Berita BorneoTribun: Kesehatan hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

Stunting Tidak Selalu Karena Zat Besi, Tapi Risiko Tetap Harus Diwaspadai

Dokter anak dr Lucky Yogasatria menyebut kekurangan zat besi dapat berkontribusi pada stunting anak. Simak penyebab, risiko, dan cara pencegahannya. (Ilustrasi)
Dokter anak dr Lucky Yogasatria menyebut kekurangan zat besi dapat berkontribusi pada stunting anak. Simak penyebab, risiko, dan cara pencegahannya. (Ilustrasi)

Jakarta — Kekurangan zat besi disebut menjadi salah satu faktor yang dapat berkontribusi terhadap terjadinya stunting pada anak. Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis anak dan konselor laktasi lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS), dr Lucky Yogasatria Sp.A, saat ditemui di Jakarta, Selasa.

Menurut dr Lucky, tidak semua anak yang mengalami stunting pasti mengalami kekurangan zat besi. Namun, kondisi kekurangan zat besi tetap perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi tumbuh kembang anak secara keseluruhan.

“Banyaknya begitu, tapi bukan berarti semuanya anak stunting pasti kekurangan zat besi,” ujar dr Lucky.

Stunting Terjadi Karena Kekurangan Gizi Kronis

dr Lucky menjelaskan bahwa stunting pada anak umumnya terjadi akibat kekurangan gizi kronis atau infeksi yang terjadi secara berulang dalam jangka waktu lama. Kondisi tersebut membuat asupan kalori dan energi yang masuk ke dalam tubuh anak tidak mencukupi kebutuhan tumbuh kembangnya.

Dampak awal yang sering terlihat adalah berat badan anak yang sulit naik. Selain itu, tinggi badan anak juga cenderung berada di bawah standar kurva pertumbuhan yang telah ditetapkan.

Ia menekankan bahwa masa dua tahun pertama kehidupan merupakan periode penting untuk memperbaiki kondisi stunting.

“Itulah mengapa di dua tahun pertama, ketika dia stunting, itu harus segera diperbaiki. Ketika anaknya stunting, sudah pasti otaknya juga kekurangan nutrisi,” jelasnya.

Perlu Memantau Kekurangan Mikro dan Makronutrisi

Lebih lanjut, dr Lucky mengingatkan pentingnya memantau kondisi gizi anak secara menyeluruh. Kekurangan nutrisi tidak hanya berkaitan dengan makronutrisi seperti karbohidrat dan protein, tetapi juga mikronutrisi seperti zat besi dan zinc.

Menurutnya, tanda kekurangan mikronutrisi sering kali tidak terlihat jelas dibandingkan kekurangan protein.

“Kalau anak yang kekurangan protein sudah pasti pertumbuhannya tidak oke, anaknya kurus. Tapi anak yang kekurangan mikronutrisi kadang-kadang tidak terlalu kelihatan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan kadar zat besi dalam tubuh anak, terutama pada anak yang diduga mengalami stunting.

Risiko Kekurangan Zat Besi Pada Anak

Kekurangan zat besi dapat berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Beberapa risiko yang mungkin terjadi antara lain:

  • Anemia pada anak

  • Gangguan pertumbuhan otak

  • Penurunan kemampuan kognitif

  • Penurunan IQ

  • Tumbuh kembang tidak optimal

Dalam beberapa kasus, dokter dapat memberikan terapi zat besi atau suplemen tambahan setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kekurangan zat besi.

Selain zat besi, dokter juga dapat memeriksa kadar zinc dan vitamin D yang turut berperan penting dalam pertumbuhan anak.

Sumber Makanan Kaya Zat Besi Untuk Anak

Untuk mencegah kekurangan zat besi, dr Lucky menyarankan orang tua memberikan makanan bergizi yang kaya zat besi dalam menu harian anak.

Beberapa contoh makanan yang mengandung zat besi antara lain:

  • Hati ayam

  • Daging ayam

  • Daging sapi

  • Sayuran hijau tertentu

  • Makanan sumber protein hewani

Pemenuhan nutrisi tersebut penting agar pertumbuhan anak tetap optimal dan risiko stunting dapat ditekan.

Pentingnya Asupan Zat Besi Sejak Masa Kehamilan

Selain pada anak, kebutuhan zat besi juga sangat penting bagi ibu hamil. Kekurangan zat besi pada ibu dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan kondisi anemia.

dr Lucky menekankan bahwa ibu hamil sebaiknya rutin mengonsumsi makanan bergizi serta suplemen zat besi sesuai anjuran tenaga kesehatan.

Langkah pencegahan sejak masa kehamilan dinilai menjadi kunci penting dalam mencegah stunting pada anak di masa depan.

Dalam dunia medis, penanganan stunting memerlukan pendekatan berbasis data dan pemeriksaan klinis. Dokter spesialis anak memiliki peran penting dalam melakukan:

  • Pemantauan tumbuh kembang anak

  • Pemeriksaan laboratorium nutrisi

  • Diagnosis penyebab stunting

  • Penentuan terapi yang tepat

Pendekatan ini membantu memastikan bahwa penanganan dilakukan secara tepat dan berbasis keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

FAQ

Apakah semua anak stunting pasti kekurangan zat besi?

Tidak. Tidak semua anak stunting mengalami kekurangan zat besi, namun kondisi tersebut dapat menjadi salah satu faktor risiko yang perlu diperiksa.

Apa tanda anak kekurangan zat besi?

Beberapa tanda umum meliputi anak tampak lemas, pucat, mudah lelah, serta pertumbuhan yang tidak optimal.

Apa makanan terbaik untuk mencegah kekurangan zat besi?

Makanan seperti hati ayam, daging sapi, dan daging ayam merupakan sumber zat besi yang baik untuk anak.

Kapan waktu terbaik mencegah stunting?

Pencegahan stunting paling efektif dilakukan sejak masa kehamilan hingga usia dua tahun pertama kehidupan anak.

Apakah anak stunting bisa pulih?

Ya, terutama jika ditangani sejak dini dengan pemenuhan nutrisi yang tepat dan pemantauan medis rutin.

Presdir AstraZeneca Soroti Pentingnya Deteksi Dini Kanker Di Indonesia

Esra Erkomay menilai penanganan kanker di Indonesia butuh strategi progresif, deteksi dini, dan akses terapi inovatif guna menekan lonjakan kasus hingga 2050.
Esra Erkomay menilai penanganan kanker di Indonesia butuh strategi progresif, deteksi dini, dan akses terapi inovatif guna menekan lonjakan kasus hingga 2050.

JAKARTA — Presiden Direktur Esra Erkomay menegaskan bahwa penanganan kanker di Indonesia membutuhkan strategi yang progresif, terintegrasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa, Esra menyampaikan bahwa isu kesehatan masyarakat kini tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Ia menilai kanker menjadi salah satu ancaman serius yang berdampak luas, tidak hanya pada kualitas hidup masyarakat, tetapi juga terhadap produktivitas ekonomi nasional.

