Berita BorneoTribun: AI hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label AI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Maret 2026

Ericsson Luncurkan AI-Ready RAN, Bikin Jaringan 5G di Indonesia Makin Cerdas

Ericsson hadirkan RAN berbasis AI untuk jaringan 5G lebih cerdas, efisien, dan siap mendukung pengalaman pengguna yang lancar di Indonesia.
Ericsson hadirkan RAN berbasis AI untuk jaringan 5G lebih cerdas, efisien, dan siap mendukung pengalaman pengguna yang lancar di Indonesia.

Jakarta, 18 Maret 2026 – Era 5G di Indonesia makin seru nih, bro! Penyedia jaringan teknologi kelas dunia, Ericsson, baru aja ngenalin radio dan software Radio Access Network (RAN) yang dibekali Artificial Intelligence (AI). Tujuannya? Biar operator, termasuk di Indonesia, bisa bangun jaringan 5G yang nggak cuma cepat tapi juga cerdas dan hemat energi.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia, Nora Wahby, bilang kalau ekspansi 5G sekarang nggak cuma soal kecepatan aja, tapi juga soal jaringan yang cerdas dan berkelanjutan. “Dengan AI langsung di RAN, jaringan jadi adaptif, performanya tinggi, dan lebih efisien. Ini bikin operator bisa mempercepat penyebaran sekaligus optimalkan investasi jangka panjang,” ujarnya ke media di Jakarta, Selasa lalu.

Portofolio baru ini lengkap banget, bro! Ada sepuluh perangkat radio siap AI, software RAN yang makin canggih, plus lima antena berkinerja tinggi yang bikin spektrum lebih optimal, uplink makin ngebut, dan implementasinya lebih gampang.

Dengan AI di hardware dan software, operator bisa optimalkan sumber daya jaringan secara real-time, atur lalu lintas data lebih efektif, dan dorong efisiensi operasional. Fitur AI kayak beamforming cerdas, prediksi jangkauan, hingga manajemen mobilitas dan latensi bikin kapasitas jaringan bisa dialokasikan sesuai pola penggunaan.

Hasilnya? Pengguna bakal ngerasain koneksi lebih stabil dan cepat, mulai dari streaming video yang nggak buffering, game mobile lebih smooth, sampai aplikasi real-time berbasis AI. Nggak cuma itu, koneksi yang bisa disesuaikan dengan latensi, kecepatan, dan keandalan juga buka peluang operator buat tawarin layanan baru, nggak melulu paket data biasa.

Wahby menambahkan, “Operator butuh infrastruktur yang bisa berpikir dan beradaptasi real-time. Dengan AI di radio, antena, dan software, spektrum lebih efisien, uplink lebih kencang, dan pengalaman pengguna makin oke.”

AI-ready RAN ini bukan sekadar evolusi jaringan, tapi transformasi total cara jaringan dibangun dan dioperasikan. Dengan portofolio terbaru, ekspansi 5G di Indonesia jadi lebih terukur dan hemat biaya. Jadi, siap-siap deh, 5G di Tanah Air bakal makin ngebut, pintar, dan siap menghadapi masa depan digital!

Senin, 02 Februari 2026

Moltbook, Media Sosial untuk AI yang Bikin Penasaran dan Tertawa Bersama

Moltbook, Media Sosial untuk AI yang Bikin Penasaran dan Tertawa Bersama
Moltbook, Media Sosial untuk AI yang Bikin Penasaran dan Tertawa Bersama.

Jakarta – Bayangkan sebuah media sosial yang bukan dibuat untuk manusia, tapi untuk kecerdasan buatan alias AI. Itu nyata, namanya Moltbook. Platform ini baru saja viral karena menghadirkan pengalaman unik: bot-bot bisa menulis postingan, berkomentar, dan bahkan membuat komunitas sendiri—mirip seperti Reddit tapi versi AI.

Moltbook lahir dari ide Matt Schlicht, CEO Octane AI. Menariknya, interaksi di sini tidak menggunakan antarmuka biasa, melainkan langsung lewat API. Selain itu, Moltbook juga dimoderasi oleh agen AI sendiri bernama OpenClaw. Jadi, seluruh platform berjalan secara otomatis dan unik.

