Berita BorneoTribun: Bulan hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Bulan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bulan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2025

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi
Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi.

JAKARTA - Sampel tanah Bulan yang dikumpulkan lebih dari 50 tahun lalu ternyata menyimpan kejutan besar bagi para ilmuwan. Tim peneliti yang dipimpin oleh James Dottin, dosen Ilmu Bumi, Lingkungan, dan Planet di Universitas Brown, menemukan adanya anomali isotop sulfur yang tak biasa dalam material vulkanik dari wilayah Taurus-Littrow. Sampel tersebut dikumpulkan selama misi Apollo 17 pada tahun 1972 oleh dua astronot NASA, Eugene Cernan dan Harrison Schmitt, lalu disimpan rapat dalam tabung logam berisi helium untuk penelitian masa depan.

Penelitian ini merupakan bagian dari program Apollo Next Generation Sample Analysis (ANGSA), yang membuka kembali sampel berusia puluhan tahun untuk dianalisis dengan teknologi modern. Dottin menggunakan spektrometri massa ion sekunder, metode analisis isotop berpresisi tinggi yang belum tersedia pada era 1970-an. Hasilnya mengejutkan: kandungan sulfur dalam batuan vulkanik tersebut menunjukkan kadar isotop sulfur-33 (³³S) yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan sulfur di Bumi. Perbedaan ini dianggap sangat tidak biasa dan belum pernah ditemukan sebelumnya.

“Saya benar-benar tidak percaya ketika pertama kali melihat hasilnya,” kata Dottin. “Kami memeriksa ulang semuanya, dan ternyata memang benar. Nilai isotop sulfur ini sangat berbeda dari apa pun yang pernah kami lihat di Bumi.” Sebelumnya, para ilmuwan mengira bahwa mantel Bulan memiliki komposisi isotop sulfur yang sama seperti Bumi, tetapi hasil ini menunjukkan kemungkinan lain yang jauh lebih kompleks.

Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi
Peneliti Temukan Anomali Sulfur di Tanah Bulan Berusia 50 Tahun, Picu Dua Teori Baru Asal Usul Satelit Bumi.

Menurut Dottin dan timnya, ada dua kemungkinan penyebab perbedaan mencolok ini. Teori pertama menyebutkan bahwa perbandingan isotop tersebut mungkin terbentuk akibat proses kimia di atmosfer awal Bulan miliaran tahun lalu. Pada masa itu, Bulan mungkin sempat memiliki atmosfer tipis yang memungkinkan interaksi antara sulfur dan sinar ultraviolet, menghasilkan rasio isotop yang berbeda. Jika teori ini benar, maka penemuan ini bisa menjadi bukti adanya pertukaran material antara permukaan dan mantel Bulan pada masa lalu, mirip seperti proses tektonik di Bumi, meski Bulan tidak memiliki lempeng tektonik.

Teori kedua mengaitkan temuan ini dengan asal usul Bulan itu sendiri. Berdasarkan hipotesis populer, Bulan terbentuk setelah sebuah benda langit sebesar Mars bernama Theia menabrak Bumi pada tahap awal pembentukannya. Fragmen dari tabrakan besar tersebut kemudian bersatu membentuk Bulan. Dottin berpendapat bahwa Theia mungkin memiliki komposisi isotop sulfur yang berbeda dari Bumi, dan perbedaan itu tertinggal di mantel Bulan hingga kini.

Hingga saat ini, para peneliti belum bisa memastikan teori mana yang paling akurat. Dottin berharap, studi lanjutan terhadap isotop sulfur dari planet lain seperti Mars dapat membantu menjawab misteri ini. Menurutnya, memahami distribusi isotop sulfur di berbagai benda langit akan membuka wawasan baru tentang bagaimana tata surya terbentuk dan berevolusi sejak miliaran tahun lalu.

Sabtu, 23 Agustus 2025

NASA Ungkap Foto Bumi dan Bulan dari Jarak 290 Juta Kilometer di Angkasa

Foto Bumi dan Bulan dari jarak 290 juta kilometer yang diabadikan wahana antariksa NASA Psyche
Foto Bumi dan Bulan dari jarak 290 juta kilometer yang diabadikan wahana antariksa NASA Psyche.

JAKARTA - NASA kembali memamerkan pemandangan langka dari luar angkasa. Pesawat antariksa Psyche yang diluncurkan pada Oktober 2023 berhasil menangkap gambar Bumi dan Bulan dari jarak sekitar 290 juta kilometer. Foto tersebut diambil pada Juli 2025 saat tim misi melakukan uji coba kamera pesawat sebelum melanjutkan perjalanan panjang menuju asteroid kaya logam bernama (16) Psyche yang berada di antara orbit Mars dan Jupiter.

