlah penangkapan, tetapi juga dari konsistensi penegakan hukum terhadap seluruh pihak yang terlibat. Ia memperkirakan penangkapan tambahan masih mungkin dilakukan, meski tekanan politik dan keamanan dapat memengaruhi kelanjutan penyelidikan.
Kasus Ali Maarij Al Bahadly kini menjadi perhatian luas karena menunjukkan besarnya nilai aset yang diduga berkaitan dengan praktik korupsi. Seiring berjalannya proses hukum, publik Irak menunggu apakah operasi yang digagas pemerintahan Ali al-Zaidi mampu menghasilkan perubahan nyata dalam pemberantasan korupsi di negara tersebut.
- Memuat artikel...



