Berita BorneoTribun: Finance hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Finance. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2026

Bitcoin Anjlok Parah ke Level Terendah Sejak November Investor Panik Pasar Crypto Bergetar

Bitcoin Anjlok Parah ke Level Terendah Sejak November Investor Panik Pasar Crypto Bergetar
Bitcoin Anjlok Parah ke Level Terendah Sejak November Investor Panik Pasar Crypto Bergetar. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Bitcoin jatuh ke level terendah sejak November tahun sebelumnya, bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di pasar cryptocurrency. Penurunan ini awalnya dipicu oleh kejatuhan tajam di pasar emas dan saham Amerika Serikat. Namun, berbeda dengan aset tradisional yang mampu bangkit kembali, pasar cryptocurrency—termasuk Bitcoin—justru menunjukkan kelemahan relatif.

Analis dari sejumlah perusahaan terkemuka menyoroti pentingnya level dukungan di $84.000 sebagai penghalang krusial. Kegagalan mempertahankan level ini berpotensi memicu penurunan lanjutan, pertama menuju area $80.000, kemudian ke sekitar $75.000. Level tersebut merujuk pada titik terendah historis selama periode ketegangan tarif pada April 2025. Selain itu, muncul kekhawatiran bahwa harga Bitcoin dapat merosot hingga $70.000, yang akan menandai koreksi signifikan sekitar 43% dari rekor tertinggi sepanjang masa di Oktober, yakni $126.000.

Market Psychology

Sentimen pasar saat ini didominasi oleh sikap kehati-hatian dan kekhawatiran, seiring investor menyaksikan terobosan level dukungan kunci. Kegagalan Bitcoin untuk bangkit bersamaan dengan aset safe-haven tradisional seperti emas semakin memperkuat persepsi kelemahan relatif di sektor crypto, sehingga memicu kecemasan dan ketidakpastian.

Diskusi di media sosial dan komunitas crypto kemungkinan mencerminkan meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan reli harga sebelumnya. Sebagian pelaku pasar mulai takut akan terbentuknya tren bearish yang berkelanjutan. Indikator teknikal, seperti rata-rata bergerak dan level dukungan, turut memperkuat pandangan bearish tersebut dan mendorong sikap pasar yang lebih waspada.

Past & Future

Past:
Koreksi serupa pernah terjadi pada aksi jual besar sebelumnya, termasuk setelah bull market 2021. Pada periode tersebut, Bitcoin juga kehilangan level dukungan kunci dan mengalami retracement signifikan lebih dari 40%. Secara historis, ketegangan geopolitik dan guncangan makroekonomi—seperti sengketa tarif—sering memicu aksi jual dan pengujian ulang level dukungan yang lebih rendah.

Future:
Jika Bitcoin menembus level dukungan $84.000 secara meyakinkan, harga berpotensi menguji area $80.000 dan kemudian $75.000. Penurunan hingga $70.000 akan merepresentasikan retracement hampir 43% dari puncaknya, sebuah pergerakan turun yang signifikan dan kemungkinan disertai peningkatan volatilitas. Apabila Bitcoin mampu stabil di sekitar level dukungan yang lebih rendah, fase konsolidasi dapat terjadi. Namun, tanpa katalis fundamental yang kuat, kelemahan berkelanjutan masih membuka risiko penurunan lanjutan.

Ripple Effect

Penurunan lanjutan pada Bitcoin berpotensi menimbulkan efek berantai di seluruh pasar cryptocurrency. Kondisi ini dapat memicu aksi jual luas pada altcoin, mengingat tingginya korelasi dengan pergerakan harga Bitcoin. Hilangnya kepercayaan investor berisiko menekan likuiditas dan volume perdagangan, sekaligus meningkatkan indeks volatilitas di bursa crypto.

