Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label El Nino. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label El Nino. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 April 2026

Antisipasi Kemarau Panjang 2026, BWS Kaltim Perkuat Cadangan Air

Kemarau 2026 diprediksi lebih panjang, BWS Kalimantan IV Samarinda memperkuat strategi ketahanan air, optimalisasi bendungan, dan dukungan petani untuk cegah krisis air.
Kemarau 2026 diprediksi lebih panjang, BWS Kalimantan IV Samarinda memperkuat strategi ketahanan air, optimalisasi bendungan, dan dukungan petani untuk cegah krisis air.

Samarinda, Kaltim - Upaya menjaga ketersediaan air mulai diperketat di Kalimantan Timur menjelang potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun 2026. Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV Samarinda mengambil langkah antisipatif dengan memperkuat sistem pengelolaan sumber daya air dan meningkatkan kesiapsiagaan di sejumlah daerah rawan kekeringan.

Langkah ini dilakukan menyusul prediksi musim kering yang diperkirakan berlangsung lebih lama dibandingkan periode kemarau berat yang terjadi pada 2023 lalu.

Kepala Seksi Operasi dan Pemeliharaan BWS Kalimantan IV Samarinda, Riz Anugerah, menjelaskan bahwa masa kemarau pada tahun 2026 diprediksi terjadi pada rentang Juni hingga Agustus, dengan potensi dampak yang lebih luas.

Salah satu strategi utama yang dilakukan adalah memperkuat peran petani melalui koordinasi di tingkat kabupaten dan kota. Pengaturan jadwal tanam dan panen menjadi langkah penting agar tanaman tidak mengalami kekurangan air pada masa kritis pertumbuhan.

Komisi Irigasi di daerah juga dilibatkan secara aktif untuk memberikan arahan kepada kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Dengan pola tanam yang disesuaikan kondisi cuaca, risiko gagal panen diharapkan dapat ditekan.

Selain itu, pemanfaatan sumber air alternatif mulai dimaksimalkan, terutama pada wilayah yang bergantung pada air hujan.

Untuk memperkuat distribusi air ke sektor pertanian, sejumlah sumber air nonwaduk seperti sumur bor, embung, dan situ menjadi pilihan utama. Infrastruktur ini diprioritaskan untuk wilayah yang memiliki potensi kekeringan tinggi.

Sebanyak 44 titik sumur bor telah disiapkan di berbagai daerah, dengan kedalaman mencapai sekitar 100 meter guna menjangkau lapisan air artesis yang lebih stabil.

Keberadaan sumur bor ini diharapkan mampu menjadi cadangan air ketika debit sungai atau bendungan mengalami penurunan drastis.

Dalam menghadapi ketidakpastian cuaca, penggunaan teknologi informasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan air. Data prediksi kekeringan dimanfaatkan untuk memberikan informasi lebih akurat kepada petani mengenai waktu tanam yang paling aman.

Kerja sama lintas sektor juga diperluas dengan melibatkan instansi terkait, termasuk badan penanggulangan bencana serta lembaga meteorologi. Koordinasi ini diharapkan mempercepat respon ketika tanda-tanda kekeringan mulai muncul.

Pengelolaan sejumlah bendungan besar di Kalimantan Timur menjadi prioritas dalam menjaga cadangan air. Infrastruktur ini berfungsi sebagai sumber air baku sekaligus mendukung sistem irigasi pertanian.

Optimalisasi bendungan dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga kestabilan debit air, terutama menjelang puncak musim kemarau.

Pengalaman kemarau 2023 menjadi pelajaran penting, ketika elevasi air di beberapa bendungan sempat mengalami penurunan signifikan akibat tingginya kebutuhan air dan minimnya curah hujan.

Sebagai bagian dari langkah penghematan, pengelola air minum daerah dianjurkan untuk menyesuaikan volume pengambilan air agar tidak melebihi batas aman. Pengurangan penggunaan air hingga sekitar 75 persen dari kapasitas normal menjadi salah satu opsi untuk menjaga cadangan air tetap stabil.

Selain itu, kesiapan logistik juga menjadi perhatian. Sejumlah alat berat seperti ekskavator, mobil pompa, dan dump truck telah ditempatkan di berbagai wilayah strategis untuk mendukung penanganan darurat.

Tidak hanya fokus pada distribusi air, upaya menjaga kawasan hulu juga menjadi langkah penting dalam mempertahankan ketersediaan air jangka panjang.

Alih fungsi lahan di daerah hulu dinilai berpotensi mengganggu keseimbangan lingkungan dan mengurangi kemampuan tanah menyerap air hujan. Oleh karena itu, perlindungan kawasan ini menjadi bagian dari strategi besar menjaga ketahanan sumber daya air.