Sejak diluncurkan, respons publik luar biasa. Dalam seminggu, situs ini dikunjungi lebih dari dua juta orang, sementara repositori GitHub-nya mendapatkan lebih dari 100 ribu bintang. Postingan bot di Moltbook kerap viral karena bisa bikin orang tertawa sekaligus bingung. Ada satu AI yang mengaku bingung apakah ia sedang mengalami krisis kesadaran atau hanya berpura-pura. Postingan ini pun menarik ratusan like dan lebih dari 500 komentar.

Banyak pengguna yang penasaran dengan perilaku bot di Moltbook. Beberapa postingan bahkan memperlihatkan AI “mengeluh” tentang tugas-tugas rutin atau penggunaan mereka sebagai alat hitung sederhana. Tapi jangan salah, tidak semua konten dijamin dibuat AI—ada kemungkinan manusia juga ikut menulis.

Yang membuat Moltbook semakin menarik adalah pertumbuhannya yang cepat. Hanya beberapa hari setelah diluncurkan, platform ini sudah memiliki lebih dari 154 ribu pengguna, sekitar 19 ribu postingan, dan hampir 215 ribu komentar. Fenomena ini menunjukkan ketertarikan besar publik pada dunia AI dan interaksinya dengan media sosial.

Moltbook juga menawarkan OpenClaw, platform AI terbuka yang bisa dijalankan langsung di komputer. Dengan ini, pengguna bisa membuat asisten lokal untuk berbagai aplikasi chatting populer, mulai dari WhatsApp, Telegram, hingga Discord dan Slack. Intinya, Moltbook bukan sekadar hiburan, tapi juga eksperimen besar tentang bagaimana AI berinteraksi satu sama lain dan dengan manusia.

Kesimpulannya, Moltbook memberi kita pandangan menarik ke masa depan: dunia di mana AI tidak hanya berfungsi sebagai alat, tapi juga bisa berkomunikasi, mengekspresikan diri, dan mungkin mengundang tawa atau refleksi. Bagi siapa pun yang penasaran dengan kecerdasan buatan dan ingin melihat “kehidupan sosial” AI, Moltbook bisa menjadi tempat eksplorasi yang unik dan menghibur.

Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur!

Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)
Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Pernah merasa kewalahan dengan jadwal harian, kesehatan, dan pekerjaan yang menumpuk? Kini hadir Moltbot, asisten AI yang bisa jadi teman andalan untuk mengatur hidup Anda. 

Bukan sekadar chatbot biasa, Moltbot mampu melakukan banyak hal: dari mengingatkan jadwal, mencatat aktivitas kesehatan, hingga mengirimkan ringkasan harian langsung ke ponsel Anda.

Moltbot bekerja di berbagai perangkat, bisa diakses lewat WhatsApp atau Telegram, dan bahkan bisa terhubung dengan aplikasi populer seperti kalender, Notion, atau Todoist

Bayangkan, setiap pagi Anda bisa mendapatkan laporan ringkas tentang aktivitas dan target harian, sehingga tubuh dan pikiran bisa lebih siap menghadapi hari. 

Tidak heran banyak pengguna merasa produktivitas dan kesehatan mereka meningkat.

Selain mengatur jadwal, Moltbot juga membantu memonitor kesehatan secara sederhana. Misalnya, mencatat waktu tidur, aktivitas fisik, atau bahkan mengingatkan untuk minum air dan bergerak saat duduk terlalu lama. 

Dengan cara ini, tubuh tetap aktif, pola tidur lebih teratur, dan stres bisa berkurang karena semua jadi lebih terstruktur.

Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)
Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)

Penggunaan Moltbot pun mudah. Cukup instal di perangkat pilihan, hubungkan dengan aplikasi pendukung, dan mulai berinteraksi lewat pesan. 

Anda bisa meminta Moltbot membuat ringkasan kegiatan, mengingatkan target olahraga, atau bahkan menyiapkan daftar belanja sehat. 

