Berita BorneoTribun: Konflik Ukraina hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Konflik Ukraina. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Konflik Ukraina. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Ancaman Rudal Rusia Disebut Bisa Lumpuhkan Rencana Drone Uni Eropa

Ancaman rudal Rusia disebut mampu melumpuhkan rencana drone Uni Eropa untuk Ukraina, memicu kekhawatiran soal keamanan proyek militer masa depan.
Ancaman rudal Rusia disebut mampu melumpuhkan rencana drone Uni Eropa untuk Ukraina, memicu kekhawatiran soal keamanan proyek militer masa depan.

Jumat, (17/4/2026) — Ketegangan antara Rusia dan negara-negara Eropa kembali menjadi sorotan setelah muncul analisis dari seorang pakar militer yang menyebut bahwa rencana besar Uni Eropa untuk memperkuat Ukraina dengan drone bisa langsung runtuh jika Rusia melancarkan serangan rudal skala besar.

Rencana Uni Eropa sebelumnya digadang-gadang sebagai salah satu langkah strategis untuk membantu Ukraina menghadapi tekanan militer yang terus meningkat. Namun, sejumlah pihak kini mulai mempertanyakan seberapa aman proyek tersebut jika terjadi eskalasi konflik.

Proyek Drone Eropa Dinilai Rentan

Dalam analisis yang beredar, seorang pakar militer menilai bahwa fasilitas produksi drone dan infrastruktur pendukung di Eropa berpotensi menjadi target strategis apabila konflik semakin memanas.

Menurutnya, serangan rudal Rusia yang presisi dan berdaya hancur tinggi dapat langsung merusak fasilitas vital dalam waktu singkat. Jika hal itu terjadi, maka rencana pengiriman drone dalam jumlah besar ke Ukraina berisiko gagal total.

Pandangan ini memicu diskusi panjang di kalangan pengamat militer. Sebab, proyek drone yang sedang disiapkan oleh negara-negara Eropa memang dianggap sebagai salah satu elemen penting dalam memperkuat kemampuan pertahanan Ukraina di medan perang modern.

Drone Jadi Senjata Utama Perang Modern

Dalam beberapa tahun terakhir, drone telah berubah menjadi salah satu alat tempur paling penting dalam konflik bersenjata. Teknologi ini memungkinkan serangan presisi tanpa harus mengirim banyak pasukan ke garis depan.

Penggunaan drone juga dinilai lebih efisien dari sisi biaya dibandingkan dengan sistem persenjataan berat lainnya. Karena itulah, banyak negara kini berlomba-lomba memperkuat produksi drone, termasuk negara-negara di kawasan Eropa.

Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap drone juga membuka celah baru. Jika fasilitas produksi atau pusat logistik berhasil diserang, maka rantai pasokan bisa terhenti secara mendadak.

Risiko Eskalasi Konflik Semakin Besar

Situasi geopolitik yang semakin tegang membuat banyak pihak khawatir bahwa konflik bisa melebar. Ancaman terhadap fasilitas militer di wilayah Eropa disebut dapat memicu respons besar dari negara-negara terkait.

Beberapa analis menilai bahwa jika Rusia benar-benar menargetkan infrastruktur drone, dampaknya tidak hanya dirasakan Ukraina, tetapi juga negara-negara Eropa yang terlibat dalam proyek tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa perang modern bukan hanya terjadi di garis depan, tetapi juga di sektor produksi, teknologi, dan logistik.

Eropa Dihadapkan Pada Tantangan Strategis

Di tengah meningkatnya ancaman, Uni Eropa kini menghadapi tantangan besar dalam memastikan keamanan proyek drone mereka. Selain memperkuat produksi, perlindungan terhadap fasilitas penting juga menjadi prioritas utama.

Penguatan sistem pertahanan udara di sekitar fasilitas produksi disebut sebagai salah satu langkah yang harus segera dilakukan. Tanpa perlindungan maksimal, proyek drone berisiko menjadi target yang mudah.

Para pengamat juga menilai bahwa strategi jangka panjang perlu disiapkan agar proyek tidak mudah terganggu oleh serangan mendadak.

Masa Depan Perang Dipengaruhi Teknologi

Perkembangan teknologi militer membuat pola perang berubah drastis. Drone, rudal presisi, dan sistem pertahanan canggih kini menjadi faktor utama dalam menentukan kemenangan di medan konflik.

Karena itu, setiap langkah strategis harus diperhitungkan dengan matang. Kesalahan kecil dalam perencanaan bisa berdampak besar terhadap jalannya operasi militer.

