Berita BorneoTribun: BPBD hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label BPBD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BPBD. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Maret 2026

Kapal Tangki Terbakar Saat Docking Di Sungai Mentaya Sampit Kalteng

Kapal tangki minyak terbakar di Sungai Mentaya Sampit saat docking. Api masih aktif, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan petugas.
Kapal tangki minyak terbakar di Sungai Mentaya Sampit saat docking. Api masih aktif, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan petugas.

SAMPIT – Sebuah kapal tangki minyak dilaporkan terbakar saat sedang tambat di pinggir Sungai Mentaya, tepatnya di Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pada Sabtu sore.

Peristiwa kebakaran ini terjadi sekitar pukul 17.30 WIB dan langsung mengundang perhatian warga sekitar. Kobaran api terlihat cukup besar hingga menjelang malam hari.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur, Multazam, menyampaikan bahwa hingga Sabtu malam api masih belum sepenuhnya padam.

“Api masih aktif. Ini top up BBM dan mesin,” ujarnya.

Petugas Fokus Cegah Api Meluas

Puluhan personel pemadam kebakaran bersama relawan langsung diterjunkan ke lokasi untuk mengendalikan situasi. Fokus utama petugas saat ini adalah mencegah api menjalar ke kapal lain maupun fasilitas docking yang berada di sekitar lokasi.

Informasi sementara menyebutkan kapal tersebut sedang sandar di area docking milik sebuah perusahaan untuk menjalani proses perbaikan.

Selain pemadam kebakaran, tim dari Basarnas juga dikabarkan akan menuju lokasi untuk membantu penanganan.

Penyebab Kebakaran Masih Diselidiki

Lurah Tanah Mas, Ridowan, membenarkan kejadian tersebut. Namun, hingga kini pihaknya masih mengumpulkan data terkait kronologi dan penyebab kebakaran.

“Sampai saat ini kami masih belum mengetahui kronologi terjadinya kebakaran tersebut, apakah karena kelalaian pekerja atau faktor lain,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa kapal yang terbakar merupakan milik perusahaan dan sedang dalam proses perbaikan, bukan aktivitas distribusi bahan bakar.

Area Docking Berisiko Tinggi

Ridowan menjelaskan bahwa lokasi tersebut merupakan pusat perawatan kapal, di mana berbagai jenis armada seperti tongkang dan tugboat sering bersandar untuk perbaikan.

Aktivitas teknis seperti pengelasan menjadi hal yang umum dilakukan di area tersebut, yang memang memiliki tingkat risiko tinggi terhadap kebakaran.

“Biasanya kapal diperbaiki, termasuk pengelasan pada bagian yang rusak atau bocor,” tambahnya.

Bantah Ada Aktivitas Bongkar Muat BBM

Menanggapi isu yang beredar, Ridowan memastikan bahwa lokasi tersebut tidak digunakan untuk aktivitas bongkar muat BBM.

“Perlu saya luruskan bahwa di sana tidak ada aktivitas bongkar muat BBM. Tempat itu hanya digunakan untuk perbaikan kapal,” tegasnya.

Belum Ada Data Korban

Hingga saat ini, pihak berwenang belum merilis informasi resmi terkait jumlah kerugian maupun kemungkinan adanya korban jiwa.

Tim di lapangan masih melakukan proses pendinginan untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa dan mencegah kebakaran kembali terjadi.

FAQ

1. Di mana lokasi kebakaran kapal tangki terjadi?
Di Sungai Mentaya, Kelurahan Tanah Mas, Kecamatan Baamang, Sampit, Kotawaringin Timur.

2. Kapan kejadian kebakaran terjadi?
Sabtu sore sekitar pukul 17.30 WIB.

3. Apa penyebab kebakaran kapal?
Masih dalam penyelidikan, diduga terkait aktivitas teknis saat perbaikan.

4. Apakah ada korban jiwa?
Belum ada informasi resmi dari pihak berwenang.

5. Apakah lokasi digunakan untuk bongkar muat BBM?
Tidak, lokasi tersebut murni area perbaikan kapal.

Kamis, 19 Maret 2026

PLN UID Kalselteng Dorong Desa Kiram Jadi Desa Tangguh Bencana

PLN UID Kalselteng jalankan program Destana di Desa Kiram untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi bencana banjir bersama BPBD.
PLN UID Kalselteng jalankan program Destana di Desa Kiram untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi bencana banjir bersama BPBD.

