Berita BorneoTribun: Ekonomi Global hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Global. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Global. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 April 2026

Kebijakan Baru Iran Di Hormuz Guncang Dominasi Dolar Global

Iran menerapkan biaya transit di Selat Hormuz dengan mata uang non-dolar. Langkah ini dinilai mempercepat tren de-dolarisasi dan mengancam dominasi petrodollar global.
Iran menerapkan biaya transit di Selat Hormuz dengan mata uang non-dolar. Langkah ini dinilai mempercepat tren de-dolarisasi dan mengancam dominasi petrodollar global.

Iran mulai mengambil langkah baru yang membuat dunia energi dan keuangan global ikut waspada. Negara tersebut dikabarkan menerapkan kebijakan baru terkait jalur pelayaran penting Selat Hormuz yang bisa berdampak langsung pada dominasi dolar Amerika di perdagangan minyak dunia, Selasa, (7/4/2026).

Selat Hormuz dikenal sebagai jalur laut paling vital di dunia. Sekitar 20 persen perdagangan minyak global biasanya melewati wilayah sempit ini. Ketika terjadi ketegangan geopolitik, jalur ini menjadi titik strategis yang bisa mempengaruhi harga energi hingga ekonomi global.

Iran Terapkan Biaya Jalur Hormuz dengan Mata Uang Alternatif

Dalam perkembangan terbaru, Iran dilaporkan mulai menerapkan kebijakan biaya bagi kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Uniknya, pembayaran tidak lagi berfokus pada dolar Amerika, melainkan menggunakan mata uang lain seperti yuan China atau sistem pembayaran non-dolar.

Langkah ini dinilai sebagai strategi besar yang tidak hanya berkaitan dengan keamanan wilayah, tetapi juga menyentuh sistem keuangan global. Selama puluhan tahun, perdagangan minyak internasional hampir selalu menggunakan dolar Amerika, yang dikenal sebagai sistem petrodollar.

Jika kebijakan pembayaran non-dolar ini terus diterapkan secara konsisten, maka dampaknya bisa meluas. Negara-negara yang bergantung pada jalur Hormuz kemungkinan harus menyesuaikan sistem pembayaran mereka agar tetap bisa mengirimkan minyak ke pasar dunia.

Dampak Langsung ke Sistem Petrodollar

Sistem petrodollar sudah menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi Amerika sejak tahun 1970-an. Dengan sebagian besar transaksi minyak dilakukan dalam dolar, permintaan terhadap mata uang tersebut selalu tinggi.

Namun kebijakan Iran ini dianggap sebagai tantangan langsung terhadap sistem tersebut. Jika semakin banyak transaksi minyak dilakukan menggunakan mata uang selain dolar, maka dominasi dolar dalam perdagangan global bisa perlahan berkurang.

Para analis menilai langkah ini bukan berarti dolar akan langsung tergantikan. Namun perubahan kecil yang terus berulang dalam jangka panjang bisa mempercepat tren yang dikenal sebagai de-dolarisasi, yaitu peralihan penggunaan dolar ke mata uang lain dalam perdagangan internasional.

Peran Negara BRICS dalam Perubahan Sistem Keuangan

Kelompok negara BRICS yang terdiri dari beberapa ekonomi besar dunia juga disebut berperan dalam mempercepat tren de-dolarisasi. Negara-negara ini telah lama membahas sistem pembayaran alternatif yang tidak bergantung pada dolar.

Iran dinilai memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara tersebut, terutama yang membutuhkan pasokan energi dalam jumlah besar.

Selain itu, penggunaan mata uang alternatif juga dianggap sebagai cara untuk mengurangi dampak sanksi ekonomi yang selama ini banyak memanfaatkan sistem dolar global.

Risiko bagi Pasar Energi Dunia

Kebijakan baru di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada sistem keuangan, tetapi juga pada stabilitas pasokan energi dunia. Ketika jumlah kapal yang melintas berkurang atau proses pembayaran menjadi lebih rumit, harga minyak global berpotensi naik.

