Berita BorneoTribun: Harga Barang hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Harga Barang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harga Barang. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2026

BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur

BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur. (GAMBAR ILUSTRASI)
BI Jaga Rupiah dan Inflasi Meski Modal Asing Bisa Kabur. (GAMBAR ILUSTRASI)

JAKARTA -- Belakangan ini, kabar soal modal asing yang bisa kabur dari Indonesia lagi bikin heboh. Penyebabnya, rating outlook surat utang kita sempat diturunin jadi negatif. Bagi sebagian orang, ini kedengeran serem, karena bisa bikin nilai rupiah anjlok dan harga barang naik.

Tapi santai dulu, Bank Indonesia langsung turun tangan. Mereka bilang, stabilitas rupiah dan inflasi tetap jadi prioritas utama. BI juga pastiin sistem keuangan kita masih kuat menghadapi gejolak global. Intinya, BI nggak mau ekonomi terombang-ambing cuma gara-gara kabar buruk dari luar negeri.

Nah, kenapa ini penting banget buat kita sehari-hari? Kalau rupiah stabil, harga barang nggak bakal naik seenaknya. Inflasi terkendali bikin daya beli tetap aman, jadi dompet nggak kaget tiap belanja bulanan. Dengan kata lain, kebijakan BI ini langsung berdampak ke hidup kita, meski kita nggak pegang surat utang atau saham.

Untuk investor, momen kayak gini sebenernya jadi pengingat buat tetap cerdas. Diversifikasi investasi bisa bikin risiko lebih aman kalau pasar lagi nggak stabil. Buat masyarakat umum, cukup ngerti tren ekonomi dan pergerakan harga, supaya bisa atur pengeluaran lebih bijak.

Menariknya, BI juga udah ngecek ketahanan perbankan dan sistem keuangan nasional. Hasilnya, modal perbankan masih kuat dan hampir semua indikator tetap stabil. Jadi walaupun modal asing ada yang cabut, kita nggak perlu panik. Ekonomi Indonesia punya bantalan yang oke buat tetap bertahan.

Kesimpulannya, walaupun ada risiko modal asing kabur, BI udah siap jaga rupiah dan inflasi. Yang penting buat kita, tetap update soal ekonomi, kelola keuangan dengan smart, dan jangan panik tiap ada berita gejolak pasar. Dengan begitu, hidup sehari-hari tetap tenang, dompet aman, dan kita bisa jalan terus tanpa drama harga naik-turun.

Minggu, 25 Januari 2026

Harga Bahan Pokok Akhir Januari 2026: Dompet Kok Cepat Tipis?

Harga Bahan Pokok Akhir Januari 2026: Dompet Kok Cepat Tipis. (Gambar ilustrasi)
Harga Bahan Pokok Akhir Januari 2026: Dompet Kok Cepat Tipis. (Gambar ilustrasi)

Harga Bahan Pokok Akhir Januari 2026 Lagi-Lagi Bikin Kaget

Pernah nggak sih ngerasa belanja ke pasar atau minimarket rasanya biasa aja, tapi pas sampai rumah dompet udah menipis? Nah, itu bukan perasaan doang. Harga bahan pokok akhir Januari 2026 memang lagi pelan-pelan naik, tapi naiknya kalem—saking kalemnya, banyak yang nggak sadar.

Nggak ada drama harga melonjak gila-gilaan, tapi justru di situlah masalahnya. Kenaikan sedikit demi sedikit ini bikin pengeluaran harian membengkak tanpa disadari. Awalnya cuma nambah seribu, eh lama-lama kok total belanja beda jauh sama bulan lalu.

Naik Pelan Tapi Nyata, Ini yang Lagi Terjadi

Akhir Januari 2026 sebenarnya masih dibilang aman kalau dibandingin sama momen Lebaran atau akhir tahun. Tapi beberapa bahan pokok mulai “gerak” harganya. Nggak heboh, tapi konsisten.

Faktor penyebabnya juga klasik:

  • Cuaca yang nggak jelas

  • Distribusi habis libur panjang

  • Biaya produksi yang ikut naik

  • Permintaan rumah tangga yang stabil terus

Jadi jangan heran kalau belanja mingguan sekarang terasa lebih mahal, padahal belinya ya itu-itu aja.

Harga Beras Akhir Januari 2026: Nggak Lonjak, Tapi Nambah Terus

Beras masih jadi bintang utama urusan harga bahan pokok. Harga beras akhir Januari 2026 memang nggak melonjak drastis, tapi hampir di semua jenis ada kenaikan tipis.

