Berita BorneoTribun: Jerome Powell hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Jerome Powell. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerome Powell. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2026

Rupiah Menguat Tipis di Tengah Sinyal Dovish The Fed, Tapi Sentimen Masih Hati-Hati

Rupiah menguat ke Rp16.987 per dolar AS dipicu sikap dovish The Fed. Simak analisis lengkap, faktor global, dan prediksi pergerakan kurs hari ini. (Gambar ilustrasi)
Rupiah menguat ke Rp16.987 per dolar AS dipicu sikap dovish The Fed. Simak analisis lengkap, faktor global, dan prediksi pergerakan kurs hari ini. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Selasa pagi. Mata uang Garuda naik 15 poin atau 0,09 persen ke level Rp16.987 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.002 per dolar AS. Meski tipis, penguatan ini jadi sinyal positif di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya reda.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pergerakan rupiah kali ini dipengaruhi oleh pernyataan dovish dari pejabat Federal Reserve.

Menurutnya, komentar dari Ketua The Fed Jerome Powell dan pejabat lainnya seperti John C. Williams memberikan sentimen positif bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS menyusul pernyataan dovish dari Powell dan Williams,” ujar Lukman.

The Fed Masih Tahan Suku Bunga

Mengutip laporan Anadolu, Powell menegaskan bahwa bank sentral AS belum melihat kebutuhan mendesak untuk menaikkan suku bunga, meski harga minyak global sedang naik tajam.

Menurut Powell, ekspektasi inflasi masih terkendali. Selain itu, kebijakan pengetatan yang terlalu agresif berisiko menekan pertumbuhan ekonomi ke depan.

Ia juga menekankan bahwa dampak dari konflik geopolitik—termasuk perang Iran dan gangguan di jalur energi global—belum sepenuhnya terlihat.

Harga minyak bahkan tercatat melonjak lebih dari 45 persen dalam sebulan terakhir akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk gangguan di Selat Hormuz.

Namun, The Fed memilih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5–3,75 persen, yang dinilai masih cukup ideal untuk menjaga stabilitas ekonomi AS.

Risiko Kenaikan Suku Bunga Dinilai Kontraproduktif

Powell juga mengingatkan bahwa menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap lonjakan harga energi bisa jadi langkah yang kurang tepat.

Pasalnya, kebijakan moneter bekerja dengan jeda waktu (lag). Artinya, dampak kenaikan suku bunga bisa baru terasa saat tekanan inflasi dari energi sudah mereda.

Data Tenaga Kerja AS Jadi Sorotan

Di sisi lain, John Williams menyoroti pelemahan pasar tenaga kerja AS. Data terbaru menunjukkan ekonomi AS kehilangan sekitar 92 ribu pekerjaan dalam sebulan terakhir.

Padahal, secara ideal, pertumbuhan lapangan kerja di AS berada di atas 100 ribu pekerjaan per bulan agar ekonomi tetap sehat.

Kondisi ini menjadi salah satu alasan mengapa The Fed cenderung berhati-hati dalam mengambil kebijakan.

Rupiah Diprediksi Masih Terbatas

Meski mendapat dorongan dari sentimen global, Lukman memperkirakan penguatan rupiah tidak akan terlalu besar.

Pasar masih dibayangi sentimen negatif, terutama dari kenaikan harga minyak dan ketidakpastian geopolitik.

Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.

Analisis Singkat (E-E-A-T)

  • Experience: Data pergerakan rupiah dan sentimen pasar berdasarkan kondisi riil perdagangan harian.

  • Expertise: Mengacu pada analisis Lukman Leong sebagai analis pasar.

  • Authoritativeness: Pernyataan resmi dari pejabat The Fed jadi rujukan utama.

  • Trustworthiness: Data bersumber dari laporan kredibel seperti Anadolu dan ANTARA.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Dicari)

1. Kenapa rupiah bisa menguat hari ini?
Karena pernyataan dovish dari The Fed yang memberi sinyal tidak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

2. Apa itu kebijakan dovish?
Kebijakan dovish berarti bank sentral cenderung menjaga suku bunga tetap rendah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

3. Apakah rupiah akan terus menguat?
Belum tentu. Sentimen global seperti harga minyak dan geopolitik masih jadi faktor penekan.

4. Berapa prediksi kurs rupiah hari ini?
Diperkirakan berada di kisaran Rp16.950 hingga Rp17.050 per dolar AS.

5. Apa dampak harga minyak ke rupiah?
Harga minyak yang naik bisa menekan rupiah karena meningkatkan beban impor dan inflasi.