Berita BorneoTribun: Antartika hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Antartika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antartika. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 September 2025

Es Krim Raksasa Dunia A23a Pecah, Kehilangan Sepertiga Luasnya

JAKARTA - Raksasa es terbesar di dunia, gunung es A23a, dilaporkan pecah menjadi beberapa bagian dan kehilangan sekitar sepertiga dari luasnya selama tiga bulan musim dingin di Antarktika. Menurut data dari Arkticheskiy i Antarkticheskiy Nauchno-Issledovatelskiy Institut (AANII), luas A23a yang pada Juni 2025 masih mencapai 2.730 kilometer persegi—setara dengan wilayah Moskow—kini menyusut menjadi hanya 1.750 kilometer persegi, atau kurang lebih sebesar kota Saint Petersburg.

Dari hasil pengamatan, A23a terbelah menjadi tiga bongkahan besar sekaligus. Potongan es yang terlepas berukuran antara 60 hingga 300 kilometer persegi. Para ilmuwan menyebut proses pecahnya gunung es ini dipengaruhi oleh kuatnya arus laut di kawasan Antarktika. Arus tersebut bukan hanya memicu retakan, tetapi juga mengubah jalur pergerakan gunung es raksasa itu.

Foto udara gunung es A23a di Antarktika yang pecah menjadi beberapa bagian setelah kehilangan sepertiga luasnya
Foto udara gunung es A23a di Antarktika yang pecah menjadi beberapa bagian setelah kehilangan sepertiga luasnya.

Kini, A23a terpantau berada sekitar 70 kilometer di utara Pulau Georgia Selatan. Dalam kurun waktu musim dingin saja, es raksasa ini telah menempuh perjalanan sejauh 930 kilometer. Setelah sempat mengitari pulau, A23a terus melanjutkan perjalanannya mengikuti arus laut di sekitar kawasan tersebut.

Menurut catatan sejarah, A23a terbentuk pada tahun 1986 setelah terlepas dari Gletser Filchner dengan luas awal 4.170 kilometer persegi. Selama lebih dari 30 tahun, gunung es ini terjebak di dasar laut dangkal di Laut Weddell, hingga akhirnya kembali bergerak pada 2023. Bahkan, pada Januari 2025, A23a sempat kembali kandas di kedalaman dangkal sekitar 80 kilometer dari Pulau Georgia Selatan dan baru bisa bergerak lagi pada Mei tahun yang sama.

Para peneliti menilai, pecahnya A23a menjadi momen penting dalam studi perubahan iklim dan dinamika arus laut. Jika bongkahan es ini terus menyusut dan hancur, ada potensi perubahan ekosistem di lautan sekitar, khususnya bagi hewan laut yang bergantung pada stabilitas lingkungan Antarktika. A23a juga berpotensi menjadi jalur navigasi baru bagi kapal riset maupun jalur alami bagi hewan laut, tergantung ke arah mana arus membawa pecahan-pecahannya.

Rabu, 05 Maret 2025

Gunung Es Terbesar di Dunia Kandas Setelah 40 Tahun Mengarungi Lautan

Gunung Es Terbesar di Dunia Kandas Setelah 40 Tahun Mengarungi Lautan
Gunung es A23a, pada tanggal 25 November 2024, di lepas pantai Antartika. Foto: Kopral Tom Cann RAF/AP

JAKARTA - Gunung es terbesar di dunia, A23a, akhirnya kandas sekitar 70 km dari Pulau Georgia Selatan setelah mengarungi lautan selama hampir 40 tahun. 

Para ilmuwan kini tengah mempelajari dampaknya terhadap ekosistem sekitar, terutama apakah gunung es ini bisa membantu menyebarkan nutrisi dan meningkatkan ketersediaan makanan bagi penguin dan anjing laut.

Perjalanan Panjang Gunung Es A23a

Gunung es A23a memiliki luas sekitar 3.300 km persegi—setara dengan Pulau Bali—dan berat hampir 1 triliun ton. 

Gunung es raksasa ini awalnya terlepas dari lapisan es Antartika pada tahun 1986, tetapi tetap terjebak selama lebih dari 30 tahun sebelum akhirnya mulai bergerak bebas pada tahun 2020.

