Berita BorneoTribun: Gula Darah hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Gula Darah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gula Darah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Februari 2026

Berat Badan Turun Saat Ramadhan, Normal atau Berbahaya Ini Penjelasannya

Penurunan Berat Badan Saat Puasa Masih Wajar Ini Batas Aman Menurut Dokter Olahraga
Penurunan berat badan saat puasa Ramadhan normal 0,5–1 kg per minggu. Dokter olahraga jelaskan batas aman, risiko dehidrasi, sarkopenia, dan kelompok yang perlu pengawasan khusus.

Penurunan Berat Badan Saat Puasa Masih Wajar Ini Batas Aman Menurut Dokter Olahraga

JAKARTA -- Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga lulusan Universitas Indonesia, dr. Andi Kurniawan Sp.KO, menjelaskan bahwa penurunan berat badan selama bulan Ramadhan adalah hal yang normal. Dalam keterangannya kepada ANTARA pada Kamis, ia menyebut rata-rata penurunan berat badan yang masih tergolong aman berkisar antara 0,5 hingga 1 kilogram per minggu, atau maksimal 4 kilogram selama satu bulan penuh puasa.

Menurut dr. Andi, perubahan angka timbangan saat berpuasa merupakan respons fisiologis alami tubuh terhadap perubahan pola makan dan waktu asupan nutrisi. Ketika seseorang berpuasa selama 12 hingga 14 jam, tubuh akan terlebih dahulu menghabiskan cadangan glikogen otot sekitar 100–120 gram. Setelah itu, metabolisme beralih ke proses glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa dari protein dan lemak, serta lipolisis atau pemecahan lemak sebagai sumber energi.

Hampir Separuh Orang Mengalami Penurunan Berat Badan

Secara umum, sekitar 44 persen orang yang menjalankan puasa mengalami penurunan berat badan. Namun, penting dipahami bahwa tidak semua penurunan berat badan berarti sehat. Kuncinya ada pada jumlah dan penyebabnya.

Penurunan berat badan yang tergolong wajar selama Ramadhan berdasarkan sejumlah kajian ilmiah, termasuk analisis yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients, berkisar antara 0,5 hingga 1,5 kilogram dalam 30 hari pada populasi umum tanpa intervensi diet khusus.

Sementara itu, bagi individu yang tetap aktif berolahraga dan menjaga pola makan seimbang saat sahur dan berbuka, penurunan hingga 2 kilogram dalam sebulan masih dianggap sehat. Penurunan tersebut umumnya berasal dari berkurangnya massa lemak dengan tetap mempertahankan massa otot.

Waspadai Jika Turun Lebih dari 2 Kg per Minggu

Drastisnya penurunan berat badan perlu diwaspadai. Jika berat badan turun lebih dari 2 kilogram per minggu, kondisi ini bisa menjadi tanda bahaya. Penyebabnya bisa berupa dehidrasi berat atau kehilangan massa otot yang dikenal sebagai sarkopenia.

Gejala yang patut diperhatikan antara lain:

  • Pusing berat yang tidak membaik setelah berbuka

  • Kulit tampak kering dan tidak elastis

  • Kelelahan ekstrem berkepanjangan

  • Tubuh terasa sangat lemas meski sudah makan

Jika mengalami tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga medis agar tidak terjadi komplikasi yang lebih serius.

Kelompok yang Perlu Pengawasan Ketat

Tidak semua orang memiliki respons tubuh yang sama terhadap puasa. Beberapa kelompok perlu perhatian khusus dalam memantau berat badan selama Ramadhan, antara lain:

  1. Lansia di atas 60 tahun
    Kelompok ini berisiko mengalami kehilangan massa otot lebih cepat. Sarkopenia pada usia lanjut sulit dipulihkan jika tidak ditangani sejak awal.

  2. Penderita Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 yang menggunakan insulin
    Mereka wajib memantau berat badan serta kadar gula darah secara rutin untuk mencegah hipoglikemia atau komplikasi lain.

  3. Remaja dalam masa pertumbuhan
    Kekurangan nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan kognitif.

  4. Individu Overweight atau Obesitas
    Orang dengan Indeks Massa Tubuh tinggi umumnya mengalami penurunan berat badan lebih besar dibandingkan individu dengan berat badan normal. Namun tetap harus dilakukan secara sehat dan terkontrol.

Gaya Hidup Saat Berbuka Jadi Penentu

Dr. Andi menegaskan bahwa perubahan berat badan tidak terjadi secara otomatis pada semua orang. Pola makan saat berbuka dan sahur sangat menentukan.

