Berita BorneoTribun: Harga Minyak Dunia hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Harga Minyak Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Harga Minyak Dunia. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2026

Serangan AS Ke Kharg Oil Hub Iran Dinilai Bisa Picu Krisis Energi Global

Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.
Serangan AS ke Kharg Oil Hub Iran dinilai berisiko memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak dunia. Pakar menyebut langkah itu bisa menjadi bunuh diri ekonomi.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menjadi sorotan setelah muncul analisis yang memperingatkan bahwa serangan lanjutan Amerika Serikat terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg berpotensi memicu dampak ekonomi global yang serius. Seorang pakar menilai langkah tersebut justru bisa menjadi “economic suicide” bagi Washington karena berisiko memicu eskalasi yang mengganggu pasokan energi dunia.

Analis Timur Tengah Andrey Chuprygin, dosen senior di Fakultas Ekonomi Dunia dan Hubungan Internasional, menyebut Iran kini tidak lagi bergantung pada satu titik vital dalam ekspor minyaknya. Menurutnya, strategi yang diterapkan Teheran selama bertahun-tahun telah mengubah peta kerentanan infrastruktur energi negara tersebut.

Dalam keterangannya, Chuprygin menjelaskan bahwa Iran telah lama menerapkan kebijakan desentralisasi infrastruktur strategis. Fasilitas penting seperti stasiun pemompaan minyak ditempatkan di lokasi yang lebih tersembunyi, bahkan sebagian berada di bawah tanah.

Langkah ini dilakukan untuk mengurangi risiko kerusakan besar apabila terjadi serangan terhadap fasilitas utama seperti Kharg Oil Hub, yang selama ini dikenal sebagai pusat ekspor minyak Iran di Teluk Persia.

Selain itu, Iran juga telah mengoperasikan terminal minyak baru di Jask yang berada di luar Selat Hormuz. Terminal tersebut terhubung dengan ladang minyak di Provinsi Bushehr melalui jaringan pipa sepanjang sekitar 1.000 kilometer.

Keberadaan jalur ekspor alternatif ini dinilai membuat Iran tidak lagi sepenuhnya bergantung pada satu jalur distribusi minyak. Artinya, serangan terhadap satu fasilitas tidak otomatis melumpuhkan seluruh sistem ekspor energi negara tersebut.

Menurut Chuprygin, apabila terjadi serangan terhadap Kharg Oil Hub, respons Iran kemungkinan tidak hanya terbatas pada pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Target balasan bisa meluas hingga infrastruktur energi milik sekutu Barat.

Beberapa fasilitas strategis di kawasan Teluk bahkan disebut berpotensi masuk dalam daftar target. Salah satunya adalah kompleks pengolahan minyak raksasa di Arab Saudi seperti Abqaiq, yang dikenal sebagai salah satu fasilitas pemrosesan minyak terbesar di dunia.

Selain itu, terminal gas utama di Qatar juga dianggap sebagai titik yang sangat sensitif. Fasilitas tersebut menampung investasi besar perusahaan energi internasional, termasuk dari Amerika Serikat.

Serangan terhadap infrastruktur energi tersebut, menurut analis itu, dapat membuat harga minyak dunia menjadi sangat tidak stabil. Ketidakpastian pasokan energi berpotensi memicu lonjakan harga minyak yang berdampak langsung pada konsumen di negara Barat.

Chuprygin menilai skenario tersebut justru akan menjadi bumerang bagi ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan harga bahan bakar dapat memicu inflasi yang lebih tinggi di dalam negeri.

Ia menambahkan, sektor industri dan transportasi di Amerika sangat bergantung pada harga energi yang stabil. Jika harga bensin melonjak drastis, dampaknya dapat terasa luas bagi aktivitas ekonomi nasional.

Di sisi lain, Iran dinilai telah cukup berpengalaman menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional yang berlangsung selama puluhan tahun. Negara tersebut juga telah membangun jaringan perdagangan energi dengan berbagai negara di Asia.

Hal ini membuat Iran relatif memiliki alternatif pasar untuk menjual minyaknya meskipun terjadi gangguan dalam jalur ekspor tertentu.