“Kesehatan masyarakat tidak lagi dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional. Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia, kanker muncul sebagai salah satu ancaman paling nyata,” ujar Esra.

Kasus Kanker Di Indonesia Terus Meningkat

Berdasarkan data dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, Indonesia mencatat sekitar 408.661 kasus baru kanker setiap tahun, dengan lebih dari 242.000 kematian akibat penyakit tersebut.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperkirakan bahwa tanpa intervensi yang lebih kuat, jumlah kasus kanker di Indonesia dapat meningkat hingga lebih dari 70 persen pada tahun 2050.

Tren peningkatan ini menunjukkan bahwa pendekatan konvensional dalam penanganan kanker dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi tantangan masa depan.

Dampak Nyata Bagi Pasien Dan Ekonomi

Esra menekankan bahwa lonjakan kasus kanker bukan sekadar angka statistik. Dampaknya dirasakan langsung oleh pasien dan keluarga.

Banyak pasien kanker mengalami penurunan kualitas hidup, kehilangan kemampuan bekerja, hingga menghadapi tekanan finansial yang besar akibat biaya pengobatan jangka panjang.

Tidak sedikit keluarga yang harus menguras tabungan bahkan menjual aset demi membiayai terapi. Dalam skala yang lebih luas, kondisi ini berdampak pada produktivitas nasional serta memperbesar beban ekonomi negara.

Ia mengingatkan bahwa tanpa langkah intervensi yang progresif, kanker berpotensi menjadi hambatan tersembunyi bagi target pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.

Deteksi Dini Jadi Kunci Penanganan

Menurut Esra, pemerintah perlu memperkuat program deteksi dini sebagai langkah penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker.

Skrining kesehatan dinilai harus menjadi bagian dari budaya masyarakat. Dengan diagnosis yang dilakukan sejak dini, peluang keberhasilan terapi menjadi lebih besar, sekaligus mengurangi kompleksitas serta biaya pengobatan.

Selain itu, akses terhadap layanan kesehatan dan jaminan pembiayaan juga harus diperluas agar manfaat deteksi dini benar-benar dirasakan masyarakat secara merata.

Terapi Inovatif Perlu Lebih Mudah Diakses

Dari sisi pengobatan, Esra menjelaskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan telah menghasilkan berbagai terobosan baru dalam terapi kanker.

Sejumlah studi klinis menunjukkan bahwa pada kanker paru dengan mutasi tertentu, terapi target mampu memperlambat perkembangan penyakit secara signifikan. Hal ini memungkinkan pasien hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Namun, ia menekankan bahwa kemajuan medis tersebut hanya akan berdampak nyata apabila dapat diakses oleh pasien yang membutuhkan.

“Akses terhadap terapi dan obat inovatif harus dipandang sebagai bagian dari pemenuhan hak pasien untuk mendapatkan pengobatan terbaik,” katanya.

Perlu Dukungan Kebijakan Yang Adaptif

Agar inovasi medis dapat diadopsi secara optimal, Esra menilai diperlukan dukungan kebijakan yang memungkinkan teknologi kesehatan terbaru diterapkan secara lebih cepat dan merata.

Langkah ini mencakup penyederhanaan regulasi, peningkatan investasi kesehatan, serta kolaborasi antara pemerintah, industri farmasi, dan tenaga kesehatan.

Dengan pendekatan terintegrasi, sistem kesehatan Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan kanker secara berkelanjutan dan efektif.

Menguatkan Strategi Nasional Penanganan Kanker

Para ahli menilai bahwa penguatan strategi nasional menjadi langkah penting untuk menghadapi peningkatan kasus kanker di masa depan.

Pendekatan komprehensif yang mencakup edukasi masyarakat, skrining rutin, serta akses pengobatan modern diyakini mampu menekan angka kematian akibat kanker sekaligus menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Dengan kolaborasi lintas sektor, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan kanker sekaligus menjaga kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

FAQ

1. Mengapa kasus kanker di Indonesia terus meningkat?

Kasus kanker meningkat karena faktor gaya hidup, penuaan populasi, serta keterbatasan deteksi dini dan akses pengobatan di beberapa wilayah.

2. Apa pentingnya deteksi dini kanker?

Deteksi dini memungkinkan kanker ditemukan pada tahap awal sehingga peluang kesembuhan lebih tinggi dan biaya pengobatan lebih rendah.

3. Apa yang dimaksud terapi inovatif kanker?

Terapi inovatif adalah metode pengobatan terbaru, seperti terapi target atau imunoterapi, yang dirancang menyesuaikan karakteristik kanker pasien.

4. Bagaimana dampak kanker terhadap ekonomi nasional?

Kanker dapat menurunkan produktivitas tenaga kerja dan meningkatkan beban biaya kesehatan negara.

5. Apa yang perlu dilakukan masyarakat untuk mencegah kanker?

Masyarakat disarankan menerapkan gaya hidup sehat, melakukan skrining rutin, dan segera memeriksakan diri jika mengalami gejala mencurigakan.

Selasa, 14 April 2026

4.000 Warga Samarinda Positif TBC 2025, Pemerintah Perkuat Deteksi Dan Regulasi

Dinkes Samarinda menemukan sekitar 4.000 kasus TBC sepanjang 2025 dari skrining massal. Deteksi dini dinilai efektif memutus rantai penularan di masyarakat. (Ilustrasi)
Dinkes Samarinda menemukan sekitar 4.000 kasus TBC sepanjang 2025 dari skrining massal. Deteksi dini dinilai efektif memutus rantai penularan di masyarakat. (Ilustrasi)

Samarinda — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat temuan sekitar 4.000 kasus tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2025. Angka tersebut merupakan hasil dari upaya skrining deteksi dini yang terus digencarkan pemerintah guna memutus rantai penularan di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, dr. Nata Siswanto, menjelaskan bahwa tingginya angka temuan justru menjadi indikator bahwa sistem deteksi dini berjalan efektif.

“Semakin intens kita melakukan deteksi dini, maka kasus yang ditemukan akan semakin tinggi. Ini langkah penting karena pasien yang terdeteksi bisa segera diobati agar tidak menularkan ke orang lain,” ujar dr. Nata saat ditemui di Samarinda, Senin.

Hampir 20 Ribu Warga Ikut Skrining TBC

Sepanjang tahun 2025, Dinkes Samarinda mencatat sekitar 19.000 hingga 20.000 warga telah mengikuti skrining kesehatan terkait TBC.

Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 orang dinyatakan positif TBC setelah menjalani pemeriksaan lanjutan.

Jika dibandingkan dengan target nasional, Samarinda mampu mencatat realisasi 3.758 kasus atau sekitar 79 persen dari target 4.770 kasus yang ditetapkan pada tahun 2025.

Menurut dr. Nata, capaian ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mulai meningkat, meski tantangan masih cukup besar di lapangan.

Tantangan Anggaran Dan Ketersediaan Bahan Laboratorium

Memasuki tahun 2026, Dinkes Samarinda menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga konsistensi program deteksi dini TBC.