Masalahnya, beras itu dibeli rutin. Jadi walau naiknya cuma ratusan rupiah per kilo, efeknya kerasa banget buat belanja bulanan.

Penyebabnya antara lain:

  • Panen belum merata

  • Ongkos angkut naik

  • Stok lama mulai habis

Buat rumah tangga, ini jadi alarm awal: kalau beras naik pelan di awal tahun, bulan-bulan ke depan patut diwaspadai.

Minyak Goreng: Masih Suka Bikin Bingung

Harga minyak goreng akhir Januari 2026 itu tipe yang bikin konsumen geleng-geleng. Di satu tempat stabil, di tempat lain beda cerita. Terutama minyak goreng kemasan, harganya pelan-pelan merangkak naik.

Minyak curah memang relatif lebih santai, tapi nggak semua orang bisa atau mau pakai curah. Faktor global, biaya kemasan, dan distribusi bikin harga minyak goreng susah ditebak.

Intinya: belum chaos, tapi jelas nggak bisa dibilang murah.

Gula Pasir, Si Naik Senyap

Kalau ngomongin bahan pokok yang naik diam-diam, gula pasir juaranya. Nggak banyak dibahas, tapi harganya pelan-pelan nambah.

Buat rumah tangga mungkin masih ketutup, tapi buat pedagang kecil—es teh, gorengan, jajanan—kenaikan gula ini lumayan nyesek.

Masalah utamanya:

  • Produksi lokal belum maksimal

  • Stok lama mulai menipis

  • Permintaan stabil terus

Naiknya nggak bikin heboh, tapi efeknya ke mana-mana.

Telur Ayam Mulai Ikutan Naik

Telur ayam ras juga mulai “ikut arus”. Harga telur ayam akhir Januari 2026 di beberapa pasar naik tipis, tapi konsisten.

Penyebab utamanya ya soal pakan ternak yang makin mahal. Telur itu sumber protein paling aman di kantong, jadi begitu harganya naik, langsung kerasa dampaknya buat menu harian.

Banyak keluarga akhirnya mulai ngatur ulang menu, ngurangin porsi, atau ganti sumber protein lain.

Daging Ayam: Masih Aman, Tapi Jangan Lengah

Kabar agak baik datang dari daging ayam. Sampai akhir Januari 2026, harganya masih relatif stabil. Tapi kata pedagang, ini masih “tenang sebelum ombak”.

Kalau nanti permintaan naik atau distribusi keganggu, harga bisa ikut naik. Jadi meski sekarang aman, bukan berarti bisa santai sepenuhnya.

Cabai dan Bawang: Langganan Bikin Emosi

Kalau dua bahan ini naik, suasana dapur langsung beda. Harga cabai akhir Januari 2026 di beberapa daerah mulai naik lagi. Alasannya ya itu-itu lagi: cuaca dan pasokan.

Cabai rawit dan cabai merah paling terasa naiknya. Sementara bawang merah ikut naik tipis, dan bawang putih masih relatif stabil.

Masalahnya, cabai dan bawang itu susah dihindari. Mau masak apa pun, hampir pasti kepakai.

Kenapa Harga Bahan Pokok Akhir Januari 2026 Bisa Naik?

Kalau dirangkum, penyebabnya simpel tapi saling nyambung:

  1. Cuaca bikin panen nggak maksimal

  2. Ongkos logistik ikut naik

  3. Distribusi habis libur panjang

  4. Permintaan rumah tangga stabil terus

Gabungan faktor ini bikin harga bahan pokok pelan-pelan naik tanpa perlu drama besar.

Dampaknya ke Kehidupan Sehari-hari

Naiknya harga bahan pokok mungkin kelihatan kecil di kertas, tapi di kehidupan nyata, efeknya lumayan:

  • Pengeluaran bulanan bocor halus

  • Uang belanja cepat habis

  • Pelaku UMKM tertekan biaya produksi

Yang paling kerasa tentu keluarga dengan penghasilan tetap. Harga naik, gaji segitu-gitu aja.

Biar Nggak Kaget, Ini yang Bisa Dilakuin

Biar dompet nggak makin tipis, ada beberapa trik sederhana:

  • Bandingin harga antar pasar

  • Beli bahan sesuai kebutuhan

  • Manfaatin bahan lokal yang lagi murah

  • Fleksibel soal menu harian

Nggak harus ribet, yang penting sadar pola belanja.

