Berita BorneoTribun: Festival Budaya hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Festival Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Festival Budaya. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2026

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi

Singkawang Kukuhkan Status Kota Toleransi Lewat Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Singkawang Kukuhkan Status Kota Toleransi Lewat Imlek 2577 dan Cap Go Meh 2026

Singkawang, Kalbar -- Singkawang kembali menegaskan reputasinya sebagai kota toleransi di Indonesia melalui perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili dan Festival Cap Go Meh 2026 yang digelar meriah di pusat Kota Singkawang, Kalimantan Barat, Selasa (3/3/2026). 

Ribuan warga serta sejumlah pejabat tinggi negara hadir menyaksikan pembukaan yang ditandai dengan pemukulan Loku sebagai simbol dimulainya rangkaian perayaan budaya terbesar di Kalimantan Barat.

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Sebanyak 722 peserta ambil bagian dalam arak-arakan budaya, mulai dari parade naga, barongsai, Tatung, hingga kendaraan hias yang memenuhi ruas jalan utama kota. Kehadiran wisatawan domestik dan mancanegara semakin menguatkan posisi Singkawang sebagai destinasi unggulan pariwisata budaya nasional.

Dihadiri Tokoh Nasional dan Duta Besar

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Perayaan ini turut dihadiri Ketua DPD RI Oesman Sapta Odang, Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, serta Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok dan Duta Besar Seychelles untuk Indonesia.

Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyampaikan bahwa kehadiran para tokoh nasional mencerminkan sinergi kuat antara pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya bangsa.

Makna Simbol Kuda Api di Tahun 2577 Kongzili

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Dalam sambutannya, Ria Norsan mengajak masyarakat memaknai simbol Kuda Api yang menaungi tahun ini. Kuda melambangkan kerja keras, ketangguhan, dan kecepatan, sementara api mencerminkan energi, keberanian, serta semangat menghadapi tantangan zaman.

Momentum ini terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Lampion Imlek yang menerangi malam kota berpadu dengan suasana ibadah Ramadan, menghadirkan harmoni yang memperlihatkan wajah toleransi Kalimantan Barat.

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Menurutnya, perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekuatan untuk mempererat persatuan dan membangun daerah yang lebih maju serta sejahtera.

Parade Tatung dan Warisan Budaya Dunia

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Puncak Festival Cap Go Meh Singkawang ditandai dengan parade Tatung, tradisi spiritual yang telah diwariskan lintas generasi. Ritual ini menjadi daya tarik utama wisatawan sekaligus simbol keberanian dan keyakinan budaya masyarakat Tionghoa di Kalimantan Barat.

Festival Cap Go Meh Singkawang kini telah masuk dalam program Kharisma Event Nusantara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menegaskan perannya sebagai agenda nasional yang mendorong pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Harmoni Sosial Dorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]
Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto menegaskan bahwa perayaan ini bukan sekadar pergantian tahun lunar, tetapi refleksi sejarah panjang Singkawang sebagai ruang perjumpaan budaya sejak abad ke-18.

Ia juga mengapresiasi kontribusi Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid dalam membuka ruang pengakuan Hari Raya Imlek sebagai bagian dari identitas nasional.

Sementara itu, Agus Harimurti Yudhoyono menyebut Singkawang sebagai etalase keberagaman Indonesia yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan nasional, terutama di tengah dinamika geopolitik global saat ini.

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen memperkuat infrastruktur strategis dan konektivitas antarwilayah guna mendukung sektor pariwisata serta menarik investasi. Harmoni sosial dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi daerah.

Perayaan bertema Harmoni Imlek Nusantara ini diharapkan semakin mengukuhkan Singkawang sebagai kota modern yang tetap berakar kuat pada nilai budaya dan toleransi.

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]
Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

FAQ Seputar Imlek 2577 dan Cap Go Meh Singkawang 2026

1. Kapan perayaan Imlek 2577 dan Cap Go Meh digelar di Singkawang?
Perayaan berlangsung pada 3 Maret 2026 dengan rangkaian acara budaya hingga puncak parade Tatung.