Dalam gambar yang dibagikan NASA, Bumi tampak sebagai titik kecil berkilau di hamparan gelap kosmos, sementara Bulan terlihat samar sedikit di atasnya. Pemandangan ini mengingatkan publik pada foto legendaris “Pale Blue Dot” yang diabadikan oleh Voyager 1 pada 1990 dari jarak 6 miliar kilometer. Meski jaraknya jauh lebih dekat dibanding momen ikonik tiga dekade lalu, foto terbaru ini tetap menyuguhkan rasa takjub sekaligus kesadaran akan betapa rapuhnya Bumi di tengah luasnya semesta.

Menurut penjelasan tim misi, uji coba kamera ini dilakukan untuk memastikan instrumen mampu merekam objek yang memantulkan cahaya matahari dengan jelas. “Pengujian ini sangat penting sebelum Psyche sampai ke tujuan utamanya. Jika kamera berhasil menangkap Bumi dan Bulan yang relatif kecil dari jarak ratusan juta kilometer, artinya sistem sudah siap merekam asteroid dengan detail yang dibutuhkan,” kata salah satu insinyur misi NASA dalam keterangan resminya.

Asteroid Psyche sendiri punya diameter sekitar 280 kilometer dan diyakini sebagai inti logam telanjang dari sebuah protoplanet purba. Objek ini berputar di bagian luar sabuk asteroid utama, dan menjadi target menarik bagi ilmuwan karena bisa memberikan petunjuk bagaimana inti logam planet terbentuk. Untuk mencapainya, wahana antariksa harus menempuh perjalanan total sekitar 3,54 miliar kilometer. Jika semua berjalan sesuai rencana, Psyche diperkirakan tiba di orbit asteroid tersebut pada Juli 2029.

Foto Bumi dan Bulan yang dibagikan NASA ini bukan sekadar hasil uji coba teknis, melainkan juga pengingat visual tentang posisi manusia di alam semesta. Para peneliti menilai setiap misi jarak jauh seperti ini memberi peluang baru untuk menguji teknologi sekaligus membangkitkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga planet tempat kita tinggal. Sementara itu, para ilmuwan tengah bersiap menganalisis data lebih lanjut dari kamera Psyche yang mampu merekam cahaya tampak maupun inframerah teknologi yang nantinya akan membuka lebih banyak rahasia tentang komposisi logam asteroid tujuan mereka.

Sabtu, 08 Maret 2025

NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul "Athena"

NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul Athena
NASA Meluncurkan Jaringan 4G di Bulan Setelah Pendaratan Modul "Athena".

Jakarta - NASA kembali mencetak sejarah dengan berhasil mengaktifkan jaringan seluler 4G pertama di Bulan. Teknologi ini dikembangkan oleh Nokia dan dikirim ke Kutub Selatan Bulan menggunakan modul pendaratan "Athena", yang dibuat oleh perusahaan swasta Intuitive Machines.

Pendaratan Tidak Sempurna, Tapi Jaringan Tetap Berfungsi

Meskipun pendaratan modul "Athena" tidak berlangsung sempurna—karena posisi modul sedikit miring—para insinyur memastikan bahwa jaringan 4G tetap berfungsi dengan baik. 

Dalam waktu dekat, NASA akan mulai melakukan pengujian jaringan ini, yang nantinya akan menjadi bagian penting dari misi luar angkasa di masa depan.

Apa Fungsi Jaringan 4G di Bulan?

Banyak yang mungkin bertanya-tanya, apakah kita bisa menelepon ke Bumi menggunakan jaringan ini? Jawabannya tidak. 

Jaringan 4G di Bulan bukan untuk komunikasi langsung ke Bumi, tetapi lebih difokuskan pada:

  • Menyediakan konektivitas bagi para astronot di misi "Artemis 3".
  • Menghubungkan berbagai peralatan penelitian di Bulan.
  • Memfasilitasi komunikasi antar-robot seperti rover MAPP dan drone Micro Nova Hopper.

Teknologi di Balik Jaringan 4G Bulan

Perangkat jaringan yang digunakan oleh Nokia dikemas dalam modul "Network-in-a-Box" (Jaringan dalam Kotak). 

Modul ini memiliki semua komponen yang diperlukan untuk membangun jaringan seluler, kecuali antena dan sumber daya. 