Tidak hanya dari sisi ekonomi, potensi operasi militer terhadap Pulau Kharg juga dinilai memiliki risiko tinggi bagi militer Amerika Serikat.

Pulau tersebut berada dalam jangkauan sistem pertahanan pesisir Iran yang dilengkapi dengan baterai rudal serta armada drone tempur seperti Ababil dan Shahed.

Kombinasi sistem senjata ini disebut mampu menciptakan zona penolakan akses atau anti-access area yang luas di perairan sekitar Teluk Persia.

Jika terjadi upaya pendaratan militer, kelompok kapal induk Amerika Serikat berpotensi menjadi target utama rudal balistik anti-kapal Iran jenis Khalij-e Fars yang dirancang untuk menghancurkan kapal permukaan berukuran besar.

Chuprygin memperingatkan bahwa operasi semacam itu dapat menimbulkan kerugian besar bagi militer Amerika Serikat, baik dari sisi personel maupun peralatan tempur.

Menurutnya, upaya merebut wilayah kecil seperti Pulau Kharg justru dapat berubah menjadi jebakan militer yang berisiko tinggi.

Ia menilai langkah tersebut tidak hanya berpotensi gagal secara strategis, tetapi juga dapat merusak reputasi militer Amerika Serikat di tingkat global.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di kawasan Teluk Persia tetap menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi stabilitas energi dunia. Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan infrastruktur energi di kawasan tersebut berpotensi membawa dampak ekonomi yang jauh melampaui wilayah konflik itu sendiri.

Senin, 09 Maret 2026

Rupiah Sentuh Rp16.990 Per Dolar AS Saat Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar

Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.
Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai masih memberi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memandang rupiah berpotensi bertahan di sekitar level terlemah saat ini dan bahkan masih berpeluang melemah apabila konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum mereda.

Josua menjelaskan, ketidakpastian justru meningkat setelah muncul dinamika pergantian kepemimpinan di Iran. Proses suksesi berlangsung di tengah perang, sementara elite politik di negara tersebut juga dilaporkan terbelah.

Dalam situasi tersebut, figur Mojtaba Khamenei disebut menjadi sosok yang menguat. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi Iran dan dipandang memiliki sikap politik yang lebih keras.

“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Tekanan tersebut tercermin pada perdagangan awal pekan ini. Pada Senin, rupiah sempat menyentuh level Rp16.990 per dolar AS ketika harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.

Menurut Josua, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini cukup penting untuk menjaga pasar tetap terkendali. Kebijakan tersebut dinilai mampu menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak bergerak secara tidak teratur.

Namun demikian, ia menilai kebijakan tersebut belum tentu cukup untuk membalikkan arah rupiah selama tekanan eksternal masih kuat. Faktor utama yang memengaruhi pergerakan kurs saat ini berasal dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, dan arus modal global.

Sebagai informasi, pada Februari 2026 lalu Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan itu difokuskan pada upaya memperkuat stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun internasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.

“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” ujar Josua.

Dari sisi cadangan devisa, Josua menilai posisi Indonesia masih cukup kuat untuk menjadi bantalan stabilitas. Cadangan devisa pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara dengan 6,1 bulan impor.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi apabila pasar mengalami tekanan. Meski demikian, penggunaan cadangan devisa tetap perlu dilakukan secara terukur.

Menurutnya, fungsi cadangan devisa adalah untuk meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu secara terus-menerus ketika tekanan eksternal masih tinggi.

“Cadangan devisa masih kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar bila tekanan geopolitik mulai mereda,” kata Josua.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi global. Selama gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi masih terjadi, harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

Josua menilai harga minyak sangat mungkin bertahan di atas 100 dolar AS per barel dan tetap bergejolak. Bahkan pasar sempat menguji kisaran 120 dolar AS per barel dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengingatkan bahwa dampak konflik tersebut bisa berlangsung cukup lama. Proses pemulihan pengiriman dan produksi energi tidak dapat dilakukan secara instan, sehingga ketidakpastian pasar dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka pendek kemungkinan masih relatif tertahan. Pemerintah sebelumnya menyatakan akan menambah subsidi energi dan belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya hingga Lebaran.

