Berita BorneoTribun: Jalur Gaza hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Jalur Gaza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalur Gaza. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2026

Serangan Udara Israel Hantam Kamp Pengungsi Gaza, Wanita Hamil dan Anak Jadi Korban

Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 12 warga Palestina termasuk anak dan polisi setelah rumah di kamp pengungsi Nuseirat serta kendaraan polisi menjadi sasaran serangan. (Gambar ilustrasi AI)
Serangan udara Israel di Gaza menewaskan 12 warga Palestina termasuk anak dan polisi setelah rumah di kamp pengungsi Nuseirat serta kendaraan polisi menjadi sasaran serangan. (Gambar ilustrasi AI)

Gaza, Paletina -- Ketegangan di Jalur Gaza kembali memanas. Serangan udara Israel pada Minggu dilaporkan menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina, termasuk anak-anak, seorang wanita hamil, serta sejumlah petugas kepolisian.

Peristiwa ini menambah daftar panjang korban dalam konflik yang hingga kini masih menyisakan luka mendalam bagi warga sipil di Gaza.

Rumah Warga Di Kamp Nuseirat Jadi Sasaran

Serangan udara pertama menghantam sebuah rumah di kamp pengungsi Nuseirat, wilayah padat penduduk di Gaza bagian tengah. Ledakan besar terjadi saat sebagian warga sedang beristirahat di rumah mereka.

Akibat serangan tersebut, empat orang dilaporkan meninggal dunia. Korban terdiri dari pasangan suami istri berusia sekitar 30 tahun dan anak laki-laki mereka yang baru berusia 10 tahun.

Korban lainnya adalah seorang remaja berusia 15 tahun yang merupakan tetangga keluarga tersebut.

Menurut laporan tenaga medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, wanita yang meninggal dalam serangan tersebut diketahui sedang hamil dan mengandung anak kembar.

Jenazah para korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Awda di Nuseirat untuk proses identifikasi lebih lanjut.

Warga Terbangun Oleh Ledakan Mendadak

Mahmoud al-Muhtaseb, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi kejadian, menceritakan momen mencekam saat serangan terjadi.

Ia mengatakan ledakan datang secara tiba-tiba tanpa peringatan apa pun.

"Kami sedang tidur lalu tiba-tiba terbangun karena suara ledakan rudal. Serangannya sangat kuat dan tidak ada peringatan sebelumnya," ujarnya.

Bagi warga sekitar, kejadian seperti ini bukan hanya menimbulkan rasa takut, tetapi juga meninggalkan trauma mendalam.

Banyak keluarga yang kini hidup dalam ketidakpastian, khawatir serangan berikutnya bisa terjadi kapan saja.

Serangan Kedua Hantam Kendaraan Polisi

Pada hari yang sama, serangan udara lainnya terjadi di jalur utama Salah al-Din, tepatnya di pintu masuk kota Zawaida di Gaza tengah.

Serangan tersebut menargetkan sebuah kendaraan polisi yang sedang melintas di kawasan tersebut.

Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa delapan petugas polisi tewas dalam insiden tersebut.

Salah satu korban yang meninggal adalah Kolonel Iyad Ab Yousef, seorang pejabat kepolisian senior yang bertugas di wilayah Gaza tengah.

Peran Polisi Gaza Di Tengah Konflik

Selama perang berlangsung, sebagian besar aparat kepolisian Gaza sempat menghilang dari jalanan.

Hal ini terjadi setelah pasukan Israel mengambil alih sejumlah wilayah di Gaza.

Namun setelah tercapainya gencatan senjata pada Oktober lalu, aparat kepolisian mulai kembali bertugas dan terlihat di beberapa kawasan.

Mereka berupaya menegakkan kembali keamanan di wilayah yang tidak berada di bawah kendali militer Israel.

Kehadiran polisi ini dinilai penting untuk menjaga ketertiban masyarakat di tengah situasi yang masih penuh ketegangan.

Dampak Konflik Terhadap Warga Sipil

Serangan udara yang kembali terjadi menunjukkan bahwa kondisi keamanan di Gaza masih sangat rapuh.

