Berita BorneoTribun: Hortikultura hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hortikultura. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 April 2026

Dari Kebun Ke Pasar, Hilirisasi Nanas Barito Kuala Buka Peluang Usaha

Pemkab Batola mendorong hilirisasi nanas Tamban melalui KWT, hasilkan berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi dan memperkuat pasar lokal.
Pemkab Batola mendorong hilirisasi nanas Tamban melalui KWT, hasilkan berbagai produk olahan bernilai ekonomi tinggi dan memperkuat pasar lokal.

Marabahan – Pemerintah Kabupaten Barito Kuala (Batola), Kalimantan Selatan terus mendorong hilirisasi produk hortikultura, khususnya komoditas unggulan daerah berupa nanas. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi bagi petani dan pelaku usaha lokal.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Batola, H Wahyu Waguna, menegaskan bahwa pihaknya aktif mendorong para pembudidaya untuk tidak hanya menjual hasil panen dalam bentuk segar.

“Kami terus mendorong para pembudidaya buah ini untuk meningkatkan hilirisasi produk hortikultura,” ujarnya di Marabahan, Minggu.

Peran KWT Dalam Hilirisasi Nanas

Salah satu contoh sukses datang dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Karya Bunda Bersama yang berada di Desa Jelapat II, Kecamatan Mekarsari.

Kelompok ini dikenal aktif mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar nanas seperti:

  • Manisan nanas

  • Jelly nanas

  • Sirup nanas

  • Selai nanas

  • Minuman sari buah nanas

Tak hanya itu, mereka juga memproduksi olahan lain seperti keripik singkong dan keripik pisang sebagai diversifikasi usaha.

Dalam satu hingga dua minggu setiap bulan, kelompok ini mampu mengolah sekitar 30 kilogram nanas, yang kemudian dipasarkan ke berbagai kanal.

Strategi Pemasaran Produk Lokal

Produk olahan KWT Karya Bunda Bersama telah dipasarkan melalui:

  • Pasar tradisional

  • Sentra oleh-oleh

  • Minimarket

  • Pameran tingkat kecamatan hingga kabupaten

Strategi ini dinilai efektif dalam memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkenalkan produk lokal ke masyarakat luas.

Dukungan Pemerintah Dan Kementerian

Berkat konsistensinya dalam melakukan hilirisasi, kelompok ini juga mendapat dukungan berupa bantuan sarana produksi (saprodi) dari Kementerian Pertanian.

Dukungan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas hasil olahan.

Nanas Tamban Jadi Andalan Daerah

Diketahui, Kecamatan Mekarsari yang dulunya bagian dari Kecamatan Tamban, merupakan sentra produksi nanas Tamban, salah satu komoditas hortikultura unggulan Batola.

Selain dijual dalam bentuk buah segar, nanas ini juga diolah menjadi berbagai produk turunan seperti:

  • Wajik

  • Dodol

  • Selai

  • Serbuk nanas

Hilirisasi ini terbukti mampu meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus membuka peluang usaha baru di tingkat masyarakat.

Langkah hilirisasi yang dilakukan Pemkab Batola sejalan dengan strategi nasional dalam penguatan sektor pertanian berbasis nilai tambah.

Secara ekonomi, pengolahan hasil panen menjadi produk turunan dapat:

  • Meningkatkan harga jual komoditas

  • Mengurangi ketergantungan pada pasar buah segar

  • Membuka lapangan kerja baru

  • Meningkatkan daya saing produk lokal

Dari sisi keberlanjutan, model ini juga membantu mengurangi potensi kerugian akibat buah yang tidak terserap pasar.

FAQ

1. Apa itu hilirisasi hortikultura?
Hilirisasi adalah proses mengolah hasil pertanian menjadi produk turunan agar memiliki nilai tambah ekonomi lebih tinggi.

2. Apa produk olahan nanas di Batola?
Manisan, jelly, sirup, selai, minuman sari buah, hingga dodol dan wajik.

3. Siapa pelaku hilirisasi di Batola?
Salah satunya Kelompok Wanita Tani Karya Bunda Bersama di Mekarsari.

4. Berapa kapasitas produksi KWT tersebut?
Sekitar 30 kilogram nanas per periode produksi.

5. Apa manfaat hilirisasi bagi petani?
Meningkatkan pendapatan, memperluas pasar, dan mengurangi risiko kerugian.

Kamis, 19 Maret 2026

Jambu Kristal Jadi Oleh-Oleh Favorit di Jalur Mudik Pantai Selatan

Lapak jambu kristal di jalur Pantai Selatan Yogya ramai pemudik. Buah manis, segar, dan renyah ini jadi pilihan favorit untuk perjalanan mudik.
Lapak jambu kristal di jalur Pantai Selatan Yogya ramai pemudik. Buah manis, segar, dan renyah ini jadi pilihan favorit untuk perjalanan mudik.