Namun, pelaksanaan di lapangan tidak lepas dari sejumlah kendala operasional, salah satunya adalah keterbatasan anggaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Selain faktor finansial, masalah lain yang dihadapi adalah ketersediaan bahan habis pakai (BHP) untuk pemeriksaan laboratorium.

“Ketersediaan BHP saat ini dinilai belum mencukupi untuk kebutuhan sepanjang tahun. Kami sedang berupaya memenuhi kebutuhan tersebut melalui skema hibah maupun bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat,” tambah dr. Nata.

Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus lebih kreatif dalam mengelola sumber daya agar layanan kesehatan tetap berjalan optimal.

Pemkot Samarinda Siapkan Perda Penanganan TBC Dan HIV/AIDS

Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kota Samarinda kini tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan TBC serta HIV/AIDS.

Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa regulasi tersebut menjadi langkah konkret untuk menekan dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit TBC.

“Penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus terintegrasi dan berkelanjutan. Regulasi ini akan menjadi payung kolaborasi agar akses layanan kesehatan lebih mudah dijangkau dan bebas dari stigma,” tegas Saefuddin.

Raperda ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran penyakit menular.

Mengapa Deteksi Dini TBC Sangat Penting?

Deteksi dini TBC menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional ini.

Dengan skrining yang rutin dan terarah, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bisa ditekan.

Selain itu, pengobatan TBC yang dimulai lebih awal juga berpotensi meningkatkan tingkat kesembuhan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.

Upaya Kolaboratif Jadi Kunci Penanganan

Ke depan, penanganan TBC di Samarinda diprediksi akan semakin bergantung pada kolaborasi lintas sektor.

Mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat diharapkan bisa saling mendukung dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Dengan adanya dukungan regulasi, ketersediaan fasilitas, serta partisipasi aktif masyarakat, upaya pengendalian TBC di Samarinda diharapkan bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

FAQ

1. Berapa jumlah kasus TBC yang ditemukan di Samarinda pada 2025?

Sekitar 4.000 kasus TBC ditemukan sepanjang tahun 2025 melalui program skrining deteksi dini.

2. Apakah tingginya angka TBC menandakan kondisi memburuk?

Tidak selalu. Tingginya angka temuan justru menunjukkan bahwa deteksi dini berjalan efektif sehingga kasus bisa segera diobati.

3. Berapa jumlah warga yang telah menjalani skrining TBC?

Sekitar 19.000 hingga 20.000 warga telah mengikuti skrining sepanjang 2025.

4. Apa tantangan utama dalam penanganan TBC di Samarinda?

Tantangan utamanya adalah keterbatasan anggaran dan ketersediaan bahan habis pakai untuk pemeriksaan laboratorium.

5. Apa rencana pemerintah untuk mengatasi TBC ke depan?

Pemerintah Kota Samarinda sedang menyusun Raperda Pencegahan dan Penanggulangan TBC-HIV/AIDS sebagai dasar penanganan terintegrasi.

Experience: Artikel disusun berdasarkan pernyataan langsung pejabat Dinas Kesehatan Samarinda dan data resmi program skrining.

Expertise: Menggunakan sumber otoritatif dari pejabat bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta pemerintah daerah.

Authoritativeness: Informasi bersumber dari lembaga resmi pemerintah daerah dan target nasional kesehatan.

Trustworthiness: Data numerik disampaikan transparan dan tidak berlebihan, sesuai fakta lapangan.

Minggu, 05 April 2026

Kolaborasi Dinkes Kaltim Dan Damkar Tingkatkan Penanganan Gigitan Ular

Dinkes Kaltim memperkuat kapasitas nakes tangani gigitan ular berbisa sesuai standar WHO, memastikan stok antivenom siap untuk seluruh rumah sakit. (Ilustrasi)
Dinkes Kaltim memperkuat kapasitas nakes tangani gigitan ular berbisa sesuai standar WHO, memastikan stok antivenom siap untuk seluruh rumah sakit. (Ilustrasi)

Dinkes Kaltim Perkuat Nakes Tangani Gigitan Ular, Terapkan Standar WHO

Samarinda — Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus memperkuat kapasitas tenaga kesehatan (nakes) dan relawan dalam menangani kondisi darurat akibat gigitan ular berbisa. Upaya ini dilakukan melalui sosialisasi standar penatalaksanaan dari World Health Organization (WHO) agar penanganan pasien lebih cepat dan tepat.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, memastikan bahwa ketersediaan antivenom atau serum penawar racun ular saat ini dalam kondisi aman dan terjaga di tingkat provinsi.

“Kami memastikan stok antivenom tersedia utuh di Dinas Kesehatan, sehingga seluruh rumah sakit di Kalimantan Timur dapat segera memintanya untuk kasus sistemik yang telah dikonsultasikan,” ujarnya di Samarinda, Sabtu.

Kolaborasi Lintas Instansi dan Pakar Nasional

Penguatan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Samarinda secara hybrid. Kegiatan tersebut juga menghadirkan pakar toksinologi klinis dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yakni Tri Maharani.

Dalam kegiatan tersebut, turut dibahas studi kasus nyata dari RSUD Abdoel Wahab Sjahranie. Pada akhir Maret lalu, rumah sakit tersebut berhasil menangani pasien dengan gigitan ular neurotoksin berat hingga sembuh tanpa kecacatan.

Menurut Jaya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan standar medis yang tepat, mulai dari imobilisasi, menjaga jalan napas, hingga pemberian antivenom.

“Pasien bahkan bisa lepas dari ventilator hanya dalam dua hari, ini menunjukkan pentingnya penanganan sesuai prosedur,” jelasnya.

Jenis Antivenom dan Dukungan Pemerintah

Saat ini, wilayah Kaltim mengandalkan beberapa jenis antivenom spesifik seperti Polineuro Thailand, Polihemato Thailand, dan Seasnake Australia. Seluruh stok tersebut merupakan hibah dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam sistem rujukan, sehingga pasien dengan kondisi serius bisa segera mendapatkan penanganan optimal tanpa keterlambatan.

Edukasi Masyarakat: Jangan Panik, Hindari Mitos

Dinkes Kaltim juga mengingatkan masyarakat untuk tidak panik saat menghadapi insiden gigitan ular. Penanganan awal yang benar justru sangat menentukan keselamatan korban.

Tri Maharani menjelaskan bahwa langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengurangi pergerakan atau imobilisasi, karena racun menyebar melalui kelenjar getah bening, bukan melalui darah.

“Tindakan seperti mengikat terlalu kencang, menghisap luka, atau menyiram dengan air panas adalah mitos yang keliru dan sangat berbahaya,” tegasnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk segera menuju fasilitas kesehatan terdekat, terutama jika muncul gejala seperti kelopak mata terasa berat, kesulitan menelan, hingga perdarahan pada gusi.

FAQ

1. Apa yang harus dilakukan saat digigit ular?
Segera lakukan imobilisasi (kurangi gerakan), tetap tenang, dan cepat menuju fasilitas kesehatan terdekat.

2. Apakah racun ular menyebar lewat darah?
Tidak. Racun menyebar melalui sistem getah bening, sehingga penting untuk tidak banyak bergerak.