Ancaman terhadap proyek drone Uni Eropa menjadi pengingat bahwa dalam konflik modern, keamanan teknologi sama pentingnya dengan kekuatan militer itu sendiri.

Minggu, 15 Maret 2026

Utusan Putin Minta Uni Eropa Akui Kesalahan Kebijakan Barat

Utusan Presiden Rusia Kirill Dmitriev meminta pemimpin Uni Eropa mengakui kesalahan kebijakan Barat dan belajar dari pandangan ekonom AS terkait konflik Ukraina.
Utusan Presiden Rusia Kirill Dmitriev meminta pemimpin Uni Eropa mengakui kesalahan kebijakan Barat dan belajar dari pandangan ekonom AS terkait konflik Ukraina.

Utusan Putin Desak Pemimpin Uni Eropa Akui Kesalahan Kebijakan Barat

Rusia -- Ketegangan geopolitik antara Rusia dan negara-negara Barat kembali memanas. Kali ini, kritik datang dari utusan ekonomi Presiden Rusia, Kirill Dmitriev, yang meminta para pemimpin Uni Eropa untuk berani mengakui kesalahan dalam kebijakan mereka terkait konflik Ukraina.

Dalam pernyataannya di media sosial, Dmitriev menilai sejumlah kebijakan yang diambil negara-negara Eropa justru memperpanjang konflik yang sudah berlangsung lama. Ia juga menyarankan agar para pemimpin Uni Eropa belajar dari pandangan sejumlah ekonom Amerika Serikat yang dinilai lebih realistis dalam menilai situasi geopolitik saat ini.

Kritik Terhadap Kebijakan Uni Eropa

Menurut Dmitriev, beberapa tuntutan yang didorong oleh negara-negara Eropa terhadap Ukraina dianggap terlalu sulit dipenuhi dan berpotensi menghambat upaya diplomasi. Ia menilai pendekatan seperti ini justru membuat proses perdamaian semakin rumit.

Dmitriev menyebut bahwa bahkan sejumlah pihak di Washington mulai melihat adanya dinamika tersebut. Ia menilai kebijakan yang terlalu keras terhadap Rusia tidak selalu membawa hasil yang diharapkan dan justru memperpanjang konflik.

Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan global mengenai strategi terbaik untuk mengakhiri perang di Ukraina. Sebagian pihak mendorong pendekatan diplomatik yang lebih fleksibel, sementara yang lain tetap mendukung tekanan politik dan ekonomi terhadap Rusia.

Seruan Untuk Evaluasi Kebijakan

Dmitriev juga menyinggung kebijakan lama Amerika Serikat pada masa pemerintahan sebelumnya yang menurutnya perlu dikaji ulang. Ia menilai sejumlah strategi lama tidak lagi relevan dengan kondisi geopolitik saat ini dan justru memperkeruh hubungan internasional.

Ia menambahkan bahwa dunia saat ini membutuhkan stabilitas dan dialog yang lebih konstruktif antara negara-negara besar.

“Perdamaian dan keamanan global hanya bisa tercapai jika para pemimpin berani mengevaluasi kebijakan lama dan mencari solusi baru,” tulisnya dalam unggahan tersebut.

Konflik Ukraina Masih Jadi Sorotan Dunia

Konflik di Ukraina sendiri masih menjadi salah satu krisis geopolitik terbesar di dunia saat ini. Sejak pecahnya perang, berbagai negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Rusia, sementara Rusia terus menegaskan bahwa konflik tersebut memiliki akar masalah yang lebih kompleks.

Di sisi lain, para pengamat internasional menilai perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan Eropa mengenai strategi penyelesaian konflik juga mulai terlihat dalam beberapa bulan terakhir.

Harapan Akan Jalur Diplomasi

Meski pernyataan Dmitriev memicu perdebatan baru di panggung internasional, banyak pihak tetap berharap jalur diplomasi bisa menjadi solusi utama untuk mengakhiri konflik.

Bagi masyarakat global, konflik yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan, tetapi juga mempengaruhi ekonomi dunia, harga energi, hingga hubungan antarnegara.

Karena itu, seruan untuk mengevaluasi kebijakan dan membuka ruang dialog yang lebih luas menjadi salah satu topik yang semakin sering dibicarakan dalam diplomasi internasional.

Serangan Besar Rusia Hantam Industri Militer Ukraina Dan Infrastruktur Energi

Rusia melancarkan serangan besar yang menargetkan industri militer Ukraina serta infrastruktur energi strategis, memicu eskalasi baru dalam konflik yang masih berlangsung.
Rusia melancarkan serangan besar yang menargetkan industri militer Ukraina serta infrastruktur energi strategis, memicu eskalasi baru dalam konflik yang masih berlangsung.