Jangan Anggap Remeh Kenaikan Kecil

Harga bahan pokok akhir Januari 2026 memang nggak bikin geger, tapi justru itu yang bikin bahaya. Naiknya pelan, tapi konsisten. Beras, gula, telur, dan cabai jadi contoh nyata bahan pokok yang diam-diam bikin pengeluaran membengkak.

Kalau konsumen lebih peka dan rajin mantau harga, setidaknya kejutan di akhir bulan bisa diminimalisir.

Rabu, 07 Agustus 2024

Pemerintah Berikan Insentif Fiskal bagi Daerah yang Kendalikan Inflasi

Pemerintah Berikan Insentif Fiskal bagi Daerah yang Kendalikan Inflasi
Penyerahan secara simbolis insentif fiskal bagi daerah, pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2024, di Jakarta, Senin (05/08/2024). (Foto: Humas Kemenkeu)
Jakarta - Pemerintah kembali mengapresiasi daerah-daerah yang berhasil menjaga stabilitas harga barang dengan memberikan insentif fiskal. Penyerahan insentif ini dilakukan oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian bersama dengan Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara, yang mewakili Menteri Keuangan, pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2024 di Jakarta, Senin (5/08/2024).

Menurut Wamenkeu, insentif fiskal ini dirancang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai salah satu upaya untuk mengendalikan inflasi di tingkat daerah. 

"Untuk daerah-daerah yang mampu mengendalikan inflasinya menjadi relatif rendah, maka dikucurkanlah insentif fiskal di tahun anggaran berjalan," ujarnya.

Penghargaan untuk Daerah yang Mampu Mengendalikan Inflasi

Sejak tahun 2023, pemerintah telah mendesain dana insentif daerah dengan memperhatikan inflasi di setiap kabupaten, kota, dan provinsi. 

Sinergi dan kolaborasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (pemda) sangat penting untuk memastikan inflasi tetap terkendali.

Wamenkeu mengungkapkan bahwa pemerintah pusat telah meluncurkan berbagai program untuk menjaga kestabilan harga, termasuk memberikan subsidi dan kompensasi. 

Di sisi lain, peran pemda sangat penting untuk memantau kondisi lapangan dan ketersediaan barang di pasar.

Memastikan Harga yang Wajar di Pasaran

"Memastikan harga yang di pasar adalah harga yang wajar dan tidak berfluktuasi terlalu cepat adalah peran serta dari pemerintah daerah," kata Wamenkeu. 

Ia menekankan pentingnya pengawasan jalur distribusi dan infrastruktur agar dapat membantu menurunkan harga barang.

Selain itu, Wamenkeu meminta kepala daerah untuk memperhatikan tingkat pertumbuhan ekonomi di daerah masing-masing guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di atas lima persen. 

Program-program dari pemerintah pusat diharapkan dapat meningkatkan daya beli masyarakat.

Mendorong Pertumbuhan Ekonomi dan Daya Beli

Wamenkeu juga berharap kepala daerah dapat memperhatikan perkembangan dunia usaha di daerah masing-masing, terutama yang bergerak dalam produksi barang dan jasa untuk menyerap tenaga kerja. 

"Dari pemerintah pusat, kami menggunakan APBN sehingga bisa bersinergi membantu perekonomian, membantu masyarakat, rumah tangga, dan dunia usaha," tambahnya.

Pada tahun 2024, jumlah daerah penerima insentif fiskal pengendalian inflasi meningkat menjadi 50 daerah per periode, dibandingkan dengan 33 daerah pada tahun sebelumnya. 

Dari jumlah tersebut, 36 daerah atau sekitar 72 persen merupakan daerah baru yang belum pernah menerima penghargaan kategori pengendalian inflasi pada tahun 2023.

Peluang Besar bagi Daerah untuk Mendapat Insentif

"Ada 14 daerah yang pernah menerima. Artinya, daerah-daerah ini sudah tahu kunci-kuncinya inflasi. Yang menjadi daerah penerima baru, tolong pelajari kunci-kunci itu supaya besok-besok bisa dapat lagi," tandas Wamenkeu.

Dengan adanya insentif fiskal ini, diharapkan daerah-daerah dapat terus berusaha menjaga stabilitas harga barang agar inflasi tetap terkendali, sehingga ekonomi nasional dapat terus bertumbuh dan masyarakat semakin sejahtera. 

Pemberian insentif fiskal ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi. 

Dengan kolaborasi yang baik antara pusat dan daerah, diharapkan inflasi dapat terkendali dan perekonomian Indonesia semakin kuat.