Warga sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Rumah yang hancur, keluarga yang kehilangan anggota tercinta, hingga anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang konflik menjadi gambaran nyata kehidupan di wilayah tersebut.

Bagi banyak keluarga di Gaza, setiap hari adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

Situasi ini juga memicu perhatian dunia internasional yang terus memantau perkembangan konflik di kawasan tersebut.

Meski konflik terus berlangsung, harapan akan perdamaian tetap menjadi keinginan banyak pihak.

Warga sipil di Gaza berharap situasi bisa segera membaik agar mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih aman dan stabil.

Bagi mereka, perdamaian bukan sekadar kata-kata, melainkan kebutuhan nyata agar generasi berikutnya dapat tumbuh tanpa rasa takut.

Jumat, 02 Mei 2025

Gaza dalam Krisis: Pelanggaran Gencatan Senjata, Serangan Brutal, dan Kelaparan Massal

Gaza dalam Krisis: Pelanggaran Gencatan Senjata, Serangan Brutal, dan Kelaparan Massal
Gaza dalam Krisis: Pelanggaran Gencatan Senjata, Serangan Brutal, dan Kelaparan Massal.

JAKARTA - Situasi di Jalur Gaza makin memburuk menjelang pertengahan tahun 2025. Setelah pelanggaran gencatan senjata oleh Israel, serangan militer kembali diluncurkan dan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah besar, terutama di kalangan warga sipil. Blokade yang terus berlangsung memperparah krisis kemanusiaan, menyebabkan kelaparan massal dan kekurangan air bersih. Dunia internasional, termasuk Indonesia, semakin vokal dalam mengecam tindakan Israel yang dianggap melanggar hukum internasional dan hak asasi manusia.

Pelanggaran Gencatan Senjata dan Kembalinya Serangan Brutal

Pada pertengahan Maret 2025, militer Israel melancarkan serangan udara dan darat ke sejumlah wilayah di Gaza, termasuk Khan Younis dan Rafah. Padahal sebelumnya wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai zona aman bagi warga sipil. Serangan ini merupakan pelanggaran sepihak terhadap kesepakatan gencatan senjata yang sudah disepakati sebelumnya.

Dalam serangan terbaru ini, lebih dari 100 warga Palestina tewas dalam waktu kurang dari 48 jam. Rumah-rumah hancur, fasilitas umum lumpuh, dan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Yang paling mengkhawatirkan adalah fakta bahwa sebagian besar korban merupakan perempuan dan anak-anak.

Langkah ini langsung menuai kecaman dari berbagai organisasi kemanusiaan dan negara-negara yang selama ini menjadi penengah konflik. Banyak pihak menyebut bahwa tindakan ini merupakan bentuk agresi militer yang tidak proporsional dan melanggar prinsip-prinsip kemanusiaan.

Kelaparan Massal dan Krisis Kemanusiaan

Blokade total terhadap Gaza yang diterapkan sejak awal Maret 2025 menjadi penyebab utama dari meningkatnya krisis kelaparan. Penutupan akses masuk di perbatasan Karm Abu Salem dan Beit Hanoun membuat truk bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk ke wilayah tersebut. Akibatnya, warga Gaza terputus dari suplai makanan, air bersih, dan obat-obatan.

Kelaparan mulai menyebar secara masif, dan laporan dari berbagai organisasi kemanusiaan menunjukkan bahwa hampir setengah dari penduduk Gaza kini menderita kekurangan gizi parah. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan, dengan peningkatan signifikan pada kasus malnutrisi akut.

Tidak hanya makanan, akses terhadap air bersih juga menjadi sangat terbatas. Banyak warga terpaksa mengonsumsi air asin atau tercemar, yang menyebabkan berbagai penyakit pencernaan dan infeksi kulit. Rumah sakit tidak lagi mampu menangani jumlah pasien yang terus bertambah akibat kurangnya peralatan medis dan obat-obatan.

