Berita BorneoTribun: Arkeologi hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Maret 2026

Kota Kuno Tenggelam 2.400 Tahun Ditemukan Di Turki, Ini Fakta Mengejutkan

Kota Kuno Tenggelam 2.400 Tahun Ditemukan Di Turki, Ini Fakta Mengejutkan
Kota kuno tenggelam 2.400 tahun ditemukan di Turki. Simpan jejak peradaban besar dan bangunan bersejarah yang masih utuh di bawah air.

Sains -- Penemuan arkeologi kembali bikin heboh dunia. Sebuah kota kuno berusia sekitar 2.400 tahun ditemukan dalam kondisi tenggelam di wilayah tenggara Turki, tepatnya di distrik Eğil. Kota ini tersembunyi di bawah perairan Bendungan Dicle, dan menyimpan banyak jejak peradaban masa lalu.

Wilayah ini ternyata bukan tempat biasa. Sejak zaman kuno, kawasan tersebut menjadi titik pertemuan berbagai peradaban besar seperti Assyria, Persia, Romawi, hingga Bizantium. Nggak heran kalau banyak peninggalan sejarah penting yang tertinggal di sana.

Awalnya Tenggelam Karena Proyek Bendungan

Kisah kota ini mulai berubah sejak tahun 1986, ketika pemerintah membangun Bendungan Dicle untuk memenuhi kebutuhan air minum warga sekitar. Saat pembangunan berlangsung, beberapa situs penting seperti makam Nabi Zulkifli dan Nabi Elisa sempat dipindahkan.

Namun, nggak semua bisa diselamatkan. Banyak bangunan bersejarah lainnya seperti masjid, pemakaman, hingga makam yang dipahat di batu akhirnya terendam air dan “menghilang” dari permukaan.

Kondisi Kota Masih Terjaga

Kota Kuno Tenggelam 2.400 Tahun Ditemukan Di Turki, Ini Fakta Mengejutkan
Kota kuno tenggelam 2.400 tahun ditemukan di Turki. Simpan jejak peradaban besar dan bangunan bersejarah yang masih utuh di bawah air.

Beberapa dekade kemudian, tim penyelam turun langsung untuk mengecek kondisi kota yang tenggelam ini. Hasilnya cukup mengejutkan—banyak struktur bangunan masih terlihat jelas.

Kamera bawah air berhasil menangkap bentuk sebuah madrasah kuno, area pemakaman, hingga struktur yang diduga sebagai makam Nabi Ilyas lengkap dengan masjid di sekitarnya.

Salah satu temuan paling menarik adalah pemandian Bizantium yang lokasinya berada di antara kastil kuno dan makam para nabi. Uniknya, bangunan ini masih dalam kondisi hampir utuh, seolah “dibekukan” oleh waktu.

Muncul Saat Air Surut

Yang bikin makin menarik, saat musim kemarau dan permukaan air menurun, beberapa bagian kota ini bisa terlihat dari atas permukaan. Ini jadi momen langka yang dimanfaatkan para arkeolog untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Para peneliti saat ini berencana melanjutkan eksplorasi untuk mengungkap lebih banyak rahasia dari kota kuno yang tersembunyi ini.

Potensi Besar untuk Ilmu Pengetahuan

Kota kuno tenggelam 2.400 tahun ditemukan di Turki. Simpan jejak peradaban besar dan bangunan bersejarah yang masih utuh di bawah air.
Kota kuno tenggelam 2.400 tahun ditemukan di Turki. Simpan jejak peradaban besar dan bangunan bersejarah yang masih utuh di bawah air.

Penemuan ini bukan cuma menarik dari sisi sejarah, tapi juga punya nilai besar untuk dunia arkeologi dan ilmu pengetahuan. Kota ini bisa memberikan gambaran lebih jelas tentang kehidupan lintas peradaban di masa lampau.

Selain itu, kondisi bangunan yang relatif utuh juga membuka peluang penelitian tentang teknik konstruksi kuno yang mampu bertahan ribuan tahun, bahkan di bawah air.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)

1. Di mana lokasi kota kuno ini ditemukan?
Kota ini ditemukan di distrik Eğil, tenggara Turki, di bawah Bendungan Dicle.

2. Berapa usia kota tersebut?
Diperkirakan berusia sekitar 2.400 tahun.

3. Kenapa kota ini tenggelam?
Karena pembangunan Bendungan Dicle pada tahun 1986.

4. Apa saja yang ditemukan di dalamnya?
Madrasah kuno, pemakaman, makam nabi, masjid, hingga pemandian Bizantium.

5. Apakah kota ini bisa dilihat langsung?
Sebagian bisa terlihat saat air bendungan surut di musim kemarau.

Sabtu, 09 Agustus 2025

Tersembunyi di Hutan Peru, Ilmuwan Temukan Citadel Kuno Prajurit Awan

Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR
Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR.

Amazonas, Peru – Tim peneliti internasional menemukan kompleks arkeologi raksasa berisi lebih dari 200 bangunan prasejarah dan dua artefak ritual langka di tengah hutan lebat wilayah Amazonas, Peru. 

Penemuan ini diyakini sebagai sisa-sisa citadel milik peradaban kuno Chachapoya, atau “prajurit awan”, yang pernah berjaya antara abad ke-3 hingga ke-15 Masehi. 

Penelitian berlangsung awal 2025 menggunakan teknologi LiDAR dan drone, yang memungkinkan para arkeolog menembus kanopi hutan rapat yang selama puluhan tahun menyembunyikan situs tersebut.

Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR
Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR.

Menurut laporan resmi tim riset, pemindaian udara mengungkap jaringan rumit bangunan berbentuk bundar dan area ritual. 

Temuan paling mencolok adalah dua kepala ritual yang ditemukan di ceruk dinding kota yang telah runtuh. 

Para ahli menduga kepala ini dulunya menghiasi senjata upacara seperti gada, dan penempatannya memiliki makna spiritual atau simbolis. 

“Bentuk dan ukirannya memperlihatkan pengaruh kuat budaya Chavín, yang berkembang jauh sebelum era Chachapoya,” ungkap Dr. Luis Paredes, arkeolog Universitas Nasional Trujillo.

Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR
Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR.

Chachapoya dikenal melalui benteng batu megah Kuelap dan makam tebing yang menakjubkan. 

Selama ini, informasi tentang mereka lebih banyak berasal dari catatan sejarah Inka dan penjelajah Spanyol. 

Penemuan terbaru ini memberikan bukti arkeologis langsung yang bisa mengubah pandangan para ahli tentang struktur sosial dan budaya mereka. 

“Artefak ini menunjukkan bahwa Chachapoya tidak hanya mahir membangun pertahanan, tetapi juga memiliki tradisi ritual yang kompleks dan kaya simbol,” tambah Paredes.

Tersembunyi di Hutan Peru, Ilmuwan Temukan Citadel Kuno Prajurit Awan
Foto udara situs citadel kuno Chachapoya di hutan Amazonas, Peru, hasil pemindaian LiDAR.

Otoritas Kebudayaan Peru telah menetapkan situs ini sebagai zona lindung sementara sambil menunggu penggalian lanjutan. 

Peneliti berencana memulai studi mendalam untuk memetakan seluruh area dan mengkaji kemungkinan adanya hubungan dagang atau budaya antara Chachapoya dan peradaban lain di Andes. 

Temuan ini berpotensi menambah daftar warisan dunia UNESCO sekaligus menjadi destinasi wisata arkeologi baru yang membuka tabir “prajurit awan” yang selama ini misterius.