Berita BorneoTribun: Ekonomi Indonesia 2025 hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia 2025. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi Indonesia 2025. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 September 2025

Sri Mulyani Gelontorkan Rp 16 Triliun untuk Himbara Biayai Kopdes Merah Putih

JAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani resmi mengucurkan dana Rp 16 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) kepada Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Dana ini digelontorkan melalui program Kredit Usaha Perdesaan (Kopdes) Merah Putih untuk seluruh Indonesia. Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 63 Tahun 2025 yang ditetapkan pada 28 Agustus 2025 di Jakarta. Langkah ini diambil pemerintah untuk memperkuat akses pembiayaan bagi masyarakat desa dan UMKM di daerah.

Kementerian Keuangan menjelaskan, dana tersebut akan disalurkan melalui bank-bank Himbara yakni BRI, BNI, Mandiri, dan BTN. Program Kopdes Merah Putih ini bertujuan memberikan tambahan permodalan dengan bunga terjangkau bagi pelaku usaha desa. "Kebijakan ini merupakan bagian dari strategi pemerintah memperkuat sektor riil sekaligus memperluas lapangan kerja di perdesaan," ujar pernyataan resmi Kemenkeu, Jumat (29/8/2025).

Sri Mulyani Gelontorkan Rp 16 Triliun untuk Himbara Biayai Kopdes Merah Putih
Sri Mulyani Gelontorkan Rp 16 Triliun untuk Himbara Biayai Kopdes Merah Putih.

Menurut catatan Kemenkeu, Kopdes Merah Putih akan difokuskan untuk sektor-sektor produktif, mulai dari pertanian, perikanan, hingga industri rumahan. Penyaluran kredit juga akan diawasi ketat oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) agar dana tidak salah sasaran. Sementara itu, Direktur Utama BRI menegaskan kesiapan bank Himbara untuk segera menjalankan mandat pemerintah ini. "Kami akan memastikan distribusi kredit berjalan cepat dan tepat, terutama di daerah terpencil yang akses modalnya masih terbatas," ujarnya.

Dampaknya, masyarakat desa diharapkan bisa lebih mudah mengembangkan usaha dengan modal tambahan tersebut. Program ini juga diyakini mampu menjadi penopang perekonomian nasional, terutama di tengah perlambatan global yang masih berlanjut. Pemerintah menargetkan penyerapan dana Kopdes Merah Putih bisa mencapai 95% hingga akhir tahun 2025. Jika berhasil, bukan tidak mungkin program ini akan diperluas pada 2026 mendatang.

Selasa, 05 Agustus 2025

Ekonomi RI Diprediksi Melemah, Sri Mulyani Tetap Optimis Tumbuh 5 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberikan paparan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diperkirakan melambat. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan angka pertumbuhan hanya akan mencapai 4,78% (yoy), lebih rendah dibandingkan proyeksi pemerintah yang optimis bisa mendekati 5%. 

Proyeksi ini diumumkan saat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan hasil Rapat KSSK Triwulan II pada Senin (28/7/2025) di Jakarta.

Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan bahwa meski ada tekanan dari sisi global dan konsumsi yang melambat, ekonomi Indonesia masih bertahan berkat dorongan konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat, serta ketahanan dunia usaha. 

Menurutnya, APBN tetap memainkan peran penting sebagai penyangga melalui kebijakan countercyclical yang digulirkan sejak awal tahun.

“Dorongan program-program strategis pemerintah yang mulai berjalan juga dukungan sektor-sektor prioritas memberikan kontribusi terhadap bertahannya pertumbuhan ekonomi,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers usai rapat KSSK.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemerintah akan terus memperkuat peran swasta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. 

Salah satu caranya adalah dengan mempercepat proses deregulasi serta mendorong pemanfaatan Dana Nasional Terpadu (Danantara) secara optimal. 

“Strategi yang kami lakukan bertujuan untuk menciptakan efek ganda (multiplier effect) agar pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap berada di kisaran 5%,” tegasnya.

Jika realisasi pertumbuhan hanya menyentuh angka 4,78%, maka kondisi ekonomi saat ini menjadi yang paling lemah sejak kuartal III-2021, masa di mana Indonesia terdampak parah oleh gelombang Delta COVID-19. 

Hal ini menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi saat ini tidak bisa dianggap enteng dan memerlukan sinergi lebih erat antara sektor publik dan swasta.

Sumber: CNBC Indonesia