Kerusuhan dan Penjarahan karena Putus Asa

Karena kelaparan yang ekstrem, berbagai wilayah di Gaza mulai dilanda kerusuhan. Warga yang frustrasi dan putus asa mulai menyerbu toko-toko dan gudang penyimpanan bantuan. Salah satu insiden paling mencolok adalah penjarahan besar-besaran di kompleks milik UNRWA, badan PBB untuk pengungsi Palestina.

Ribuan orang dilaporkan menyerbu fasilitas tersebut untuk mencari makanan, air, dan obat-obatan. Dalam prosesnya, banyak kendaraan dan peralatan dirusak. Para relawan kemanusiaan mengungkapkan bahwa kondisi ini menandakan betapa rusaknya struktur sosial dan betapa dalamnya rasa frustasi warga Gaza.

Kerusuhan ini juga menambah tekanan terhadap organisasi-organisasi bantuan internasional yang selama ini berupaya membantu. Banyak di antara mereka kini harus mempertimbangkan kembali kehadiran mereka karena situasi keamanan yang memburuk.

Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Sejak pecahnya konflik pada Oktober 2023, jumlah korban jiwa di Gaza telah melebihi 52.000 orang. Sebagian besar korban adalah warga sipil, termasuk lebih dari 20.000 anak-anak dan wanita. Jumlah luka-luka bahkan melebihi 118.000 orang, banyak di antaranya mengalami cacat permanen akibat luka berat dan keterbatasan perawatan medis.

Selain itu, infrastruktur vital seperti rumah sakit, sekolah, dan saluran air bersih mengalami kerusakan parah atau bahkan hancur total. Lebih dari setengah fasilitas kesehatan di Gaza tidak lagi berfungsi. Warga harus hidup di tenda-tenda darurat, tanpa akses listrik, air bersih, atau fasilitas sanitasi yang layak.

Kecaman Dunia Internasional

Berbagai negara telah mengecam keras pelanggaran yang dilakukan Israel. Indonesia, dalam sidang Mahkamah Internasional yang digelar pada awal Mei 2025, menyatakan bahwa Israel telah melanggar hukum internasional, termasuk piagam PBB dan konvensi Jenewa. Menteri Luar Negeri Indonesia menegaskan bahwa tindakan Israel telah menghilangkan hak rakyat Palestina untuk hidup aman dan menentukan nasib sendiri.

Kecaman juga datang dari negara-negara Eropa, Amerika Latin, dan organisasi seperti Amnesty International serta Human Rights Watch. Mereka menyerukan agar segera dilakukan penyelidikan independen atas dugaan kejahatan perang yang terjadi di Gaza. Selain itu, desakan untuk memberikan sanksi terhadap Israel semakin kuat, terutama dari negara-negara dengan populasi muslim besar.

Namun, hingga saat ini, belum ada tindakan konkret dari Dewan Keamanan PBB yang mampu menghentikan serangan dan membuka akses kemanusiaan ke Gaza. Veto dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat masih menjadi penghalang utama untuk lahirnya resolusi tegas terhadap Israel.

Kondisi Gaza saat ini bukan sekadar konflik bersenjata biasa, tetapi sudah masuk dalam kategori krisis kemanusiaan besar. Pelanggaran gencatan senjata, serangan militer tanpa henti, dan blokade total telah menciptakan penderitaan yang luar biasa bagi jutaan warga Palestina.

Dunia tidak bisa terus diam. Diperlukan langkah nyata untuk menghentikan kekerasan, membuka akses bantuan kemanusiaan, dan menegakkan keadilan internasional. Rakyat Gaza membutuhkan solidaritas dan aksi nyata dari masyarakat global, bukan hanya sekadar pernyataan kecaman.

Jika situasi ini terus dibiarkan, bukan hanya masa depan Palestina yang terancam, tetapi juga kredibilitas hukum internasional dan nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini dijunjung tinggi oleh dunia.

Rabu, 05 Maret 2025

Masa Depan Gencatan Senjata Israel-Hamas Tidak Pasti Setelah Israel Blokir Bantuan ke Gaza

Masa Depan Gencatan Senjata Israel-Hamas Tidak Pasti Setelah Israel Blokir Bantuan ke Gaza
Truk-truk pengangkut bantuan kemanusiaan berjajar di sepanjang perbatasan Rafah dengan Jalur Gaza, 2 Maret 2025, setelah Israel menangguhkan masuknya pasokan ke daerah kantong Palestina tersebut. (AFP)

Yerusalem – Masa depan gencatan senjata antara Israel dan Hamas semakin tidak menentu setelah Israel memutuskan untuk memblokir semua bantuan kemanusiaan yang masuk ke Jalur Gaza. 