Serangan Besar Rusia Hantam Industri Militer Ukraina, Infrastruktur Energi Ikut Disasar

Rusia -- Konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memanas. Militer Rusia dilaporkan melancarkan serangan besar yang menargetkan sejumlah fasilitas penting Ukraina, mulai dari industri militer hingga infrastruktur energi yang dianggap mendukung operasi perang Kyiv.

Menurut laporan resmi Kementerian Pertahanan Rusia, operasi tersebut dilakukan menggunakan kombinasi pesawat tempur taktis, drone tempur, rudal presisi, serta artileri jarak jauh. Serangan ini menyasar berbagai fasilitas strategis yang dinilai berperan dalam mendukung kemampuan militer Ukraina.

Infrastruktur Energi dan Industri Militer Jadi Target

Dalam pernyataan resminya, pihak militer Rusia menyebut bahwa target utama serangan adalah fasilitas energi dan transportasi yang digunakan untuk menopang industri militer Ukraina.

Selain itu, beberapa lokasi lain yang ikut menjadi sasaran di antaranya:

  • Basis pusat senjata rudal dan artileri

  • Lokasi penyimpanan serta peluncuran drone jarak jauh

  • Titik penempatan sementara pasukan Ukraina

  • Area yang diduga digunakan oleh pasukan asing atau tentara bayaran

Serangan ini dilaporkan terjadi di lebih dari 150 lokasi berbeda, menunjukkan skala operasi yang cukup besar dalam satu gelombang serangan.

Rusia Klaim Kerugian Besar di Pihak Ukraina

Kementerian Pertahanan Rusia juga mengklaim bahwa pasukan Ukraina mengalami kerugian signifikan di berbagai garis pertempuran.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa satu kelompok tempur Rusia mengakibatkan lebih dari 415 personel Ukraina menjadi korban, selain kerusakan pada kendaraan lapis baja, kendaraan militer, hingga sistem perang elektronik.

Tidak hanya di satu sektor, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa kelompok tempur Rusia lainnya menyerang berbagai titik front dan menyebabkan ratusan korban tambahan di pihak Ukraina.

Perang Infrastruktur Semakin Intens

Serangan terhadap fasilitas energi dan industri militer menjadi salah satu strategi yang semakin sering digunakan dalam konflik Rusia–Ukraina.

Target semacam ini dianggap krusial karena dapat melemahkan kemampuan produksi senjata, logistik militer, serta suplai energi yang dibutuhkan untuk mendukung operasi tempur.

Di sisi lain, Ukraina juga beberapa kali melancarkan serangan balik ke fasilitas militer dan energi di wilayah Rusia. Kondisi ini membuat perang infrastruktur semakin intens dan memperpanjang konflik yang telah berlangsung sejak 2022.

Konflik Masih Jauh dari Akhir

Hingga kini, belum ada tanda-tanda konflik akan segera mereda. Kedua pihak terus meningkatkan serangan baik di garis depan maupun terhadap infrastruktur strategis.

Para analis menilai bahwa serangan terhadap fasilitas industri militer dan energi akan tetap menjadi bagian penting dari strategi perang modern, karena dapat memengaruhi kemampuan tempur lawan dalam jangka panjang.

Situasi ini juga membuat stabilitas keamanan di kawasan Eropa Timur tetap menjadi perhatian dunia internasional.

Jumat, 07 Maret 2025

Rusia Jatuhkan Hukuman 19 Tahun Penjara untuk Warga Inggris yang Bertempur di Ukraina

Rusia Jatuhkan Hukuman 19 Tahun Penjara untuk Warga Inggris yang Bertempur di Ukraina
Tentara Ukraina dari brigade ke-57 mengendarai kendaraan tempur Swedia di dekat medan pertempuran di wilayah Kharkiv, Ukraina, pada 18 Juni 2024. (Foto: AP/Andrii Marienko)

JAKARTA - Rusia kembali menarik perhatian dunia dengan keputusan hukuman terhadap seorang warga negara Inggris yang ikut bertempur untuk Ukraina. 

Pada Rabu (5/3), pengadilan di Kota Kursk, Rusia, menjatuhkan hukuman 19 tahun penjara kepada James Scott Rhys Anderson, seorang pria berusia 22 tahun asal Banbury, Inggris. 

Anderson dinyatakan bersalah atas tuduhan "tindakan teroris" dan berperan sebagai tentara bayaran setelah ditangkap di wilayah perbatasan Kursk pada November lalu.

