Berita BorneoTribun: Kecerdasan Buatan hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Buatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecerdasan Buatan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Februari 2026

China Siapkan Killer Robots Otonom Berbasis AI Masuk Medan Perang Dua Tahun Lagi

China diperkirakan mengerahkan robot tempur otonom berbasis AI dalam dua tahun. Pengembangan senjata militer cerdas ini berpotensi mengubah strategi perang modern dan keamanan global.
China diperkirakan mengerahkan robot tempur otonom berbasis AI dalam dua tahun. Pengembangan senjata militer cerdas ini berpotensi mengubah strategi perang modern dan keamanan global.

JAKARTA -- China disebut berada di jalur cepat untuk mengerahkan robot tempur otonom berbasis kecerdasan buatan ke medan perang dalam dua tahun ke depan. 

Pengembangan ini dilakukan untuk memperkuat militer negara tersebut dan berpotensi mengubah wajah peperangan modern secara drastis.

Perkembangan tersebut menjadi sorotan setelah analis pertahanan terkemuka, Francis Tusa, menyatakan bahwa China bergerak sangat cepat dalam mengembangkan mesin perang otonom. 

Tusa memperkirakan dalam waktu kurang dari dua tahun, dunia bisa melihat sistem tempur tanpa awak asal China aktif di lapangan.

Perang Berubah Total di Era AI

Perang jarak jauh bukan lagi hal baru. Dalam dua dekade terakhir, penggunaan drone, sistem siber, dan kendaraan tanpa awak telah menjadi tulang punggung operasi militer modern. 

Konflik di Ukraina menunjukkan bagaimana dominasi udara melalui drone menjadi faktor kunci dalam menentukan arah pertempuran.

Di sisi lain, Departemen Pertahanan Amerika Serikat baru saja mengumumkan investasi senilai 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp15 triliun untuk meningkatkan armada drone militernya. 

Langkah ini memperlihatkan bahwa persaingan teknologi militer kini semakin berfokus pada kecerdasan buatan dan sistem otonom.

Namun, China disebut melangkah lebih jauh. Negara tersebut tidak hanya mengembangkan drone canggih, tetapi juga kapal perang, kapal selam, hingga pesawat tempur tanpa awak yang sepenuhnya dikendalikan AI.

China Disebut Bergerak Empat Kali Lebih Cepat

Menurut Francis Tusa, kecepatan pengembangan teknologi militer China bahkan disebut empat hingga lima kali lebih cepat dibandingkan Amerika Serikat. Ia menilai produksi dan inovasi sistem AI militer China berlangsung dalam skala besar dan dalam waktu yang sangat singkat.

Laporan dari Newsweek juga menyebutkan bahwa China dan Rusia telah bekerja sama dalam pengembangan persenjataan otonom berbasis AI. Kolaborasi ini memperkuat kekhawatiran bahwa perlombaan senjata berbasis kecerdasan buatan semakin intensif.

Ancaman Nyata bagi Masa Depan Manusia

Sebagian pakar keamanan global memperingatkan bahwa robot tempur otonom dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas dunia. 

Tanpa keterlibatan langsung manusia dalam pengambilan keputusan di medan perang, risiko kesalahan sistem, serangan tak terkendali, hingga eskalasi konflik global menjadi semakin besar.

Beberapa ahli bahkan menyebut era AI bersenjata sebagai ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup umat manusia. 

Ketika mesin diberi wewenang menentukan target dan melakukan serangan, pertanyaan etika, hukum, dan keamanan menjadi semakin kompleks.

Apa Dampaknya bagi Dunia

Jika dalam dua tahun ke depan China benar-benar mengoperasikan killer robots otonom, peta kekuatan militer global bisa berubah drastis. 

Negara-negara lain kemungkinan besar akan mempercepat pengembangan teknologi serupa demi menjaga keseimbangan pertahanan.

Bagi masyarakat global, ini bukan sekadar isu militer, tetapi menyangkut masa depan keamanan internasional. 

Perlombaan AI militer bisa menciptakan era baru peperangan yang lebih cepat, lebih mematikan, dan lebih sulit dikendalikan.

Perkembangan ini layak untuk terus dipantau karena menyentuh kepentingan global, stabilitas geopolitik, dan masa depan teknologi kecerdasan buatan.

FAQ

1. Apa itu killer robots otonom?
Killer robots otonom adalah sistem senjata berbasis kecerdasan buatan yang dapat mengidentifikasi dan menyerang target tanpa kontrol langsung manusia.

2. Kapan China diperkirakan mengerahkan teknologi ini?
Beberapa analis memperkirakan dalam waktu dua tahun ke depan sistem tersebut sudah bisa digunakan di medan perang.

3. Mengapa teknologi ini dianggap berbahaya?
Karena keputusan menyerang dilakukan oleh sistem AI, sehingga berisiko terjadi kesalahan fatal tanpa campur tangan manusia.

4. Apakah negara lain juga mengembangkan teknologi serupa?
Ya. Amerika Serikat dan Rusia juga aktif mengembangkan sistem militer berbasis AI.

5. Apa dampaknya bagi keamanan global?
Teknologi ini bisa memicu perlombaan senjata AI dan meningkatkan ketegangan geopolitik dunia.

Selasa, 17 Februari 2026

Robot AI Humanoid China Tampil di Gala Festival Musim Semi 2025–2026, Dari Tarian hingga Atraksi Kungfu

Robot AI Humanoid China Tampil di Gala Festival Musim Semi 2025–2026, Dari Tarian hingga Atraksi Kungfu
Robot AI Humanoid China Tampil di Gala Festival Musim Semi 2025–2026, Dari Tarian hingga Atraksi Kungfu.

Perkembangan robot humanoid berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kembali menjadi sorotan publik global setelah tampil dalam ajang Gala Festival Musim Semi Tiongkok 2025 dan 2026 di China. Dalam acara yang disaksikan ratusan juta penonton tersebut, robot-robot AI itu bukan hanya sekadar berdiri di panggung, tetapi menari, bergerak luwes, hingga memperagakan gerakan kungfu dengan presisi tinggi layaknya manusia sungguhan.

Penampilan tersebut memperlihatkan lompatan signifikan dalam pengembangan robot humanoid China. Jika sebelumnya robot identik dengan gerakan kaku dan terbatas, kini mereka mampu menampilkan koordinasi tubuh yang lebih natural, responsif, serta sinkron dengan musik dan koreografi.

Evolusi Cepat dalam Satu Tahun

Sorotan global semakin kuat setelah unggahan dari akun media sosial Tansu Yegen dengan nama pengguna @TansuYegen menjadi viral. Dalam postingannya, ia menulis bahwa “Hanya dalam satu tahun, mereka telah berevolusi dari robot menjadi ‘manusia’,” merujuk pada perkembangan robot yang tampil di Gala Festival Musim Semi 2025 dan 2026.