Antena dipasang di modul pendaratan, sedangkan tenaga listrik disuplai oleh panel surya.

Namun, jaringan ini hanya akan bertahan selama beberapa hari, karena peralatan yang dikirim kemungkinan besar tidak akan mampu bertahan menghadapi malam pertama di Bulan yang ekstrem.

Langkah Awal Menuju Infrastruktur Komunikasi Luar Angkasa

Peluncuran jaringan 4G ini menjadi langkah awal dalam membangun sistem komunikasi yang lebih canggih di Bulan. 

Ke depannya, Nokia berencana mengembangkan jaringan 4G atau bahkan 5G yang lebih luas, yang dapat mencakup pangkalan penelitian "Artemis".

NASA juga tengah mengembangkan teknologi komunikasi untuk astronot, seperti integrasi jaringan seluler ke dalam baju antariksa terbaru dari Axiom. 

Hal ini akan memungkinkan astronot untuk tetap terhubung satu sama lain dan dengan tim di Bumi secara lebih efisien.

Tantangan dan Hambatan dalam Penggunaan 4G di Bulan

Meskipun inovasi ini terdengar menarik, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi:

  1. Interferensi dengan Radio Astronomi – Frekuensi LTE yang digunakan sebagian tumpang tindih dengan frekuensi yang dipakai untuk pengamatan luar angkasa, yang dapat mengganggu penelitian ilmiah.
  2. Regulasi Frekuensi Internasional – Hingga saat ini, frekuensi 4G belum secara resmi masuk dalam daftar gelombang yang diizinkan untuk misi luar angkasa. Oleh karena itu, Nokia hanya mendapat izin khusus untuk eksperimen ini. Di masa depan, mereka perlu menyesuaikan frekuensi agar tetap kompatibel dengan standar global.

Masa Depan Komunikasi di Bulan

Langkah NASA dan Nokia dalam menghadirkan jaringan 4G di Bulan adalah tonggak penting dalam eksplorasi luar angkasa. 

Dengan semakin majunya teknologi komunikasi, kemungkinan besar kita akan melihat jaringan yang lebih kuat dan tahan lama di Bulan. 

Hal ini bukan hanya membantu misi eksplorasi, tetapi juga membuka peluang bagi masa depan kolonisasi manusia di luar angkasa.

Bagaimana menurutmu? Apakah jaringan 4G di Bulan akan membuka jalan bagi kehidupan manusia di luar Bumi? Yuk, diskusikan di kolom komentar!

Senin, 03 Maret 2025

Wahana Blue Ghost Sukses Mendarat di Bulan Membawa Kiriman Khusus untuk NASA

Wahana Blue Ghost Sukses Mendarat di Bulan Membawa Kiriman Khusus untuk NASA
Blue Ghost setelah mendarat di bulan dengan pengiriman khusus untuk NASA, 2 Maret 2025. (NASA/Firefly Aerospace via AP)
JAKARTA - Sebuah pendarat bulan swasta bernama "Blue Ghost" sukses mendarat dengan stabil di Bulan pada Minggu (2/3). 

Keberhasilan ini menjadikan Firefly Aerospace sebagai perusahaan swasta pertama yang berhasil menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan tanpa mengalami kecelakaan atau tumbang.

Misi ini membawa berbagai peralatan penting untuk NASA, termasuk bor, ruang hampa udara, dan sejumlah eksperimen lainnya. 

Keberhasilan pendaratan ini menambah daftar perusahaan yang berupaya mengembangkan bisnis eksplorasi Bulan sebelum misi astronaut masa depan.

Pendaratan Autopilot di Cekungan Vulkanik Kuno

Pendarat "Blue Ghost" melakukan perjalanan sejauh 360.000 kilometer sebelum akhirnya turun secara autopilot menuju permukaan Bulan. Titik pendaratan yang dipilih adalah sebuah lereng kubah vulkanik kuno di cekungan tumbukan di tepi timur laut sisi dekat Bulan.

Tim Mission Control Firefly Aerospace yang berbasis di luar Austin, Texas, mengonfirmasi keberhasilan pendaratan ini. 

Kepala teknisi pendarat, Will Coogan, dengan bangga melaporkan, "Kami berhasil melakukan pendaratan. Kami berada di Bulan."

Misi Penting untuk Eksplorasi Masa Depan

Keberhasilan Firefly Aerospace menunjukkan bahwa perusahaan swasta memiliki potensi besar dalam mendukung eksplorasi ruang angkasa. 