Selain itu, posisi dengan leverage tinggi menghadapi risiko likuidasi, yang dapat memperparah tekanan penurunan harga. Dampak lanjutan juga dapat dirasakan oleh platform pinjaman crypto serta tingkat partisipasi investor institusional. Kelemahan relatif Bitcoin dibandingkan aset tradisional mencerminkan meningkatnya aversi risiko di sektor ini.

Investment Strategy

Recommendation: Sell

Rationale:
Dengan adanya breakdown yang jelas pada level dukungan teknikal utama serta outlook bearish dari sejumlah analis yang memproyeksikan penurunan hingga $70.000, langkah mengurangi eksposur terhadap Bitcoin dinilai lebih bijak guna melindungi modal.

Execution Strategy:
Pengurangan kepemilikan Bitcoin disarankan dilakukan secara bertahap, dengan menempatkan order jual saat harga menguji level dukungan kunci di sekitar $84.000 dan $80.000. Pengambilan sebagian keuntungan lebih awal dapat membantu mengamankan hasil dan meminimalkan risiko penurunan lebih dalam.

Risk Management Strategy:
Terapkan stop-loss yang lebih ketat, sekitar 5–8% di bawah titik masuk terbaru, untuk membatasi potensi kerugian jika terjadi penurunan yang dipercepat. Pertimbangkan strategi hedging melalui produk inverse atau opsi, jika tersedia. Selain itu, pantau indeks volatilitas dan lonjakan volume perdagangan sebagai sinyal dini untuk menyesuaikan strategi keluar.

Rekomendasi jual ini sejalan dengan pendekatan investor institusional yang menekankan pelestarian modal selama tren penurunan, menghindari eksposur berlebihan pada aset yang menembus ambang teknikal penting, serta mengelola risiko melalui strategi keluar bertahap dan hedging.

Sabtu, 04 Oktober 2025

Online Investment 2025 Complete Guide to Growing Wealth in the Digital Era

Online Investment 2025 Complete Guide to Growing Wealth in the Digital Era
Online Investment 2025 Complete Guide to Growing Wealth in the Digital Era.

In today’s digital era, investing has become easier and more accessible than ever before. With just a smartphone and an internet connection, anyone can start growing their money through online investments. No more complicated paperwork or endless trips to the bank—everything can now be done instantly through apps and digital platforms.

But here’s the big question: What exactly is online investment? How does it work? Is it safe? And which type of investment is best for beginners?

This comprehensive guide will walk you through everything you need to know about online investing in 2025. From the definition, types of investment options, benefits, risks, to step-by-step tips on how to start. Whether you’re a beginner or looking to expand your portfolio, this article will help you make smarter financial decisions in the digital age.

What Is Online Investment?

Online investment refers to the process of putting your money into financial assets through digital platforms. Unlike traditional investments that often require manual processes at banks or brokers, online investments are managed via apps or websites, giving you instant access to transactions and real-time market monitoring.

In short, online investment is the modern version of traditional investing—more practical, transparent, and flexible.

Why Is Online Investment So Popular?

Several reasons explain why online investing continues to rise in popularity, especially among Millennials and Gen Z:

  1. Easy Access – All you need is a smartphone and internet.

  2. Low Entry Barrier – Start investing with as little as $1 (or in Indonesia, Rp10,000).

  3. Full Transparency – Real-time data, charts, and reports are available on your screen.

  4. Diverse Options – From stocks, mutual funds, digital gold, to cryptocurrency.

  5. Educational Resources – Many platforms provide free tutorials for beginners.

Types of Online Investments in 2025

1. Mutual Funds

Perfect for beginners since the money is managed by professional fund managers. Investors only need to choose a product and let the experts handle the rest.

  • Pros: Low capital, diversified risk.

  • Cons: Still subject to market downturns.

2. Stocks

Online stock trading allows you to buy and sell shares directly through brokerage apps.

  • Pros: High profit potential, dividend opportunities.

  • Cons: Volatile price movements, requires analysis and patience.

3. Digital Gold

An alternative for those who want to invest in gold without storing it physically.