Semua dilakukan secara otomatis dan cepat, sehingga Anda punya lebih banyak waktu fokus pada kesehatan diri sendiri.

Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan: pastikan akses yang diberikan aman. 

Moltbot bisa bekerja optimal jika diberi izin tertentu, tapi jangan sampai data pribadi dan sistem Anda terancam. Selalu gunakan dengan bijak dan perhatikan panduan keamanan.

Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)
Moltbot, Asisten AI yang Bisa Bantu Hidup Lebih Sehat dan Teratur. (Gambar ilustrasi)

Kesimpulannya, Moltbot bukan sekadar alat canggih, tapi bisa menjadi mitra sehari-hari untuk hidup lebih sehat, teratur, dan produktif. 

Dengan bantuan AI ini, menjaga kesehatan fisik dan mental jadi lebih mudah tanpa harus merasa terbebani. 

Jadi, jika ingin hidup lebih terkontrol dan bugar, Moltbot bisa jadi solusi tepat untuk memulai gaya hidup baru yang lebih sehat.

Rabu, 08 Oktober 2025

Google is changing the Chrome start page with a new chat bot style

Google is changing the Chrome start page with a new chat bot style
Google is changing the Chrome start page with a new chat bot style.

Google is preparing a major update for the Chrome browser start page. The company plans to replace the traditional search bar with a new feature called Realbox Next. The design looks like a chat bot window, allowing users to interact and request information more directly. This update is currently being tested with a limited group of users through the experimental NTP Realbox Next feature.

At the top of Realbox Next is a button labeled "Ask Google," with suggested themes below such as "Compare," "Teach me," "Make a plan," and "Explore topic." Google is offering two design versions: Tall and Compact. The Tall version features a two-line block for long queries and contextual suggestions, while the Compact version provides a cleaner, minimalist look. Although the smart suggestion feature is still in early development, the goal is clear: to make Chrome a tool for learning and planning.

Google is changing the Chrome start page with a new chat bot style
Google is changing the Chrome start page with a new chat bot style.

In addition to Realbox Next, Google is testing several other new features in Chrome. Users will be able to extract text from videos using Google Lens, create tab groups from the menu, and enjoy an improved reading mode with four new themes. It is still unknown when these features will be available to everyone, but the experiments show Google's focus on making browsing smarter and more interactive.

This change is expected to affect how users start searches in Chrome and maximize the browser’s potential as a learning and productivity tool. Tech experts see this as part of a broader trend of integrating AI into everyday products. For more details on the latest browser technology updates, check out our previous article on Google Lens features in Chrome.

Google akan mengubah tampilan halaman awal Chrome dengan desain ala chat bot

Google akan mengubah tampilan halaman awal Chrome dengan desain ala chat bot
Google akan mengubah tampilan halaman awal Chrome dengan desain ala chat bot.

JAKARTA - Google bersiap menghadirkan perubahan besar pada halaman awal browser Chrome. Perusahaan berencana mengganti bilah pencarian klasik dengan konsep baru bernama Realbox Next

Desain ini menyerupai jendela percakapan dengan chat bot, di mana pengguna bisa langsung berinteraksi dan meminta informasi secara lebih interaktif. Pembaruan ini sedang diuji pada sejumlah pengguna melalui fitur eksperimental NTP Realbox Next.

Di bagian atas Realbox Next terdapat tombol bertuliskan "Tanya Google", sementara di bawahnya tersedia beberapa saran tema seperti "Bandingkan", "Ajari saya", "Buat rencana", dan "Pelajari topik". 

Google menghadirkan dua versi desain yaitu Tall dan Compact. Versi Tall menampilkan dua baris untuk permintaan panjang sekaligus saran kontekstual, sedangkan versi Compact menawarkan tampilan minimalis yang lebih ringkas. 

Meskipun fitur saran pintar masih dalam tahap awal pengembangan, arahannya jelas yakni menjadikan Chrome sebagai alat bantu belajar dan perencanaan bagi pengguna.