2. Apa daya tarik utama Cap Go Meh Singkawang?
Parade Tatung, arak-arakan naga dan barongsai, serta kendaraan hias yang melibatkan ratusan peserta.

3. Mengapa Singkawang disebut kota toleransi?
Karena masyarakat Tionghoa, Melayu, dan Dayak hidup berdampingan harmonis sejak ratusan tahun lalu.

4. Apakah acara ini berdampak pada ekonomi daerah?
Ya, festival ini mendorong pariwisata, UMKM, investasi, dan pertumbuhan ekonomi lokal.

Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]
Foto Ribuan Warga Padati Festival Cap Go Meh 2026, Tegaskan Singkawang Kota Toleransi
Perayaan Imlek 2577 dan Festival Cap Go Meh 2026 di Singkawang berlangsung meriah dengan parade Tatung, dihadiri pejabat nasional, memperkuat citra kota toleransi dan mendorong pariwisata Kalimantan Barat. [Foto kalbarprov.go.id]

Jumat, 27 Februari 2026

Fadli Zon Tegaskan Kebudayaan Jadi Pondasi Ekonomi Bengkulu

Fadli Zon Dorong Kebudayaan Jadi Pondasi Ekonomi Daerah di Bengkulu
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dorong Benteng Marlborough Bengkulu jadi pusat budaya dan ekonomi kreatif untuk perkuat pariwisata sejarah dan pembangunan daerah berkelanjutan.

Fadli Zon Dorong Kebudayaan Jadi Pondasi Ekonomi Daerah di Bengkulu

JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan pentingnya menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan ekonomi daerah dalam kunjungan kerjanya ke Bengkulu, Rabu 26 Februari. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan kawasan Benteng Marlborough sebagai pusat budaya dan penggerak ekonomi kreatif.

Menurut Fadli, kebudayaan bukan sekadar warisan sejarah, tetapi aset strategis yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui industri kreatif dan pariwisata budaya.

Benteng Marlborough Dinilai Punya Potensi Besar

Dalam kunjungannya, Fadli mengapresiasi kondisi Benteng Marlborough yang masih terawat dengan baik. Benteng peninggalan kolonial Inggris tersebut memiliki panorama laut yang indah serta nilai sejarah yang kuat.

Ia menilai kawasan ini sangat potensial dikembangkan sebagai:

  • Pusat edukasi sejarah

  • Ruang pertunjukan seni dan musik

  • Lokasi pameran seni rupa

  • Tempat festival budaya

  • Ruang kreatif bagi generasi muda

Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan ini dapat menjadi pusat aktivasi budaya sekaligus penggerak ekonomi daerah berbasis industri kreatif.

Bengkulu Punya Posisi Strategis dalam Sejarah

Fadli juga menyoroti posisi Bengkulu dalam sejarah kolonial. Wilayah ini pernah menjadi pusat pemerintahan Inggris sebelum kemudian berada di bawah kekuasaan Belanda hingga 1940.

Dinamika sejarah, termasuk pertukaran wilayah antara Inggris dan Belanda yang melibatkan Bengkulu, Singapura, dan Melaka, dinilai sebagai modal kuat untuk membangun narasi wisata sejarah yang menarik dan bernilai jual tinggi.

Potensi ini, jika dikemas secara profesional dan konsisten, dapat memperkuat citra Bengkulu sebagai destinasi unggulan wisata sejarah dan budaya nasional.

Festival Budaya dan Promosi Masif Jadi Kunci

Selain pengembangan kawasan bersejarah, Menteri Kebudayaan mendorong penyelenggaraan lebih banyak event dan festival budaya yang melibatkan generasi muda.

Menurutnya, dukungan konektivitas transportasi yang semakin baik harus diiringi dengan promosi yang masif dan terukur. Tanpa promosi yang konsisten, potensi besar tersebut tidak akan optimal.

Ia menekankan bahwa strategi branding daerah sangat penting agar lebih banyak wisatawan datang dan ekonomi lokal ikut bergerak.

Dukungan Pemerintah Daerah

Wali Kota Bengkulu Dedy Wahyudi menyambut baik gagasan tersebut dan menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menindaklanjuti arahan Menteri Kebudayaan.

Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah diharapkan mampu mempercepat penguatan sektor pariwisata budaya serta menciptakan lapangan kerja berbasis ekonomi kreatif.

Sejarah Singkat Benteng Marlborough

Benteng Marlborough dibangun pada tahun 1714–1719 oleh East India Company di bawah kepemimpinan Joseph Collett. Saat ini, pengelolaannya berada di bawah Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.

Sebagai salah satu benteng Inggris terbesar di Asia Tenggara, keberadaan situs ini bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga peluang besar untuk pengembangan ekonomi daerah berbasis kebudayaan.

FAQ

1. Mengapa kebudayaan penting untuk ekonomi daerah?
Karena kebudayaan dapat mendorong pariwisata, industri kreatif, UMKM, serta membuka lapangan kerja baru yang berkelanjutan.

2. Apa potensi utama Benteng Marlborough?
Sebagai pusat edukasi sejarah, festival budaya, pertunjukan seni, dan destinasi wisata unggulan Bengkulu.

3. Apa strategi yang didorong pemerintah?
Penguatan promosi, penyelenggaraan event budaya, serta pengembangan kawasan berbasis ekonomi kreatif.

4. Siapa yang mengelola Benteng Marlborough saat ini?
Dikelola oleh Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya Kementerian Kebudayaan.

Selasa, 15 Juli 2025

Gadis Dayak-Tionghoa yang Menyulam Budaya, Menjaga Alam dan Menginspirasi Generasinya

Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.

Lovenia Joan Shannia: Domia Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau

SANGGAU - Selasa malam, 8 Juli 2025 boleh jadi bakal jadi malam yang paling dikenang oleh Lovenia Joan Shannia, yang akrab disapa Shannia, dara 17 tahun asal Pusat Damai, Kecamatan Parindu, Kabupaten Sanggau. 

Meski semarak Gawai Dayak Nosu Minu Podi bukan hal baru untuknya, namun malam itu, bersama rekan satu kontingen – DAD Kecamatan Parindu,  Felix Ricky Aditama, dinobatkan sebagai juara 1 Domia Gawai Dayak Nosu Minu Padi XXI Sanggau. 

Ricky dan Shannia sukses menyandingkan “Domamang dan Domia”, Adam dan Hawa dalam legenda Dayak Bidayuh. 

Ini sebuah sejarah sepanjang pagelaran Gawai Dayak Nosu Minu Podi. Di mana pemenang lomba “Domamang dan Domia” diborong oleh satu kontingen.

Langkah anggun gemulai Shannia di atas panggung Gawai Dayak Nosu Minu Podi 2025 memang begitu memikat. Bulu enggang hiasan kepalanya serupa doa dan harapan yang menjulang. 

Dia tidak sekadar memikat sacara ragawi, kecerdasannya dalam menjawab sejumlah pertanyaan juri, membuat para juri tak ragu menabalkannya sebagai pemenang. 

Ia memang layak, bukan semata karena kecantikannya, terutama karena misi yang tersimpan dalam benaknnya. 

Maka, ketika namanya disebut sebagai pemenang lomba Domia, langit Betang Raya Dori’ Mpulor serasa runtuh oleh tempik sorak para pendukungnya. 

Shannia adalah perpaduan sempurna Dayak Panu dan Tionghoa, yang mengalir dalam jiwanya.

Di atas panggung malam itu, Shannia tersenyum lembut tapi tegas, berbusana adat yang agung dan penuh makna.
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.
Shannia, buah cinta dari dua darah yang berpadu, Martinus Nomensen, ST, SE, MM – ayahnya, Dayak Pandu, figur birokrat yang dihormati di lingkungan Pemerintah kabupaten Sanggau. 

Sedangkan ibunya Mui Sian Indrawati, Tionghoa Pemangkat adalah pewaris nilai tanggung jawab dan cinta budaya. 

Dari keduanya, dara  kelahiran Pontianak, 4 Desember 2007 mendapat akar yang kokoh dan sayap yang lentur, tegak berdiri dalam adat, tapi bebas mengepak cita-cita ke cakrawala dunia. 