Jika situasi ini berlangsung lama, dampaknya bisa dirasakan hingga ke berbagai negara, termasuk meningkatnya harga bahan bakar dan biaya logistik.

Meski begitu, sebagian pengamat menyebut perubahan ini masih dalam tahap awal. Dolar Amerika tetap menjadi mata uang dominan dunia, sehingga perubahan besar kemungkinan terjadi secara bertahap, bukan secara mendadak.

Dunia Masuk Era Persaingan Mata Uang Energi

Langkah Iran di Selat Hormuz menjadi salah satu sinyal bahwa dunia mulai bergerak menuju sistem perdagangan energi yang lebih beragam dalam hal mata uang.

Bagi banyak negara, situasi ini menjadi momentum untuk mencari alternatif sistem pembayaran yang lebih fleksibel. Sementara itu, bagi pasar global, perubahan ini bisa menjadi awal dari babak baru dalam persaingan ekonomi antarnegara.

Yang jelas, kebijakan di jalur laut paling penting dunia ini akan terus menjadi perhatian utama, karena dampaknya tidak hanya menyangkut geopolitik, tetapi juga menyentuh kehidupan ekonomi masyarakat di berbagai negara.

Senin, 16 Maret 2026

Serangan AS Ke Kharg Oil Hub Iran Dinilai Bisa Picu Krisis Energi Global

Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.
Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul analisis yang memperingatkan bahwa serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg berpotensi memicu dampak ekonomi global yang serius. Seorang pakar menilai langkah tersebut justru bisa menjadi “economic suicide” bagi Washington karena berisiko memicu eskalasi yang mengganggu pasokan energi dunia.

Analis Timur Tengah Andrey Chuprygin, dosen senior di Fakultas Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional, menyebut Iran kini tidak lagi bergantung pada satu titik vital dalam ekspor minyaknya. Menurutnya, strategi yang diterapkan Teheran selama bertahun-tahun telah mengubah peta kerentanan infrastruktur energi negara tersebut.

Dalam keterangannya, Chuprygin menjelaskan bahwa Iran telah lama menerapkan kebijakan desentralisasi infrastruktur strategis. Fasilitas penting seperti stasiun pemompaan minyak ditempatkan di lokasi yang lebih tersembunyi, bahkan sebagian berada di bawah tanah.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan besar apabila terjadi serangan terhadap fasilitas utama seperti Kharg Oil Hub, yang selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran di Teluk Persia.

Selain itu, Iran juga telah mengoperasikan terminal minyak baru di Jask yang berada di luar Selat Hormuz. Terminal tersebut terhubung dengan ladang minyak di Provinsi Bushehr melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Keberadaan jalur ekspor alternatif ini dinilai membuat Iran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu jalur distribusi minyak. Artinya, serangan terhadap satu fasilitas tidak otomatis melumpuhkan seluruh sistem ekspor energi negara tersebut.

Menurut Chuprygin, apabila terjadi serangan terhadap Kharg Oil Hub, respons Iran kemungkinan tidak hanya terbatas pada pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Target balasan bisa meluas hingga infrastruktur energi milik sekutu Barat.

Beberapa fasilitas strategis di kawasan Teluk bahkan disebut berpotensi masuk dalam daftar target. Salah satunya adalah kompleks pengolahan minyak raksasa di Arab Saudi seperti Abqaiq, yang dikenal sebagai salah satu fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia.

Selain itu, terminal gas utama di Qatar juga dianggap sebagai titik yang sangat sensitif. Fasilitas tersebut menampung investasi besar perusahaan energi internasional, termasuk dari Amerika Serikat.

Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut, menurut analis itu, dapat membuat harga minyak dunia menjadi sangat tidak stabil. Ketidakpastian pasokan energi berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang berdampak langsung pada konsumen di negara Barat.

Chuprygin menilai skenario tersebut justru akan menjadi bumerang bagi ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar dapat memicu inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri.