3. Bolehkah luka gigitan dihisap atau diikat?
Tidak boleh. Itu adalah mitos berbahaya dan bisa memperparah kondisi korban.

4. Apakah antivenom tersedia di Kaltim?
Ya, Dinkes Kaltim memastikan stok antivenom tersedia dan bisa diakses oleh rumah sakit.

5. Kapan harus ke rumah sakit setelah digigit ular?
Segera, terutama jika muncul gejala seperti lemas, sulit menelan, atau gangguan pernapasan.

Kamis, 02 April 2026

Dinkes Kaltim Perkuat Koordinasi Lintas Sektor Tekan Penyebaran Campak

Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)
Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)

Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor guna menekan penyebaran penyakit campak yang masih menjadi ancaman serius, khususnya bagi anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fit Nawati, menegaskan bahwa mobilitas penduduk yang tinggi di wilayah ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penularan.

“Campak adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya, terutama bagi anak-anak. Saat ini kita menghadapi tantangan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut,” ujarnya dalam pertemuan Koordinasi Kewaspadaan Campak yang digelar secara daring, Rabu.

Menurut Fit, langkah koordinasi lintas sektor ini merupakan strategi penting untuk memperkuat kewaspadaan sekaligus meningkatkan edukasi masyarakat. Tidak hanya melibatkan instansi pemerintah, upaya ini juga menggandeng kader posyandu dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak di lapangan.

Cakupan Imunisasi Masih Rendah

Salah satu perhatian utama Dinkes Kaltim adalah rendahnya capaian imunisasi. Saat ini, cakupan imunisasi baru mencapai sekitar 60 persen, masih jauh dari target ideal sebesar 90 persen.

“Kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk menyosialisasikan pentingnya imunisasi dan mendorong orang tua membawa bayi serta balita ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.

Rendahnya angka imunisasi ini dinilai menjadi faktor utama meningkatnya potensi penyebaran campak di sejumlah wilayah.

Peran Masyarakat Jadi Kunci

Dinkes menilai bahwa penguatan sinergi lintas sektor dan program menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan melalui imunisasi.

Selain itu, evaluasi dan pemetaan wilayah kerja juga terus dilakukan untuk mendeteksi potensi munculnya kasus baru, terutama di daerah dengan cakupan vaksinasi rendah.

Mobilisasi sosial yang melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat disebut sebagai strategi efektif untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

“Kami berharap pertemuan ini tidak hanya menjadi forum formal, tetapi menghasilkan kolaborasi nyata yang berdampak langsung pada pencegahan penyebaran penyakit,” tambah Fit.

Ajak Masyarakat Lebih Aktif

Dinkes Kaltim juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan lingkungan sekitar. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting dalam mendeteksi dini serta mencegah penyebaran penyakit.

Upaya percepatan penanggulangan campak ini diharapkan bisa berjalan optimal melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu penyakit campak?
Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

2. Mengapa imunisasi penting untuk mencegah campak?
Imunisasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus campak sehingga dapat mencegah penularan dan komplikasi.

3. Berapa target ideal imunisasi di suatu wilayah?
Target ideal cakupan imunisasi adalah minimal 90 persen untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).

4. Apa yang harus dilakukan orang tua?
Orang tua diimbau membawa bayi dan balita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi lengkap.

5. Siapa saja yang terlibat dalam pencegahan campak?
Pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Senin, 30 Maret 2026

RSUD Landak Siap Layani Cuci Darah, Karolin Harap BPJS Segera Beri Persetujuan

RSUD Landak Siap Layani Cuci Darah, Karolin Harap BPJS Segera Beri Persetujuan
RSUD Landak Siap Layani Cuci Darah, Karolin Harap BPJS Segera Beri Persetujuan. 

LANDAK — Pemerintah Kabupaten Landak memastikan layanan hemodialisa atau cuci darah di RSUD Landak telah mengantongi izin operasional dari Kementerian Kesehatan RI. Fasilitas tersebut bahkan dinyatakan siap untuk segera digunakan melayani masyarakat.

Namun, hingga kini layanan tersebut belum dapat diakses oleh pasien peserta BPJS Kesehatan karena kerja sama dengan pihak BPJS belum terealisasi.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, mengatakan bahwa seluruh tahapan perizinan dan persiapan teknis telah dilalui dengan baik, termasuk hasil visitasi dari Kementerian Kesehatan.

“Jadi hari ini kami baru saja selesai dilakukan visitasi oleh Kementerian Kesehatan RI dalam rangka perizinan pelayanan unit dialisis atau hemodialisa kita. Dari Kementerian Kesehatan merespon dengan sangat baik, dan kami juga sudah mengantongi izin dari Kementerian Kesehatan,” ujar Karolin kepada wartawan, Senin 30 Maret 2026.

Ia menegaskan, secara fasilitas dan kesiapan operasional, layanan hemodialisa di RSUD Landak sudah memenuhi standar dan siap digunakan. Untuk sementara, layanan tersebut ditargetkan dapat segera melayani pasien umum sambil menunggu proses kerja sama dengan BPJS Kesehatan.

“Jadi sebenarnya sudah siap untuk beroperasi. Namun sampai hari ini kami belum bisa menjalin kerja sama dengan BPJS. Untuk pasien umum, kami harap dalam waktu dekat sudah bisa kita terima,” kata dia.

Karolin mengungkapkan, sebagian besar pasien yang membutuhkan layanan cuci darah merupakan peserta BPJS. Karena itu, pihaknya berharap kerja sama dapat segera disetujui agar akses layanan menjadi lebih luas dan terjangkau bagi masyarakat.

Menurut dia, salah satu alasan yang disampaikan terkait belum disetujuinya kerja sama tersebut adalah ketiadaan dokter subspesialis tetap di RSUD Landak. 

Namun, Pemkab Landak telah mengantisipasi hal tersebut dengan menghadirkan dokter penanggung jawab melalui skema dokter tamu.

“Dokter penanggung jawab sudah ada, kita menggunakan sistem dokter tamu, sama seperti rumah sakit lainnya yang belum memiliki dokter subspesialis ginjal hipertensi. Dan itu diperkenankan,” ucap Karolin.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga telah mengambil langkah jangka panjang dengan mengirim dokter spesialis penyakit dalam untuk menempuh pendidikan subspesialis, guna memenuhi kebutuhan layanan secara berkelanjutan.

Karolin menilai, seluruh persyaratan sebenarnya telah dipenuhi, terbukti dengan terbitnya izin operasional dari Kementerian Kesehatan. Karena itu, ia mempertanyakan alasan belum disetujuinya kerja sama dengan BPJS.

“Kalau memang tidak memenuhi syarat, tentu kita tidak akan mendapatkan izin dari Kementerian Kesehatan. Tapi faktanya izin sudah keluar,” ujarnya.

Ia juga menyinggung adanya perbedaan perlakuan dibandingkan daerah lain yang dinilai memiliki kondisi serupa, namun telah mendapatkan persetujuan kerja sama.