Dengan dinobatkan sebagai Domia Kabupaten Sanggau Tahun 2025 – semacam putri Gawai Dayak – gelar bergengsi yang bukan hanya menilai rupa, tetapi menakar hati, visi, dan dedikasi terhadap budaya. 

Dengan kemenangan ini, Shannia dan Ricky resmi menjadi Duta Kabupaten Sanggau untuk ajang Bujang Dara Pekan Gawai Dayak Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026. 

Shannia bukan sekedar pemenang, tetapi representasi generasi muda Dayak yang berpijak pada akar budaya dan menatap masa depan dengan tekad dan percaya diri.

“Kami ingin membuktikan bahwa budaya bukan beban masa lalu, melainkan pelita yang menerangi jalan ke depan,” ujar Shannia ketika dihubungi melalui media social whatsapp. Suaranya terdengar sumringah.

Shannia adalah buah dari pohon yang tumbuh dari di dua dunia: Dayak dan Tionghoa, lokal dan global. 

Ia mengawali pendidikan di SD Subsidi Pusat Damai, melanjutkan ke SMP Gembala Baik Pontianak, SMA Santa Maria Yogyakarta, dan kini diterima sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Jember. 

Shannia beruntung tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai pendidikan, pengabdian dan iman.

Perjalanan pendidikan Shannia mencerminkan tekad, disiplin, dan arah hidup yang jelas. Meski tak pernah bergabung dalam sanggar seni, kecintaan Shannia pada budaya terus tumbuh. Ia kerap tampil dalam lomba dan kegiatan publik. 

Ketika di SMA ia menjabat Ketua Osis. Ketika SMP Shannia meraih medali perunggu pada ajang Kompetisi Sains Nasional (KSN) Bidang IPS Tingkat Nasional. 

Di Yogyakarta, ia pernah menjadi MC pentas budaya di Plaza Malioboro dan Perayaan Natal dan Kartini di Titik Nol Kilometer. Ini prestasi luar biasa untuk seorang siswi SMA.

Ajang Gawai Dayak Nosu Minu Podi sendiri tak asing baginya. Meski tak menjadi juara, ia pernah menjadi peserta Lomba Abang Ayong Gawai Dayak Nosu Minu Podi tahun 2014 dan 2018. 

Shannia berhasil membuktikan, bahwa anak daerah bisa bersaing dengan anak-anak lain. 

Namun di balik semua itu, ia tetap Shannia yang sederhana, yang jatuh cinta pada tanah, hutan, bahasa dan adat Dayak. Di kampung halaman ayahnya, ia terbiasa menyaksikan ritual, nyanyian, dan tarian adat. 

Bagi Shannia, budaya bukan sekadar tampilan visual atau gelar kehormatan, tetapi jati diri arah hidup dan cara mencintai alam. 

Maka, penampilannya dalam pemilihan Domia Sanggau 2025 terlihat maksimal. Ia tampil dengan penuh kepekaan dan kekuatan personal yang menyatu. 

“menjadi Domia bukan soal gelar. Ini soal menjaga warisan, memperjuangkan ruang perempuan, dan menyuarakan pentingnya merawat alam,” ucap Shannia. 
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau
Gawai Dayak Nosu Minu Podi XXI Kabupaten Sanggau.
Salah satu kekuatan Shannia adalah kemampuannya dalam menguasai beberapa bahasa asing. 

Dengan kefasihan berbahasa Inggris, Shannia ingin menjembatani nilai-nilai adat dengan dunia luar, membuka ruang dialog antara tradisi dan masa depan. 

“Bahasa bisa membuka pintu. Tapi budaya adalah kunci yang menjaga rumah kita tetap utuh,” ujarnya berfalsafah.

Di balik pesona panggung, Shannia menyimpan satu misi pribadi yang kuat: melindungi hutan dan air tanah Kalimantan. 

Ia sadar bahwa keberlangsungan budaya tidak bisa dilepaskan dari kelestarian alam. 

“Tanpa hutan, taka da rumah bagi budaya Dayak. Tanpa air, taka da kehidupan. Maka saya ingin menjadi suara yang mengingatkan, bukan hanya merayakan,” tegas gadis yang baru saja diterima sebagai mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Jember ini. 