  • Pros: Stable value, hedge against inflation.

  • Cons: Price fluctuations, liquidity may vary by platform.

4. Cryptocurrency

Bitcoin, Ethereum, and other digital assets are now widely accessible.

  • Pros: Huge profit potential, decentralized transactions.

  • Cons: Extremely volatile, risk of scams if using unregulated platforms.

5. Peer-to-Peer (P2P) Lending

Investing by lending money to individuals or businesses through online platforms.

  • Pros: Higher returns compared to traditional savings.

  • Cons: Risk of borrower defaults.

Benefits of Online Investing

  1. Flexible Access – Invest anytime, anywhere.

  2. Easy Diversification – Mix different assets in one app.

  3. Lower Fees – More affordable than traditional investing.

  4. Beginner-Friendly – Many apps offer auto-invest features.

  5. Potentially High Returns – Depending on your chosen instrument.

Risks You Should Be Aware Of

Every investment carries risks, and online investing is no exception:

  1. Market Volatility – Prices of stocks, crypto, and gold fluctuate quickly.

  2. Default Risk – Especially in P2P lending.

  3. Fraud & Illegal Platforms – Some apps operate without proper licenses.

  4. Lack of Knowledge – Beginners often invest blindly by following trends.

How to Start Online Investing for Beginners

1. Define Your Goals

Are you investing for retirement, education, or wealth building? Your goals determine your strategy.

2. Know Your Risk Profile

  • Conservative: Safer options like gold or money market funds.

  • Moderate: Balanced funds, government bonds.

  • Aggressive: Stocks, crypto, high-growth assets.

3. Choose a Trusted Platform

Always make sure the platform is licensed and regulated (by OJK in Indonesia, SEC in the US, etc.).

4. Start Small

Don’t throw all your money in at once—start with small amounts and grow gradually.

5. Diversify Your Portfolio

Spread your funds across different asset classes.

6. Review and Adjust Regularly

Track your progress and make adjustments based on performance.

How to Pick a Safe Online Investment Platform

  1. Registered and regulated by financial authorities.

  2. Strong digital security system (encryption, SSL, 2FA).

  3. Transparent fees and terms.

  4. Reliable customer service.

  5. Positive reviews and large user base.

Online Investment Trends in 2025

Looking at global financial shifts, here are the hottest trends in 2025:

  • ESG (Environmental, Social, Governance) Investing

  • AI and Tech Stocks

  • Digital Gold as an Inflation Hedge

  • Regulated Cryptocurrency & NFTs

  • Shariah-Compliant Investments Online

Common Mistakes Beginners Should Avoid

  1. Following hype without research.

  2. Putting all money into one asset.

  3. Ignoring risks.

  4. Using emergency funds for investment.

  5. Panic-selling when markets drop.

FAQs

1. Is online investment safe?
Yes, as long as you use licensed and regulated platforms.

2. What’s the minimum capital required?
You can start from as low as $1 (Rp10,000 in Indonesia).

3. Can beginners invest in stocks right away?
Yes, but it’s recommended to start with mutual funds for lower risks.

4. Can online investment make you rich quickly?
No. Investment is a long-term journey, not a get-rich-quick scheme.

Online investment has transformed the way people build wealth. With its low entry barrier, convenience, and diverse options, it has become the go-to method for modern investors. However, it’s crucial to understand the risks, pick regulated platforms, and stick to a consistent strategy.

Remember, investing is a marathon—not a sprint. Start small, diversify, and stay disciplined. The earlier you begin, the better your financial future will look.

Bitcoin Explained: The Complete Beginner’s Guide to Understanding, Buying, and Investing in Crypto Safely in 2025

Bitcoin Explained: The Complete Beginner’s Guide to Understanding, Buying, and Investing in Crypto Safely in 2025
Bitcoin Explained: The Complete Beginner’s Guide to Understanding, Buying, and Investing in Crypto Safely in 2025.