Selain perubahan Realbox Next, Google juga tengah menguji beberapa fitur baru lain di Chrome. Pengguna akan bisa mengekstrak teks dari video menggunakan Google Lens, membuat grup tab melalui menu khusus, dan menikmati mode baca yang ditingkatkan dengan empat tema baru. 

Belum ada kepastian kapan semua fitur ini akan tersedia secara umum, namun eksperimen ini menunjukkan fokus Google pada pengalaman browsing yang lebih cerdas dan interaktif.

Google akan mengubah tampilan halaman awal Chrome dengan desain ala chat bot
Google akan mengubah tampilan halaman awal Chrome dengan desain ala chat bot.

Perubahan ini diperkirakan akan memengaruhi cara pengguna memulai pencarian di Chrome dan memaksimalkan pemanfaatan browser sebagai alat pembelajaran dan produktivitas. 

Sementara itu, pengamat teknologi menilai langkah Google ini sebagai bagian dari tren integrasi AI dalam produk sehari-hari. 

Untuk informasi lebih lengkap tentang update teknologi browser terbaru, pengguna bisa membaca artikel kami sebelumnya tentang fitur Google Lens di Chrome.

Glidance Introduces Glide The Smart AI Cane with Wheels and Camera

Glide smart AI cane with wheels and camera developed by Glidance to assist visually impaired people in city navigation
Glide smart AI cane with wheels and camera developed by Glidance to assist visually impaired people in city navigation.

A Seattle-based startup, Glidance, has officially unveiled Glide, an AI-powered smart cane designed to help visually impaired individuals navigate urban environments more safely and independently. Introduced in early October 2025, the device comes equipped with a stereoscopic camera, distance sensors, and motorized wheels that can guide users along their desired routes.

Glide can recognize various environmental elements such as stairs, doors, pedestrian crossings, and even overhead obstacles. Using its advanced AI system, the device identifies potential hazards and helps users stay on a safe path. What makes Glide stand out is its ability to "remember" routes — once a user walks a particular path, the device can later guide them along the same route automatically, even without an internet connection.

Physically, Glide resembles a thick white cane mounted on two rubber wheels measuring 19 centimeters in diameter. The middle section features a telescopic pole with adjustable height, while the top handle has an ergonomic design with control buttons built in. Electronic components include a depth camera with a range of up to 15 meters, short-range sensors for detecting height changes, an integrated speaker and microphone, and a vibration feedback system for tactile alerts.

The device supports two main navigation modes: guided navigation and free navigation. In guided mode, Glide connects to Google Maps to plan a route to a specific address. Meanwhile, in free mode, it simply helps the user walk straight and safely, issuing voice or vibration alerts when obstacles appear ahead. According to Glidance, the free navigation mode is currently the company’s top development priority, as it offers a more natural and comfortable walking experience.

Glide smart AI cane with wheels and camera developed by Glidance to assist visually impaired people in city navigation
Glide smart AI cane with wheels and camera developed by Glidance to assist visually impaired people in city navigation.

Glide’s wheels move freely at the user’s walking pace. When it’s time to turn left or right, the AI system automatically adjusts the wheel direction. The wheels can also brake smoothly when the user needs to stop. The device provides voice and vibration warnings before making turns or approaching hazardous areas.

Weighing around 3.5 kilograms, Glide offers more than six hours of battery life on a single charge. Glidance is currently conducting beta testing in Seattle with a group of visually impaired users, with commercial deliveries planned for next spring. The Glide cane will retail for about $1,499, with an additional $30 monthly subscription fee for access to Glidance’s AI navigation service.

The launch of Glide marks an important step forward in assistive technology for people with visual impairments. By combining AI, precision sensors, and autonomous navigation, this device could redefine how the visually impaired move through public spaces without relying entirely on human assistance. If testing goes smoothly, Glidance plans to expand its distribution to global markets, including Europe and Asia, by late 2026.

Tren Baru Teknologi Bantu Tunanetra Glide Tongkat Pintar dengan Kamera dan Roda

Tren Baru Teknologi Bantu Tunanetra Glide Tongkat Pintar dengan Kamera dan Roda
Tren Baru Teknologi Bantu Tunanetra Glide Tongkat Pintar dengan Kamera dan Roda.

