Berita BorneoTribun: Cek Kesehatan hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Cek Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cek Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 April 2026

161 Ribu Warga Kaltim Manfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis di Puskesmas

Sebanyak 161.511 warga Kaltim memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis di 188 puskesmas dengan tingkat kehadiran mencapai 92,28 persen.
Sebanyak 161.511 warga Kaltim memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis di 188 puskesmas dengan tingkat kehadiran mencapai 92,28 persen.

SAMARINDA – Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah terus mendapat respons positif dari masyarakat di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Hingga saat ini, sebanyak 161.511 warga telah memanfaatkan layanan kesehatan tersebut yang tersebar di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur, Jaya Mualimin, menyampaikan bahwa layanan CKG kini sudah menjangkau seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, khususnya 188 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di 10 kabupaten/kota.

“Masyarakat Kaltim kini sudah menjangkau CKG pada semua pelayanan kesehatan, terutama 188 Puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota,” ujar Jaya di Samarinda, Kamis.

Tingkat Kehadiran Tinggi, Program Dinilai Efektif

Berdasarkan data resmi Dinas Kesehatan Kaltim, jumlah warga yang melakukan registrasi dalam program tersebut mencapai 175.025 orang. Dari jumlah itu, tingkat kehadiran peserta tercatat 92,28 persen.

Menurut Jaya, angka partisipasi yang tinggi ini menjadi indikator bahwa program pemeriksaan kesehatan gratis berjalan efektif dan tepat sasaran.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dari dominasi kelompok usia produktif yang memanfaatkan layanan ini.

Kelompok Usia 40–59 Tahun Jadi Peserta Terbanyak

Kelompok usia dewasa senior, yakni 40 hingga 59 tahun, menjadi partisipan tertinggi dalam program ini dengan jumlah 39.449 orang.

Sementara itu, kelompok usia dewasa muda 18–29 tahun juga menunjukkan minat besar dengan jumlah peserta mencapai 25.781 orang.

Pada kategori anak-anak, kelompok usia sekolah 7–12 tahun menjadi yang paling dominan dengan jumlah peserta 24.020 anak.

Tak kalah penting, kelompok lanjut usia atau lansia berumur di atas 60 tahun juga menunjukkan kesadaran kesehatan yang baik dengan total kunjungan mencapai 18.356 orang.

“Secara keseluruhan, kelompok anak-anak dan remaja di bawah usia 18 tahun menyumbang sekitar 35 persen dari total kehadiran program tersebut,” terang Jaya.

Skrining Bayi Jadi Fokus Deteksi Dini

Selain melayani masyarakat umum, program CKG juga memberikan perhatian khusus pada kesehatan bayi baru lahir.

Tercatat sebanyak 3.471 bayi telah mendapatkan layanan deteksi dini melalui laboratorium kesehatan provinsi, khususnya melalui pemeriksaan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK).

Jaya menjelaskan bahwa pihaknya bekerja sama dengan seluruh pemerintah kabupaten dan kota untuk mengoptimalkan pengiriman sampel pemeriksaan bayi.

Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk mendeteksi kemungkinan penyakit kongenital sejak dini sehingga langkah pencegahan medis dapat segera dilakukan.

“Pemeriksaan khusus bagi bayi tersebut bertujuan untuk menganalisis adanya penyakit kongenital sehingga langkah pencegahan dapat segera dilakukan secara medis,” jelasnya.

Hasil Pemeriksaan Bisa Diakses Melalui Laboratorium Daerah

Untuk memastikan transparansi dan kemudahan akses informasi kesehatan, hasil pemeriksaan dalam program CKG dapat diakses melalui Laboratorium Kesehatan Daerah milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin, sekaligus memperkuat sistem deteksi dini penyakit di tingkat daerah.

Dengan capaian partisipasi yang tinggi, pemerintah daerah optimistis program ini akan terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat di masa mendatang.

FAQ

Apa Itu Program Cek Kesehatan Gratis (CKG)?

Program CKG adalah layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan pemerintah melalui puskesmas dan fasilitas kesehatan untuk mendeteksi penyakit sejak dini.

Berapa Jumlah Warga Kaltim Yang Mengikuti Program CKG?

Sebanyak 161.511 warga telah memanfaatkan layanan Program Cek Kesehatan Gratis di Kalimantan Timur.

Di Mana Program CKG Dilaksanakan?

Program ini dilaksanakan di 188 Puskesmas yang tersebar di 10 kabupaten/kota di Kalimantan Timur.

Apa Manfaat Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK)?

SHK bertujuan mendeteksi gangguan hormon tiroid pada bayi sejak dini agar dapat segera ditangani secara medis.

Bagaimana Cara Mengakses Hasil Pemeriksaan?