What is Bitcoin?

Bitcoin is a digital currency (also called cryptocurrency) that was first introduced in 2009 by a mysterious person (or group) known as Satoshi Nakamoto. Unlike the Indonesian Rupiah or US Dollar that are issued by central banks, Bitcoin is decentralized. That means no bank, government, or middleman controls it.

Every Bitcoin transaction is recorded on a public system called the blockchain, making it secure, transparent, and nearly impossible to fake. In simple words, Bitcoin is like digital money you can send anywhere, anytime, to anyone—without needing a bank.

Why is Bitcoin So Popular?

There are a few reasons why millions of people worldwide are obsessed with Bitcoin:

  1. High Value
    The price of 1 Bitcoin can reach hundreds of millions of Rupiah (over Rp1 billion as of 2025). That makes it one of the most valuable assets in the world.

  2. Global Access
    You can send Bitcoin overseas instantly, with lower fees than traditional banks.

  3. Secure & Transparent
    Transactions are publicly recorded on blockchain, making fraud very difficult.

  4. Investment Potential
    Many investors buy Bitcoin hoping the price will rise in the future.

How to Buy Bitcoin in Indonesia

Buying Bitcoin today is much easier than a few years ago. Thanks to licensed crypto exchanges under Bappebti (Indonesia’s Commodity Futures Trading Regulatory Agency), anyone can start with small amounts of money.

Steps to buy Bitcoin in Indonesia:

  1. Create an account on a trusted crypto exchange (e.g., Indodax, Tokocrypto, Pintu).

  2. Verify your identity (KYC).

  3. Deposit Rupiah via bank transfer, e-wallet, or virtual account.

  4. Buy Bitcoin starting from as little as Rp100,000.

👉 You don’t need to buy 1 full BTC. You can buy fractions, depending on your budget.

The Risks of Bitcoin Investment

Before you jump into the hype, it’s important to know the risks:

  • Extreme Price Volatility: Bitcoin’s price can skyrocket in one day and crash the next.

  • Not Guaranteed by the Government: Unlike bank deposits that are insured, Bitcoin investments carry no government guarantee.

  • Security Risks: If you lose your wallet password or fall into a scam, your money is gone forever.

Tips for Safe Bitcoin Investment

To avoid unnecessary losses, keep these tips in mind:

  1. Use Licensed Exchanges Only – Don’t trust random sellers.

  2. Secure Your Wallet – Consider a hardware wallet if you own a large amount.

  3. Diversify Your Assets – Don’t put all your savings into Bitcoin.

  4. Keep Learning & Stay Updated – News and global events strongly affect Bitcoin prices.

Bitcoin is without a doubt one of the biggest financial innovations of our time. It offers opportunities, but also comes with big risks. The good news is, you don’t need millions to start—just Rp100,000 is enough to own a small fraction of Bitcoin today.

If you’re a beginner, the golden rule is: learn first, invest slowly, and only use money you can afford to lose.

FAQs About Bitcoin

1. Is Bitcoin legal in Indonesia?
Yes, Bitcoin is legal as a commodity investment under Bappebti. However, it cannot be used as an official payment method—only Rupiah is valid for transactions in Indonesia.

2. What’s the minimum investment for Bitcoin?
You can start with as little as Rp100,000, depending on the exchange platform.

3. Is Bitcoin safe?
The system itself is secure thanks to blockchain, but the safety of your money depends on how carefully you manage your wallet and accounts.

Beginner’s Guide to Forex: How It Works, Risks, and Simple Tips

Beginner’s Guide to Forex: How It Works, Risks, and Simple Tips
Beginner’s Guide to Forex: How It Works, Risks, and Simple Tips.

What Is Forex?

Forex, short for Foreign Exchange, is basically the activity of buying and selling currencies online. Many people also call it “currency trading.” 

The idea is simple: you buy a currency when it’s cheap and sell it back when the price goes up. That price difference is your profit.