Ditangkap Saat Bertempur di Wilayah Rusia

Anderson ditangkap oleh pasukan Rusia setelah Ukraina melancarkan serangan lintas perbatasan pada Agustus 2023. 

Serangan ini menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, tentara asing berhasil menguasai sebagian wilayah Rusia. 

Anderson sendiri mengaku bergabung dengan Legiun Internasional Ukraina setelah dikeluarkan dari militer Inggris.

Saat persidangan, pengadilan militer Kursk merilis video Anderson yang dibawa ke ruang sidang dengan tangan diborgol, mengenakan jaket musim dingin yang menyerupai seragam penjara. 

Sidang yang berlangsung selama tiga hari itu diadakan secara tertutup, dan Anderson terlihat mengangguk tanpa suara ketika putusan dibacakan. 

Meski demikian, ia masih memiliki kesempatan untuk mengajukan banding atas keputusan tersebut.

Dakwaan Rusia terhadap Anderson

Rusia menuduh Anderson melakukan "aksi teroris" dalam kelompok terorganisir. Selain itu, ia juga didakwa telah memasuki Rusia secara ilegal, menyebabkan "kerusakan properti yang signifikan", serta "mengganggu" aktivitas otoritas Rusia. 

Menurut laporan media Rusia, Anderson mengaku menerima bayaran sekitar US$400 per bulan, ditambah sekitar US$60 atau sekitar Rp1 juta per hari ketika menjalankan misi tempur.

Sebagai bagian dari hukumannya, Anderson akan menjalani lima tahun pertama di penjara dengan kondisi yang lebih berat dibanding penal colony, sebelum akhirnya dipindahkan ke koloni penjara dengan pengamanan lebih ketat.

Respons Inggris: Tuduhan Palsu dan Seruan Penghormatan terhadap Konvensi Jenewa

Pemerintah Inggris melalui Kantor Urusan Luar Negeri langsung mengecam hukuman tersebut. 

Dalam pernyataannya, Inggris menyebut keputusan pengadilan Rusia sebagai "tuduhan palsu" dan menegaskan bahwa Anderson seharusnya diperlakukan sebagai tawanan perang, bukan kriminal.

“Berdasarkan hukum internasional, tawanan perang tidak dapat dituntut hanya karena berpartisipasi dalam peperangan,” ujar perwakilan kantor tersebut. 

Inggris juga menuntut agar Rusia menghormati Konvensi Jenewa dan berhenti menggunakan tawanan perang untuk tujuan politik dan propaganda.

Rusia Tegas terhadap Pejuang Asing di Ukraina

Rusia secara konsisten memperlakukan pejuang asing yang bertempur untuk Ukraina sebagai tentara bayaran, bukan sebagai tawanan perang. 

Ini bukan pertama kalinya Rusia menjatuhkan hukuman berat terhadap warga asing yang berperang di pihak Ukraina. 

Pada 2022, dua warga negara Inggris yang ditangkap di wilayah Ukraina timur yang dikuasai Rusia bahkan sempat dijatuhi hukuman mati, meskipun akhirnya dibebaskan dalam pertukaran tahanan.

Kasus Anderson menambah daftar panjang ketegangan antara Rusia dan negara-negara Barat terkait perang di Ukraina. 

Dengan hukuman berat yang dijatuhkan, Rusia menunjukkan sikap tegas terhadap individu asing yang ikut berpartisipasi dalam konflik ini. 

Sementara itu, Inggris dan sekutunya terus menyerukan keadilan bagi warganya yang terlibat dalam perang dan menuntut agar mereka mendapat perlakuan yang sesuai dengan hukum internasional.

Bagaimana kelanjutan nasib Anderson? Apakah ia akan mengajukan banding atau justru menjadi bagian dari negosiasi pertukaran tahanan di masa depan? Dunia akan terus mengamati perkembangan kasus ini dengan seksama.

Selasa, 06 Februari 2024

Moscow Menuduh Ukraina Diduga Lakukan Serangan 'Mengerikan' di Wilayah Diduduki Rusia

Video yang diambil dari video yang dirilis Kementerian Darurat Rusia, 3 Februari 2024 ini menunjukkan tim penyelamat membersihkan puing-puing, mengeluarkan jenazah korban dan mencari korban yang selamat di dalam gudang roti yang hancur akibat serangan baru-baru ini di Lysychansk
Video yang diambil dari video yang dirilis Kementerian Darurat Rusia, 3 Februari 2024 ini menunjukkan tim penyelamat membersihkan puing-puing, mengeluarkan jenazah korban dan mencari korban yang selamat di dalam gudang roti yang hancur akibat serangan baru-baru ini di Lysychansk
JAKARTA - Moscow, Senin (5/2), menuduh Ukraina telah melakukan serangan yang disebut sebagai tindakan "mengerikan" terhadap sebuah toko roti di kota yang diduduki Rusia di Ukraina Timur.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyebut serangan yang terjadi pada Sabtu (3/2) di Lysychansk sebagai "aksi teroris" yang menargetkan infrastruktur yang tidak terlibat dalam konflik. 