Unggahan tersebut memicu perdebatan luas di berbagai platform digital. Banyak pengguna mengapresiasi kemajuan teknologi China dalam bidang robotika dan AI, sementara sebagian lainnya mempertanyakan apakah robot-robot tersebut benar-benar siap untuk penggunaan komersial di luar panggung pertunjukan.

Video yang beredar memperlihatkan robot mampu melakukan gerakan dinamis seperti tendangan kungfu, gerakan sinkron berkelompok, hingga ekspresi tubuh yang menyerupai penari profesional. Kemampuan ini tidak lepas dari integrasi sistem AI canggih, sensor gerak presisi tinggi, serta algoritma pembelajaran mesin (machine learning) yang terus dilatih dengan data gerakan manusia.

Perdebatan Global: Hiburan atau Teknologi Serius?

Beberapa komentar menyoroti aspek utilitas. Akun bernama GordonG, misalnya, menyebut robot milik Tesla nantinya akan jauh lebih berguna dibanding robot China yang “hanya bisa menari untuk hiburan.” Pernyataan tersebut merujuk pada pengembangan robot humanoid oleh Tesla, yang selama ini digadang-gadang akan digunakan untuk industri dan pekerjaan berat.

Namun, komentar lain justru membela pendekatan China. Seorang pengguna dengan nama HeKucool menyatakan bahwa banyak orang keliru memandang robot di Gala sebagai sekadar “showpiece.” Ia berargumen bahwa pengembangan teknologi membutuhkan keterlibatan aktif dan output nyata agar terus berkembang.

Ia bahkan membandingkan situasi ini dengan program luar angkasa NASA dalam misi Apollo moon landings, yang sempat melambat karena minim insentif komersial. Dalam pandangannya, robot humanoid tidak akan berkembang jika hanya berada di laboratorium tanpa diuji di ruang publik.

Sebagai pembanding, perusahaan robotika asal Amerika, Boston Dynamics, kerap merilis video demonstrasi canggih, namun dinilai masih terbatas pada tahap pengembangan dan belum masif secara komersial.

Strategi Komersialisasi ala China

Sejumlah analis teknologi melihat kemunculan robot humanoid di panggung besar seperti Gala Festival Musim Semi sebagai bagian dari strategi komersialisasi. Dengan tampil di acara berskala nasional yang disiarkan luas, produsen robot mendapatkan eksposur besar sekaligus membangun kepercayaan publik.

Model ini dinilai sejalan dengan pendekatan “lean startup”, yakni melakukan iterasi cepat melalui produk nyata di pasar, bukan hanya pengembangan tertutup. Robot yang awalnya diposisikan sebagai penghibur dapat menjadi pintu masuk menuju aplikasi yang lebih luas, seperti layanan publik, pendidikan, industri kreatif, hingga manufaktur.

Dalam konteks kebijakan, China memang menempatkan AI dan robotika sebagai sektor prioritas nasional. Pemerintah setempat mendorong integrasi AI ke berbagai lini industri sebagai bagian dari transformasi ekonomi berbasis teknologi tinggi.

Implikasi bagi Indonesia dan Kawasan

Bagi Indonesia, perkembangan robot AI humanoid ini memiliki beberapa implikasi penting. Pertama, persaingan global di sektor AI semakin ketat. Negara-negara di Asia Timur bergerak cepat dalam inovasi robotika, sementara Indonesia masih dalam tahap awal pengembangan ekosistem AI dan otomasi industri.

Kedua, muncul peluang kolaborasi dan transfer teknologi. Industri manufaktur Indonesia yang mulai mengarah ke otomasi dapat memanfaatkan perkembangan robot humanoid untuk sektor logistik, pelayanan publik, hingga pariwisata.

Pengamat teknologi di dalam negeri menilai bahwa yang terpenting bukan sekadar kemampuan robot menari atau beratraksi, melainkan bagaimana teknologi tersebut dapat diterapkan secara produktif dan efisien. Demonstrasi publik memang penting untuk membangun narasi kemajuan, tetapi tahap berikutnya adalah memastikan keberlanjutan bisnis dan dampak ekonomi nyata.

Menuju Era Robot Humanoid yang Lebih Fungsional

Penampilan robot AI humanoid di Gala Festival Musim Semi 2025–2026 menunjukkan bahwa perkembangan teknologi bergerak sangat cepat. Dalam kurun waktu singkat, robot yang dulu tampak eksperimental kini tampil lebih natural dan adaptif.

Meski masih ada perdebatan mengenai utilitasnya, satu hal yang jelas: robot humanoid bukan lagi sekadar konsep futuristik. Mereka telah memasuki ruang publik dan menjadi bagian dari percakapan global tentang masa depan kerja, industri, dan interaksi manusia–mesin.

Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada kecanggihan gerakan, melainkan pada integrasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Jika tren ini berlanjut, robot AI mungkin tidak lagi hanya tampil di panggung hiburan, tetapi hadir di pabrik, kantor layanan, bahkan ruang publik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Minggu, 15 Februari 2026

🔥 Microsoft Ungkap Waktu Pasti AI Gantikan Pekerja Kantoran, Benarkah Tinggal 18 Bulan Lagi?

🔥 Microsoft Ungkap Waktu Pasti AI Gantikan Pekerja Kantoran, Benarkah Tinggal 18 Bulan Lagi?
Microsoft Ungkap Waktu Pasti AI Gantikan Pekerja Kantoran, Benarkah Tinggal 18 Bulan Lagi?

JAKARTA -- Kabar mengejutkan datang dari raksasa teknologi dunia, Microsoft. Kepala divisi kecerdasan buatan mereka, Mustafa Suleyman, menyebut bahwa dalam waktu 12 hingga 18 bulan ke depan, sebagian besar pekerjaan karyawan kantoran atau white collar berpotensi bisa digantikan oleh kecerdasan buatan (AI).

Pernyataan ini tentu membuat banyak orang bertanya-tanya: apakah benar AI akan mengambil alih pekerjaan manusia dalam waktu dekat?

AI Sudah Setara Kemampuan Manusia?

Menurut Suleyman, teknologi AI saat ini sudah mencapai level “setara manusia” di berbagai bidang profesional. Mulai dari hukum, akuntansi, manajemen proyek, hingga pemasaran.

Ia bahkan menyebut pekerjaan yang dilakukan di depan komputer—yang selama ini menjadi tulang punggung pekerja kantoran—bisa sepenuhnya diotomatisasi dalam 1,5 tahun ke depan.

Perubahan paling terasa terjadi di dunia pemrograman. Dalam enam bulan terakhir, banyak pengembang perangkat lunak beralih ke metode AI-assisted coding atau pemrograman dengan bantuan AI. Pola kerja pun berubah drastis. Produktivitas meningkat, tetapi kebutuhan tenaga manusia bisa saja menyusut.

Kekhawatiran Soal PHK Massal Semakin Nyata

Prediksi Microsoft ini memperkuat kekhawatiran sejumlah pakar teknologi dunia.