Ia menambahkan, sektor industri dan transportasi di Amerika sangat bergantung pada harga energi yang stabil. Jika harga bensin melonjak drastis, dampaknya dapat terasa luas bagi aktivitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, Iran dinilai telah cukup berpengalaman menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berlangsung selama puluhan tahun. Negara tersebut juga telah membangun jaringan perdagangan energi dengan berbagai negara di Asia.

Hal ini membuat Iran relatif memiliki alternatif pasar untuk menjual minyaknya meskipun terjadi gangguan dalam jalur ekspor tertentu.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, potensi operasi militer terhadap Pulau Kharg juga dinilai memiliki risiko tinggi bagi militer Amerika Serikat.

Pulau tersebut berada dalam jangkauan sistem pertahanan pesisir Iran yang dilengkapi dengan baterai rudal serta armada drone tempur seperti Ababil dan Shahed.

Kombinasi sistem senjata ini disebut mampu menciptakan zona penolakan akses atau anti-access area yang luas di perairan sekitar Teluk Persia.

Jika terjadi upaya pendaratan militer, kelompok kapal induk Amerika Serikat berpotensi menjadi target utama rudal balistik anti-kapal Iran jenis Khalij-e Fars yang dirancang untuk menghancurkan kapal permukaan berukuran besar.

Chuprygin memperingatkan bahwa operasi semacam itu dapat menimbulkan kerugian besar bagi militer Amerika Serikat, baik dari sisi personel maupun peralatan tempur.

Menurutnya, upaya merebut wilayah kecil seperti Pulau Kharg justru dapat berubah menjadi jebakan militer yang berisiko tinggi.

Ia menilai langkah tersebut tidak hanya berpotensi gagal secara strategis, tetapi juga dapat merusak reputasi militer Amerika Serikat di tingkat global.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan Teluk Persia tetap menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi stabilitas energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan infrastruktur energi di kawasan tersebut berpotensi membawa dampak ekonomi yang jauh melampaui wilayah konflik itu sendiri.

Senin, 09 Maret 2026

Prabowo Siapkan Taklimat Untuk Rakyat Indonesia Terkait Krisis Global

Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan taklimat kepada rakyat Indonesia terkait dampak perang Timur Tengah dan kondisi global yang berpotensi memengaruhi ekonomi dan keamanan.
Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan taklimat kepada rakyat Indonesia terkait dampak perang Timur Tengah dan kondisi global yang berpotensi memengaruhi ekonomi dan keamanan.

JAKARTA -- Presiden Prabowo Subianto menyatakan akan menyampaikan taklimat khusus kepada seluruh rakyat Indonesia dalam waktu dekat. Taklimat tersebut akan menjelaskan kondisi global yang sedang bergejolak serta langkah-langkah yang perlu dipersiapkan Indonesia menghadapi situasi tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Presiden saat agenda peresmian 218 jembatan yang dilakukan secara virtual. Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo menyinggung meningkatnya ketegangan geopolitik akibat konflik di kawasan Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan keamanan dunia.

“Akibat perang di Timur Tengah kita harus siap menghadapi kesulitan. Kita punya kekuatan yang besar, tapi saya juga akan jujur, saya akan memberi suatu taklimat kepada seluruh bangsa Indonesia dalam waktu dekat,” kata Presiden dalam siaran yang disaksikan melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden di Jakarta, Senin.

Presiden Prabowo menilai situasi dunia saat ini berada dalam kondisi penuh ketidakpastian. Persaingan dan pertikaian antara kekuatan besar dunia dinilai berpotensi menyeret negara-negara lain ke dalam situasi yang semakin kompleks.

Menurut Presiden, dampak konflik di Timur Tengah tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung, tetapi juga memicu guncangan global. Kondisi tersebut berpengaruh pada stabilitas ekonomi, perdagangan internasional, serta keamanan dunia.