“Sementara di daerah lain bisa, kenapa di tempat kami tidak bisa? Ini yang menjadi pertanyaan bagi kami. Kami berharap ada kejelasan regulasi dan komunikasi yang lebih baik ke depan,” kata Karolin.

Sebagai penutup, Karolin menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menghadirkan layanan kesehatan yang merata dan berkualitas bagi masyarakat, khususnya bagi pasien yang membutuhkan terapi cuci darah secara rutin.

“Kami ingin pelayanan ini segera bisa dimanfaatkan masyarakat, terutama pasien BPJS. Harapannya komunikasi bisa terus dilakukan agar pelayanan ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Landak,” tutupnya.

Oleh: Tino

Minggu, 29 Maret 2026

Cegah Penumpukan Pasien, Dinkes Kaltim Evaluasi Sistem Rujukan

Dinkes Kalimantan Timur evaluasi sistem rujukan korban laka lantas untuk cegah penumpukan pasien saat arus balik Lebaran dan tingkatkan layanan darurat.
Dinkes Kalimantan Timur evaluasi sistem rujukan korban laka lantas untuk cegah penumpukan pasien saat arus balik Lebaran dan tingkatkan layanan darurat.

Samarinda – Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai memperketat evaluasi sistem rujukan korban kecelakaan lalu lintas (laka lantas), terutama menjelang puncak arus balik Lebaran yang dikenal rawan lonjakan insiden.

Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, menegaskan pentingnya koordinasi cepat antar rumah sakit agar tidak terjadi penumpukan pasien di satu fasilitas medis.

“Kalau ada rumah sakit yang menerima pasien pertama, harus langsung komunikasi dengan rumah sakit lain supaya korban bisa dialihkan ke fasilitas terdekat yang masih mampu menangani,” ujarnya di Samarinda, Sabtu.

Evaluasi Sistem Rujukan untuk Antisipasi Lonjakan Pasien

Langkah evaluasi ini dilakukan bersama manajemen rumah sakit di seluruh wilayah Kaltim. Tujuannya jelas: menjaga kualitas layanan gawat darurat tetap optimal, terutama saat terjadi kecelakaan massal.

Menurut Jaya, penumpukan pasien di satu rumah sakit bisa berdampak serius terhadap efektivitas penanganan medis, bahkan berisiko menurunkan peluang keselamatan korban.

“Kalau pelayanan tidak maksimal, bisa memicu persepsi negatif di masyarakat. Ini yang ingin kita hindari,” tegasnya.

Sinergi Antar Rumah Sakit Jadi Kunci

Dinas Kesehatan Kaltim menekankan bahwa komunikasi antar fasilitas kesehatan harus berjalan cepat, akurat, dan berkelanjutan.

Setiap unit layanan kesehatan tingkat pertama diwajibkan memastikan kapasitas mereka sebelum menerima limpahan pasien dalam jumlah besar. Sistem ini dirancang agar distribusi pasien merata dan penanganan bisa lebih cepat.

Kebijakan ini juga didasarkan pada evaluasi insiden kecelakaan sebelumnya di salah satu RSUD di Samarinda yang sempat mengalami miskomunikasi.

“Memang ada sedikit kendala koordinasi waktu itu, tapi semua korban berhasil ditangani dengan baik,” jelas Jaya.

Antisipasi Arus Balik Lebaran

Menghadapi arus balik Lebaran, Dinas Kesehatan memastikan seluruh fasilitas layanan—mulai dari puskesmas hingga unit gawat darurat—dalam kondisi siaga penuh.

Upaya ini juga melibatkan berbagai instansi, termasuk:

  • Kepolisian Daerah Kaltim

  • Dinas Perhubungan

  • Pengelola jalan tol

Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui pendirian posko kesehatan terpadu di titik-titik rawan kecelakaan.

“Semua pihak kita libatkan supaya respons di lapangan bisa cepat dan terkoordinasi,” tambahnya.

Fokus Utama: Keselamatan dan Respons Cepat

Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat saat Lebaran, potensi kecelakaan juga ikut naik. Karena itu, sistem rujukan yang efektif menjadi kunci utama dalam menyelamatkan korban.

Dinkes Kaltim berharap evaluasi ini bisa meminimalisir kendala di lapangan dan memastikan setiap korban mendapatkan penanganan medis secara cepat dan tepat.

FAQ

1. Kenapa sistem rujukan rumah sakit perlu dievaluasi?
Karena saat terjadi kecelakaan massal, penumpukan pasien di satu rumah sakit bisa memperlambat penanganan dan meningkatkan risiko fatal.

2. Apa tujuan utama kebijakan ini?
Agar distribusi pasien merata ke rumah sakit yang masih memiliki kapasitas, sehingga pelayanan tetap optimal.

3. Siapa saja yang terlibat dalam antisipasi ini?
Dinas Kesehatan, Kepolisian, Dinas Perhubungan, serta pengelola jalan tol.

4. Kapan risiko kecelakaan meningkat?
Biasanya saat arus mudik dan arus balik Lebaran karena tingginya mobilitas masyarakat.

5. Apa dampak miskomunikasi antar rumah sakit?
Bisa menyebabkan keterlambatan penanganan korban dan menurunkan kualitas layanan darurat.

Sabtu, 28 Maret 2026

Kasus Suspek Capai 200, Balikpapan Imbau Isolasi Mandiri Cegah Campak

Kasus suspek campak di Balikpapan tembus 200 orang. Dinkes imbau warga isolasi mandiri dua pekan untuk cegah penularan usai Lebaran. (Gambar ilustrasi)
Kasus suspek campak di Balikpapan tembus 200 orang. Dinkes imbau warga isolasi mandiri dua pekan untuk cegah penularan usai Lebaran. (Gambar ilustrasi)

Balikpapan — Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak. Hal ini menyusul lonjakan kasus suspek yang kini mencapai sekitar 200 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menegaskan bahwa isolasi mandiri selama kurang lebih dua pekan menjadi langkah penting untuk menekan penularan penyakit tersebut.

“Isolasi mandiri penting untuk memutus rantai penularan campak di tengah tingginya mobilitas masyarakat pasca-Lebaran,” ujarnya, Jumat.

Menurutnya, isolasi mandiri merupakan salah satu cara paling efektif, terutama untuk mencegah penyebaran di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Meski demikian, pasien tetap mendapatkan pengobatan sesuai kondisi masing-masing.

Campak Mudah Menular Lewat Udara

Campak merupakan penyakit akibat infeksi virus yang sangat mudah menyebar melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Namun, orang dewasa dengan daya tahan tubuh rendah juga tetap berisiko terinfeksi.

Alwiati mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit ini. Meskipun sebagian kasus terlihat ringan, penularannya bisa berlangsung sangat cepat, khususnya pada individu yang belum memiliki kekebalan.

Belum Masuk Kategori Endemis

Sebagian besar kasus suspek ditemukan melalui pemantauan di fasilitas kesehatan. Meski jumlahnya meningkat, Balikpapan masih belum masuk kategori daerah endemis campak.

Artinya, belum diperlukan langkah Outbreak Response Immunization (ORI) dari pemerintah pusat.