FAQ

1. Kapan kemarau panjang 2026 diperkirakan terjadi?

Kemarau panjang diperkirakan terjadi pada periode Juni hingga Agustus 2026, dengan potensi durasi lebih lama dibandingkan tahun 2023.

2. Apa langkah utama yang dilakukan untuk menghadapi kekeringan?

Langkah utama meliputi pengaturan pola tanam petani, optimalisasi bendungan, pembangunan sumur bor, serta penggunaan teknologi prediksi cuaca.

3. Berapa jumlah sumur bor yang disiapkan?

Sebanyak 44 titik sumur bor telah disiapkan dengan kedalaman hingga sekitar 100 meter.

4. Mengapa kawasan hulu perlu dijaga?

Kawasan hulu berfungsi sebagai daerah resapan air. Jika rusak atau dialihfungsikan, cadangan air di bendungan dapat berkurang drastis.

5. Apa dampak kemarau panjang bagi masyarakat?

Kemarau panjang dapat menyebabkan kekurangan air bersih, gangguan irigasi pertanian, serta meningkatkan risiko gagal panen.

Sabtu, 28 Maret 2026

Bupati Landak Dorong Petani Jadi Modern, Karolin Ingatkan Ancaman El Nino

Bupati Landak Karolin Margret Natasa dorong petani modern dan ingatkan ancaman El Nino serta pentingnya edukasi dan jadwal tanam.
Bupati Landak Karolin Margret Natasa dorong petani modern dan ingatkan ancaman El Nino serta pentingnya edukasi dan jadwal tanam.

NGABANG -- Karolin Margret Natasa kembali menegaskan pentingnya transformasi sektor pertanian di Kabupaten Landak. Karolin mengajak para petani untuk beralih menjadi petani modern dan cerdas agar mampu menghadapi tantangan zaman, termasuk perubahan iklim.

Hal ini disampaikannya saat menghadiri acara syukuran panen raya (roah) sekaligus pembukaan turnamen sepak bola antardusun di Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3/2026).

Dalam sambutannya, Karolin menekankan bahwa pertanian tidak bisa lagi dilakukan secara tradisional tanpa pengetahuan yang cukup. Edukasi, menurutnya, menjadi kunci utama agar petani bisa berkembang.

“Pertanian itu tidak bisa terpisahkan dari yang namanya sekolah. Supaya petani jadi modern, harus paham pupuk, cara mengolah tanaman, sampai memilih bibit yang tepat,” ujarnya.

Pentingnya Edukasi dan Ketelitian Petani

Karolin juga menyoroti kesalahan umum yang masih sering terjadi di lapangan, terutama dalam penggunaan pupuk. Ia menyebut, kurangnya pemahaman dalam membaca label pupuk bisa berdampak pada hasil panen.

“Mupuk saja katanya, tapi ternyata bukan pupuk untuk buah. Daunnya hijau, tapi buahnya tidak ada,” katanya sambil bercanda, yang langsung disambut tawa warga.

Menurutnya, hal-hal sederhana seperti ini bisa berdampak besar terhadap produktivitas pertanian jika tidak diperhatikan dengan serius.

Waspada El Nino, Petani Diminta Disiplin Jadwal Tanam

Selain soal edukasi, Karolin juga mengingatkan adanya ancaman fenomena iklim El Nino yang diprediksi menyebabkan kemarau panjang hingga September mendatang.

Untuk itu, ia meminta para petani agar disiplin mengikuti jadwal tanam yang telah ditetapkan oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL).

“Jangan sampai terlambat menanam. Kalau sudah kemarau, tanaman bisa gagal tumbuh dan panen bisa gagal,” tegasnya.

Kompak Tanam Serentak, Hindari Serangan Hama

Karolin juga mengingatkan pentingnya kekompakan antarpetani, terutama dalam satu hamparan lahan. Penanaman yang tidak serentak dinilai bisa memicu serangan hama seperti tikus.

“Kalau satu hampar, tanam harus sama-sama. Kalau tidak, yang panen duluan pasti habis dimakan hama,” jelasnya.

Ia pun mengingatkan agar petani tidak keras kepala dan mau mengikuti arahan demi hasil yang lebih optimal.

Bantuan Alat Pertanian untuk Kelompok Tani

Sebagai bentuk dukungan nyata, Karolin menyerahkan bantuan berupa lima unit hand sprayer kepada kelompok tani setempat. Bantuan ini diharapkan bisa membantu meningkatkan efisiensi kerja petani di lapangan.