“Seluruh dunia sedang mengalami goncangan akibat perang di Timur Tengah. Kita terus terang saja harus menghadapi kesulitan,” ujar Presiden.

Meski demikian, pemerintah memastikan terus memantau perkembangan situasi global secara intensif. Presiden Prabowo menyebut dirinya secara langsung mempelajari berbagai data dan indikator ekonomi setiap hari untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap tepat.

“Saya sudah melihat dan mempelajari angka-angka setiap hari. Kita menemukan terus kekayaan-kekayaan baru. Kita akan mengalami kesulitan, saya tidak akan menutupi itu perkiraan saya. Kita akan keluar dari krisis ini dalam keadaan lebih kuat, lebih makmur, dan lebih mampu berdikari,” kata Presiden.

Di tengah situasi global yang tidak menentu, Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional. Salah satu fokus utama pemerintah adalah memperkuat sektor pangan dan energi agar Indonesia tetap stabil menghadapi dinamika dunia.

Presiden Prabowo menyampaikan rasa syukur karena upaya menuju swasembada pangan mulai menunjukkan hasil nyata. Ia menyebut Indonesia hampir mencapai target kemandirian pangan yang selama ini diperjuangkan.

“Kita sangat bersyukur atas karunia yang Maha Kuasa. Bertahun-tahun saya perjuangkan swasembada pangan, dan sekarang kita bersyukur karena kita sudah sampai swasembada beras. Sebentar lagi kita juga mencapai kebutuhan protein kita,” ujar Presiden.

Menurut Presiden Prabowo, ketahanan pangan menjadi jaminan penting bagi keamanan nasional. Di tengah banyak negara menghadapi tekanan ekonomi dan krisis pangan, Indonesia diharapkan tetap mampu menjaga stabilitas kebutuhan masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga terus mendorong kemandirian energi. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan bahan bakar berbasis sumber daya domestik, seperti kelapa sawit, singkong, jagung, dan tebu.

Presiden Prabowo menilai langkah tersebut penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada energi impor di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Di akhir pernyataannya, Presiden Prabowo mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap bekerja keras dan menjaga persatuan. Ia menekankan bahwa kerja sama dan rasa syukur menjadi kunci bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan global.

“Kita harus kerja keras, kita harus rukun, kita harus bersyukur,” kata Presiden.

Harga Minyak Tembus 100 Dolar, IHSG Berpotensi Melemah Pada Perdagangan Senin

IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)
IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Analis pasar memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan Senin (9/3). Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan pasar berasal dari lonjakan harga minyak global yang telah menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai tekanan eksternal masih cukup kuat mempengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 7.460–7.860," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta infrastruktur energi Iran, termasuk depot penyimpanan minyak di sekitar Teheran dan provinsi Alborz.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar di beberapa fasilitas energi strategis. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas distribusi energi, khususnya di jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah dunia menunjukkan lonjakan signifikan. Crude Oil WTI tercatat menyentuh 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil berada di level 109,53 dolar AS per barel.

Menurut Nico, peningkatan serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi semakin mendorong kenaikan harga minyak global. Risiko gangguan pasokan dinilai meningkat apabila konflik turut mempengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, pemerintah juga tengah mempertimbangkan opsi penyesuaian anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah dapat menempuh langkah efisiensi belanja dan menunda sejumlah proyek infrastruktur untuk menjaga disiplin fiskal. Namun kebijakan tersebut berpotensi memperlambat realisasi pembangunan serta aktivitas ekonomi di sektor konstruksi.

Nico menambahkan, jika pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya dapat memicu kenaikan inflasi serta meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Sementara itu, tekanan juga datang dari bursa global. Pada perdagangan Jumat (6/3), indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.740,02, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke level 22.387,68.

Di dalam negeri, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (6/3) juga tercatat melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Sementara indeks LQ45 turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.

Dengan berbagai sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak global yang dapat mempengaruhi arah IHSG dalam waktu dekat.