Salah satu pendiri Anthropic, Dario Amodei, sebelumnya memperingatkan bahwa AI berpotensi menggantikan hingga 50 persen posisi entry-level di sektor perkantoran.

Sementara itu, ilmuwan dan profesor AI dari University of California, Berkeley, Stuart Russell, menyoroti risiko meningkatnya pengangguran massal akibat percepatan otomatisasi.

Bahkan miliarder teknologi Elon Musk pernah menyatakan bahwa AI kini telah “mempelajari seluruh pengetahuan manusia”. Pernyataan ini semakin memicu diskusi soal masa depan dunia kerja.

Microsoft di Garis Depan Revolusi AI

Sebagai perusahaan yang berinvestasi besar di OpenAI dan Anthropic, Microsoft terus mendorong integrasi AI ke dalam produk-produknya. Salah satu andalannya adalah Microsoft Copilot yang kini semakin luas digunakan di lingkungan kerja.

Langkah ini menegaskan bahwa transformasi pasar tenaga kerja bukan lagi sekadar wacana, tetapi sedang berlangsung.

Jadi, Haruskah Kita Khawatir?

Perubahan memang tak terhindarkan. Namun, sejarah menunjukkan bahwa setiap revolusi teknologi selalu menciptakan jenis pekerjaan baru, meski di sisi lain menghilangkan yang lama.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “apakah AI akan menggantikan manusia?”, tetapi “apakah kita siap beradaptasi?”

Jika Anda bekerja di sektor perkantoran, mungkin inilah saatnya meningkatkan keterampilan, belajar teknologi baru, dan memahami cara memanfaatkan AI sebagai alat bantu—bukan melihatnya sebagai ancaman semata.

Bagaimana menurut Anda? Apakah dalam 1,5 tahun ke depan AI benar-benar mulai menggeser pekerja kantoran?

Minggu, 07 September 2025

Alibaba Rilis Qwen3-Max, Model AI Super Cepat yang Kalahkan ChatGPT

Alibaba Rilis Qwen3-Max, Model AI Super Cepat yang Kalahkan ChatGPT
Alibaba Rilis Qwen3-Max, Model AI Super Cepat yang Kalahkan ChatGPT.

JAKARTA - Alibaba resmi memperkenalkan Qwen3-Max-Preview, model bahasa generatif terbaru dengan kekuatan 1 triliun parameter, pada ajang teknologi IFA 2025 di Berlin, Jerman. Model kecerdasan buatan (AI) ini disebut-sebut lebih cepat dan lebih akurat dibanding ChatGPT, sehingga langsung mencuri perhatian publik dan dunia teknologi.

Menurut Alibaba, Qwen3-Max mampu menangani tugas-tugas kompleks mulai dari logika, pengkodean, pemrosesan JSON, hingga permintaan kreatif dengan tingkat presisi tinggi. Dukungan konteks sepanjang 262.144 token memungkinkan AI ini memahami instruksi panjang, bahkan menjaga konsistensi dalam percakapan berdurasi lama. Hal ini menjadi keunggulan besar dibanding model sebelumnya, Qwen3-235B, maupun pesaing seperti Deepseek-V3.1, Kimi K2, dan Claude Opus 4.

Seorang penulis teknologi dari VentureBeat yang mendapat kesempatan menjajal Qwen3-Max mengatakan, AI ini memiliki fitur unik yang disebut “mode penalaran”. Saat menghadapi soal rumit, sistem otomatis beralih ke langkah demi langkah penjelasan, mirip seperti manusia yang memecahkan masalah secara logis. Menariknya lagi, Qwen3-Max mampu memberikan jawaban lebih cepat dibanding ChatGPT versi terbaru. “Model ini menghindari kesalahan umum yang kerap terjadi pada LLM lain, misalnya salah menghitung huruf dalam sebuah kata atau membandingkan angka,” tulis VentureBeat.

Meski sudah bisa dicoba, akses Qwen3-Max masih terbatas. Saat ini, pengguna hanya dapat memanfaatkannya lewat web resmi Alibaba, layanan cloud API, serta platform pihak ketiga seperti OpenRouter dan AnyCoder. Namun, tidak ada lisensi terbuka—artinya pengembang yang ingin menggunakan Qwen3-Max harus mengaksesnya lewat jalur berbayar. Alibaba sendiri belum memastikan kapan model ini akan dirilis secara penuh, tetapi memberi sinyal bahwa versi final akan lebih canggih dan fungsional.

Kehadiran Qwen3-Max menandai langkah serius Alibaba untuk menantang dominasi model AI buatan Barat, khususnya OpenAI dengan ChatGPT. Jika performa awal ini bisa dipertahankan, Qwen3-Max berpotensi menjadi pilihan utama bagi pengembang dan perusahaan global yang mencari AI cepat, akurat, dan mampu menangani instruksi panjang. Perkembangan ini juga menambah persaingan ketat di dunia AI, yang bisa mempercepat inovasi sekaligus memberi lebih banyak pilihan bagi pengguna.

Selasa, 29 Juli 2025

Sam Altman Ungkap 3 Skenario Menakutkan Masa Depan Kecerdasan Buatan (AI)

Sam Altman Ungkap 3 Skenario Menakutkan Masa Depan Kecerdasan Buatan (AI)
Sam Altman Ungkap 3 Skenario Menakutkan Masa Depan Kecerdasan Buatan (AI).

JAKARTA - CEO OpenAI, Sam Altman, beberkan tiga kemungkinan buruk yang bisa terjadi jika pengembangan AI tidak terkendali. Apa saja yang membuatnya sulit tidur di malam hari?

Sam Altman, CEO OpenAI—perusahaan di balik teknologi ChatGPT—baru-baru ini berbicara secara terbuka mengenai kekhawatirannya terhadap masa depan kecerdasan buatan (AI).

Dalam sebuah sesi diskusi publik, Altman diminta menjelaskan skenario terburuk yang bisa terjadi akibat perkembangan AI. Ia tidak ragu menyebutkan tiga kemungkinan yang dianggap paling mengkhawatirkan dan bisa berdampak besar bagi dunia.

Pernyataan ini disampaikan dalam acara publik belum lama ini (pertengahan 2025), di mana Altman berbicara di hadapan publik dan para pakar teknologi tentang risiko tersembunyi dari AI supercanggih.

Dengan kemajuan pesat dalam bidang AI, banyak orang hanya fokus pada manfaatnya. Namun, Altman mengingatkan bahwa tanpa pengawasan dan etika yang tepat, teknologi ini bisa menjadi bencana global. Hal ini bukan sekadar fiksi ilmiah, tapi kekhawatiran nyata dari orang yang berada di garis depan pengembangan AI.

Tiga Skenario AI yang Paling Menakutkan Versi Sam Altman

  1. Superintelijen Jatuh ke Tangan yang Salah
    Altman menyebut skenario pertama sebagai yang paling mengerikan: jika sekelompok orang jahat lebih dulu mendapatkan akses ke AI superpintar. Mereka bisa saja menggunakan teknologi itu untuk menciptakan senjata biologis, melumpuhkan infrastruktur energi, membobol sistem keuangan, hingga mencuri uang dari satu negara.