Jumat, 02 Februari 2024

Jelang Imlek 2575, Pontianak Siaga Harga Pangan di Pasar Tradisional dan Modern

Peninjauan pasar Flamboyan Pontianak, Kalbar. ANTARA/Dedi
Peninjauan pasar Flamboyan Pontianak, Kalbar. ANTARA/Dedi
PONTIANAK - Tim Satuan Tugas (Satgas) Ketahanan Pangan Kota Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar) terus memantau harga pangan di beberapa pasar tradisional dan pasar modern menjelang Tahun Baru Imlek 2575 untuk memastikan harga terkendali.

"Langkah ini diambil sebagai tindak lanjut arahan Penjabat (Pj) Wali Kota Pontianak untuk mengawasi harga serta stok pangan di lapangan secara berkala," ujar Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kota Pontianak (DPPP) Bintoro, di Pontianak, Rabu.

Dia menjelaskan bahwa saat ini harga pangan relatif stabil kendati terdapat kenaikan harga pada beberapa komoditas sayuran. Ia menerangkan, harga beras ikut naik, dengan kenaikan rata-rata Rp150 per kilogram.

"Kenaikan harga ini disebabkan oleh cuaca hujan yang menyebabkan sayur mengalami kerusakan, sehingga panen tidak optimal," kata dia lagi.

Selain beras, harga ayam utuh juga mengalami kenaikan. Harga ayam utuh saat ini berkisar dari Rp32 ribu per kilogram. Kenaikan harga ini disebabkan oleh tingginya permintaan menjelang Tahun Baru Imlek.

"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik membeli. Stok beras, minyak, gula, dan ayam utuh di Pontianak masih aman," kata Bintoro.

Sebelumnya, Pj Wali Kota Pontianak Ani Sofian menyampaikan, Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak lewat dinas terkait akan terus melakukan pemantauan harga komoditas pangan secara berkala untuk memastikan ketersediaan dan kestabilan harga. 

Kendati angka inflasi di Kota Pontianak sangat rendah, dirinya ingin upaya antisipasi lonjakan harga ikut digalakkan.

"Ketersediaan stok pangan harus dijaga, bekerjasama dengan pihak kepolisian dan instansi terkait akan ada pengawasan di gudang-gudang," katanya pula.

Program lain yang juga dilaksanakan Pemkot Pontianak untuk menekan harga adalah dengan operasi pasar murah di enam titik kecamatan. Ani berharap, manfaat operasi pasar dapat mengurangi beban masyarakat.

"Selain itu saya mengajak warga Kota Pontianak untuk belanja dengan bijak, beli bahan makanan sesuai kebutuhan," katanya lagi.

Sumber: Antara/Dedi
Editor: Yakop

Senin, 06 Maret 2023

Jokowi Meninjau Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Baleendah, Cabai Naik Rp70-80 Ribu per Kg!

Nasional,Jokowi,Harga,Harga Barang,Harga Kebutuhan Pokok,Harga Cabai,Pasar,Joko Widodo,Bantuan Tunai Langsung,Bantuan Modal Kerja,Presiden Jokowi
Presiden Jokowi mengunjungi Pasar Baleendah, Bandung, Jabar, Minggu (05/03/2023). (Foto: BPMI Setpres/Laily Rachev)

JAKARTA - Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) kembali mengecek langsung harga kebutuhan pokok di pasar. Kali ini, beliau mengunjungi Pasar Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Minggu (05/03/2023).

Setelah peninjauan, Presiden Jokowi mengatakan bahwa harga beberapa bahan pangan di pasar tersebut mengalami kenaikan. 

"Ada kenaikan harga cabai rawit merah dan hijau, harganya naik sampai Rp70-80 ribu," ujar Presiden.

Presiden menilai kenaikan harga cabai tersebut sebagai fenomena yang sering terjadi, tetapi beliau yakin harga tersebut akan turun pada bulan berikutnya. 

"Meskipun sulit diselesaikan, petani harus mendapatkan untung. 

Namun, harga cabai pasti akan turun pada bulan berikutnya," katanya.

Selain harga cabai, Presiden juga memperhatikan harga beras yang masih belum turun di Pasar Baleendah. 

Oleh karena itu, Presiden meminta Bulog untuk segera melakukan operasi pasar di sana. 

"Saya telah menghubungi Bulog untuk melakukan operasi pasar di Pasar Baleendah Kabupaten Bandung untuk menurunkan harga," jelasnya.

Dalam beberapa waktu ke depan, akan ada panen raya yang diharapkan dapat mendorong harga beras agar lebih stabil dan terjangkau.