For example, let’s say you buy USD/IDR (US Dollar to Indonesian Rupiah) at Rp15,500 per USD and later sell it at Rp15,700 per USD. That Rp200 difference becomes your profit.

Why Is Forex So Popular?

There are a few reasons why Forex has become so attractive:

  • It runs 24/5: You can trade anytime, Monday through Saturday early morning.

  • Flexible capital: You don’t need millions; some brokers let you start with as little as Rp100,000.

  • High liquidity: Because millions of people are trading every day, it’s easy to enter or exit a position quickly.

How Forex Trading Works

Forex is always traded in pairs, meaning you’re buying one currency and selling another at the same time. Examples include:

  • EUR/IDR: Euro vs Indonesian Rupiah

  • USD/IDR: US Dollar vs Rupiah

  • JPY/IDR: Japanese Yen vs Rupiah

So, if you buy USD/IDR, it means you’re buying US Dollars and selling Rupiah at the same time.

The Risks You Need to Know

As exciting as it sounds, Forex also comes with high risks:

  1. Fast price changes – Exchange rates can move in seconds.

  2. Leverage – Brokers often let you trade with borrowed money. This can multiply profits but also losses.

  3. Emotional stress – Greed and fear often make traders take the wrong decisions.

⚠️ Important: Never put all your savings into Forex. Always treat it as a high-risk investment.

Simple Tips for Beginners

Here are a few practical tips to keep you safe:

  1. Learn the basics first – Don’t rush into trading without understanding the market.

  2. Use a demo account – Many brokers let you practice with virtual money for free.

  3. Manage your money – Risk only 1–2% of your capital per trade.

  4. Pick a trusted broker – Make sure it’s licensed and regulated.

  5. Control your emotions – Don’t expect to get rich overnight.

Is Forex for Everyone?

Not really. Forex can be a great opportunity to make money, but it can also lead to big losses if you don’t know what you’re doing. If you’re a beginner, think of Forex more as a learning experience instead of a quick way to get rich.

Forex is the largest financial market in the world with huge opportunities, but it comes with equally huge risks. The keys are knowledge, discipline, and smart money management. If done correctly, Forex can be an interesting digital investment option.

Selasa, 15 Oktober 2024

Keuangan Dunia: Memahami Dinamika Ekonomi Global

Keuangan Dunia: Memahami Dinamika Ekonomi Global
Keuangan Dunia: Memahami Dinamika Ekonomi Global. (GAMBAR ILUSTRASI)
JAKARTA - Keuangan dunia adalah sistem yang kompleks dan saling terhubung yang mencakup berbagai aspek ekonomi, termasuk pasar keuangan, investasi, perdagangan internasional, dan kebijakan moneter. Di era globalisasi, pemahaman tentang keuangan dunia menjadi semakin penting bagi individu, perusahaan, dan negara. Artikel ini akan membahas beberapa elemen kunci dari keuangan dunia, tantangan yang dihadapi, serta tren yang sedang berkembang.

1. Pasar Keuangan Global

Pasar keuangan global adalah tempat di mana berbagai instrumen keuangan perbankan, termasuk saham, obligasi, mata uang, dan derivatif. Pasar ini berfungsi sebagai platform untuk mengalokasikan sumber daya keuangan dan menentukan harga aset. Beberapa pasar keuangan utama di dunia termasuk Bursa Saham New York (NYSE), Bursa Saham London (LSE), dan Bursa Saham Tokyo (TSE).

Pasar keuangan juga mencakup lembaga keuangan seperti bank, perusahaan asuransi, dan dana pensiun yang berperan dalam menyediakan likuiditas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Dengan adanya teknologi, perdagangan di pasar keuangan kini semakin cepat dan efisien, memungkinkan investor untuk melakukan transaksi dalam hitungan detik.