Senin, 13 Oktober 2025

Donald Trump Naik Pitam! AS Naikkan Tarif Impor Produk China Jadi 130 Persen, Gegara Logam Langka

Donald Trump Naik Pitam! AS Naikkan Tarif Impor Produk China Jadi 130 Persen, Gegara Logam Langka
Donald Trump Naik Pitam! AS Naikkan Tarif Impor Produk China Jadi 130 Persen, Gegara Logam Langka.

AMERIKA SERIKATPresiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali membuat gebrakan yang mengejutkan dunia. Kali ini, amarahnya tertuju pada China hingga ia memutuskan untuk menaikkan tarif impor produk dari negeri tirai bambu itu menjadi 130 persen.

Kebijakan ini diumumkan setelah sebelumnya Trump sudah menetapkan tambahan tarif sebesar 30 persen. Artinya, mulai 1 November 2025, seluruh produk asal China yang masuk ke pasar Amerika akan dikenakan bea masuk selangit.

“Amerika Serikat akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 100 persen terhadap China—di luar tarif yang sudah mereka bayarkan selama ini,” tulis Trump di akun media sosial Truth Social, Jumat (10/10).

Langkah ekstrem ini muncul setelah China memperketat ekspor logam tanah jarang atau rare earth elements (REE)—material penting yang dibutuhkan untuk berbagai industri teknologi dan elektronik, mulai dari ponsel pintar hingga kendaraan listrik.

Sebagai informasi, China adalah pemasok utama logam tanah jarang di dunia, sementara Amerika Serikat menjadi salah satu pasar terbesar yang mengandalkan bahan tersebut. Karena itu, kebijakan pembatasan ekspor dari pihak China membuat AS merasa terancam dari sisi pasokan bahan baku strategis.

Trump yang dikenal keras terhadap kebijakan perdagangan internasional menilai langkah China tersebut sebagai bentuk tekanan ekonomi. Maka, tarif tinggi ini dianggap sebagai “balasan” agar China mau kembali membuka ekspor logam tanah jarang ke pasar Amerika.

Sebelum kebijakan ini diumumkan, Trump memang sudah kerap menunjukkan sikap tegas terhadap Beijing. Beberapa kali ia menyinggung soal pembatasan penjualan teknologi AS ke China, serta menerapkan biaya tambahan bagi barang-barang yang diangkut oleh kapal milik atau yang dioperasikan perusahaan asal China.

Kebijakan tarif 130 persen ini pun diperkirakan akan berdampak besar, bukan hanya pada hubungan dagang kedua negara, tapi juga pada rantai pasok global di sektor teknologi dan manufaktur. Banyak pihak menilai, perang dagang AS–China bisa kembali memanas jika kedua negara tak segera mencari jalan tengah.

Rabu, 08 Oktober 2025

Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram

Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram
Prediksi Gila Goldman Sachs Harga Emas Bisa Tembus Hampir Rp28 Juta per Gram.

JAKARTA - Harga emas dunia diprediksi bakal terus menanjak. Goldman Sachs, salah satu bank investasi terbesar di dunia, menaikkan target harga emas tahun 2026 menjadi US$4.900 per ons dari proyeksi sebelumnya US$4.300. Kenaikan ini diumumkan pada 7 Oktober 2025 dan didorong oleh meningkatnya permintaan emas dari bank sentral serta lonjakan investasi ke produk berbasis emas seperti exchange-traded fund (ETF) di pasar Barat. Dengan harga emas saat ini di kisaran US$3.977 per ons, potensi kenaikan mencapai sekitar 23% dalam satu tahun ke depan.

Dalam laporannya yang dikutip Reuters, analis Goldman Sachs menilai bahwa arah pergerakan harga emas masih cenderung naik atau memiliki upside risk yang cukup besar. Salah satu pendorong utamanya adalah diversifikasi portofolio investor swasta ke aset emas, yang dinilai masih memiliki ruang tumbuh karena ukuran pasar yang relatif kecil. “Arus masuk ETF bisa melampaui estimasi kami yang sebelumnya didasarkan pada pergerakan suku bunga,” tulis analis Goldman.