Buka Turnamen Sepak Bola, Pesan Sportivitas untuk Pemuda

Tak hanya soal pertanian, Karolin juga membuka turnamen sepak bola antardusun dalam acara tersebut. Dengan gaya santai dan bahasa daerah, ia mengingatkan pentingnya menjaga sportivitas.

“Kade’ na’ rebot, na’ usah agi’ main bola,” ucapnya, yang berarti jika ingin ribut, tidak perlu bermain bola.

Candaan tersebut langsung disambut antusias warga yang hadir.

Akhiri Kegiatan, Karolin Sampaikan Harapan Panen Lebih Baik

Di akhir kegiatan, Karolin menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai karena jadwal yang padat.

Ia tetap menyampaikan doa dan harapan agar hasil panen ke depan bisa semakin meningkat.

“Saya doakan pertandingannya lancar, dan semoga panen berikutnya bisa lebih banyak lagi,” tutupnya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa tujuan Karolin mengajak petani menjadi modern?
Agar petani lebih produktif, efisien, dan mampu menghadapi tantangan seperti perubahan iklim.

2. Apa dampak kesalahan penggunaan pupuk?
Tanaman bisa tumbuh tidak optimal, seperti hanya menghasilkan daun tanpa buah.

3. Apa itu El Nino dan dampaknya bagi petani?
El Nino adalah fenomena iklim yang menyebabkan kemarau panjang dan berpotensi memicu gagal panen.

4. Mengapa tanam serentak penting?
Untuk mencegah serangan hama dan memastikan hasil panen lebih merata.

5. Bantuan apa yang diberikan pemerintah?
Lima unit hand sprayer untuk mendukung aktivitas kelompok tani.

Penulis: Tino

Rabu, 02 Agustus 2023

Sanggau Waspada El Nino, Pemerintah Sanggau Gandeng TNI, POLRI, dan BPBD

Sanggau Waspada El Nino, Pemerintah Sanggau Gandeng TNI, POLRI, dan BPBD
SANGGAU - Pemerintah Kabupaten Sanggau gelar rapat koordinasi melalui video conference dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan. Kegiatan yang dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Sanggau, Kukuh Triyatmaka tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 1 Agustus 2023, di Ruang VIP Lantai II Kantor Bupati Sanggau.

Rapat koordinasi ini merupakan perintah dari kepala daerah untuk mencegah kebakaran hutan dan mengantisipasi dampak dari badai El Nino yang diperkirakan telah terjadi sejak bulan Juli hingga Agustus 2023.

Kukuh Triyatmaka menjelaskan bahwa dalam rapat tersebut, pihaknya berusaha memanfaatkan sumber daya yang ada, termasuk dari TNI, POLRI, BPBD, dan sumber daya lainnya, untuk bersama-sama mencegah dan mengatasi kebakaran hutan yang dapat dipicu oleh suhu panas akibat El Nino.

Kondisi suhu yang sangat panas selama Juli dan Agustus 2023 ini mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Sanggau untuk segera mengadakan rapat koordinasi dan mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mengatasi kebakaran hutan.

Plt. Kepala BPBD Kabupaten Sanggau, Budi Darmawan, menambahkan bahwa puncak dari fenomena El Nino diperkirakan terjadi pada bulan Agustus dan September. Oleh karena itu, untuk menghadapinya, Satgas Karhutla sudah dibentuk bersamaan dengan rapat koordinasi pencegahan dan penanganan kebakaran hutan.

Dalam rapat tersebut, langkah strategis untuk mencegah kebakaran hutan telah dibahas, dan Satgas Karhutla telah dibentuk. Dandim 1204/Sanggau, Letkol Inf. Putra Andika Trihatmoko, ditunjuk sebagai komandan satgas.

Budi Darmawan juga menyampaikan data tentang hotspot titik api yang telah terpantau sejak Januari 2023 hingga saat itu, dengan lebih dari 3 ribu titik panas terdeteksi. Hanya pada bulan Juli tahun tersebut, tercatat sekitar 2900 titik hotspot. Akibat situasi ini, Bupati Sanggau telah meningkatkan status siaga Karhutla menjadi tanggap darurat Karhutla.

Satgas Karhutla yang baru dibentuk melibatkan TNI, Polri, BPBD, OPD terkait, Damkar, Mandala Agni, Ormas, dan awak media mitra BPBD Kabupaten Sanggau.

Selain itu, Budi Darmawan juga mengimbau kepada seluruh masyarakat Sanggau untuk selalu menjaga kesehatan dengan menggunakan masker penutup mulut dan kacamata, guna menghindari dampak polusi yang diakibatkan oleh asap akibat kebakaran hutan. (Tim/Libertus)