Hasil pemeriksaan kesehatan dapat diakses melalui Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

Senin, 02 Februari 2026

Masih Muda Tapi Kena Stroke, Kisah Ini Bikin Kita Berhenti Bilang “Nanti Aja Cek Kesehatan”

Masih Muda Tapi Kena Stroke, Kisah Ini Bikin Kita Berhenti Bilang “Nanti Aja Cek Kesehatan”. (Gambar ilistrasi)
Masih Muda Tapi Kena Stroke, Kisah Ini Bikin Kita Berhenti Bilang “Nanti Aja Cek Kesehatan”. (Gambar ilistrasi)

JAKARTA -- Banyak orang merasa usia muda adalah tameng alami dari penyakit serius. Kerja keras, begadang, stres, semua dianggap wajar selama badan masih kuat. 

Tapi anggapan itu langsung runtuh ketika seorang perempuan berusia 32 tahun di Jakarta Selatan tiba-tiba harus dilarikan ke rumah sakit karena stroke

Bukan usia 60, bukan 70, tapi awal 30-an. Cerita ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangunkan kesadaran bahwa tubuh punya batas, dan sering kali memberi tanda sebelum benar-benar tumbang.

Awalnya semua terasa biasa saja. Bangun tidur, mata terasa agak aneh seperti bengkak atau berat. Banyak orang mungkin akan mengira ini cuma kurang tidur atau kecapekan. Tapi seiring waktu, rasa ngantuk datang tidak wajar, bicara terasa kurang lancar, dan wajah terlihat tidak simetris saat bercermin. 

Hal-hal yang sering dianggap sepele ini ternyata menjadi tanda awal stroke. Sayangnya, tanda seperti ini sering diabaikan karena tidak disertai rasa sakit yang hebat.

Stroke sendiri terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu. Otak adalah pusat kendali tubuh, jadi ketika suplai darah terhambat, efeknya bisa langsung terasa pada wajah, bicara, penglihatan, hingga gerakan tubuh. Yang perlu dipahami, stroke tidak selalu datang dengan gejala dramatis. 

Justru sering muncul pelan-pelan, membuat penderitanya ragu apakah ini kondisi serius atau hanya gangguan sementara.

Kasus perempuan muda ini membuka mata banyak orang bahwa stroke tidak mengenal usia

Gaya hidup modern seperti duduk terlalu lama, jarang olahraga, stres berkepanjangan, pola makan tidak seimbang, serta kurang tidur bisa meningkatkan risiko tanpa disadari. 

Bahkan orang yang terlihat sehat pun bisa menyimpan masalah tersembunyi di dalam tubuhnya.

Masih Muda Tapi Kena Stroke, Kisah Ini Bikin Kita Berhenti Bilang “Nanti Aja Cek Kesehatan”. (Gambar ilistrasi)
Masih Muda Tapi Kena Stroke, Kisah Ini Bikin Kita Berhenti Bilang “Nanti Aja Cek Kesehatan”. (Gambar ilistrasi)

Di sinilah pentingnya kesadaran sejak dini. Mengenali gejala awal bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, tapi juga orang di sekitar. 

Jika seseorang tiba-tiba bicara pelo, wajah terlihat turun di satu sisi, atau tubuh terasa lemas sebelah, itu bukan kondisi untuk ditunggu. Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pemulihan yang baik.

Lalu apa manfaat dari memahami kisah seperti ini. Manfaat terbesarnya adalah kita jadi lebih peka terhadap tubuh sendiri. Tidak semua kelelahan harus dimaklumi, tidak semua rasa aneh harus ditoleransi. 

Cerita ini juga mengingatkan bahwa kesehatan bukan hanya soal terlihat bugar, tapi soal kondisi di dalam tubuh yang sering tidak terasa.

Selain waspada gejala, menjaga tubuh lewat pola konsumsi juga punya peran besar. Konsumsi makanan sehari-hari sebaiknya tidak asal kenyang. 

Perbanyak makanan segar seperti sayur dan buah, kurangi makanan tinggi lemak dan terlalu asin, serta batasi gula berlebihan. 

Minum air putih cukup, bukan hanya kopi atau minuman manis. Konsumsi makanan sehat bukan soal diet ketat, tapi kebiasaan yang konsisten dan masuk akal.

Selain makanan, konsumsi waktu istirahat juga penting. Tidur bukan kemewahan, tapi kebutuhan. Begadang terus-menerus membuat tubuh bekerja tanpa jeda, termasuk otak dan jantung. 

Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki juga membantu melancarkan aliran darah dan menjaga tubuh tetap aktif.

Di bagian akhir, solusi paling sederhana tapi sering dilupakan adalah mau mendengarkan tubuh sendiri. Jangan menunggu parah baru bergerak. 

Cek kesehatan secara berkala meski merasa baik-baik saja. Jika ada keluhan yang terasa tidak biasa, jangan ragu bertanya atau memeriksakan diri.

Kisah stroke di usia muda ini seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan bukan soal takut sakit, tapi soal menghargai hidup. 

Tubuh sudah bekerja keras setiap hari. Tugas kita adalah memberi perhatian sebelum terlambat.