"Dalam panen raya ini, pasokan akan banyak sehingga harga akan turun," tambah Presiden.

Selain mengecek harga kebutuhan pokok, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana juga membagikan bantuan kepada pedagang dan masyarakat di sana, berupa Bantuan Modal Kerja (BMK), Bantuan Tunai Langsung (BTL), dan sembako.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden didampingi oleh Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Wakil Gubernur Jawa Barat Uu Ruzhanul Ulum, dan Bupati Bandung Dadang Supriatna. 

Editor: Yakop

Minggu, 23 Oktober 2022

Hasil Monitoring Harga Barang di Kecamatan Sekadau Hulu, Ada Yang Alami Kenaikan

Tim gabungan SKPD Pemerintah Kabupaten Sekadau melakukan monitoring/pemantauan harga pangan pokok dan bahan bakar minyak bersubsidi di Kecamatan Sekadau Hulu
Tim gabungan SKPD Pemerintah Kabupaten Sekadau melakukan monitoring/pemantauan harga pangan pokok dan bahan bakar minyak bersubsidi di Kecamatan Sekadau Hulu. (Ho-Madah Sekadau)
Sekadau, Kalbar - Tim gabungan SKPD Pemerintah Kabupaten Sekadau melakukan monitoring/pemantauan harga pangan pokok dan bahan bakar minyak bersubsidi di Kecamatan Sekadau Hulu, Kamis (20/10/2022).

Pemantauan harga tersebut berdasarkan tindak lanjut Surat Tugas Bupati Sekadau Nomor : 500/1760/Ekon-A tanggal 4 Oktober 2022.

Kabid Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Sekadau Utin Ramdiana mangatakan pada kesempatan tersebut tim monitoring dibagi menjadi 3 tim, dengan objek sasaran yaitu para agen dan distributor serta pusat perbelanjaan minimarket, pasar tradisional dan SPBU.

Adapun tim yang pertama yaitu memonitoring barang startegis atau bahan bakar minyak bersubsidi dan LPG bersubsidi.

“Dari hasil survei tim barang strategis ini yaitu dilakukan di SPBU Rawak dan dipangkalan LPG Pak Azis, dimana untuk ketersediaan solar dan pertalite stoknya aman, untuk solar itu ada 4 ton dan untuk pertalite ada 16 ton”,Kata Utin.

“Sedangkan untuk LPG stoknya juga aman, namun untuk harganya cukup variatif jika dilihat dari beberapa tempat yaitu berkisar Rp 17.000 sampai dengan Rp 18.000,”Ujarnya.

Tim kedua yaitu barang pokok dengan sasaran yaitu toko modern dan toko tradisional, untuk toko medern itu ada 3 dan pasar tradisional ada 2 yang dikunjungi.

“Untuk harga bahan pokok ini relatif stabil dan tidak ada kenaikan yang signifikan, walaupun tadi untuk beras itu sudah mulai mengalami kenaikan harga dari bulan Agustus sampai dengan sekarang sudah ada kenaikan harga dengan kisaran sampai dengan Rp 600 perkilogramnya,”Lanjut Utin.

“Kalau bahan pokok pertanian seperti cabe rawit, bawang merah juga harganya relatif stabil sedangkan untuk hasil industri seperti minyak goreng dan tepung terigu juga relatif stabil, dimana untuk minyak goreng curah itu dijual Rp 14.000/liter, sedangkan untuk kemasan harganya variatif tergantung merk dengan kisaran harga mulai dari Rp 17.000/liter atau perkemasan,”Ucapnya.

Untuk minyak goreng stoknya aman, sedangkan tepung terigu dengan merk payung untuk harganya berkisar Rp 11.000/kg, untuk telur ayam rata-rata harga persatu rak yaitu Rp 53.000 dan sedangkan untuk daging ayam berkisar antara Rp 48.000 s/d Rp 50.000 per kilogram.

Utin melanjutkan, untuk tim ketiga yaitu memonitoring barang penting seperti pupuk stoknya aman, selain itu bahan penting lainnya seperti bahan bangunan mengalami selisih harga dengan di pusat Kabupaten.

“Bahan bangunan ini mengalami selisih harga dari di Kabupaten, namun itu dimaklumi karena mereka langsung ambil barangnnya langsung ke Pontianak, namun untuk perbedaan harganya tidak terlalu signifikan namun untuk stoknya aman,”Ungkapnya. 

(MADAH SEKADAU/YD/AK)