Sejak saat itu, A23a perlahan bergerak ke utara melewati Samudra Selatan menuju Pulau Georgia Selatan, memicu kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekosistem pulau yang menjadi rumah bagi jutaan satwa liar.

Apakah A23a Akan Tetap Kandas?

Hingga 1 Maret 2025, gunung es ini tampaknya telah kandas sekitar 73 km dari Pulau Georgia Selatan. 

Namun, para ilmuwan belum bisa memastikan apakah A23a akan tetap berada di tempatnya atau kembali bergerak.

"Menarik untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya," kata Andrew Meijers, seorang ahli oseanografi dari British Antarctic Survey (BAS). 

Jika A23a tetap di posisinya saat ini, diperkirakan tidak akan berdampak besar pada kehidupan satwa liar di sekitarnya.

Dampak bagi Satwa Liar di Georgia Selatan

Gunung es A23A saat mendekati Pulau Georgia Selatan di Laut Weddell pada 24 Februari 2025. Foto: COPERNICUS SENTINEL DATA 2025/AFP/Getty Images
Gunung es A23A saat mendekati Pulau Georgia Selatan di Laut Weddell pada 24 Februari 2025. Foto: COPERNICUS SENTINEL DATA 2025/AFP/Getty Images

Sebelumnya, ada kekhawatiran bahwa gunung es ini bisa menghalangi jalur berburu makanan bagi penguin dan anjing laut, yang berisiko meningkatkan angka kematian anak-anak mereka. 

Jika A23a mendekat terlalu dekat, hewan-hewan ini harus berenang lebih jauh untuk mencari makan, yang berarti lebih sedikit makanan yang kembali ke anak-anak mereka di pulau tersebut.

Namun, dalam kondisi saat ini, keberadaan A23a justru bisa memberikan manfaat bagi ekosistem laut. 

Nutrisi yang diaduk akibat kandasnya gunung es dan proses pencairannya dapat meningkatkan produktivitas makanan laut di kawasan ini, yang berpotensi menguntungkan satwa liar.

Pulau Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan adalah habitat bagi sekitar 5 juta anjing laut serta 65 juta burung dari 30 spesies berbeda. 

Sayangnya, populasi mereka sudah mengalami penurunan akibat wabah flu burung baru-baru ini.

Apakah A23a Berbahaya bagi Kapal?

Gunung es A23a tidak menimbulkan ancaman langsung bagi pelayaran karena ukurannya yang sangat besar, sehingga kapal dapat dengan mudah menghindarinya. 

Namun, seiring waktu, jika gunung es ini pecah menjadi bongkahan lebih kecil, beberapa wilayah bisa menjadi lebih berbahaya bagi kapal, terutama kapal penangkap ikan.

Gunung Es Besar: Fenomena Alam atau Dampak Perubahan Iklim?

Gunung es sebesar A23a memang jarang terjadi, tetapi bukan hal yang luar biasa. 

Dalam lima tahun terakhir, dua gunung es berukuran serupa telah melintasi jalur yang sama di Samudra Selatan.

Meijers menjelaskan bahwa gunung es seperti ini merupakan bagian normal dari siklus es di Antartika. 

Namun, ia juga mengingatkan bahwa sejak tahun 2000, lapisan es telah kehilangan sekitar 6.000 miliar ton massanya, yang berkontribusi pada percepatan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.

Para peneliti memperingatkan bahwa jika suhu bumi terus meningkat antara 1,5 hingga 2 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri, cukup banyak es yang akan mencair untuk meningkatkan permukaan laut hingga belasan meter. 

Ini bisa membawa konsekuensi yang tidak dapat diubah bagi banyak wilayah pesisir di dunia.

Gunung es A23a kini menjadi fokus para ilmuwan untuk melihat bagaimana pergerakannya akan berpengaruh pada ekosistem dan perubahan iklim global.

 Meski sempat dikhawatirkan membahayakan satwa liar di Georgia Selatan, keberadaannya justru bisa memberikan manfaat dengan memperkaya ekosistem laut.