Namun jika konflik berkepanjangan, tekanan ekonomi diperkirakan akan mulai merambat ke berbagai sektor. Biaya transportasi, logistik, pangan, hingga barang impor berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta meningkatkan tekanan harga domestik. Risiko ini dinilai perlu diwaspadai, mengingat inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen.

APBN Di Tepi Jurang, Kinerja Purbaya Yudhi Sadewa Mulai Disorot Ekonom

APBN Indonesia mendapat sorotan setelah kinerja Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menghadapi tekanan fiskal dan potensi defisit anggaran yang meningkat.
APBN Indonesia mendapat sorotan setelah kinerja Purbaya Yudhi Sadewa dinilai menghadapi tekanan fiskal dan potensi defisit anggaran yang meningkat.

JAKARTA – Perhatian publik terhadap kondisi fiskal Indonesia mulai meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Sorotan terutama tertuju pada kinerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menggantikan Sri Mulyani Indrawati dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Saat pertama kali menjabat, Purbaya sempat mendapat dukungan luas dari publik. Pernyataannya mengenai pembiayaan proyek kereta cepat Whoosh yang disebut tidak menggunakan APBN sempat menuai apresiasi dari masyarakat.

Namun dalam perkembangannya, sejumlah ekonom mulai mempertanyakan kondisi fiskal pemerintah. Dalam enam bulan terakhir, berbagai indikator ekonomi dinilai belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertahan di kisaran 5 persen dalam beberapa kuartal terakhir. Angka tersebut dinilai stabil, tetapi belum memberikan percepatan ekonomi yang diharapkan untuk mendorong pemulihan dan ekspansi ekonomi nasional.

Di sisi lain, lembaga pemeringkat internasional juga mulai memberi sinyal kehati-hatian. Fitch Ratings merevisi prospek peringkat kredit Indonesia menjadi negatif, sementara Moody's Investors Service turut menyoroti sejumlah risiko fiskal yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir.

Sorotan juga muncul terhadap program prioritas pemerintah, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program sosial ini dinilai penting untuk pembangunan sumber daya manusia, namun implementasinya menghadapi tantangan mulai dari kebutuhan anggaran hingga distribusi di lapangan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, menilai sejumlah indikator menunjukkan adanya tekanan terhadap pengelolaan fiskal pemerintah. Salah satunya terlihat dari potensi pelebaran defisit anggaran.

Menurut Bhima, jika harga minyak dunia meningkat, defisit APBN berpotensi melebar hingga sekitar 3,3 persen hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut melewati batas psikologis yang selama ini dijaga pemerintah, yakni di bawah 3 persen dari PDB.

Selain itu, cadangan fiskal atau fiscal buffer pemerintah disebut mulai menurun. Kondisi ini membuat ruang kebijakan fiskal menjadi lebih terbatas ketika pemerintah menghadapi tekanan ekonomi global.

Masalah transparansi anggaran juga ikut disorot. Dokumen APBN 2026 disebut mengalami keterlambatan dalam publikasi kepada masyarakat. Bagi investor global, keterlambatan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan mengenai keterbukaan serta akurasi data fiskal pemerintah.

Perubahan kebijakan penggunaan dana desa juga menjadi perhatian. Sekitar 58 persen dana desa disebut dialihkan untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi prioritas pembangunan daerah serta memicu distorsi dalam pengelolaan fiskal lokal.

Di tengah dinamika domestik tersebut, tekanan eksternal juga meningkat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat berdampak pada stabilitas pasar energi global.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu konsekuensi dari situasi tersebut. Mengutip laporan Reuters, harga minyak mentah Brent sempat naik menjadi sekitar US$82,53 per barel, mendekati level tertinggi sejak awal 2025.

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi menambah tekanan terhadap APBN. Ahli strategi makro dari Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi, menyarankan pemerintah mempertimbangkan mekanisme penyesuaian subsidi jika harga Brent menembus US$90 per barel dalam beberapa hari perdagangan.