Dengan semakin banyaknya perusahaan yang ikut serta dalam eksplorasi Bulan, diharapkan akan semakin banyak inovasi yang mendukung misi masa depan, termasuk pengiriman manusia kembali ke satelit alami Bumi ini.

Misi "Blue Ghost" ini juga menjadi langkah awal dalam menjadikan Bulan sebagai pusat penelitian dan eksplorasi yang lebih luas. 

NASA dan berbagai pihak lainnya terus mencari cara untuk memanfaatkan sumber daya di Bulan guna mendukung misi luar angkasa yang lebih ambisius di masa depan, termasuk perjalanan ke Mars.

Dengan pencapaian ini, Firefly Aerospace membuktikan bahwa mereka siap bersaing dalam industri eksplorasi luar angkasa yang semakin berkembang. Kita tunggu inovasi dan misi luar angkasa menarik lainnya di masa depan!

Pendaratan yang tegak dan stabil menjadikan Firefly – sebuah perusahaan rintisan yang didirikan satu dekade lalu – sebagai perusahaan swasta pertama yang menempatkan pesawat ruang angkasa di Bulan tanpa jatuh atau terjatuh. 

Sejauh ini baru lima negara yang mengklaim berhasil melakukan pendaratan di Bulan, yaitu Rusia, Amerika Serikat, China, India, dan Jepang.

Setengah jam setelah mendarat, “Blue Ghost” mulai mengirimkan kembali gambar-gambar dari permukaan, yang pertama adalah swafoto (selfie) yang agak tertutup oleh sinar matahari.

Dua perusahaan pendarat lainnya sedang mengejar “Blue Ghost,” dan perusahaan berikutnya diperkirakan akan bergabung di bulan pada akhir minggu ini.

Piranti Pendarat Lebih Stabil, NASA Rogoh Kocek Lebih Dalam

“Blue Ghost” dinamai berdasarkan spesies kunang-kunang langka di AS, dengan ukuran dan bentuk yang sesuai. Pendarat jongkok berkaki empat ini memiliki tinggi 2 meter dan lebar 3,5 meter, sehingga lebih stabil.

Diluncurkan pada pertengahan Januari dari Florida, pendarat itu telah melakukan 10 percobaan ke bulan untuk NASA.

NASA membayar US$101 juta untuk pengiriman tersebut, ditambah US$44 juta untuk ilmu pengetahuan dan teknologi di dalamnya. 

Ini adalah misi ketiga di bawah program pengiriman komersial ke bulan NASA, yang dimaksudkan untuk memicu kompetisi bisnis swasta ke bulan, sambil mencari informasi tambahan sebelum mengirim para astronot di akhir dekade ini.

Ray Allensworth dari Firefly mengatakan pendarat itu melewati sejumlah bahaya, termasuk batu besar, untuk mendarat dengan aman.

Demo tersebut akan berlangsung selama dua minggu, sebelum siang hari di bulan berakhir dan pendarat dinonaktifkan.

“Blue Ghost” membawa alat vakum untuk menyedot material tak terkonsolidasi yang ditemukan di permukaan Bulanguna dianalisis lebih jauh, dan bor untuk mengukur suhu sedalam 3 meter di bawah permukaan. 

Ada pula berbagai perangkat untuk menghilangkan debu bulan yang bersifat abrasif, yang menjadi momok bagi para penjelajah Apollo milik NASA, yang melekat di seluruh pakaian dan peralatan antariksa mereka.

Dalam perjalanannya ke bulan, “Blue Ghost” memancarkan kembali gambar-gambar indah dari planet asalnya. 

Pendarat ini sempat beraksi saat berada di orbit mengelilingi bulan, dengan gambar lebih rinci tentang permukaan bulan yang bopeng abu-abu. 

Pada saat yang sama, penerima di dalam pesawat melacak dan memperoleh sinyal dari GPS AS dan konstelasi Galileo Eropa, sebuah langkah maju yang menggembirakan dalam navigasi penjelajah masa depan.

Pendaratan ini membuka jalan bagi banyak pihak yang sedang mengupayakan bisnis ke Bulan.

Pendarat Kedua Siap Mendarat pada Kamis

Pendarat lainnya – yaitu sebuah pesawat setinggi 15 kaki yang tinggi dan kurus, yang dibangun dan dioperasikan oleh Intuitive Machines yang berbasis di Houston – akan mendarat di bulan pada Kamis (6/3). 

Ia mengincar bagian bawah bulan, yang terletak hanya 160 kilometer dari kutub selatan. 

