Berita BorneoTribun: BNPB hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label BNPB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BNPB. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2026

Hadapi Kemarau 2026, BPBD Kalbar Intensifkan Pembasahan Lahan

BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)
BPBD Kalbar gencarkan pembasahan lahan untuk cegah karhutla jelang kemarau 2026, fokus pada gambut dan wilayah rawan terbakar. (Gambar ilustrasi)

Pontianak – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Kalimantan Barat terus memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjelang musim kemarau 2026 dengan mengintensifkan program pembasahan lahan, khususnya di wilayah gambut yang rawan terbakar.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan langkah ini menjadi strategi utama dalam menjaga kondisi lahan tetap lembap agar potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini.

“Pembasahan ini bertujuan untuk mempertahankan kondisi lahan gambut tetap lembap dalam skala luas, sehingga potensi kebakaran bisa ditekan sejak dini,” ujarnya di Pontianak, Jumat.

Fokus Wilayah Rawan Karhutla

Program pembasahan difokuskan pada daerah dengan tingkat kerawanan tinggi, terutama lahan gambut yang mudah mengering saat musim kemarau. Upaya ini dinilai krusial untuk mencegah munculnya titik api yang berpotensi meluas.

Menurut Daniel, pembasahan lahan merupakan bagian dari strategi terpadu BPBD Kalbar dalam menghadapi musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga pertengahan 2026.

Kolaborasi Lintas Sektor

Selain pembasahan, BPBD Kalbar juga meningkatkan patroli darat dan memperkuat koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Tentara Nasional Indonesia serta instansi terkait lainnya.

Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memastikan langkah pencegahan berjalan optimal di lapangan dan respons cepat bisa dilakukan jika ditemukan potensi kebakaran.

Tantangan Ketersediaan Air

Meski demikian, program pembasahan tidak lepas dari kendala, terutama keterbatasan sumber air di sejumlah wilayah rawan karhutla.

Untuk mengatasi hal tersebut, BPBD Kalbar membuka peluang mengajukan bantuan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana, termasuk opsi penggunaan teknologi modifikasi cuaca jika dibutuhkan.

Pantau Cuaca Secara Berkala

BPBD Kalbar juga terus memantau perkembangan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika sebagai dasar dalam menentukan langkah penanganan yang tepat.

Selain kesiapan teknis, edukasi kepada masyarakat juga digencarkan agar kesadaran terhadap bahaya karhutla semakin meningkat.

Upaya Minimalkan Dampak Karhutla

Dengan optimalisasi sumber daya yang ada, BPBD Kalbar berharap program pembasahan lahan mampu menjadi langkah efektif dalam menekan risiko karhutla serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu program pembasahan lahan?
Program pembasahan lahan adalah upaya menjaga kelembapan tanah, khususnya gambut, agar tidak mudah terbakar saat musim kemarau.

2. Kenapa lahan gambut rawan terbakar?
Karena mudah kering dan mengandung material organik yang sangat mudah terbakar saat suhu tinggi.

3. Apa kendala utama program ini?
Keterbatasan sumber air di beberapa wilayah rawan karhutla.

4. Apa solusi yang disiapkan BPBD Kalbar?
Mengajukan bantuan ke BNPB dan mempertimbangkan teknologi modifikasi cuaca.

5. Bagaimana peran masyarakat?
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar dan ikut menjaga lingkungan.

Minggu, 11 April 2021

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa
Seorang pria membersihkan ruang sidang yang rusak akibat gempa bumi yang melanda laut 91 km tenggara Blitar, foto di Blitar, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara/Irfan Anshori via Reuters)

BORNEOTRIBUN JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (10/4), melaporkan lebih dari 300 rumah di Jawa Timur rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,1 di Malang.

Berdasarkan data yang dihimpun BNPB dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Jawa Timur, hingga pukul 20.00 WIB terdapat setidaknya 11 rumah rusak berat, 194 rumah rusak sedang dan 126 rusak ringan. 

Dalam situs webnya, Sabtu (10/4), BNPB menyebutkan gempa tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, antara lain 11 unit sarana pendidikan, tujuh kantor pemerintah, enam unit sarana ibadah, satu unit RSUD, dan sebuah pondok pesantren.

Sebuah rumah terlihat rusak akibat gempa di Malang, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara via Reuters)

Selain merusak bangunan, gempa tersebut juga menelan korban jiwa. Hingga pukul 21.00 WIB, BNPB mencatat terdapat delapan orang meninggal dunia, satu orang luka berat dan 22 orang luka ringan.

Bencana gempa mengguncang Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4), pada pukul 14.00 WIB. Pusat gempa berada di laut dengan jarak 96 km arah selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, dengan kedalaman 80 km. 

Sebelumnya, gempa tersebut diperkirakan mencapai skala 6,7, tetapi BMKG memutakhirkan parameter gempa menjadi 6,1.

Gempa tersebut berdampak pada delapan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabuapten Trenggalek, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jember.

Waspadai Fenomena

BNPB, mengutip keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sabtu (10/4), melaporkan episentrum gempa di Malang itu berdekatan dengan pusat gempa bumi yang telah merusak Jawa Timur pada tahun-tahun sebelumnya. 

Provinsi tersebut tercatat pernah mengalami gempa bumi pada tahun 1896, 1937, 1962, 1963, dan 1972.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pengulangan gempa bumi yang terjadi di selatan Malang tersebut sekaligus menjadi fenomena yang patut diwaspadai.

“Gempa selatan Malang yang destruktif merupakan alarm untuk kita semua bahwa ancaman sumber gempa bumi subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli gempa adalah benar. Kita patut waspada,” jelas Daryono.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, setidaknya telah terjadi tiga kali gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan kecil dan kurang dari magnitudo 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan. [ah]

Oleh: VOA