2. Investasi Internasional

Investasi internasional adalah salah satu pilar utama keuangan dunia. Investor dapat memilih untuk berinvestasi di pasar domestik atau internasional, tergantung pada potensi keuntungan dan risiko yang terlibat. Investasi asing langsung (FDI) dan investasi portofolio adalah dua bentuk investasi utama internasional.

FDI terjadi ketika perusahaan atau individu berinvestasi langsung di negara lain, seperti membangun pabrik atau membeli perusahaan lokal. Sementara itu, portofolio investasi melibatkan pembelian saham atau obligasi di pasar luar negeri. Kedua jenis investasi ini dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga dapat menimbulkan tantangan, seperti melemahkan nilai tukar dan risiko politik.

3. Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional adalah pertukaran barang dan jasa antar negara. Ini adalah komponen penting dari keuangan dunia karena memungkinkan negara mengakses produk yang tidak tersedia secara lokal dan meningkatkan efisiensi ekonomi. Organisasi seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) berperan dalam mengatur perdagangan internasional dan menyelesaikan penyelesaian antar negara.

Namun, perdagangan internasional juga menghadapi tantangan seperti tarif, kuota, dan hambatan non-tarif yang dapat mempengaruhi arus barang dan jasa. Selain itu, ketegangan perdagangan antara negara-negara besar, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok, dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian global.

4.Kebijakan Moneter dan Fiskal

Kebijakan moneter dan fiskal adalah alat yang digunakan oleh pemerintah dan bank sentral untuk mengelola perekonomian. Kebijakan moneter melibatkan pengaturan suku bunga dan jumlah uang yang beredar untuk mencapai tujuan ekonomi, seperti inflasi yang stabil dan pertumbuhan ekonomi. Bank sentral, seperti Federal Reserve di AS dan Bank Sentral Eropa, memainkan peran penting dalam kebijakan ini.

Di sisi lain, kebijakan fiskal melibatkan pengeluaran pemerintah dan perpajakan. Pemerintah dapat meningkatkan pengeluaran untuk merangsang pertumbuhan ekonomi atau mengurangi pengeluaran untuk mengendalikan inflasi. Keseimbangan antara kebijakan moneter dan fiskal sangat penting untuk menjaga stabilitas perekonomian.

5. Tantangan dalam Keuangan Dunia

Keuangan dunia tidak lepas dari tantangan. Krisis keuangan, seperti yang terjadi pada tahun 2008, menunjukkan betapa rentannya sistem keuangan global. Krisis ini dipicu oleh kegagalan lembaga keuangan dan menyebabkan resesi di banyak negara. Selain itu, isu-isu seperti utang negara, ketidakstabilan politik, dan perubahan iklim juga dapat mempengaruhi keuangan dunia.

Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak besar pada perekonomian global, menyebabkan banyak negara mengalami penurunan ekonomi yang signifikan. Pemulihan dari krisis ini memerlukan kerjasama internasional dan kebijakan yang tepat untuk memastikan pertumbuhan yang berkelanjutan.

6. Tren Masa Depan dalam Keuangan Dunia

Melihat ke depan, ada beberapa tren yang dapat mempengaruhi keuangan dunia. Digitalisasi dan teknologi finansial (fintech) telah mengubah cara orang bertransaksi dan berinvestasi. Cryptocurrency dan blockchain adalah contoh inovasi yang dapat merevolusi sistem keuangan tradisional.

Selain itu, perhatian terhadap keinginan dan investasi yang bertanggung jawab semakin meningkat. Banyak investor kini mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) dalam keputusan investasi mereka. Hal ini menunjukkan perubahan menuju perekonomian yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

Keuangan dunia adalah bidang yang dinamis dan kompleks, dengan banyak faktor yang saling mempengaruhi. Memahami elemen-elemen kunci seperti pasar keuangan, investasi internasional, perdagangan, dan kebijakan ekonomi sangat penting untuk navigasi dalam dunia yang terus berubah ini. Dengan tantangan dan tren yang ada, penting bagi individu dan negara untuk tetap waspada dan adaptif dalam menghadapi perubahan yang akan datang.

