Berita BorneoTribun: Hari Pers Nasional hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Hari Pers Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Pers Nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2026

Hari Pers Nasional 2026: Pers Dipuja di Panggung, Ditinggal di Medan Perang Digital

Hari Pers Nasional 2026: Pers Dipuja di Panggung, Ditinggal di Medan Perang Digital
Wakil Ketua Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Kalimantan Barat, L. Sahat Tinambunan.

Setiap Hari Pers Nasional tiba, suasananya selalu meriah. Spanduk warna-warni terpasang, pidato resmi bergema, dan tepuk tangan terdengar di berbagai sudut acara. Tapi jujur saja, di balik semua seremoni itu, ada satu perasaan yang sulit ditepis: kondisi pers Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Banyak insan pers tahu. Banyak pula yang merasakannya langsung.

Industri media hari ini berada di persimpangan jalan. Dari sisi bisnis, perusahaan pers terus tertekan. Pendapatan iklan merosot tajam karena berpindah ke media sosial dan platform digital yang lebih cepat, lebih murah, dan lebih “disukai algoritma”. Di linimasa masyarakat Indonesia, informasi menyebar hanya dalam hitungan detik. Soal benar atau salah? Itu sering jadi urusan belakangan.

Hoaks dan fakta bercampur tanpa sekat yang jelas.

Di saat bersamaan, kerja jurnalistik yang mengandalkan liputan lapangan, verifikasi data, serta prinsip 5W+1H justru dianggap ketinggalan zaman. Tulisan mendalam kalah pamor dibanding video singkat berdurasi satu menit. Belum lagi kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang bisa menulis, merangkum, bahkan memproduksi konten dalam waktu sangat singkat.

Hari ini, jurnalisme berkualitas bukan hanya bersaing dengan media sosial. Ia harus berhadapan langsung dengan mesin dan algoritma.

Ironinya, saat banyak perusahaan media resmi terpaksa melakukan efisiensi hingga pemutusan hubungan kerja, jumlah media justru meledak. Data hingga akhir 2025 mencatat, media yang terverifikasi secara administratif dan faktual jumlahnya baru sekitar 1.136. Sementara estimasi total media di Indonesia mencapai lebih dari 61 ribu.

Artinya, puluhan ribu media beroperasi tanpa verifikasi resmi.

Ini bukan sekadar angka statistik. Ini adalah anomali serius dalam dunia pers. Di satu sisi, media profesional yang patuh aturan semakin terdesak. Di sisi lain, ribuan situs dan kanal informasi bermunculan, memproduksi konten setiap hari tanpa standar jelas, tanpa uji kompetensi, dan sering kali mengabaikan etika jurnalistik.

Kualitas dan profesionalisme pun dipertaruhkan.

Pers kerap diminta berada di garda terdepan melawan hoaks. Pers disebut sebagai pilar demokrasi, penjaga nalar publik, dan pengawas kekuasaan. Semua itu tertulis jelas dalam Undang-Undang Pers. Namun ketika bicara soal keberlanjutan industri dan kesejahteraan wartawan, jawabannya sering kali mengambang.

Dari pusat hingga daerah, banyak komunitas pers harus bertahan dengan cara masing-masing. Media yang sudah terverifikasi dan wartawan bersertifikat uji kompetensi sering kali “disamakan” nilainya dengan yang tidak terverifikasi dalam praktik bisnis dan kemitraan. Anggaran negara dan daerah untuk kerja sama media makin tak jelas arahnya. Pernyataan pejabat terdengar indah: pers mitra strategis, pers penjaga demokrasi. Tapi dukungan nyata di lapangan sering tak sebanding dengan pujian.

Peringatan Hari Pers Nasional 2026 di Banten kembali memperlihatkan pola yang sama. Ribuan wartawan hadir, seminar dan diskusi digelar, pidato kembali mengulang narasi klasik tentang peran pers melawan hoaks dan menjaga demokrasi. Pesannya mulia, tak diragukan. Namun di tengah badai disrupsi digital dan AI, pers seperti diminta bertarung tanpa perlengkapan yang memadai.

Pada puncak peringatan 9 Februari, momen yang dinanti insan pers, kepala negara tidak hadir secara langsung. Pesan yang disampaikan melalui perwakilan tetap senada: pentingnya pers dan demokrasi. Sayangnya, komitmen konkret terkait kesejahteraan wartawan dan strategi nasional memperkuat industri media belum terdengar jelas.

Ucapan “Selamat Hari Pers Nasional” terdengar gagah.

Namun para pejuang juga butuh perlindungan. Pejuang juga butuh kepastian untuk bertahan hidup.

Inilah wajah anomali pers hari ini. Dipuji sebagai pilar demokrasi, tetapi dibiarkan rapuh menghadapi tekanan algoritma dan teknologi. Diminta kuat, namun ditopang seadanya. Diharapkan melawan hoaks, tetapi berjuang sendiri di tengah ketimpangan ekosistem informasi.

Hari Pers Nasional seharusnya menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia perlu menjadi momen evaluasi serius dan keberpihakan nyata. Jika tidak, setiap tahun kita hanya akan mengulang seremoni yang sama, sementara persoalan pers terus membesar.

Pers tidak meminta dimanja. Pers hanya ingin diperlakukan adil, agar tetap mampu menjaga republik ini berpikir jernih dan waras.