Data Investing menunjukkan harga emas spot pada Selasa pagi (7/10) pukul 07.15 WIB telah menembus US$3.977 per ons, atau hampir menyentuh level psikologis US$4.000. Dalam sebulan terakhir, harga emas naik 10,56%, sementara dalam enam bulan terakhir melesat 32%, dan setahun terakhir meroket 50%. Kenaikan ini diperkuat oleh faktor-faktor global seperti pembelian agresif oleh bank sentral dunia, meningkatnya permintaan ETF, pelemahan dolar AS, serta kekhawatiran geopolitik yang mendorong investor mencari aset aman.

Goldman Sachs memperkirakan pembelian emas oleh bank sentral akan bertahan tinggi, yakni rata-rata 80 ton pada 2025 dan 70 ton pada 2026. Negara-negara berkembang disebut menjadi kontributor utama tren ini, seiring upaya mereka mendiversifikasi cadangan devisa dari dolar AS ke emas. Selain itu, Goldman juga memperkirakan kepemilikan ETF berbasis emas di negara Barat akan meningkat, didorong oleh ekspektasi bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin hingga pertengahan 2026.

Meskipun aktivitas spekulatif jangka pendek terlihat stabil, Goldman menilai lonjakan arus masuk ETF pada September bukan fenomena sementara, melainkan bentuk penyesuaian terhadap ekspektasi penurunan suku bunga di Amerika Serikat. Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, prospek emas hingga 2026 dinilai tetap positif. Jika prediksi Goldman terbukti, harga emas berpotensi mencetak rekor baru mendekati US$5.000 per ons dan memperkuat posisinya sebagai aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, harga emas dalam negeri juga menunjukkan tren serupa. Berdasarkan data per 7 Oktober 2025, harga emas fisik digital di Super App Investasi Bareksa tercatat Rp2.170.420 per gram (harga promo, dari Rp2.181.326), emas Pegadaian Rp2.216.000 per gram, dan emas Indogold Rp2.157.396 per gram. Kenaikan harga emas fisik digital di Indonesia mencapai 58–62,8% dalam setahun terakhir. Sedangkan harga emas batangan Antam kini berada di level Rp2.284.000 per gram, naik 54,53% dibanding tahun lalu.

Jika mengacu pada kurs dolar AS Rp16.554 per dolar AS dan harga emas spot global US$3.977 per ons, maka harga tersebut setara dengan Rp2.116.610 per gram. Perbedaan harga emas dalam negeri yang lebih tinggi, sekitar 1,9–7,9% dibanding harga spot global, disebabkan oleh adanya biaya produksi, pajak, margin penjual, dan premi likuiditas akibat tingginya permintaan emas fisik di pasar domestik.

Dengan asumsi kurs yang sama, jika prediksi Goldman Sachs bahwa harga emas menembus US$4.900 per ons terbukti pada 2026, maka harga emas spot global bisa mencapai sekitar Rp2,6 juta per gram. Mengacu pada selisih harga emas dalam negeri saat ini, maka harga emas lokal berpotensi berada di kisaran Rp2,65 juta hingga Rp2,8 juta per gram pada 2026. Ini berarti kenaikan sekitar 23% dari posisi harga saat ini, sejalan dengan proyeksi Goldman Sachs.

Kenaikan harga emas yang signifikan ini diprediksi akan berdampak luas, terutama bagi investor ritel di Indonesia yang menjadikan emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan pelemahan rupiah. Di sisi lain, pelaku pasar juga diimbau untuk tetap memperhatikan fluktuasi global seperti arah kebijakan moneter The Fed dan tensi geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas dalam jangka pendek. Jika tren positif berlanjut, tahun 2026 bisa menjadi periode rekor baru bagi logam mulia, baik di pasar global maupun domestik.