Langkah ini memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Gaza, terutama karena terjadi tepat saat bulan suci Ramadan dimulai.

Israel mengklaim ingin memperpanjang gencatan senjata selama tujuh pekan, sementara Hamas bersikeras untuk melakukan negosiasi guna mencapai penghentian perang secara permanen. 

Namun, dengan situasi yang semakin memanas, banyak pihak meragukan keberhasilan perundingan tersebut.

Warga Gaza Panik dan Kesulitan Bertahan Hidup

Keputusan Israel untuk memblokir bantuan kemanusiaan telah menyebabkan kepanikan di pasar-pasar Gaza. 

Banyak warga yang bergegas membeli kebutuhan pokok karena khawatir persediaan akan habis.

Mai al-Khoudari, seorang mantan kepala sekolah yang terpaksa mengungsi akibat konflik, mengungkapkan kesulitannya. 

“Pemblokiran ini berdampak buruk bagi kami sebagai pengungsi. Ini bulan Ramadan, dan kami sangat membutuhkan banyak hal. Rumah saya telah dihancurkan, saya tidak punya apa-apa. Harga barang-barang melambung tinggi dan banyak yang tidak tersedia di pasar.”

Sementara itu, Israel berpendapat bahwa masih ada cukup bahan pangan di Gaza untuk bertahan selama beberapa bulan ke depan, meskipun banyak organisasi kemanusiaan membantah klaim tersebut.

Negosiasi Gencatan Senjata Alami Jalan Buntu

Negosiasi tahap kedua mengenai perpanjangan gencatan senjata dan pertukaran sandera mengalami kebuntuan. 

Hamas saat ini masih menahan sekitar 63 sandera dari total 250 orang yang diculik dalam serangan 7 Oktober 2023. 

Perang yang berlangsung lebih dari 16 bulan ini telah merenggut puluhan ribu nyawa warga Palestina dan lebih dari 1.700 warga Israel.

Sejauh ini, 147 sandera telah berhasil dikembalikan ke Israel dalam dua kesepakatan gencatan senjata sebelumnya. 

Sebagai imbalannya, Israel telah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina. 

Namun, dengan kebijakan baru Israel yang memblokir bantuan, banyak keluarga sandera khawatir langkah ini justru akan memperburuk kondisi para sandera yang masih ditahan.

Netanyahu: Hamas Gunakan Bantuan untuk Operasi Militer

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa keputusan untuk memblokir bantuan dimaksudkan untuk menekan Hamas agar kembali ke meja perundingan dan menyetujui gencatan senjata yang diajukan oleh utusan Timur Tengah Presiden AS, Steve Witkoff.

“Israel telah menghentikan masuknya barang dan pasokan ke Gaza karena Hamas mencuri dan menggunakannya untuk memperkuat operasi militer mereka. Kami tidak ingin bantuan yang seharusnya untuk warga Gaza justru digunakan untuk mendanai teror terhadap Israel,” kata Netanyahu.

Kebijakan ini mendapat dukungan dari sebagian warga Israel yang ingin melihat tindakan tegas terhadap Hamas. 

Namun, banyak keluarga sandera yang merasa pemblokiran bantuan justru memperburuk situasi. 

Zahiro Shahar Mor, seorang warga Israel yang kehilangan pamannya dalam tahanan Hamas, menyatakan kekhawatirannya. 

“Menahan bantuan kemanusiaan tidak hanya menyiksa warga Gaza tetapi juga para sandera. Mereka hidup dalam kondisi yang semakin buruk setiap harinya.”

Kecaman Internasional dan Desakan Perdamaian

Hamas, negara-negara Arab, PBB, serta organisasi hak asasi manusia mengecam langkah Israel yang dianggap melanggar ketentuan gencatan senjata. 