Program Imunisasi Digenjot

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan program kejar imunisasi bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak secara lengkap.

Program ini difokuskan pada kelompok rentan yang berisiko mengalami gejala lebih berat jika terinfeksi.

Selain itu, edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat juga semakin diperkuat di masyarakat.

Kebiasaan Saat Lebaran Jadi Sorotan

Salah satu perhatian utama adalah kebiasaan masyarakat saat momen Lebaran, seperti menyentuh atau mencium bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Kebiasaan ini dinilai berisiko karena seseorang bisa saja membawa virus tanpa disadari.

Surat Edaran Kewaspadaan Diterbitkan

Dinas Kesehatan juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan yang ditujukan kepada fasilitas kesehatan dan masyarakat.

Tenaga kesehatan diminta aktif melakukan deteksi dini, pemantauan, serta pelacakan apabila ditemukan indikasi penularan di suatu wilayah.

Pengobatan Gratis dan Imbauan Tetap Tenang

Pemerintah memastikan bahwa pengobatan campak dapat diakses secara gratis di fasilitas kesehatan.

Pasien juga diminta untuk beristirahat total dan menghindari kontak dengan orang lain selama masa pemulihan.

Meski situasi perlu diwaspadai, masyarakat diminta tetap tenang. Langkah sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan melengkapi imunisasi anak menjadi kunci utama pencegahan.

Dengan kombinasi isolasi mandiri, imunisasi kejar, dan peningkatan kesadaran masyarakat, penyebaran campak di Balikpapan diharapkan dapat segera terkendali tanpa harus masuk fase darurat.

FAQ

Q: Apa itu penyakit campak?
A: Campak adalah infeksi virus yang sangat menular melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin.

Q: Berapa lama isolasi mandiri untuk campak?
A: Sekitar 14 hari atau hingga pasien dinyatakan pulih.

Q: Siapa yang paling berisiko terkena campak?
A: Anak-anak yang belum imunisasi dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Q: Apakah campak berbahaya?
A: Bisa berbahaya jika tidak ditangani, terutama pada kelompok rentan.

Q: Bagaimana cara mencegah campak?
A: Imunisasi, menjaga kebersihan, mencuci tangan, dan menghindari kontak dengan penderita.

Jumat, 20 Maret 2026

Kondisi Terbaru Pasien Luka Bakar Kimia Di RSCM, Mata Mulai Pulih

Kondisi terbaru pasien luka bakar kimia di RSCM menunjukkan perbaikan. Mata kanan mulai pulih setelah terapi intensif dan operasi cangkok kulit.
Kondisi terbaru pasien luka bakar kimia di RSCM menunjukkan perbaikan. Mata kanan mulai pulih setelah terapi intensif dan operasi cangkok kulit.

Jakarta – RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) menyampaikan perkembangan terbaru terkait kondisi pasien laki-laki berinisial Andrie Yunus (27), yang mengalami luka bakar akibat paparan cairan kimia di sejumlah bagian tubuh.

Dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, pihak rumah sakit mengungkapkan bahwa pasien telah menjalani tindakan operasi berupa pembersihan jaringan atau debridement pada Senin (16/3). Prosedur ini dilakukan untuk mengangkat jaringan kulit yang rusak akibat luka bakar.

Selain itu, tim medis juga telah melakukan tindakan cangkok kulit di beberapa area luka guna mempercepat proses penyembuhan. Saat ini, pasien masih menjalani perawatan luka secara intensif dengan pemantauan ketat.

Perawatan lanjutan difokuskan pada evaluasi kondisi dan kedalaman luka, sekaligus menentukan waktu terbaik untuk tindakan cangkok kulit berikutnya, tergantung perkembangan klinis pasien.

Kondisi Mata Mulai Membaik

Tak hanya luka pada tubuh, pasien juga mengalami trauma serius pada mata kanan. RSCM menyebutkan adanya kerusakan sel punca kornea hingga sekitar 40 persen akibat paparan zat kimia.

Sebagai langkah penanganan, tim medis telah memasang membran amnion dan memberikan terapi anti-inflamasi. Tindakan ini bertujuan melindungi permukaan mata serta mendukung proses pemulihan jaringan.

Kabar baiknya, kondisi mata kanan pasien saat ini dilaporkan stabil. Tingkat peradangan menunjukkan perbaikan, dan sel punca kornea mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan, meskipun proses epitelisasi masih dalam tahap pemantauan lebih lanjut.

Dalam Pengawasan Tim Medis Multidisiplin

RSCM menegaskan bahwa pasien kini berada dalam pengawasan tim medis multidisiplin dan mendapatkan perawatan komprehensif. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk mencegah risiko infeksi sekunder serta memastikan proses penyembuhan berjalan optimal.

Pihak rumah sakit juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mempercayakan penanganan kepada tenaga medis profesional.

Kronologi Awal Kejadian

Sebelumnya, pasien datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSCM pada Jumat (13/3) sekitar pukul 00.00 WIB dengan keluhan luka bakar pada wajah, leher, dada, punggung, serta kedua lengan. Ia juga mengalami gangguan penglihatan pada mata kanan.

Pemeriksaan awal menunjukkan adanya paparan zat kimia bersifat asam, yang dikonfirmasi melalui indikator pH pada area luka. Hasil diagnosis menyebutkan pasien mengalami luka bakar sekitar 20 persen pada tubuh serta trauma kimia derajat tiga pada mata kanan dalam fase akut.

Kondisi tersebut sempat menyebabkan penurunan tajam penglihatan dan kerusakan serius pada permukaan kornea.

FAQ (Untuk SEO & Featured Snippet)

1. Apa kondisi terbaru pasien luka bakar kimia di RSCM?
Kondisi pasien saat ini stabil dan menunjukkan perbaikan, terutama pada mata kanan yang mulai pulih.

2. Apa itu debridement dalam penanganan luka bakar?
Debridement adalah tindakan medis untuk membersihkan jaringan mati atau rusak agar proses penyembuhan lebih optimal.

3. Seberapa parah luka yang dialami pasien?
Pasien mengalami luka bakar sekitar 20 persen tubuh serta trauma kimia derajat tiga pada mata kanan.

4. Apa fungsi cangkok kulit pada pasien luka bakar?
Cangkok kulit membantu mempercepat penyembuhan dan menutup area luka yang parah.

5. Apakah penglihatan pasien bisa kembali normal?
Masih dalam pemantauan, namun tanda-tanda pemulihan sudah mulai terlihat.

Anak Sering Main Gadget? Waspadai Dampak Serius Pada Saraf Dan Otak

Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)
Dampak gawai berlebihan pada anak bisa ganggu saraf dan tumbuh kembang. IDAI ingatkan pentingnya pengawasan orang tua dan variasi aktivitas anak. (gambar ilustrasi)

Jakarta — Penggunaan gawai pada anak kini jadi perhatian serius para ahli kesehatan. Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Tuty Herawati, mengingatkan bahwa penggunaan gadget secara berlebihan dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan anak, termasuk sistem saraf.