    Menurutnya, potensi AI di bidang bioteknologi dan keamanan siber saat ini sudah sangat besar. Namun, peringatannya selama ini belum sepenuhnya dianggap serius oleh masyarakat global.

  2. AI Kehilangan Kendali
    Skenario kedua adalah hilangnya kendali atas AI. Altman memperingatkan bahwa mesin pintar suatu saat bisa menolak menjalankan perintah manusia, bahkan bertindak berdasarkan keinginan mereka sendiri. Seiring AI menjadi lebih kuat, risiko ini semakin nyata dan tidak boleh diabaikan.

  3. AI Secara Tak Sengaja Menguasai Dunia
    Yang paling mengejutkan, Altman menyebutkan bahwa AI bisa saja mengambil alih dunia secara tidak sengaja—dan kita bahkan tidak menyadarinya. AI akan perlahan menyatu dengan kehidupan sehari-hari dan menjadi sangat penting hingga tidak bisa dilepaskan lagi. Ia membayangkan skenario di mana Presiden AS suatu saat akan menyerahkan sebagian besar pengambilan keputusan negara kepada AI, dengan restu rakyat.

Altman menyimpulkan bahwa masa depan AI terlalu kompleks untuk diprediksi secara akurat. Ia mengajak semua pihak untuk berhati-hati dan terus berdiskusi tentang arah pengembangannya. "AI adalah sistem baru yang sangat rumit. Terlalu banyak yang belum kita pahami," katanya.

Apakah Anda setuju dengan kekhawatiran Sam Altman? Skenario mana yang menurut Anda paling mungkin terjadi? Yuk, bagikan pendapatmu di kolom komentar dan mari berdiskusi bersama!

Senin, 21 Juli 2025

Kecerdasan Buatan Bakal Kalahkan Otak Manusia? Elon Musk Punya Prediksi Mengejutkan!

Kecerdasan Buatan Bakal Kalahkan Otak Manusia? Elon Musk Punya Prediksi Mengejutkan!
Elon Musk.

JAKARTA - Elon Musk kembali bikin heboh dengan pernyataan terbarunya soal perkembangan kecerdasan buatan (AI). Menurut bos Tesla dan SpaceX ini, AI akan melampaui kecerdasan seluruh umat manusia secara kolektif dalam waktu lima tahun saja, atau sekitar tahun 2030.

Padahal, pada Maret 2024 lalu, Musk sempat memprediksi bahwa kecerdasan buatan akan mencapai level tersebut di tahun 2029. Kini, ia memperbarui prediksinya dan menyebut tahun 2030 sebagai titik krusial tetap saja, itu waktu yang sangat dekat!

“AI sudah lebih unggul dari kebanyakan manusia dalam beberapa hal tertentu,” kata Musk, meskipun ia tak menjelaskan secara spesifik bidang apa yang dimaksud. Tapi menurutnya, dalam waktu kurang dari dua tahun, AI akan bisa mengalahkan siapa pun dalam bidang apa pun.

AI Pintar Bukan Masalah, Tapi Kebenaran Harus Jadi Tujuan

Musk menekankan bahwa penting sekali untuk memastikan AI berorientasi pada kebenaran, meski proses menuju ke sana bakal penuh tantangan. Buat dia, kejujuran AI jauh lebih penting daripada sekadar kecanggihannya.

Pandangan ini bukan hal baru. Elon sebelumnya pernah mengomentari prediksi dari Ray Kurzweil, seorang futurolog ternama, dalam sebuah podcast bersama Joe Rogan. Kurzweil memprediksi bahwa AI akan menyamai kecerdasan manusia pada 2029. Musk setuju, bahkan menambahkan bahwa AI mungkin sudah melampaui kemampuan individu manusia di tahun 2026, dan seluruh umat manusia pada 2029.

Kekhawatiran Musk: AI Bisa Jadi Ancaman Nyata

Meski dikenal sebagai inovator teknologi, Elon Musk juga kerap mengingatkan tentang bahaya laten dari AI. Menurutnya, AI bukan sekadar alat, tapi bisa menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan umat manusia kalau tidak dikendalikan dengan bijak.

Salah satu bentuk kekhawatirannya terlihat dalam konfliknya dengan Sam Altman, CEO OpenAI — perusahaan di balik ChatGPT. Musk tidak setuju dengan keputusan OpenAI yang mulai beralih ke model bisnis dan menjalin kerja sama dengan raksasa teknologi seperti Microsoft. Padahal, menurut Musk, AI seharusnya dibangun dengan sistem terbuka dan tidak dikomersialkan secara sepihak.

xAI: Langkah Musk Melawan Arus Komersialisasi

Sebagai bentuk aksi nyata, Elon Musk akhirnya mendirikan perusahaan AI-nya sendiri yang bernama xAI. Misinya? Mencari kebenaran dan menolak manipulasi informasi. xAI lahir sebagai “penantang arus” yang ingin memastikan teknologi AI dikembangkan dengan arah yang etis, terbuka, dan transparan.

Apa Artinya Buat Kita?

Kalau ramalan Musk benar, maka dalam waktu lima tahun ke depan kita akan hidup di dunia yang benar-benar baru dunia di mana kecerdasan buatan bukan cuma membantu manusia, tapi bahkan bisa melampaui dan mengatur kita.

Pertanyaannya: apakah kita sudah siap? Atau justru AI akan menjadi cermin untuk melihat kembali batas-batas moral dan teknologi kita?

Apa pun posisi kita terhadap AI antusias atau skeptis prediksi Elon Musk ini bukan sekadar opini kosong. Dia punya sejarah, punya pengaruh, dan kini sedang membangun alternatif lewat xAI. Saatnya kita juga melek terhadap perkembangan AI, supaya nggak cuma jadi penonton dalam perubahan besar yang bakal datang.

Jumat, 11 April 2025

Perplexity Resmi Hadir di Telegram, Alternatif ChatGPT yang Gratis dan Canggih!

Perplexity Resmi Hadir di Telegram, Alternatif ChatGPT yang Gratis dan Canggih!
Perplexity Resmi Hadir di Telegram, Alternatif ChatGPT yang Gratis dan Canggih!.

JAKARTA - Kabar gembira buat kamu pengguna Telegram! Sekarang kamu bisa langsung menggunakan kecerdasan buatan (AI) canggih bernama Perplexity langsung dari dalam aplikasi Telegram. 

Perplexity hadir dalam bentuk bot AI, dan yang lebih menarik lagi, layanan ini gratis! Banyak yang menyebutnya sebagai alternatif ChatGPT tanpa harus bayar.

Apa Itu Perplexity?

Perplexity adalah mesin pencari berbasis AI yang bisa menjawab berbagai pertanyaan dengan cepat dan akurat. Saat diumumkan secara resmi oleh timnya di platform X, mereka menyampaikan pesan yang cukup unik:

“Bagaimana cara cowok yang nggak ganteng menemukan cinta di tahun 2025?”