Jumat, 30 Agustus 2024

PT MSIG Life Insurance Indonesia Catat Pembayaran Klaim Rp336 Miliar di Semester I 2024

PT MSIG Life Insurance Indonesia Catat Pembayaran Klaim Rp336 Miliar di Semester I 2024
PT MSIG Life Insurance Indonesia Catat Pembayaran Klaim Rp336 Miliar di Semester I 2024.
Jakarta – PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (MSIG Life), sebelumnya dikenal sebagai Sinarmas MSIG Life, mencatatkan pembayaran klaim kesehatan dan meninggal dunia sebesar Rp336 miliar sepanjang semester pertama tahun 2024.

Pencapaian ini menegaskan komitmen perusahaan dalam melindungi nasabah di tengah tantangan biaya perawatan kesehatan yang semakin tinggi.

"Perusahaan membuktikan komitmennya dalam melindungi nasabah dan keluarga mereka, termasuk di tengah biaya perawatan yang tinggi, melalui pembayaran klaim kesehatan dan meninggal dunia sebesar lebih dari Rp336 miliar," ungkap Wianto Chen, CEO & Presiden Direktur MSIG Life, dalam pernyataan resminya di Jakarta.

Wianto mengungkapkan, selama periode April hingga Juni 2024, jenis penyakit yang paling banyak menghabiskan nominal klaim baik untuk nasabah individu maupun nasabah kumpulan meliputi demam dengue, infeksi saluran pencernaan, infeksi saluran pernafasan akut, tifus, dan infeksi bakteri.

Meskipun pembayaran klaim menunjukkan angka yang cukup tinggi, bahkan klaim kesehatan mengalami peningkatan hingga 33 persen, Wianto menegaskan bahwa kondisi keuangan perusahaan tetap sehat dan kuat dalam menjalankan kewajiban pembayarannya.

"Komitmen perlindungan ini ditopang oleh kondisi finansial yang juga sehat dan kuat, tercermin dari Risk-Based Capital (RBC) sebesar 1.876 persen per Juni 2024, jauh di atas ketentuan regulator sebesar 120 persen," jelasnya.

Selain pemenuhan kewajiban pembayaran klaim, MSIG Life juga menunjukkan komitmennya untuk mendukung kesehatan fisik dan finansial masyarakat Indonesia melalui inovasi digital.

Lukman Auliadi, Head of Customer & Marketing MSIG Life, menjelaskan bahwa pihaknya telah meluncurkan berbagai aplikasi digital yang bertujuan meningkatkan gaya hidup sehat dan memberikan kemudahan dalam akses layanan asuransi.

“MSIG Life berkomitmen senantiasa mendukung masyarakat Indonesia untuk meningkatkan gaya hidup sehat, memiliki ketahanan tubuh yang baik guna mencegah munculnya penyakit, dan memastikan perlindungan finansial saat risiko terjadi,” ujar Lukman.

Komitmen ini diwujudkan melalui aplikasi mobile VEGA by MSIG Life yang menyediakan berbagai layanan polis dan kemudahan klaim, serta aplikasi mobile MyFit+ by MSIG Life yang membantu pengguna hidup lebih sehat dengan cara yang menyenangkan.

“Seluruh inovasi solusi perlindungan, ekosistem kesehatan, dan pelayanan digital yang kami hadirkan merupakan wujud komitmen MSIG Life untuk senantiasa menjadi mitra terpercaya yang mendampingi masyarakat Indonesia menjalani hidup sepenuhnya dengan lebih bermakna,” tambah Lukman.

Dengan berbagai inovasi dan komitmen yang ditunjukkan, MSIG Life terus berupaya menjadi pemimpin dalam industri asuransi jiwa di Indonesia, memastikan keamanan dan kesejahteraan finansial bagi setiap nasabah.