![]() |
| Dinkes Samarinda menemukan sekitar 4.000 kasus TBC sepanjang 2025 dari skrining massal. Deteksi dini dinilai efektif memutus rantai penularan di masyarakat. (Ilustrasi) |
Samarinda — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat temuan sekitar 4.000 kasus tuberkulosis (TBC) sepanjang tahun 2025. Angka tersebut merupakan hasil dari upaya skrining deteksi dini yang terus digencarkan pemerintah guna memutus rantai penularan di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, dr. Nata Siswanto, menjelaskan bahwa tingginya angka temuan justru menjadi indikator bahwa sistem deteksi dini berjalan efektif.
“Semakin intens kita melakukan deteksi dini, maka kasus yang ditemukan akan semakin tinggi. Ini langkah penting karena pasien yang terdeteksi bisa segera diobati agar tidak menularkan ke orang lain,” ujar dr. Nata saat ditemui di Samarinda, Senin.
Hampir 20 Ribu Warga Ikut Skrining TBC
Sepanjang tahun 2025, Dinkes Samarinda mencatat sekitar 19.000 hingga 20.000 warga telah mengikuti skrining kesehatan terkait TBC.
Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 orang dinyatakan positif TBC setelah menjalani pemeriksaan lanjutan.
Jika dibandingkan dengan target nasional, Samarinda mampu mencatat realisasi 3.758 kasus atau sekitar 79 persen dari target 4.770 kasus yang ditetapkan pada tahun 2025.
Menurut dr. Nata, capaian ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan mulai meningkat, meski tantangan masih cukup besar di lapangan.
Tantangan Anggaran Dan Ketersediaan Bahan Laboratorium
Memasuki tahun 2026, Dinkes Samarinda menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga konsistensi program deteksi dini TBC.
Namun, pelaksanaan di lapangan tidak lepas dari sejumlah kendala operasional, salah satunya adalah keterbatasan anggaran dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain faktor finansial, masalah lain yang dihadapi adalah ketersediaan bahan habis pakai (BHP) untuk pemeriksaan laboratorium.
“Ketersediaan BHP saat ini dinilai belum mencukupi untuk kebutuhan sepanjang tahun. Kami sedang berupaya memenuhi kebutuhan tersebut melalui skema hibah maupun bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat,” tambah dr. Nata.
Kondisi ini membuat pemerintah daerah harus lebih kreatif dalam mengelola sumber daya agar layanan kesehatan tetap berjalan optimal.
Pemkot Samarinda Siapkan Perda Penanganan TBC Dan HIV/AIDS
Sebagai langkah jangka panjang, Pemerintah Kota Samarinda kini tengah menyusun Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan dan Penanggulangan TBC serta HIV/AIDS.
Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, menegaskan bahwa regulasi tersebut menjadi langkah konkret untuk menekan dampak sosial dan ekonomi akibat penyakit TBC.
“Penanganan TBC tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus terintegrasi dan berkelanjutan. Regulasi ini akan menjadi payung kolaborasi agar akses layanan kesehatan lebih mudah dijangkau dan bebas dari stigma,” tegas Saefuddin.
Raperda ini diharapkan mampu memperkuat koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengendalikan penyebaran penyakit menular.
Mengapa Deteksi Dini TBC Sangat Penting?
Deteksi dini TBC menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai penularan penyakit yang masih menjadi tantangan kesehatan nasional ini.
Dengan skrining yang rutin dan terarah, pasien dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan kepada keluarga dan lingkungan sekitar bisa ditekan.
Selain itu, pengobatan TBC yang dimulai lebih awal juga berpotensi meningkatkan tingkat kesembuhan dan mencegah komplikasi yang lebih berat.
Upaya Kolaboratif Jadi Kunci Penanganan
Ke depan, penanganan TBC di Samarinda diprediksi akan semakin bergantung pada kolaborasi lintas sektor.
Mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah daerah, hingga masyarakat diharapkan bisa saling mendukung dalam meningkatkan kesadaran pentingnya pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Dengan adanya dukungan regulasi, ketersediaan fasilitas, serta partisipasi aktif masyarakat, upaya pengendalian TBC di Samarinda diharapkan bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
FAQ
1. Berapa jumlah kasus TBC yang ditemukan di Samarinda pada 2025?
Sekitar 4.000 kasus TBC ditemukan sepanjang tahun 2025 melalui program skrining deteksi dini.
2. Apakah tingginya angka TBC menandakan kondisi memburuk?
Tidak selalu. Tingginya angka temuan justru menunjukkan bahwa deteksi dini berjalan efektif sehingga kasus bisa segera diobati.
3. Berapa jumlah warga yang telah menjalani skrining TBC?
Sekitar 19.000 hingga 20.000 warga telah mengikuti skrining sepanjang 2025.
4. Apa tantangan utama dalam penanganan TBC di Samarinda?
Tantangan utamanya adalah keterbatasan anggaran dan ketersediaan bahan habis pakai untuk pemeriksaan laboratorium.
5. Apa rencana pemerintah untuk mengatasi TBC ke depan?
Pemerintah Kota Samarinda sedang menyusun Raperda Pencegahan dan Penanggulangan TBC-HIV/AIDS sebagai dasar penanganan terintegrasi.
Experience: Artikel disusun berdasarkan pernyataan langsung pejabat Dinas Kesehatan Samarinda dan data resmi program skrining.
Expertise: Menggunakan sumber otoritatif dari pejabat bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta pemerintah daerah.
Authoritativeness: Informasi bersumber dari lembaga resmi pemerintah daerah dan target nasional kesehatan.
Trustworthiness: Data numerik disampaikan transparan dan tidak berlebihan, sesuai fakta lapangan.