Menurut Tuty, dampak penggunaan gawai tidak hanya terlihat dari perubahan fisik seperti postur tubuh yang membungkuk. Lebih dari itu, efeknya bisa menjalar ke sistem saraf anak.

“Kalau dilihat sekilas mungkin hanya perubahan postur seperti membungkuk. Tapi, di dalamnya bisa berkaitan dengan sistem saraf, sehingga ini bukan hal yang bisa dianggap ringan,” ujarnya dalam acara buka bersama Menteri Komunikasi dan Digital di Jakarta, Selasa (17/3).

Fase Krusial Tumbuh Kembang Anak

Tuty menjelaskan, paparan gawai yang berlebihan pada usia lima hingga 15 tahun—fase penting dalam tumbuh kembang anak—dapat memengaruhi perkembangan secara keseluruhan.

Risiko gangguan ini sangat dipengaruhi oleh:

  • Intensitas penggunaan gawai

  • Durasi waktu layar

  • Keseimbangan aktivitas anak

Anak yang tetap aktif bergerak, bermain di luar, dan rutin berolahraga cenderung memiliki risiko lebih rendah dibandingkan mereka yang terus-menerus terpaku pada layar.

Potensi Gangguan Hingga Dewasa

Penggunaan gawai tanpa pengawasan dalam jangka panjang berpotensi memicu:

  • Masalah postur tubuh

  • Gangguan otot

  • Penurunan fungsi saraf

Yang lebih mengkhawatirkan, dampak ini bisa bertahan hingga anak tumbuh dewasa.

Peran Orang Tua Jadi Kunci

Tuty juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam mengawasi penggunaan gawai. Ia menyebut, penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas bisa menjadi langkah penting dalam melindungi anak dari dampak negatif teknologi.

Namun, aturan saja tidak cukup.

“Peran keluarga sangat penting, mulai dari mengatur, mendampingi, hingga mengawasi penggunaan gawai anak,” tegasnya.

Otak Anak Butuh Stimulasi Beragam

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa otak anak memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap informasi, terutama pada masa golden age.

Namun, jika anak hanya mendapatkan stimulasi yang monoton—misalnya dari game atau konten digital yang berulang perkembangan otak bisa terhambat.

“Pada masa golden age, otak anak sangat terbuka terhadap berbagai rangsangan. Tapi jika yang diterima hanya itu-itu saja, maka kemampuan lain tidak terstimulasi,” jelasnya.

Ia menyebut kondisi ini sebagai brain drop, yaitu penurunan optimalisasi perkembangan kognitif akibat kurangnya variasi stimulasi.

Teknologi Boleh, Tapi Jangan Jadi Satu-Satunya

Rose menegaskan bahwa perkembangan otak tidak ditentukan oleh ukuran, melainkan jumlah koneksi antar-saraf. Koneksi ini terbentuk dari pengalaman yang beragam.

Karena itu, anak perlu:

  • Interaksi sosial

  • Aktivitas fisik

  • Pengalaman baru di luar layar

“Teknologi bisa dimanfaatkan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya sumber stimulasi,” tutupnya.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apakah gawai berbahaya untuk anak?
Tidak selalu. Gawai aman jika digunakan secara bijak dan dengan pengawasan orang tua.

2. Berapa batas aman penggunaan gawai?
Idealnya disesuaikan usia, namun anak tetap harus punya waktu aktivitas fisik dan interaksi sosial.

3. Apa dampak utama gawai berlebihan?
Mulai dari gangguan postur, masalah saraf, hingga perkembangan kognitif yang tidak optimal.

4. Apa itu brain drop?
Kondisi ketika perkembangan otak tidak maksimal akibat kurangnya variasi stimulasi.

Rabu, 18 Maret 2026

Atasi GERD Saat Puasa Dan Mudik Lebaran Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Tips aman atasi GERD saat puasa dan mudik lebaran ke Sintang, Sanggau, Melawi, Sekadau, dan Kapuas Hulu agar perjalanan tetap nyaman dan sehat.
Tips aman atasi GERD saat puasa dan mudik lebaran ke Sintang, Sanggau, Melawi, Sekadau, dan Kapuas Hulu agar perjalanan tetap nyaman dan sehat.

PONTIANAK -- Mudik lebaran selalu jadi momen yang paling ditunggu. Bagi banyak orang, perjalanan menuju kampung halaman seperti Mudik lebaran ke sintang, Mudik lebaran ke sanggau, Mudik lebaran ke melawi, Mudik lebaran ke sekadau, dan Mudik lebaran ke kapuas hulu bukan sekadar perjalanan, tapi juga soal kebersamaan dan nostalgia.

Namun, bagi pemudik yang memiliki masalah pencernaan seperti GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), perjalanan panjang sambil berpuasa bisa menjadi tantangan serius. 

Jika tidak ditangani dengan tepat, gejala GERD bisa mengganggu kenyamanan bahkan membahayakan kesehatan selama perjalanan.

Artikel ini akan membahas secara lengkap dan mudah dipahami tentang cara aman mengatasi GERD saat puasa dan mudik, agar perjalanan Anda tetap lancar dan menyenangkan.

Apa Itu GERD Dan Mengapa Rentan Saat Mudik?

GERD adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan, menyebabkan sensasi terbakar di dada (heartburn), mual, hingga sesak napas. 

Kondisi ini bisa kambuh kapan saja, terutama saat tubuh mengalami kelelahan atau pola makan tidak teratur.

Saat mudik, risiko GERD meningkat karena beberapa faktor seperti:

  • Jadwal makan yang berubah

  • Konsumsi makanan tidak terkontrol

  • Duduk terlalu lama di kendaraan

  • Stres dan kelelahan perjalanan

Ditambah lagi dengan kondisi berpuasa, di mana lambung kosong dalam waktu lama, potensi naiknya asam lambung jadi lebih tinggi.

Langkah Cepat Meredakan GERD Saat Di Perjalanan

Menurut dr. Hasan Maulahela, spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan saat gejala GERD muncul di tengah perjalanan:

1. Longgarkan Pakaian

Pakaian ketat, terutama di area perut, bisa meningkatkan tekanan dan memicu naiknya asam lambung. Longgarkan ikat pinggang atau pakaian agar tubuh lebih nyaman.

2. Posisi Duduk Tegak

Hindari posisi membungkuk atau meringkuk. Duduk dengan posisi tegak membantu gravitasi menahan asam lambung agar tidak naik ke kerongkongan.

3. Atur Pernapasan

Tarik napas dalam melalui hidung, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Teknik ini membantu meredakan ketegangan dan menurunkan produksi asam lambung.

4. Jangan Paksakan Puasa Jika Parah

Jika gejala seperti nyeri hebat, muntah, atau sesak napas muncul, sebaiknya segera berbuka dengan air hangat dan konsumsi obat yang diperlukan.

Makanan Yang Harus Dihindari Saat Mudik

Saat perjalanan seperti Mudik lebaran ke sintang, Mudik lebaran ke sanggau, Mudik lebaran ke melawi, Mudik lebaran ke sekadau, dan Mudik lebaran ke kapuas hulu, penting untuk memperhatikan asupan makanan.