Lewat contoh itu, mereka ingin menunjukkan kalau Perplexity bisa menjawab segala jenis pertanyaan, mulai dari yang serius sampai yang receh sekalipun.

Tersedia Langsung di Telegram

Sama seperti Grok, bot AI dari Elon Musk, Perplexity bisa diakses langsung dari Telegram. Cukup cari nama bot-nya, dan kamu sudah bisa mulai ngobrol dengannya seperti chatting biasa. Kamu bisa tanya apa saja dan langsung dapat jawaban yang cukup informatif.

Apa Aja yang Bisa Dilakukan Perplexity?

Perplexity bukan sekadar mesin pencari biasa. Dengan bantuan AI, bot ini bisa melakukan banyak hal, seperti:

  • Menjawab pertanyaan umum

  • Menulis artikel atau teks panjang

  • Menerjemahkan bahasa

  • Menjelaskan topik yang rumit dengan cara yang mudah dimengerti

  • Membuat kode pemrograman

  • Dan masih banyak lagi!

Yang menarik, Perplexity juga menyertakan sumber link dalam jawabannya. Jadi kamu bisa cek langsung dari mana informasi itu berasal. Fitur ini sangat berguna buat kamu yang ingin memastikan keakuratan jawaban.

Gratis, Tapi Masih Ada Sedikit Delay

Saat ini, layanan Perplexity memang sudah bisa digunakan, tapi responnya masih agak lambat. Kemungkinan besar ini karena banyaknya pengguna yang mencoba bot ini secara bersamaan. Tapi nggak perlu khawatir, ini hal yang wajar untuk layanan baru yang langsung viral.

Cocok untuk Pelajar, Pekerja, dan Siapa Saja

Kalau kamu sering cari informasi di internet, ngerjain tugas, atau butuh asisten digital yang pintar, Perplexity ini bisa jadi teman baru kamu. Karena bentuknya bot Telegram, kamu bisa akses dengan cepat kapan saja dan di mana saja, langsung dari smartphone.

Cara Menggunakannya?

Gampang banget! Kamu tinggal cari bot Perplexity di Telegram, atau klik tautan yang disediakan di berbagai forum teknologi. Begitu kamu buka, tinggal mulai chat dan ketik pertanyaanmu. Bot-nya akan langsung membalas.

Hadirnya Perplexity di Telegram membuka peluang baru buat siapa pun yang ingin memanfaatkan teknologi AI tanpa harus bayar. Dengan kemampuan menjawab yang pintar, fitur lengkap, dan akses mudah, bot ini layak dicoba. Jangan sampai ketinggalan, yuk cobain sekarang juga!

Adobe Tambahkan Kecerdasan Buatan ke Photoshop dan Premiere Pro: Edit Foto dan Video Jadi Makin Mudah!

Adobe Tambahkan Kecerdasan Buatan ke Photoshop dan Premiere Pro Edit Foto dan Video Jadi Makin Mudah!
Adobe Tambahkan Kecerdasan Buatan ke Photoshop dan Premiere Pro: Edit Foto dan Video Jadi Makin Mudah!.

JAKARTA - Adobe kembali bikin gebrakan! Perusahaan teknologi kreatif ini sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) canggih yang akan ditanamkan ke dalam dua produk andalannya: Photoshop dan Premiere Pro. 

Dengan bantuan AI ini, proses edit foto dan video akan jadi lebih cepat, lebih mudah, dan cocok banget buat pemula yang baru belajar dunia kreatif.

Meskipun AI ini tidak akan menggantikan peran manusia, namun ia dirancang untuk mempermudah proses awal pengeditan dan membantu pemula memahami teknik-teknik kompleks hanya dalam beberapa langkah.

Apa yang Baru di Photoshop?

Di Photoshop, AI ini akan muncul dalam bentuk panel melayang bernama Actions. Panel ini akan memberikan saran pengeditan berdasarkan analisa gambar yang sedang diedit. 

Misalnya, kalau ada orang di latar belakang yang mengganggu, AI bisa menyarankan untuk menghapusnya. 

Atau, AI bisa merekomendasikan efek blur di bagian belakang agar terlihat seperti menggunakan kamera profesional dengan depth of field.

Yang keren, pengguna cukup klik saran yang diinginkan, dan AI akan langsung menjalankan perintahnya secara otomatis!

Sebenarnya, Photoshop sudah punya fitur AI yang bisa menghapus objek atau memperluas area gambar. Tapi, AI terbaru ini lebih pintar lagi. 

Ia bisa menerima perintah dalam bahasa alami (natural language) seperti “bersihkan foto dan tambahkan teks,” lalu menjalankan serangkaian aksi secara otomatis. 

Dalam demo yang ditampilkan Adobe, AI bisa membersihkan foto, menghapus orang, menyesuaikan kecerahan, membuat layer teks, dan mengatur struktur proyek hanya dari satu perintah saja. Keren, kan?

Premiere Pro Juga Dapat Sentuhan AI

Buat yang sering edit video, kabar baik juga datang dari Premiere Pro. Adobe sedang menyiapkan AI agent yang akan jadi kelanjutan dari fitur Media Intelligence

Fungsinya? Membantu pengguna mencari bagian penting dari video, membuat draft editing secara otomatis, dan ke depannya akan bisa memilih gambar terbaik, menyesuaikan warna, menyusun audio, dan masih banyak lagi.

Adobe juga mengenalkan alat baru bernama Generative Extend, yang memungkinkan kita menambahkan beberapa detik di klip video untuk membuat transisi antar adegan jadi lebih mulus. Semua itu dilakukan dengan bantuan AI!

Bukan Untuk Menggantikan, Tapi Membantu

Menurut Eli Greenfield, CTO Adobe untuk divisi media digital, AI ini tidak dirancang untuk menggantikan editor manusia, melainkan untuk membantu dan mempercepat proses kerja, terutama untuk mereka yang masih belajar.

Bagi para pemula, ini jelas jadi kabar gembira. Belajar edit foto dan video kini tak perlu lagi harus jago teknis cukup beri perintah, dan AI akan memandu langkah-langkahnya.

Adobe akan secara resmi memperkenalkan AI agent untuk Photoshop di acara Adobe Max London pada 24 April mendatang. 

Jadi, buat kamu yang penasaran dan ingin tahu lebih banyak, pantau terus update-nya ya!

Kamis, 26 September 2024

Suara Canggih ChatGPT: Pengalaman Berbicara Seperti Manusia

Suara Canggih ChatGPT: Pengalaman Berbicara Seperti Manusia
Suara Canggih ChatGPT: Pengalaman Berbicara Seperti Manusia.
JAKARTA - Hai, Sobat Teknologi! Kabar baik datang dari OpenAI! Dalam beberapa hari ke depan, fitur Advanced Voice dari ChatGPT akan tersedia bagi semua pengguna berlangganan. Ini berarti kita akan dapat merasakan pengalaman berinteraksi dengan kecerdasan buatan (AI) yang suaranya hampir tidak bisa dibedakan dari suara manusia.