BANJAR — PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (UID Kalselteng) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung keselamatan masyarakat. Kali ini, PLN menggandeng BPBD untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga melalui program Desa Tangguh Bencana (Destana) di Desa Kiram.

Program ini hadir sebagai respons atas potensi bencana banjir yang kerap terjadi di wilayah tersebut. Lewat pendekatan berbasis masyarakat, PLN ingin memastikan warga tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga memiliki pemahaman dan mental yang kuat saat menghadapi situasi darurat.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Drs Wasis Nugraha, menegaskan bahwa program ini menjadi langkah penting dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat desa.

“Kami ingin masyarakat tidak hanya siap secara fisik, tetapi juga punya pengetahuan dan kesiapan mental. Ini langkah nyata untuk melatih kesiapsiagaan bersama,” ujarnya di Martapura, Kamis.

Program Destana sendiri diawali dengan perencanaan yang melibatkan masyarakat setempat. Selanjutnya, dilakukan penyusunan standar operasional prosedur (SOP) kebencanaan yang komprehensif, termasuk pembuatan peta jalur evakuasi sebagai panduan saat kondisi darurat.

Kasubbid Kesiapsiagaan BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, Ariansyah, menilai kolaborasi lintas sektor seperti ini sangat krusial dalam mitigasi bencana.

“Bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah saja. Kolaborasi seperti yang dilakukan PLN UID Kalselteng ini jadi contoh nyata bagaimana semua pihak bisa berkontribusi,” katanya.

Salah satu langkah strategis dalam program ini adalah pembentukan Kelompok Tangguh Bencana yang beranggotakan warga Desa Kiram. Mereka mendapatkan pelatihan mulai dari dasar-dasar kebencanaan hingga simulasi penanganan situasi darurat.

Nggak cuma itu, PLN bersama BPBD juga memberikan berbagai dukungan sarana dan prasarana. Mulai dari perahu karet, tenda darurat, alat komunikasi, hingga perlengkapan keselamatan lainnya disalurkan untuk mendukung kesiapsiagaan warga.

Manajer Komunikasi dan TJSL PLN UID Kalselteng, Ahmad Humaidi, menyebut program ini sebagai bukti nyata kehadiran PLN di tengah masyarakat.

“PLN hadir bukan hanya soal listrik, tapi juga memperkuat ketahanan sosial dan lingkungan masyarakat,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sebagai langkah preventif dalam mengurangi risiko bencana.

Sementara itu, General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menegaskan bahwa program Destana merupakan bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan dalam menciptakan masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi bencana.

“Lewat program ini, kami ingin masyarakat tidak hanya menikmati listrik yang andal, tetapi juga siap menghadapi berbagai potensi bencana,” katanya.

Dengan hadirnya program Destana di Desa Kiram, PLN berharap manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang. Selain itu, program ini juga diharapkan mampu membentuk budaya sadar bencana di tengah masyarakat.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan PLN dalam mendukung pembangunan yang aman, tangguh, dan berorientasi pada keselamatan warga.

Rabu, 04 Februari 2026

🔥 Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara

Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara
Karhutla Singkawang Selatan Meluas, Tim Gabungan Berjuang Siang Malam Padamkan Api di Sekitar Bandara.

SINGKAWANG -- Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Singkawang Selatan terus dikebut. Api yang melanda kawasan Jalan Bandara, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, tercatat telah menghanguskan lahan seluas kurang lebih lima hektare dan masih menyisakan titik-titik api yang berpotensi meluas.

Tim gabungan dari berbagai instansi turun langsung ke lapangan sejak beberapa hari terakhir. Fokus pemadaman dilakukan di dua lokasi utama, yakni Kelurahan Sedau dan Kelurahan Pangmilang. Dari hasil pemantauan di lapangan, sekitar dua hektare lahan terbakar di Sedau, sementara tiga hektare lainnya berada di Pangmilang.

Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang, Yuyu Wahyudin, menyampaikan bahwa tim masih berjibaku di lapangan demi memastikan api benar-benar bisa dikendalikan.

“Kami terus melakukan pemadaman agar karhutla di kawasan Jalan Bandara Singkawang ini segera tertangani dan tidak meluas,” ujar Yuyu saat ditemui di Singkawang, Selasa.

🔥 Lahan Gambut dan Angin Kencang Jadi Tantangan Utama

Pemadaman karhutla kali ini bukan perkara mudah. Yuyu menjelaskan, sejak Minggu (1/2) hingga Selasa, api belum sepenuhnya padam. Kondisi lahan gambut yang didominasi vegetasi pakis, akasia, kelapa sawit, serta semak belukar membuat api cepat menyebar.

Belum lagi, hembusan angin dengan kecepatan sekitar 11 kilometer per jam memperparah situasi. Api dan asap dengan cepat merambat, membuat tim harus bekerja ekstra keras.

“Karakter lahan gambut memang rawan. Api bisa muncul kembali jika tidak benar-benar dipadamkan. Karena itu, pemadaman akan terus kami lanjutkan sampai tuntas,” tegasnya.

🚒 Baru Separuh Lahan Berhasil Dipadamkan

Hingga saat ini, tim gabungan baru berhasil memadamkan sekitar 2,5 hektare lahan, sementara sisanya masih dalam tahap penanganan. Di sejumlah titik, api masih terlihat menyala dengan asap tebal, sehingga petugas melakukan pembasahan intensif dan penyekatan untuk mencegah kebakaran meluas ke area lain.

👥 71 Personel Dikerahkan, Peralatan Lengkap Disiagakan

Operasi pemadaman darat melibatkan 71 personel gabungan, terdiri dari:

  • Manggala Agni Kalimantan IX/Singkawang

  • Koramil Singkawang Selatan

  • Unsur Kecamatan Singkawang Selatan

  • Kompi Brimob Singkawang

  • Polres dan Polsek Singkawang Selatan

  • BPBD Kota Singkawang

  • Masyarakat Peduli Api (MPA)

Berbagai peralatan dikerahkan, mulai dari mesin pompa air, selang hisap dan selang kirim, kendaraan operasional, hingga peralatan manual pemadam kebakaran. Untuk suplai air, tim memanfaatkan parit terdekat dengan lebar dan kedalaman sekitar satu meter.

⚠️ Warga Diminta Tetap Waspada

Yuyu menegaskan, proses pemadaman akan terus dilakukan hingga seluruh titik api dinyatakan aman. Hal ini penting untuk mencegah kebakaran susulan, mengingat lahan gambut sangat mudah terbakar kembali meski api terlihat sudah padam.

Bagi masyarakat sekitar, kewaspadaan tetap diperlukan. Dukungan dan kepedulian bersama menjadi kunci agar karhutla tidak kembali terjadi dan lingkungan tetap terjaga.

🔥 Karhutla bukan hanya soal api, tapi juga soal masa depan lingkungan kita. Mari sama-sama jaga alam Singkawang.

Minggu, 19 Maret 2023

Monitoring Banjir, Kepala Pelaksanaan BPBD ; Banjir Karena Tingginya Curah Hujan

Tim TRC BPBD Sekadau memonitoring lokasi banjir.
Sekadau, Kalbar – Banjir melanda lima desa di Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Provinsi Kalimantan Barat pada hari Minggu (19/3/2023).

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Sekadau, Akhmad Suryadi, mengatakan bahwa banjir disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi pada hari Sabtu, 18 Maret 2023 pukul 04:00 WIB.

“Banjir mengakibatkan sungai Sekadau, sungai Ketaman, dan sungai Kemarau meluap ke permukiman warga di Desa Nanga Mahap, Desa Teluk Kebau, Desa Batu Pahat, Desa Lembah Beringin, dan Desa Tembesuk Kecamatan Nanga Mahap Kabupaten Sekadau. Ketinggian air mencapai 50 cm hingga 2 meter,” terang Akhmad Suryadi.