Banten, 9 Februari 2026

Penulis: L. Sahat Tinambunan (Wakil Ketua Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Kalimantan Barat)

Sabtu, 10 Februari 2024

Hari Pers Nasional, Wartawan Dapat Kejutan Dari Kapolres Sekadau

Hari Pers Nasional, Wartawan Dapat Kejutan Dari Kapolres Sekadau
Foto : Kapolres Sekadau, AKBP I Nyoman Sudama memberikan kejutan Kue Ulang Tahun kepada awak media yang diterima oleh Ketua PWI Sekadau, Dina Mariana.
SEKADAU - Seluruh Wartawan yang bertugas di Kabupaten Sekadau berkumpul disebuah Warung Kopi seperti biasanya sambil menikmati suguhan kopi dan Snack pada hari Jumat (9/2/2024).

Tampak juga Kasi Humas Polres Sekadau, AKP Agus Junaidi yang sedang menikmati sebotol air mineral.

Tak berselang lama, hadir juga Kapolres Sekadau, AKBP I Nyoman Sudama dan Wakapolres Sekadau, Kompol Riko Syafutra ketempat tersebut.

Alhasil, ternyata Kapolres, Wakapolres dan Kasi Humas Polres Sekadau memberikan kejutan istimewa kepada awak media berupa kue ulang tahun.
Kejutan tersebut dalam rangka Hari Pers Nasional (HPN) 2024 dan HPN ini juga bertepatan dengan HUT ke-78 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

"Pers adalah salah satu pilar demokrasi di negara kita. Perannya sangat penting sekali dalam mendukung pembangunan," ujar Kapolres kepada wartawan.

Kapolres berharap, media senantiasa kritis dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat. Media juga diharapkan dapat memberikan hal-hal yang menyejukkan di masyarakat.

"Memberikan informasi-informasi sesuai data dan fakta yang sebenarnya sehingga tidak menimbulkan persepsi atau keresahan di masyarakat," ucap Kapolres.

Selain itu, Kapolres juga berharap media mendukung pemilu agar berjalan dengan aman dan damai. Media juga bisa memberikan imbauan kepada pemilih pemula agar datang ke TPS untuk memberikan hak suaranya. (Rh/Yk)

Jumat, 10 Februari 2023

Wagub Ria Norsan Apresiasi Kinerja Awak Media di Hari Pers Nasional Tahun 2023

WAGUB RIA NORSAN APRESIASI KINERJA AWAK MEDIA DI HARI PERS NASIONAL TAHUN 2023
Wagub Ria Norsan Apresiasi Kinerja Awak Media Di Hari Pers Nasional Tahun 2023. (Adpim Pemprov Kalbar)
PONTIANAK - Pers Nasional saat ini diharapkan mampu mempertahankan kredibilitasnya dengan menjaga sumber berita terpercaya, independen, dan bertanggung jawab. Pemerintah Indonesia menyatakan komitmen untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam menjaga keberlangsungan media yang terancam oleh kekuatan platform global asing.

Wakil Gubernur Provinsi Kalimantan Barat Drs. H. Ria Norsan, M.M., M.H., menghadiri Peringatan Acara Hari Pers Nasional Tahun 2023 di Gedung Serbaguna Pemprov Sumatera Utara, Jln. Williem Iskandar No. 9 Medan Sumatera Utara, Kamis (9/2/2022).

Perayaan Hari Pers Nasional kali ini dihadiri langsung oleh Presiden Ir. H. Joko Widodo, para Menteri Kabinet Indonesia Maju, para Duta Besar Negara Sahabat, Ketua Dewan Pers, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Gubernur dan Bupati serta tokoh pers nasional.

Wagub Kalbar yang hadir di tempat tersebut menyampaikan apresiasinya atas kinerja awak media yang selama ini telah berjibaku dalam menyampaikan informasi yang luas terkait program pembangunan Kalimantan Barat khususnya.

"Selamat Hari Pers Nasional kepada seluruh rekan - rekan awak media, semoga terus konsisten dalam menjembatani informasi - informasi valid yang bermanfaat bagi masyarakat. Jadilah pers yang bertanggung jawab, berkualitas dan mampu mengedukasi masyarakat ke arah yang lebih baik," harapnya.

Di tempat yang sama Presiden Jokowi menyampaikan terima kasihnya atas kontribusi kepada awak media dalam menyuarakan ajakan perjuangan kemerdekaan, menyuarakan inovasi pembangunan dan menjadi penopang utama demokratisasi.

"Dunia pers tidak sedang baik- baik saja, dulu isu utama dunia pers adalah kebebasan pers selalu itu yang kita suarakan. Tapi sekarang apakah isu utamanya tetap sama? Menurut saya sudah bergeser, karena kurang bebas," ungkapnya.

Presiden Jokowi juga berjanji akan membantu pers nasional yang sekarang terkena disrupsi digital dimana platform digital asing mendominasi tata kelola kegiatan berbasis digital. Terlalu banyak berita dari media sosial dan media digital, termasuk platform asing yang umumnya tidak beredaksi. Algoritma raksasa digital cenderung mementingkan sisi komersial, hanya mendorong konten sensasional dan mengorbankan kualitas isi jurnalisme otentik itu sendiri.

Presiden juga menerangkan bahwa Menkominfo telah mengajukan izin prakarsa mengenai rancangan Perpres tentang kerjasama perusahaan platform digital dengan perusahaan pers untuk membahas dan menghasilkan kesepakatan mengenai regulasi keberlangsungan media dalam mendukung jurnalisme berkualitas. (ais)