Tekanan juga muncul dari sektor energi dalam negeri. Pembayaran kompensasi energi kepada Pertamina dan Perusahaan Listrik Negara disebut belum sepenuhnya dilakukan secara rutin setiap bulan.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut, arus kas perusahaan energi negara berpotensi tertekan. Situasi ini dikhawatirkan dapat memicu kebijakan penyesuaian harga energi yang berdampak langsung pada masyarakat.

Sejumlah ekonom menilai komunikasi kebijakan pemerintah juga perlu diperbaiki. Pernyataan yang dinilai terlalu optimistis dikhawatirkan dapat menurunkan tingkat kepercayaan pasar apabila tidak diikuti realisasi kebijakan yang konsisten.

Dalam konteks pengelolaan fiskal, kepercayaan pasar menjadi faktor penting. Ketika stabilitas APBN dipandang kuat, investor cenderung merasa aman. Namun ketika muncul sinyal tekanan fiskal, respons pasar biasanya menjadi lebih berhati-hati.

Sumber: Rosadi Jamani

Harga Minyak Tembus 100 Dolar, IHSG Berpotensi Melemah Pada Perdagangan Senin

IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)
IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Analis pasar memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan Senin (9/3). Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan pasar berasal dari lonjakan harga minyak global yang telah menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai tekanan eksternal masih cukup kuat mempengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 7.460–7.860," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta infrastruktur energi Iran, termasuk depot penyimpanan minyak di sekitar Teheran dan provinsi Alborz.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar di beberapa fasilitas energi strategis. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas distribusi energi, khususnya di jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah dunia menunjukkan lonjakan signifikan. Crude Oil WTI tercatat menyentuh 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil berada di level 109,53 dolar AS per barel.

Menurut Nico, peningkatan serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi semakin mendorong kenaikan harga minyak global. Risiko gangguan pasokan dinilai meningkat apabila konflik turut mempengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, pemerintah juga tengah mempertimbangkan opsi penyesuaian anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah dapat menempuh langkah efisiensi belanja dan menunda sejumlah proyek infrastruktur untuk menjaga disiplin fiskal. Namun kebijakan tersebut berpotensi memperlambat realisasi pembangunan serta aktivitas ekonomi di sektor konstruksi.

Nico menambahkan, jika pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya dapat memicu kenaikan inflasi serta meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Sementara itu, tekanan juga datang dari bursa global. Pada perdagangan Jumat (6/3), indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.740,02, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke level 22.387,68.

Di dalam negeri, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (6/3) juga tercatat melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Sementara indeks LQ45 turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.

Dengan berbagai sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak global yang dapat mempengaruhi arah IHSG dalam waktu dekat.

Senin, 02 Maret 2026

Pasar Saham Indonesia Diuji Risiko Global dan Tekanan Fiskal

IHSG diproyeksikan bergerak volatile dan konsolidasi akibat risiko geopolitik global, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, serta tekanan fiskal Indonesia. (Gambar ilustrasi AI)
IHSG diproyeksikan bergerak volatile dan konsolidasi akibat risiko geopolitik global, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, serta tekanan fiskal Indonesia. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan cenderung volatile dan bergerak dalam fase konsolidasi. 

Proyeksi tersebut disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437 sebagai rentang teknikal yang patut dicermati investor.

Menurut Imam, meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar. 

Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, khususnya di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan premi risiko global. 

Jalur pelayaran ini merupakan rute vital distribusi energi dunia, yang setiap hari dilalui sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG global.

Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung melakukan rotasi dana ke aset safe haven, memperkuat dolar AS, dan mengurangi eksposur terhadap emerging markets termasuk Indonesia. 

Dampaknya, arus modal asing berpotensi tertekan dan meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah serta pergerakan IHSG.

Harga Energi Jadi Pedang Bermata Dua

Kenaikan harga minyak dan batu bara akibat risiko geopolitik memang bisa menjadi sentimen positif bagi saham sektor energi dan pertambangan di Bursa Efek Indonesia. 

Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpeluang menikmati kenaikan average selling price (ASP) serta potensi perbaikan margin emiten terkait.

Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi dan geopolitik. 

Artinya, jika harga energi bertahan di level tinggi namun tetap terkendali, sektor energi dapat menjadi penopang IHSG.

Namun, Imam mengingatkan bahwa lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan justru dapat menimbulkan tekanan baru. 

Risiko inflasi global berpotensi meningkat, sementara rupiah bisa mengalami depresiasi akibat membengkaknya impor migas. 

Tekanan ini dapat memperlebar defisit transaksi berjalan serta meningkatkan volatilitas pasar obligasi.

Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang. Situasi tersebut dapat memperbesar tekanan pada IHSG dalam jangka pendek.

Dampak Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. 

Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif impor global era Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. 

Namun, Trump kemudian merespons dengan mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.

Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif antara 86 persen hingga 143,3 persen. 

Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS serta memberikan tekanan tambahan pada neraca perdagangan sektor terkait.

Ketidakpastian kebijakan dagang global ini menambah beban psikologis investor, terutama ketika pasar tengah sensitif terhadap risiko geopolitik dan inflasi.

Peringatan Fiskal dari S&P Global Ratings

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan adanya tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia. 

Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal.

Apabila rasio tersebut tetap tinggi dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat kredit (downgrade) dapat muncul, meskipun saat ini outlook Indonesia masih stabil. 

Peringatan ini mendorong pelaku pasar dan pembuat kebijakan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola risiko eksternal dan domestik secara bersamaan.

Data Ekonomi Penting Awal Maret 2026

Memasuki awal Maret 2026, pasar juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting, antara lain:

  • PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026

  • Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026

  • Inflasi Indonesia Februari 2026

  • PMI ISM Manufaktur AS Februari 2026

  • PMI ISM Jasa AS Februari 2026

  • PMI NBS China Februari 2026

  • Initial Jobless Claims AS

  • Cadangan Devisa Indonesia

  • Non-Farm Payrolls AS

  • Tingkat Pengangguran AS

Data-data tersebut berpotensi memicu pergerakan signifikan di pasar saham, terutama jika hasilnya menyimpang dari ekspektasi pasar.

Arah IHSG Sangat Bergantung pada Stabilitas Energi

Secara keseluruhan, arah IHSG dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh dinamika harga energi dan stabilitas makroekonomi global. 

Jika kenaikan harga komoditas bersifat terkendali dan mendukung kinerja emiten energi, maka tekanan pada IHSG bisa relatif terbatas.

Namun, jika lonjakan harga energi berubah menjadi shock inflasi global yang memperlemah rupiah dan meningkatkan imbal hasil obligasi global, maka volatilitas pasar saham Indonesia berpotensi meningkat.

Bagi investor, periode seperti ini menuntut strategi yang lebih selektif dan disiplin dalam manajemen risiko. 

Memahami faktor global dan domestik secara menyeluruh akan membantu Anda mengambil keputusan investasi yang lebih rasional di tengah ketidakpastian.

FAQ Seputar Proyeksi IHSG Pekan Ini

1. Mengapa IHSG diproyeksikan volatile?
Karena meningkatnya risiko geopolitik global, ketegangan di Selat Hormuz, serta perubahan kebijakan perdagangan AS yang memicu ketidakpastian pasar.

2. Apa arti support 8.031 dan resistance 8.437?
Support adalah batas bawah yang berpotensi menahan penurunan indeks, sedangkan resistance adalah batas atas yang menjadi area tekanan jual.

3. Apakah sektor energi akan diuntungkan?
Jika harga minyak dan batu bara tetap tinggi namun stabil, sektor energi dan pertambangan berpotensi mencatat kinerja lebih baik.

4. Bagaimana dampak terhadap rupiah?
Lonjakan harga energi yang ekstrem dapat meningkatkan impor migas, menekan neraca transaksi berjalan, dan memicu pelemahan rupiah.

5. Apa yang perlu diperhatikan investor minggu ini?
Investor perlu mencermati rilis data ekonomi domestik dan global serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.