Saat Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sekadau tiba di lokasi, banjir sudah mulai surut.

TRC BPBD Kabupaten Sekadau langsung melakukan monitoring dan pengecekan ke lapangan serta berkoordinasi dengan pihak terkait dalam upaya menindaklanjuti kejadian tersebut.

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Sekadau, jumlah kepala keluarga (KK) yang terdampak banjir adalah sebagai berikut: 420 KK di Desa Batu Pahat, 203 KK di Desa Nanga Mahap, 162 KK di Desa Tembesuk, 640 KK di Desa Lembah Beringin, dan 206 KK di Desa Teluk Kebau.

BPBD Kabupaten Sekadau masih terus monitoring dan mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan banjir untuk tetap waspada dan siap menghadapi kemungkinan bencana banjir di masa mendatang.

(Yakop)

Minggu, 11 April 2021

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa

Lebih dari 300 Rumah di Jawa Timur Rusak Akibat Gempa
Seorang pria membersihkan ruang sidang yang rusak akibat gempa bumi yang melanda laut 91 km tenggara Blitar, foto di Blitar, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara/Irfan Anshori via Reuters)

BORNEOTRIBUN JAKARTA -- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sabtu (10/4), melaporkan lebih dari 300 rumah di Jawa Timur rusak akibat gempa berkekuatan magnitudo 6,1 di Malang.

Berdasarkan data yang dihimpun BNPB dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di wilayah Jawa Timur, hingga pukul 20.00 WIB terdapat setidaknya 11 rumah rusak berat, 194 rumah rusak sedang dan 126 rusak ringan. 

Dalam situs webnya, Sabtu (10/4), BNPB menyebutkan gempa tersebut juga mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum, antara lain 11 unit sarana pendidikan, tujuh kantor pemerintah, enam unit sarana ibadah, satu unit RSUD, dan sebuah pondok pesantren.

Sebuah rumah terlihat rusak akibat gempa di Malang, Jawa Timur, 10 April 2021. (Foto: Antara via Reuters)

Selain merusak bangunan, gempa tersebut juga menelan korban jiwa. Hingga pukul 21.00 WIB, BNPB mencatat terdapat delapan orang meninggal dunia, satu orang luka berat dan 22 orang luka ringan.

Bencana gempa mengguncang Kota Malang, Jawa Timur, Sabtu (10/4), pada pukul 14.00 WIB. Pusat gempa berada di laut dengan jarak 96 km arah selatan Kota Kepanjen, Kabupaten Malang, dengan kedalaman 80 km. 

Sebelumnya, gempa tersebut diperkirakan mencapai skala 6,7, tetapi BMKG memutakhirkan parameter gempa menjadi 6,1.

Gempa tersebut berdampak pada delapan wilayah kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur, meliputi Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kota Malang, Kabupaten Blitar, Kabupaten Tulungagung, Kabuapten Trenggalek, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jember.

Waspadai Fenomena

BNPB, mengutip keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Sabtu (10/4), melaporkan episentrum gempa di Malang itu berdekatan dengan pusat gempa bumi yang telah merusak Jawa Timur pada tahun-tahun sebelumnya. 

Provinsi tersebut tercatat pernah mengalami gempa bumi pada tahun 1896, 1937, 1962, 1963, dan 1972.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, pengulangan gempa bumi yang terjadi di selatan Malang tersebut sekaligus menjadi fenomena yang patut diwaspadai.

“Gempa selatan Malang yang destruktif merupakan alarm untuk kita semua bahwa ancaman sumber gempa bumi subduksi lempeng selatan Jawa yang selama ini didengungkan oleh para ahli gempa adalah benar. Kita patut waspada,” jelas Daryono.

Berdasarkan hasil monitoring BMKG, setidaknya telah terjadi tiga kali gempa susulan (aftershock) dengan kekuatan kecil dan kurang dari magnitudo 4,0 yang tidak berdampak dan tidak dirasakan. [ah]

Oleh: VOA