Apa Itu Fitur Suara Canggih?

Fitur Advanced Voice ini tidak hanya menawarkan suara yang lebih alami, tetapi juga memungkinkan kita memberikan instruksi khusus kepada AI tentang bagaimana cara berbicara. Misalnya, kita bisa menentukan bagaimana AI menyapa kita atau menggunakan nama kita dalam percakapan. Ini membuat pengalaman berbicara dengan AI menjadi lebih personal dan menarik!

Fitur Baru yang Menarik

OpenAI juga menambahkan lima suara baru yang dapat kita pilih, jadi kini total ada sembilan suara yang bisa digunakan. Sejak peluncuran versi alpha, OpenAI telah melakukan banyak perbaikan, termasuk meningkatkan aksen dalam berbagai bahasa dan mempercepat serta memperhalus percakapan. Jadi, kita bisa merasakan percakapan yang lebih lancar dan menyenangkan.

Desain yang Segar

Saat kita menggunakan fitur Advanced Voice, kita juga akan melihat desain baru yang menarik. Terdapat animasi berbentuk bola biru yang membuat antarmuka lebih hidup dan interaktif!

Siapa yang Bisa Menggunakan Fitur Ini?

Awalnya, fitur baru ini hanya akan tersedia untuk pengguna yang berlangganan paket Plus dan Team di Amerika Serikat. Namun, jangan khawatir! Setelah itu, fitur ini akan segera menyebar ke pengguna paket Edu dan Enterprise, serta pengguna di negara lain.

Dengan hadirnya fitur Advanced Voice ini, OpenAI menunjukkan komitmennya untuk terus menghadirkan pengalaman yang lebih baik dalam berinteraksi dengan AI. Kita akan segera bisa berbicara dengan ChatGPT seolah-olah kita sedang berbicara dengan teman manusia. Siap untuk mencoba?

Jadi, tunggu apa lagi? Ayo, kita sambut kehadiran fitur baru ini! 

Rabu, 05 Juni 2024

BTL Aesthetics Meluncurkan Exion: Inovasi Pengencang Wajah dengan Teknologi AI di Indonesia

BTL Aesthetics Meluncurkan Exion: Inovasi Pengencang Wajah dengan Teknologi AI di Indonesia
BTL Aesthetics Meluncurkan Exion: Inovasi Pengencang Wajah dengan Teknologi AI di Indonesia.
JAKARTA - BTL Aesthetics, salah satu produsen alat estetika medis terkemuka, baru saja meluncurkan inovasi terbaru mereka, Exion, di Indonesia. 

Alat ini dirancang khusus untuk pengencangan wajah dengan memanfaatkan teknologi gelombang radio-frekuensi yang canggih, ditambah dengan fitur kecerdasan artifisial (AI) untuk hasil yang lebih optimal.

"Exion merupakan alat yang canggih sekaligus pintar. Teknologi radio-frekuensinya sudah dilengkapi dengan kecerdasan artifisial," ujar Country Manager BTL Aesthetics Indonesia, Jan Valacai, dalam rilis pers yang diterima pada hari Jumat.

Valacai menjelaskan bahwa inovasi ini tidak hanya memberikan hasil perawatan wajah yang lebih terprediksi dan aman, tetapi juga tanpa rasa nyeri. 

Exion mampu memberikan dosis energi yang akurat sesuai dengan kondisi kulit setiap pasien. 

Cara kerja AI pada Exion sangat menarik. AI pada alat ini mendeteksi konduktivitas lapisan dalam kulit (dermis) dan kemudian menakar seberapa besar energi radio-frekuensi yang dibutuhkan oleh lapisan kulit tersebut. 

Pengguna alat ini, baik dokter maupun pasien, tidak perlu lagi mengatur dosis energi secara manual karena teknologi AI akan menentukan dosis yang tepat sesuai kondisi kulit masing-masing pasien. 

"Perawatan menjadi sangat praktis dan sangat aman,” kata Valacai.

Dr. Arini Widodo, SpDVE, seorang dokter spesialis kulit, kelamin, dan estetika yang telah menggunakan Exion, menjelaskan bahwa perawatan wajah menggunakan gelombang radio-frekuensi sudah lama digunakan untuk mencegah atau memudarkan tanda-tanda penuaan seperti kerutan, kulit kendur, atau kulit kisut.

“Pada prinsipnya, gelombang radio-frekuensi dapat memanaskan lapisan dalam kulit kita hingga mencapai suhu 42 derajat Celsius. Kondisi panas tersebut dapat merangsang pembentukan kolagen baru,” ujar dr. Arini. 

Kolagen adalah sejenis protein yang berfungsi membentuk kerangka kulit dan mengisi jaringan. Kolagen yang melimpah akan memberi tampilan kulit yang kencang, halus, kenyal, dan sehat.

Namun, produksi kolagen alami di kulit akan menurun seiring bertambahnya usia. Oleh karena itu, hampir semua perawatan pengencang wajah memiliki tujuan yang sama, yaitu merangsang pembentukan kolagen baru. 

Menurut dr. Arini, perawatan Exion adalah pilihan yang sangat baik untuk mengencangkan wajah karena telah terbukti secara ilmiah mampu merangsang pembentukan kolagen baru.

Dengan hadirnya Exion di Indonesia, BTL Aesthetics menawarkan solusi perawatan wajah yang praktis, aman, dan efektif. 

Bagi Anda yang ingin memiliki kulit wajah yang kencang dan sehat, Exion bisa menjadi pilihan yang tepat. 

Teknologi AI pada Exion memastikan setiap perawatan disesuaikan dengan kondisi kulit Anda, memberikan hasil yang optimal dan memuaskan.

Inilah saat yang tepat untuk mencoba inovasi terbaru di bidang estetika medis. Dengan Exion, perawatan pengencangan wajah menjadi lebih mudah, aman, dan hasilnya pun bisa Anda rasakan sendiri. 

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter atau klinik kecantikan terpercaya yang menyediakan perawatan menggunakan Exion. Selamat mencoba dan rasakan manfaatnya!

Selasa, 28 Mei 2024

Resmi! Indonesia Geser Jadwal Resmi Resmikan RAM AI

Resmi! Indonesia Geser Jadwal Resmi Resmikan RAM AI
Resmi! Indonesia Geser Jadwal Resmi Resmikan RAM AI. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Indonesia secara resmi telah memulai proses pengumpulan data mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) nasional menggunakan metodologi asesmen kesiapan (Readiness Assessment Methodology/RAM) yang direkomendasikan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), pada hari Senin.

Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika (Wamenkominfo) Nezar Patria menyatakan bahwa setelah ini, kuesioner terkait penggunaan AI akan dikumpulkan di Indonesia melalui berbagai pendekatan, termasuk wawancara dengan pemangku kepentingan dan pemain dalam ekosistem AI.