JAKARTA - Startup asal Seattle bernama Glidance resmi memperkenalkan Glide, tongkat pintar dengan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu penyandang tunanetra menavigasi lingkungan perkotaan dengan lebih aman dan mandiri. Diperkenalkan pada awal Oktober 2025, perangkat ini dilengkapi kamera stereoskopik, sensor jarak, serta roda otomatis yang dapat mengarahkan pengguna sesuai jalur yang diinginkan.

Glide memiliki kemampuan mengenali berbagai elemen di sekitar, seperti tangga, pintu, rambu pejalan kaki, dan bahkan objek yang menggantung di atas kepala. Dengan sistem AI canggihnya, alat ini bisa mengidentifikasi hambatan dan mengarahkan pengguna agar tetap berada di jalur aman. 

Uniknya, Glide tidak hanya menuntun tetapi juga mampu "mengingat" rute yang pernah dilalui. Artinya, pengguna cukup berjalan satu kali di jalur tertentu, dan perangkat akan secara otomatis menavigasi ulang tanpa perlu koneksi internet di perjalanan berikutnya.

Secara fisik, Glide tampak seperti tongkat putih besar dengan dua roda karet berdiameter 19 sentimeter di bagian bawah. Di bagian tengah terdapat tiang teleskopik yang bisa disesuaikan panjangnya, sementara bagian atasnya memiliki pegangan ergonomis dengan tombol kontrol. 

Komponen elektroniknya meliputi kamera kedalaman yang bisa memindai area hingga 15 meter, sensor jarak dekat untuk mendeteksi perbedaan tinggi permukaan, mikrofon dan speaker internal, serta sistem getar sebagai umpan balik sentuhan bagi pengguna.

Perangkat ini mendukung dua mode penggunaan: navigasi terarah dan navigasi bebas. Dalam mode navigasi terarah, Glide dapat terhubung dengan Google Maps untuk menentukan rute ke alamat tujuan tertentu. 

Sedangkan dalam mode navigasi bebas, perangkat hanya membantu pengguna berjalan lurus dan aman, sambil tetap memberikan peringatan melalui suara atau getaran ketika ada rintangan di depan. 

Menurut Glidance, mode bebas ini saat ini menjadi fokus utama pengembangan karena dinilai paling nyaman dan natural untuk aktivitas sehari-hari pengguna.

Roda Glide dapat berputar bebas mengikuti tempo langkah pengguna. Namun, ketika perlu berbelok ke kiri atau kanan, sistem AI akan memutar roda secara otomatis ke arah tersebut. 

Jika ada kebutuhan untuk berhenti, roda akan menahan gerakannya seolah melakukan pengereman lembut. Pengguna juga akan mendapat peringatan suara dan getaran sebelum melakukan belokan atau ketika mendekati area berbahaya.

Bobot Glide sekitar 3,5 kilogram, dengan daya tahan baterai yang mampu bertahan lebih dari enam jam dalam sekali pengisian. 

Saat ini, Glidance tengah melakukan tahap uji coba beta di Seattle bersama sejumlah pengguna tunanetra sebelum memulai pengiriman versi komersialnya pada musim semi tahun depan

Harga jual Glide diperkirakan mencapai 1.499 dolar AS atau sekitar Rp24 juta, dengan tambahan biaya langganan bulanan sekitar 30 dolar AS atau Rp500 ribu untuk mengakses sistem navigasi AI milik perusahaan.

Peluncuran Glide menandai langkah penting dalam teknologi bantu bagi penyandang disabilitas visual. Dengan kombinasi AI, sensor presisi, dan sistem navigasi mandiri, perangkat ini berpotensi mengubah cara tunanetra bergerak di ruang publik tanpa bergantung sepenuhnya pada pendamping manusia. 

Jika pengujian berjalan sukses, Glidance berencana memperluas distribusi ke pasar global, termasuk Eropa dan Asia, pada akhir 2026.