Jika Anda mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak berlebihan saat berbuka, penurunan berat badan bisa terhambat bahkan berbalik naik. Sebaliknya, memilih makanan seimbang dengan protein cukup, serat, serta cairan yang memadai akan membantu tubuh tetap bugar selama puasa.

Puasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga kesempatan memperbaiki pola hidup. Dengan pengelolaan nutrisi dan aktivitas fisik yang tepat, Ramadhan dapat menjadi momentum menjaga kesehatan metabolik sekaligus mengontrol berat badan secara alami.

FAQ Seputar Penurunan Berat Badan Saat Puasa

1. Apakah turun 3 kg selama Ramadhan masih normal?
Masih dalam batas aman jika terjadi secara bertahap dan tidak lebih dari 1 kg per minggu.

2. Kenapa berat badan cepat turun di awal puasa?
Karena tubuh menghabiskan cadangan glikogen dan cairan, sehingga angka timbangan cepat berkurang.

3. Apakah puasa bisa menyebabkan kehilangan otot?
Bisa, jika asupan protein kurang dan tidak ada aktivitas fisik yang menjaga massa otot.

4. Apakah olahraga saat puasa aman?
Aman jika dilakukan dengan intensitas ringan hingga sedang dan tetap memperhatikan hidrasi saat berbuka.

Minggu, 21 Januari 2024

Pentingnya Studi dan Bukti Efektivitas Pengobatan Herbal bagi Penderita Diabetes

Pentingnya Studi dan Bukti Efektivitas Pengobatan Herbal bagi Penderita Diabetes. (Gambar ilustrasi)
Pentingnya Studi dan Bukti Efektivitas Pengobatan Herbal bagi Penderita Diabetes. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Dalam sebuah diskusi daring yang diikuti pada hari Sabtu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo, Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, SpPD-KEMD, menekankan pentingnya pemahaman bagi penderita diabetes sebelum mencoba pengobatan herbal. 

Dokter Tri Juli menjelaskan dua hal yang harus dipahami oleh penderita diabetes sebelum memutuskan untuk mencoba pengobatan herbal.

"Pertama, yang penting dari pengobatan herbal itu ada studi dan bukti bahwa itu aman dan efektif untuk pengobatan," kata dokter Tri Juli. Beliau menyarankan agar pasien yang berencana mencoba pengobatan herbal mencari informasi terlebih dahulu mengenai bahan herbal yang akan digunakan. Lebih lanjut, dokter Tri Juli menekankan bahwa pengobatan herbal akan lebih efektif jika sudah teruji melalui penelitian yang dilakukan oleh para ahli, terutama untuk penderita diabetes yang membutuhkan produk untuk menjaga stabilitas gula darahnya.

Dokter Tri Juli juga mengingatkan pasien untuk mencari penelitian obat herbal yang melibatkan berbagai kelompok, bukan hanya penderita diabetes, tetapi juga kelompok kontrol atau orang tanpa penyakit diabetes. 

Dengan cara ini, hasil pengobatan dapat lebih dapat dipertanggungjawabkan. Beliau menekankan bahwa jika pengobatan herbal yang dimaksud belum terbukti melalui penelitian dan masih bergantung pada testimoni atau pengalaman pribadi, pasien sebaiknya menimbang kembali keputusannya.

"Cari bukti-bukti bahwa pengobatan tersebut memang bermanfaat, jangan berdasarkan testimoni seseorang dan dijadikan dasar untuk mengadopsinya karena metode pengobatan yang tepat itu harus melalui penelitian yang baik," tambah dokter Tri Juli.

Hal kedua yang perlu dipahami oleh pasien diabetes sebelum mencoba pengobatan herbal adalah tetap menjalani pengobatan konvensional yang telah diresepkan oleh dokter. 

Dokter Tri Juli menegaskan bahwa obat yang diresepkan oleh dokter untuk penderita diabetes biasanya sudah disesuaikan dengan kondisi tubuh pasien. 

Meskipun pasien mencoba pengobatan herbal, dokter Tri Juli menekankan bahwa penggunaan obat yang diresepkan tidak boleh dihentikan karena hal ini dapat berpotensi menurunkan kondisi kesehatan pasien.

"Pengobatan herbalnya boleh dijalankan, asalkan obat yang biasa digunakan jangan disetop," ujar dokter Tri Juli, menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pengobatan herbal dan pengobatan konvensional untuk menjaga stabilitas gula darah pasien diabetes.