Mengikuti ajang Domia Gawai Dayak Nosu Minu Podi Kabupaten Sanggau, menurut Shannia, adalah bagian dari perjuangannya mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam bidang kesetaraan gender. 

“Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan itu hebat dan mengambil peran penting dalam pelestarian budaya dan pembangunan,” tuturnya.

Keberhasilan Shannia tak dicapainya sendiri. Ia menyebut peran besar dari DAD (Dewan Adat Dayak) Kecamatan Parindu, juga bang Patra dan Kak Dea yang telah membimbingnya sebagai mentor. 

“Saya hanya satu daun dari pohon besar yang ditanam oleh banyak tangan,” ucapnya dengan rendah hati.

Sang ayah, ASN di lingkungan Pemkab Sanggau pun menyampaikan harapan tulus, “Tentu bangga, tapi kami berharap Shannia tetap membumi. Gelar ini bukan akhir, melainkan awal. Semoga ia terus bertumbuh dalam penyertaan Tuhan,” ujar Martinus Nomensen yang pernah menjabat Plt Camat Bonti dan kini bekerja di inspektorat Kabupaten Sanggau.

Dengan kemenangannya, Shannia hendak menyampaikan pesan, bahwa perempuan Dayak bisa berdiri dengan kepala tegak di panggung adat maupun forum akademik. 

Bahwa suara suara budaya tidak boleh mati, hanya karena perubahan zaman. Bahwa kehormatan sejati tumbuh dari cinta, kerja keras, dan akar yang tak tercerabut. 

“Aku ingin menjadi jembatan – antara akar dan bintang; antara hutan dan harapan; antara ibu tanah dan anak zaman,” pungkas Shannia penuh semangat.*

Willibrordus W., penulis, cerpenis, penyair, peminat sastra dan budaya, tinggal di Sintang, sahabat ayah Shannia.

Minggu, 13 Agustus 2023

Wabup Sanggau Ikuti Pembukaan Festival Budaya Keraton Paku Negara Tayan

Wabup Sanggau Ikuti Pembukaan Festival Budaya Keraton Paku Negara Tayan.
SANGGAU – Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot, hadir dalam pembukaan Festival Budaya Keraton Paku Negara Tayan serta acara Ritual Adat Mandi Bedel Kerajaan dan tradisi Perang Ketupat. Acara berlangsung di Keraton Paku Negara Tayan, Kecamatan Tayan Hilir, pada Sabtu (12/8/2023).

Acara ini disaksikan oleh ribuan warga Tayan, termasuk Yohanes Ontot dan para undangan lainnya. Tradisi mandi bedel melibatkan pemandian benda-benda pusaka kerajaan, seperti keris, pedang, tombak, dan meriam. Sementara itu, tradisi perang ketupat melibatkan lemparan ketupat antara penduduk daratan dan penduduk yang berada di atas sungai.

Dalam kesempatan tersebut, Yohanes Ontot menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari Festival Budaya Keraton Paku Negara Tayan serta Ritual Adat Mandi Bedel Kerajaan dan tradisi Perang Ketupat.

"Ketua Forum Silaturahmi Kesultanan Nusantara (FSKN) turut hadir, serta perwakilan dari Brunei Darussalam dan Konsulat Malaysia," jelas Yohanes Ontot.

Selanjutnya, Yohanes Ontot menyampaikan komitmennya untuk mengembangkan Festival Budaya Keraton Paku Negara Tayan, Ritual Adat Mandi Bedel Kerajaan, dan tradisi Perang Ketupat di masa mendatang.

"Kami akan menyempurnakan acara ini agar lebih menarik dan meriah, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor UMKM melalui festival ini," ujarnya.

Wabup Sanggau menekankan pentingnya memahami dan meneruskan tradisi dan budaya yang diwariskan oleh leluhur.

"Sebagai penerus leluhur, kita harus menjaga, memelihara, dan mengembangkan adat istiadat, budaya, dan hukum adat. Kami berharap agar masyarakat adat Melayu di sekitar Keraton Paku Negara Tayan tetap dapat mempertahankan tradisi ini," tambahnya.

(Tim/Libertus)