Liga Arab bahkan berencana mengadakan pertemuan darurat pekan ini guna membahas kemungkinan penghentian perang secara permanen.

Situasi ini membuat banyak pihak bertanya-tanya: apakah gencatan senjata masih mungkin terwujud, atau perang ini akan terus berkepanjangan tanpa kepastian kapan akan berakhir? Masa depan konflik Israel-Hamas kini berada di titik kritis, dan dunia menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak.

Oleh: VOA Indonesia | Editor: Yakop

Selasa, 04 Maret 2025

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Warga Palestina duduk di meja besar yang dikelilingi reruntuhan rumah dan bangunan yang hancur saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa pada hari pertama Ramadan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu, 1 Maret 2025 (Abdel Kareem Hana/AP)

JAKARTA - Ramadan tahun ini di Jalur Gaza dimulai di bawah bayang-bayang gencatan senjata yang rapuh. Setelah lebih dari 15 bulan perang yang menghancurkan wilayah tersebut dan menewaskan puluhan ribu warga Palestina, umat Muslim di Gaza tetap berusaha menjalankan ibadah puasa dengan penuh ketabahan.

Di antara puing-puing bangunan yang hancur di kawasan Rafah, hampir 5.000 warga Palestina berkumpul pada hari pertama Ramadan untuk berbuka puasa bersama pada Sabtu lalu. 

Duduk menghadap meja panjang di tengah reruntuhan, mereka dengan sabar menunggu azan magrib berkumandang sebelum menikmati hidangan berbuka yang telah disiapkan oleh para sukarelawan.

Buka Puasa di Tengah Reruntuhan

Walid Abdel Wahab, salah satu penyelenggara acara buka puasa bersama di Rafah, mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini.

“Hari ini hari yang sangat luar biasa karena kami menjamu lebih dari 5.000 orang dengan 5.000 hidangan berbuka. Hari ini kami melukiskan kegembiraan di wajah orang-orang di sini di tengah kehancuran dan di bawah puing-puing ini,” katanya.

Ramadan tahun ini menjadi tahun kedua bagi warga Palestina menjalankan ibadah puasa dalam situasi perang yang belum sepenuhnya usai. 

Meski gencatan senjata telah diterapkan, ketegangan masih terasa di berbagai wilayah.

Dampak Perang yang Masih Terasa

Perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023 itu telah menyebabkan penderitaan besar bagi warga Gaza. 

Konflik ini dipicu oleh serangan terhadap Israel yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang. 

Sebagai respons, Israel melancarkan operasi militer yang menurut Kementerian Kesehatan Gaza telah menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina serta menghancurkan sebagian besar wilayah di Gaza.

Ramadan di Gaza: Ibadah Puasa di Tengah Gencatan Senjata yang Rapuh
Saat matahari terbenam, warga Palestina duduk di meja besar yang dikelilingi puing-puing rumah dan bangunan yang hancur saat mereka berkumpul untuk berbuka puasa, pada hari pertama Ramadan di Rafah, Jalur Gaza selatan, Sabtu, 1 Maret 2025 (Abdel Kareem Hana/AP)

Kini, meskipun gencatan senjata telah diumumkan, banyak warga yang kehilangan tempat tinggal, akses terhadap kebutuhan dasar, serta fasilitas kesehatan yang layak. 

Ramadan yang seharusnya menjadi bulan penuh kedamaian dan refleksi justru dijalani dengan tantangan besar.

Semangat Bertahan di Tengah Kesulitan

Meskipun situasi sulit, semangat warga Gaza untuk menjalankan ibadah Ramadan tetap tinggi. Para sukarelawan dan organisasi kemanusiaan terus berusaha menghadirkan secercah harapan dengan menyediakan makanan berbuka puasa, mendistribusikan bantuan, dan memastikan anak-anak tetap bisa merasakan kebahagiaan di bulan suci ini.

Dengan kondisi yang penuh ketidakpastian, banyak yang berharap bahwa Ramadan tahun ini bisa membawa kedamaian yang lebih nyata bagi Gaza dan seluruh wilayah yang terdampak konflik.