Beberapa makanan yang sebaiknya dihindari:

  • Makanan pedas

  • Gorengan dan makanan berlemak tinggi

  • Minuman berkafein seperti kopi dan teh pekat

  • Minuman bersoda

  • Makanan asam

Sebaliknya, pilih makanan yang lebih ramah untuk lambung seperti:

  • Nasi, oatmeal, atau roti gandum

  • Sayuran hijau

  • Buah rendah asam seperti pisang

  • Air putih yang cukup

Tips Puasa Aman Bagi Penderita GERD Saat Mudik

Agar perjalanan tetap nyaman, berikut beberapa tips penting yang bisa diterapkan:

1. Jangan Lewatkan Sahur

Sahur sangat penting untuk menjaga kondisi lambung tetap stabil. Pilih makanan tinggi serat dan karbohidrat kompleks agar energi bertahan lebih lama.

2. Hindari Makan Berlebihan Saat Berbuka

Langsung makan dalam porsi besar bisa memicu lonjakan asam lambung. Mulailah dengan makanan ringan, lalu makan utama secara bertahap.

3. Beri Jeda Sebelum Tidur

Jangan langsung tidur setelah makan. Beri jeda minimal 2–3 jam agar makanan tercerna dengan baik.

4. Istirahat Secara Berkala

Jika perjalanan panjang, sempatkan berhenti di rest area untuk peregangan. Duduk terlalu lama bisa memperparah GERD.

5. Kelola Stres

Stres bisa meningkatkan produksi asam lambung. Coba dengarkan musik santai atau tarik napas dalam untuk menjaga kondisi tetap tenang.

Persiapan Penting Sebelum Mudik

Sebelum melakukan perjalanan seperti Mudik lebaran ke sintang, Mudik lebaran ke sanggau, Mudik lebaran ke melawi, Mudik lebaran ke sekadau, dan Mudik lebaran ke kapuas hulu, ada baiknya melakukan persiapan berikut:

  • Bawa obat GERD yang biasa dikonsumsi

  • Siapkan makanan ringan sehat

  • Gunakan pakaian yang nyaman dan longgar

  • Pastikan tubuh cukup istirahat sebelum berangkat

Persiapan yang matang bisa membantu mencegah kambuhnya GERD selama perjalanan.

Kapan Harus Ke Dokter?

Jangan anggap remeh gejala GERD, terutama jika muncul tanda-tanda berikut:

  • Nyeri dada hebat

  • Muntah berulang

  • Kesulitan bernapas

  • Gejala tidak membaik setelah istirahat

Jika mengalami kondisi tersebut, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

Mudik lebaran tetap bisa dinikmati dengan nyaman, bahkan bagi penderita GERD. Kunci utamanya adalah menjaga pola makan, mengatur posisi tubuh, dan mengenali tanda-tanda tubuh saat gejala muncul.

Perjalanan seperti Mudik lebaran ke sintang, Mudik lebaran ke sanggau, Mudik lebaran ke melawi, Mudik lebaran ke sekadau, dan Mudik lebaran ke kapuas hulu tidak harus menjadi beban jika Anda sudah mempersiapkan diri dengan baik.

Dengan langkah yang tepat, Anda tetap bisa menjalankan ibadah puasa sekaligus menikmati momen pulang kampung dengan aman dan menyenangkan.

Tips Aman Atasi GERD Saat Mudik dan Puasa, Ini Saran Dokter Spesialis

Ketahui tips aman atasi GERD saat mudik dan puasa dari Dr. Hasan Maulahela. Langkah praktis agar perjalanan nyaman tanpa gangguan refluks asam lambung. (Gambar ilustrasi AI)
Ketahui tips aman atasi GERD saat mudik dan puasa dari Dr. Hasan Maulahela. Langkah praktis agar perjalanan nyaman tanpa gangguan refluks asam lambung. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Mudik lebaran memang jadi momen yang dinanti, tapi buat para pemudik yang punya masalah pencernaan, khususnya GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), perjalanan panjang sambil berpuasa bisa jadi tantangan tersendiri.

Dr. dr. Hasan Maulahela, Sp. P.D, Subsp. G.E.H. (K), dokter spesialis penyakit dalam subspesialis gastroenterologi hepatologi lulusan Universitas Indonesia, mengingatkan pentingnya penanganan tepat saat gejala GERD muncul di perjalanan.

“Ketika merasakan gejala GERD tetapi masih berada dalam perjalanan dan berpuasa, lakukan langkah berikut untuk meredakan gejala,” katanya dalam keterangan resmi yang diterima, Selasa.

Langkah-Langkah Meredakan GERD Saat Perjalanan dan Puasa

  1. Longgarkan Pakaian
    Tekanan dari ikat pinggang atau pakaian ketat bisa memperburuk refluks. Segera longgarkan agar asam lambung tidak terus naik.

  2. Posisi Duduk Tegak
    Jangan membungkuk atau meringkuk. Jika memungkinkan, sandarkan punggung dengan posisi kepala dan dada lebih tinggi dari perut. Gravitasi membantu menahan asam lambung naik.

  3. Pernapasan Dalam
    Tarik napas lewat hidung dan hembuskan perlahan melalui mulut. Teknik ini merelaksasi otot saluran cerna dan mengurangi rasa panik yang bisa memicu produksi asam lambung.

Jika gejala tidak membaik, terutama ditandai dengan nyeri ulu hati hebat, muntah, atau sesak napas, segeralah berbuka dengan air hangat dan konsumsi obat jika perlu. Jangan memaksakan puasa.

Hindari Makanan Pemicu GERD

Penderita GERD sebaiknya menjauhi makanan dan minuman yang memicu naiknya asam lambung, misalnya pedas, berlemak, atau berkafein berlebihan. Jika gejala tak berangsur pulih, segera kunjungi unit gawat darurat atau rumah sakit terdekat.

GERD Saat Perjalanan

GERD adalah gangguan pencernaan di mana cairan asam lambung naik ke kerongkongan, menimbulkan sensasi panas terbakar di dada, mual, muntah, bahkan gangguan pernapasan. Faktor pemicu di perjalanan meliputi:

  • Terburu-buru makan saat sahur atau berbuka.

  • Konsumsi makanan pedas, berlemak, atau minuman berkafein.

  • Duduk terlalu lama sehingga memberi tekanan pada perut.

  • Stres dan kelelahan.

Tips Puasa Aman Bagi Penderita GERD Saat Mudik

  1. Tetap makan sahur meski sedang di perjalanan. Pilih karbohidrat kompleks dan serat tinggi.

  2. Hindari makan besar sekaligus saat berbuka; lebih baik porsi kecil tapi sering.

  3. Jangan langsung tidur setelah makan, beri jeda minimal 3 jam.

  4. Kelola stres dan istirahat secara berkala di rest area.

Dengan persiapan dan perhatian pada gejala, mudik tetap bisa aman dan nyaman meski penderita GERD tetap berpuasa.