Es Krim Raksasa Dunia A23a Pecah, Kehilangan Sepertiga Luasnya
JAKARTA - Raksasa es terbesar di dunia, gunung es A23a, dilaporkan pecah menjadi beberapa bagian dan kehilangan sekitar sepertiga dari luasnya selama tiga bulan musim dingin di Antarktika. Menurut data dari Arkticheskiy i Antarkticheskiy Nauchno-Issledovatelskiy Institut (AANII), luas A23a yang pada Juni 2025 masih mencapai 2.730 kilometer persegi—setara dengan wilayah Moskow—kini menyusut menjadi hanya 1.750 kilometer persegi, atau kurang lebih sebesar kota Saint Petersburg.
Dari hasil pengamatan, A23a terbelah menjadi tiga bongkahan besar sekaligus. Potongan es yang terlepas berukuran antara 60 hingga 300 kilometer persegi. Para ilmuwan menyebut proses pecahnya gunung es ini dipengaruhi oleh kuatnya arus laut di kawasan Antarktika. Arus tersebut bukan hanya memicu retakan, tetapi juga mengubah jalur pergerakan gunung es raksasa itu.
![]() |
| Foto udara gunung es A23a di Antarktika yang pecah menjadi beberapa bagian setelah kehilangan sepertiga luasnya. |
Kini, A23a terpantau berada sekitar 70 kilometer di utara Pulau Georgia Selatan. Dalam kurun waktu musim dingin saja, es raksasa ini telah menempuh perjalanan sejauh 930 kilometer. Setelah sempat mengitari pulau, A23a terus melanjutkan perjalanannya mengikuti arus laut di sekitar kawasan tersebut.
Menurut catatan sejarah, A23a terbentuk pada tahun 1986 setelah terlepas dari Gletser Filchner dengan luas awal 4.170 kilometer persegi. Selama lebih dari 30 tahun, gunung es ini terjebak di dasar laut dangkal di Laut Weddell, hingga akhirnya kembali bergerak pada 2023. Bahkan, pada Januari 2025, A23a sempat kembali kandas di kedalaman dangkal sekitar 80 kilometer dari Pulau Georgia Selatan dan baru bisa bergerak lagi pada Mei tahun yang sama.
Para peneliti menilai, pecahnya A23a menjadi momen penting dalam studi perubahan iklim dan dinamika arus laut. Jika bongkahan es ini terus menyusut dan hancur, ada potensi perubahan ekosistem di lautan sekitar, khususnya bagi hewan laut yang bergantung pada stabilitas lingkungan Antarktika. A23a juga berpotensi menjadi jalur navigasi baru bagi kapal riset maupun jalur alami bagi hewan laut, tergantung ke arah mana arus membawa pecahan-pecahannya.