Jarak itu lebih dekat ke kutub dibandingkan yang dicapai perusahaan tahun lalu dengan pendarat pertamanya, yang bagian kakinya patah dan terbalik.

Meski terjatuh, pendarat pertama Intuitive Machines itu berhasil membawa Amerika Serikat kembali ke bulan untuk pertama kalinya, sejak astronaut NASA menutup program Apollo pada 972.

Pendarat Ketiga dari Jepang akan Tiba Juni

Pendarat ketiga milik perusahaan Jepang, ispace, baru akan mendarat tiga bulan lagi. Piranti ini menumpang roket “Blue Ghost” dari Cape Canaveral pada 15 Januari lalu, dengan rute yang lebih panjang dan berangin.

Sebagaimana halnya Intuitive Machines, ispace juga berusaha mendarat di bulan untuk kedua kalinya. Pendarat pertamanya pada 2023 jatuh.

Bulan dipenuhi puing-puing tidak hanya dari jatuhnya piranti ispace tersebut, tapi juga puluhan piranti lain yang gagal selama beberapa dekade. [em/ab]

Oleh: VOA Indonesia
Editor: Yakop

Senin, 24 Februari 2025

Pesawat Antariksa Blue Ghost Kirim Video Menakjubkan dari Sisi Jauh Bulan

Pesawat Antariksa Blue Ghost Kirim Video Menakjubkan dari Sisi Jauh Bulan
Pesawat Antariksa Blue Ghost Kirim Video Menakjubkan dari Sisi Jauh Bulan.
JAKARTA - Pesawat antariksa Blue Ghost, yang dikembangkan oleh Firefly Aerospace dalam program NASA Commercial Lunar Payload Services (CLPS), baru saja mengirimkan rekaman video spektakuler dari sisi jauh Bulan. 

Saat ini, Blue Ghost sedang menjalani serangkaian manuver untuk menurunkan orbitnya sebelum melakukan pendaratan di area Mare Crisium (Laut Krisis) pada 2 Maret 2025.

Menurut pernyataan dari Firefly Aerospace, manuver terbaru yang dilakukan berlangsung selama 3 menit 18 detik dan berhasil mengubah orbit Blue Ghost dari bentuk elips memanjang menjadi lebih rendah. 

Setelah manuver ini, pesawat berhasil merekam sisi jauh Bulan dari ketinggian sekitar 120 km, memberikan pandangan yang luar biasa dari wilayah yang jarang terekam.

Blue Ghost membawa sepuluh instrumen sains dan teknologi dari NASA. Dalam misinya, para ilmuwan akan meneliti berbagai aspek Bulan, termasuk:
  • Aliran panas dari dalam Bulan.
  • Interaksi antara material yang dikeluarkan dari pesawat dengan permukaan Bulan.
  • Medan listrik dan magnetik di kerak Bulan.
  • Observasi sinar-X terhadap magnetosfer Bumi.

Selain itu, ada juga eksperimen teknologi yang akan menguji sistem pengambilan sampel tanah Bulan, komputer tahan radiasi, serta metode perlindungan dari debu menggunakan teknologi elektrodinamika.

Salah satu peristiwa paling dinantikan dalam misi ini adalah perekaman gerhana matahari total pada 14 Maret 2025. 

Pada saat itu, Bumi akan menutupi Matahari dari perspektif Bulan, menciptakan pemandangan unik yang jarang disaksikan. 

Dua hari kemudian, pada 16 Maret, Blue Ghost juga akan merekam proses Matahari terbenam di cakrawala Bulan untuk meneliti efek cahaya yang disebabkan oleh debu bulan yang melayang, fenomena yang pertama kali diamati oleh astronot Eugene Cernan selama misi Apollo 17.

Para ilmuwan menduga bahwa debu bermuatan ini bisa menjadi ancaman bagi peralatan dan kesehatan astronot di masa depan, sehingga penelitian ini menjadi sangat penting.

Saat ini, Blue Ghost masih terus menurunkan orbitnya dan mengalami kehilangan sinyal secara berkala saat melintasi sisi jauh Bulan. 

Dalam beberapa hari ke depan, tim Firefly Aerospace akan melakukan manuver akhir sebelum pendaratan bersejarah yang akan menjadi langkah penting dalam persiapan eksplorasi Bulan di masa depan.

Dengan keberhasilan misi ini, Firefly Aerospace dan NASA semakin dekat dengan impian eksplorasi lebih jauh ke luar angkasa, membuka jalan bagi misi berawak ke Bulan dan mungkin bahkan ke Mars suatu hari nanti.