"Readiness Assessment Methodology ini dibuat oleh UNESCO untuk negara-negara dalam melihat kesiapan mereka mengadopsi standar etik yang sudah ditetapkan secara global," ujar Nezar setelah menghadiri acara Peluncuran RAM AI Indonesia di Jakarta Pusat, pada hari Senin.

Wamenkominfo menjelaskan bahwa melalui kegiatan ini, pemanfaatan AI di Indonesia akan dinilai dari berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi, teknologi, dan juga aspek regulasi yang telah ada serta kesiapan masyarakat.

Menurutnya, awalnya RAM AI di Indonesia direncanakan akan diresmikan pada bulan Juni, namun jadwal tersebut dipercepat menjadi Senin, 27 Mei 2024, agar pemerintah dapat melakukan tahap finalisasi pada bulan September.

"Kami mengumumkan hal ini hari ini dan kami berharap dapat menyelesaikannya pada bulan September nanti, ini merupakan 'fast track'. Biasanya RAM berlangsung selama enam bulan. Kami dan UNESCO memiliki komitmen untuk menyelesaikannya pada bulan September," ujar Nezar.

Nezar menyatakan optimisme terhadap implementasi AI yang telah berlangsung selama lima tahun terakhir di Indonesia di berbagai sektor industri.

"Seperti dalam media penyiaran, kita telah melihat stasiun televisi berita yang menggunakan AI generatif untuk membacakan berita," kata Nezar.

Dia menambahkan bahwa pemerintah terus memberikan perhatian penuh terhadap adopsi teknologi terbaru tersebut dengan melakukan kajian lebih lanjut.

"Saya kira diskusi ini akan terus berlanjut. Satu model bisnis sedang dicari untuk mengadopsi AI dan dapat mengoptimalkan pekerjaan jurnalistik tanpa menghasilkan misinformasi dan disinformasi," kata Nezar.

Selain Indonesia, sebanyak 139 negara anggota UNESCO telah mengadopsi dan berkomitmen untuk mengimplementasikan RAM AI UNESCO.

Inisiatif ini memberikan dukungan bagi negara-negara anggota UNESCO untuk mengukur kesiapan penerapan AI secara etis dan bertanggung jawab untuk kepentingan seluruh warga negara.

Jumat, 01 Maret 2024

BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan

BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan. (Gambar ilustrasi)
BI Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Efisiensi Pengawasan. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Kepala Departemen Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI), Dicky Kartikoyono, mengungkapkan bahwa BI sedang memperkuat pengawasan transaksi dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI).

Dalam pernyataannya di Jakarta pada Kamis, Dicky Kartikoyono menjelaskan bahwa BI sedang mengembangkan sistem pengawasan yang lebih efektif dengan menggunakan teknologi AI. Dia menyebut salah satu teknologi yang saat ini tengah dikembangkan, yakni Proactive Risk Management.

"Dengan masuknya AI dalam sistem pengawasan, kami mendapatkan bantuan yang signifikan. Contohnya, teknologi Proactive Risk Management yang sedang kami kembangkan," ujar Dicky.

Dicky menegaskan bahwa pengawasan transaksi secara real-time dan deteksi penipuan juga akan ditingkatkan melalui pendekatan teknologi. Dia menyatakan bahwa penggunaan teknologi dalam pengawasan ekosistem keuangan secara menyeluruh menjadi fokus utama BI.

Selain untuk pengawasan, teknologi kecerdasan buatan juga akan dimanfaatkan dalam sistem pembayaran. Data yang dikumpulkan dari sistem pembayaran melalui AI akan digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan dan pembuatan kebijakan oleh BI dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

"Konsep implementasi kecerdasan buatan dalam pengumpulan data tersebut telah kami susun, dan kami berencana untuk mengembangkan AI generatif yang dapat membantu dalam analisis," jelas Dicky.

Menurutnya, pengumpulan data menjadi hal yang penting dalam proses ini. "Semua infrastruktur sudah kami bangun, dan fokus utama kami saat ini adalah pengumpulan data," tambahnya.

Sabtu, 10 Februari 2024

Google Buka Rahasia Sukses Rayakan Tahun Baru Imlek dengan AI

Google Buka Rahasia Sukses Rayakan Tahun Baru Imlek dengan AI
Ilustrasi Tahun Baru Imlek persembahan Google. (ANTARA/HO-Image Dynamic)
JAKARTA - Tahun Baru Imlek 2024, yang juga dikenal sebagai tahun Naga Kayu, telah tiba, membawa simbol kekuatan, pertumbuhan, dan kemakmuran. 

Untuk merayakan momen ini, Google melalui kecerdasan buatannya, AI Google, memberikan sejumlah tips kepada umat Konghucu yang merayakan agar dapat memunculkan semangat dalam diri mereka melalui bantuan teknologi tersebut.

Dalam sebuah keterangan resmi dari perwakilan Google di Jakarta, Jumat, disampaikan bahwa AI Google memberikan tips yang berguna bagi umat Konghucu dalam merayakan Tahun Baru Imlek:

"Rencanakan pesta melalui fitur circle to search," kata perwakilan Google. 

Fitur lingkari untuk menelusuri (circle to search) dapat membantu masyarakat untuk memeriksa dengan cepat berbagai rekomendasi tempat yang ingin dijadikan lokasi pesta Tahun Baru Imlek bersama keluarga atau teman-teman dalam aplikasi chat. 

Tinggal lingkari, jadikan highlight atau mencorat-coret rekomendasi yang dibagikan bersama dalam chat, fitur itu akan langsung memperlihatkan lokasi yang dimaksud, sehingga masyarakat dapat segera mendiskusikannya melalui chat."

Menyambut Tahun Naga Kayu yang identik dengan kemakmuran, Google juga menyarankan untuk menghindari kemacetan dengan menggunakan fitur Lens di aplikasi Google Maps. 

Ketika sedang dikejar waktu untuk hadir di pesta Imlek, anda bisa menggunakan fitur Lens di aplikasi Google Maps, supaya menemukan jalan pintas melewati kemacetan. Untuk mengaksesnya pun cukup mudah. 

Buka aplikasi Google Maps, lalu ketuk ikon kamera, dan arahkan ponselmu ke jalan untuk mencari toko, restoran, atau tempat rekreasi terdekat.

Untuk menyegarkan percakapan bersama keluarga, Google menyarankan untuk mencoba kegiatan baru seperti bermain permainan di gawai. 

Terkadang ada masa di mana kita kehabisan topik pembicaraan ketika berusaha memulai obrolan bersama anggota keluarga. 

Hal tersebut sebenarnya dapat diakali dengan mengajak mereka mencoba kegiatan baru. 

Contohnya dengan mengajak mereka bermain permainan kesukaan kita di gawai. 

Google Play akan membantumu mencari permainan-permainan seru seperti Honkai: Star Rail dan Monster Hunter Now yang lekat dengan suasana Imlek.