Lifestyle, Borneotribun.com -- Deretan lapak buah di sepanjang jalur pantai selatan atau Pansela menuju Yogyakarta menjadi pemandangan yang sulit dilewatkan saat musim mudik. Di antara berbagai buah yang dijajakan, jambu kristal menjadi salah satu yang paling banyak diburu pemudik.

Tumpukan jambu berwarna hijau muda tersusun rapi di tepi jalan. Sebagian pengendara memperlambat kendaraan, sementara yang lain memilih berhenti untuk membeli buah segar sebelum melanjutkan perjalanan.

Jambu kristal, dikenal memiliki daging tebal dan renyah dengan biji yang sangat sedikit, kurang dari tiga persen dari bagian buah. Menurut Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, karakteristik ini menjadi keunggulan utama dibanding varietas lain. Rasanya yang manis dan kandungan air tinggi membuat buah ini praktis dikonsumsi di perjalanan, terutama saat melintasi jalur selatan yang panjang dan panas.

Salah seorang pedagang di jalur Pantai Selatan, Nariya, mengaku penjualan jambu kristal sangat bergantung pada arus kendaraan yang melintas.

“Kalau pas laris 50 kilo, kalau pas sepi paling 10 kilo,” ujarnya kepada ANTARA, Selasa (17/3).

Mayoritas pembeli berasal dari luar daerah, terutama Jakarta, yang menuju Yogyakarta atau Jawa Timur. Lapak biasanya buka sejak pagi hingga tengah malam, mengikuti pergerakan pemudik.

Harga jambu kristal cukup terjangkau, Rp15.000 per kilogram, dengan negosiasi jika membeli dalam jumlah banyak. Selain buah segar, pedagang juga menawarkan bibit jambu kristal seharga Rp20.000 per batang bagi yang ingin menanam sendiri di rumah. Pilihan lain seperti belimbing madu juga tersedia, bahkan rujak siap santap di siang hari.

Meski belum puncak arus mudik, penjualan tetap stabil, berkisar 15–50 kilogram per hari. Momentum Ramadhan hingga Lebaran menjadi periode paling menguntungkan, dengan penjualan bisa meningkat dua kali lipat.

Asal-usul Jambu Kristal

Jambu kristal bukan tanaman asli Indonesia. Varietas ini pertama kali dikembangkan di Taiwan awal 1990-an, sebelum diperkenalkan ke Indonesia melalui kerja sama hortikultura. Sejak awal 2000-an, jambu kristal dikembangkan sebagai komoditas unggulan karena produktivitas tinggi dan berbuah sepanjang tahun.

Wilayah seperti Gunungkidul menjadi sentra pengembangan karena kondisi lahan yang sesuai. Kedekatan lokasi produksi dengan jalur Pantai Selatan memudahkan distribusi, menjadikan jambu kristal mudah ditemui sepanjang jalur mudik. Ukuran besar dan tampilan menarik juga memudahkan penjualan dalam kondisi segar.

Buah ini kaya vitamin C, serat, dan antioksidan, menjadikannya pilihan tepat untuk menjaga kebugaran pemudik.

Daya Tarik Jambu Kristal di Jalur Mudik

Uniknya, jambu kristal dijual sederhana di pinggir jalan. Buah disusun di keranjang atau digantung dalam plastik tanpa kemasan khusus, namun kesegarannya menjadi daya tarik utama.

Bagi pemudik, berhenti membeli jambu kristal bukan sekadar membeli buah, tapi juga menjadi jeda perjalanan. Kesempatan untuk beristirahat sejenak, meregangkan tubuh, dan menikmati suasana jalur selatan yang relatif santai.

Tidak sedikit pemudik langsung mengonsumsi jambu di kendaraan, sementara sebagian lainnya membawanya sebagai buah tangan. Momen sederhana ini akhirnya menjadi bagian dari pengalaman mudik yang berkesan.

Jambu kristal tidak hanya menjadi komoditas hortikultura, tapi juga ikon perjalanan mudik di jalur pantai selatan, hadir di hampir setiap titik dan mengikuti arus kendaraan menuju kampung halaman.

Sumber: ANTARA / Farika Nur Khotimah