Berita BorneoTribun: ETF Emas hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label ETF Emas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ETF Emas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Oktober 2025

Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram

Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram
Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram.

JAKARTA - Harga emas dunia diprediksi bakal terus menanjak. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar di dunia, menaikkan target harga emas tahun 2026 menjadi US$4.900 per ons dari proyeksi sebelumnya US$4.300. Kenaikan ini diumumkan pada 7 Oktober 2025 dan didorong oleh meningkatnya permintaan emas dari bank sentral serta lonjakan investasi ke produk berbasis emas seperti exchange-traded fund (ETF) di pasar Barat. Dengan harga emas saat ini di kisaran US$3.977 per ons, potensi kenaikan mencapai sekitar 23% dalam satu tahun ke depan.

Dalam laporannya yang dikutip Reuters, analis Goldman Sachs menilai bahwa arah pergerakan harga emas masih cenderung naik atau memiliki upside risk yang cukup besar. Salah satu pendorong utamanya adalah diversifikasi portofolio investor swasta ke aset emas, yang dinilai masih memiliki ruang tumbuh karena ukuran pasar yang relatif kecil. “Arus masuk ETF bisa melampaui estimasi kami yang sebelumnya didasarkan pada pergerakan suku bunga,” tulis analis Goldman.

Data Investing menunjukkan harga emas spot pada Selasa pagi (7/10) pukul 07.15 WIB telah menembus US$3.977 per ons, atau hampir menyentuh level psikologis US$4.000. Dalam sebulan terakhir, harga emas naik 10,56%, sementara dalam enam bulan terakhir melesat 32%, dan setahun terakhir meroket 50%. Kenaikan ini diperkuat oleh faktor-faktor global seperti pembelian agresif oleh bank sentral dunia, meningkatnya permintaan ETF, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran geopolitik yang mendorong investor mencari aset aman.

Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan bertahan tinggi, yakni rata-rata 80 ton pada 2025 dan 70 ton pada 2026. Negara-negara berkembang disebut menjadi kontributor utama tren ini, seiring upaya mereka mendiversifikasi cadangan devisa dari dolar AS ke emas. Selain itu, Goldman juga memperkirakan kepemilikan ETF berbasis emas di negara Barat akan meningkat, didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin hingga pertengahan 2026.

Meskipun aktivitas spekulatif jangka pendek terlihat stabil, Goldman menilai lonjakan arus masuk ETF pada September bukan fenomena sementara, melainkan bentuk penyesuaian terhadap ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, prospek emas hingga 2026 dinilai tetap positif. Jika prediksi Goldman terbukti, harga emas berpotensi mencetak rekor baru mendekati US$5.000 per ons dan memperkuat posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, harga emas dalam negeri juga menunjukkan tren serupa. Berdasarkan data per 7 Oktober 2025, harga emas fisik digital di Super App Investasi Bareksa tercatat Rp2.170.420 per gram (harga promo, dari Rp2.181.326), emas Pegadaian Rp2.216.000 per gram, dan emas Indogold Rp2.157.396 per gram. Kenaikan harga emas fisik digital di Indonesia mencapai 58–62,8% dalam setahun terakhir. Sedangkan harga emas batangan Antam kini berada di level Rp2.284.000 per gram, naik 54,53% dibanding tahun lalu.

Jika mengacu pada kurs dolar AS Rp16.554 per dolar AS dan harga emas spot global US$3.977 per ons, maka harga tersebut setara dengan Rp2.116.610 per gram. Perbedaan harga emas dalam negeri yang lebih tinggi, sekitar 1,9–7,9% dibanding harga spot global, disebabkan oleh adanya biaya produksi, pajak, margin penjual, dan premi likuiditas akibat tingginya permintaan emas fisik di pasar domestik.

Dengan asumsi kurs yang sama, jika prediksi Goldman Sachs bahwa harga emas menembus US$4.900 per ons terbukti pada 2026, maka harga emas spot global bisa mencapai sekitar Rp2,6 juta per gram. Mengacu pada selisih harga emas dalam negeri saat ini, maka harga emas lokal berpotensi berada di kisaran Rp2,65 juta hingga Rp2,8 juta per gram pada 2026. Ini berarti kenaikan sekitar 23% dari posisi harga saat ini, sejalan dengan proyeksi Goldman Sachs.

Kenaikan harga emas yang signifikan ini diprediksi akan berdampak luas, terutama bagi investor ritel di Indonesia yang menjadikan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan rupiah. Di sisi lain, pelaku pasar juga diimbau untuk tetap memperhatikan fluktuasi global seperti arah kebijakan moneter The Fed dan tensi geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas dalam jangka pendek. Jika tren positif berlanjut, tahun 2026 bisa menjadi periode rekor baru bagi logam mulia, baik di pasar global maupun domestik.