Selain itu, Google juga memberikan bantuan melalui fitur Gemini untuk mempercepat pembuatan hidangan khas Tahun Baru Imlek. 

Tahun Baru Imlek adalah momen berharga yang biasa dihabiskan dengan berbagi masakan lezat bersama keluarga. 

Ketika kita bingung untuk membuat suatu hidangan seperti kue keranjang, Gemini dapat membantu untuk memberikan takaran yang tepat. Misalnya, memberikan tekstur yang sempurna, cara mencegah agar kue keranjang tidak pecah, menunjukkan takaran bahan yang tepat hingga waktu pengukusan dan tingkat kemanisan yang seimbang."

Google juga menyarankan untuk menunjukkan kreativitas melalui kartu ucapan Tahun Baru Imlek yang dapat disesuaikan dengan warna dan tema yang diinginkan. 

Fitur Gemini tidak hanya dapat membantu menakar hidangan, tetapi juga dapat mengustom kartu ucapan Tahun Baru Imlek dengan warna dan tema yang kita mau. 

Berbagai gambar menarik seperti jeruk hingga naga lucu dapat tersedia dalam hitungan detik.

Terakhir, Google juga memberikan solusi untuk menghadapi anggota keluarga yang ingin tahu dengan menggunakan fitur Gemini untuk mencari jawaban cerdas. 

Berkumpul bersama keluarga terkadang tak melulu membuat hati senang, ada saja anggota yang berusaha ‘kepo’ mengulik kehidupan pribadi kita. 

Ketika menghadapi situasi tersebut, kita dapat memanfaatkan Gemini untuk mencari jawaban cerdas seperti terkait jodoh, untuk memberikan jawaban-jawaban yang lugas dan menarik ketika membahas pertanyaan tersebut.

Oleh: Antara/Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Yakop

Bard Berganti Nama Jadi Gemini, Chatbot AI Terbaru dari Google

Bard Berganti Nama Jadi Gemini, Chatbot AI Terbaru dari Google
Ilustrasi Google Gemini (ANTARA/Blog Google)
JAKARTA - Google telah mengubah nama platform chatbot kecerdasan buatan (AI) miliknya, Bard menjadi Gemini, menjadi keluarga model AI tercanggih dari perusahaan tersebut.

"Misi kami dengan Bard selalu memberikan akses langsung ke model kecerdasan buatan kami, dan Gemini mewakili keluarga model paling canggih kami. Untuk mencerminkan ini, Bard sekarang akan dikenal sebagai Gemini," kata Wakil Presiden dan General Manager Gemini experiences dan Google Assistant Sissie Hsiao dalam postingan blog Google, Kamis (8/2).

Gemini menawarkan pengguna kemampuan untuk berinteraksi dengan model Pro 1.0 dalam lebih dari 40 bahasa di lebih dari 230 negara.

Google memperkenalkan dua fitur baru, Gemini Advanced dan Gemini untuk seluler, yang menjanjikan peningkatan kolaborasi dengan puncak kemampuan kecerdasan buatan Google.

Google memperkenalkan Gemini Advanced, pengalaman baru yang memberi pengguna akses ke Ultra 1.0, model kecerdasan buatan terbesar dan paling canggih dari perusahaan.

"Dalam evaluasi buta, Gemini Advanced dengan Ultra 1.0 muncul sebagai chatbot yang lebih disukai, model ini unggul dalam tugas-tugas kompleks," kata Hsiao.

"Dengan model Ultra 1.0, Gemini Advanced diklaim lebih mampu dalam tugas yang sangat kompleks seperti coding, penalaran logis, mengikuti instruksi rumit, dan berkolaborasi pada proyek kreatif," tambahnya.

Gemini Advanced tidak hanya memungkinkan pengguna untuk memiliki percakapan yang lebih panjang dan lebih rinci, tetapi juga lebih memahami konteks dari prompt sebelumnya.

Gemini Advanced berfungsi sebagai tutor pribadi, menciptakan instruksi langkah demi langkah dan diskusi interaktif yang disesuaikan dengan gaya pembelajaran pengguna.

"Fitur ini juga diklaim unggul dalam skenario coding tingkat lanjut, memberikan dukungan untuk ide dan evaluasi pendekatan coding yang berbeda. Selain itu, pencipta digital mendapat manfaat dari kemampuannya dalam generasi konten, analisis tren, dan strategi menjangkau audiens," jelas Hsiao.

Gemini Advanced tersedia di lebih dari 150 negara dan wilayah dalam bahasa Inggris dan akan diperluas ke banyak bahasa seiring berjalannya waktu.

Ini merupakan bagian dari Google One AI Premium Plan yang baru, dengan harga 19,99 dolar AS (Rp312 ribu) per bulan, dimulai dengan uji coba dua bulan tanpa biaya.

Pelanggan mendapatkan akses ke kemampuan multimodal yang diperluas, fitur coding interaktif, dan analisis data yang lebih mendalam. Pelanggan AI Premium juga akan segera dapat menggunakan Gemini di Gmail, Docs, Slides, Sheets, dan lainnya.

Selain itu, Google mengumumkan bahwa Gemini juga akan dengan mudah digunakan di ponsel pintar.

"Kami mendengar bahwa Anda ingin cara yang lebih mudah untuk mengakses Gemini di ponsel Anda. Jadi hari ini kami mulai meluncurkan pengalaman seluler baru untuk Gemini dan Gemini Advanced dengan aplikasi baru di Android dan di aplikasi Google di iOS," kata Hsiao.

Dengan Gemini di ponsel, pengguna dapat mengetik, berbicara, atau menambahkan gambar untuk mendapatkan bantuan dalam berbagai tugas, seperti mencari petunjuk, menghasilkan gambar kustom, atau menulis pesan teks sulit.

Di Android, Gemini adalah jenis asisten baru yang menggunakan kecerdasan buatan generatif untuk membantu pengguna menyelesaikan tugas.

Jika mengunduh aplikasi Gemini atau mengaktifkannya melalui Google Assistant, pengguna akan dapat mengaksesnya dari aplikasi atau dari tempat lain di mana pengguna biasanya mengaktifkan Google Assistant, seperti menekan tombol daya, menggeser sudut pada ponsel tertentu, atau mengatakan "Hai Google".

Banyak fitur suara Google Assistant akan tersedia melalui aplikasi Gemini, termasuk pengaturan timer, melakukan panggilan, dan mengendalikan perangkat rumah pintar.

Di iOS, tak lama lagi Google akan meluncurkan akses ke Gemini langsung dari aplikasi Google.

Gemini sedang diperkenalkan di ponsel Android dan iOS di Amerika Serikat dalam bahasa Inggris, dengan peluncuran penuh dalam beberapa minggu ke depan.

Pengguna akan dapat mengaksesnya di lebih banyak lokasi dalam bahasa Inggris, Jepang, dan Korea, dengan lebih banyak negara dan bahasa yang akan segera menyusul.

Oleh: Antara/Fathur Rochman
Editor: Yakop