Rusia mengklaim bahwa serangan tersebut menyebabkan kematian 28 orang.

Lysychansk, yang sebelumnya memiliki populasi sekitar 110 ribu orang sebelum invasi Rusia, jatuh ke tangan Rusia pada musim panas 2022 dan berjarak sekitar 15 kilometer dari wilayah yang dikuasai Ukraina. 

Pihak berwenang Ukraina belum memberikan komentar terkait serangan tersebut.

Kedua belah pihak, Rusia dan Ukraina, telah saling menuduh melakukan serangan terhadap wilayah sipil. 

Ukraina juga melaporkan seringnya serangan rudal dan drone Rusia yang menargetkan kota-kota di negara itu.

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk mengganti beberapa pejabat senior, tidak hanya di kalangan militer, dengan tujuan untuk memilih orang-orang terbaik yang memimpin Ukraina.

Dalam sebuah wawancara yang disiarkan oleh televisi pemerintah Italia, RAI pada hari Minggu, Zelenskyy menyatakan bahwa "pengaturan ulang diperlukan," karena dia sedang mempertimbangkan orang-orang terbaik untuk memimpin berbagai sektor di Ukraina. 

Zelenskyy juga menyebut kemungkinan pemecatan panglima tertinggi militer, Jenderal Valerii Zaluzhnyi.

Pada bulan November sebelumnya, Zelenskyy telah menegur Zaluzhnyi karena pernyataannya kepada media Barat yang menyebutkan bahwa perang di Ukraina telah memasuki fase gesekan baru.

Sebelumnya, pada hari Minggu, Zelenskyy mengunjungi pasukan Ukraina di medan tempur di bagian tenggara.

Zelenskyy memberikan medali kepada para pilot dan juga diberi arahan terkait serangkaian serangan Rusia terhadap sasaran di wilayah Dnipropetrovsk, serta tentang cara menggunakan sistem pertahanan udara Barat dan hibrida untuk melindungi langit Ukraina.

Minggu, 04 Februari 2024

Kilang Minyak Terbesar di Rusia Selatan Diserang Drone Ukraina

Kilang minyak perusahaan Lukoil di Volgograd, Rusia, 22 April 2022. (Foto: Reuters)
Kilang minyak perusahaan Lukoil di Volgograd, Rusia, 22 April 2022. (Foto: Reuters)
JAKARTA - Dua pesawat tak berawak asal Ukraina dilaporkan menyerang fasilitas pemrosesan utama kilang minyak terbesar di Rusia selatan pada Sabtu (3/2), demikian disampaikan seorang sumber di Kyiv kepada Reuters. 

Serangan ini merupakan bagian dari rangkaian serangan jarak jauh yang telah beberapa kali menyerang fasilitas minyak Rusia.

Sebelumnya, otoritas setempat di Rusia mengklaim berhasil memadamkan api yang berkobar di kilang minyak Volgograd setelah diserang oleh drone. 

Namun, produsen minyak Lukoil selaku pemilik kilang tersebut belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.

Sumber di Kyiv menjelaskan bahwa operasi yang dilakukan oleh dinas keamanan SBU berhasil menghantam fasilitas pemrosesan utama, yang jika tidak dihancurkan akan mengakibatkan penurunan signifikan dalam kapasitas produksi kilang tersebut. 

Reuters belum bisa memverifikasi secara langsung lokasi penyerangan drone tersebut.

Kilang minyak Volgograd menjadi sasaran terbaru dalam serangkaian serangan yang menargetkan berbagai fasilitas penting di Rusia. 

Pemerintah Ukraina menganggap infrastruktur semacam itu sebagai elemen kunci dalam strategi perang melawan Kremlin.

Sumber yang tidak disebutkan namanya dalam laporan Reuters menyatakan bahwa serangan-serangan semacam ini kemungkinan akan terus dilakukan.

"Dengan menyerang kilang minyak yang digunakan oleh kompleks industri militer Rusia, kami tidak hanya memotong rantai pasokan bahan bakar bagi peralatan musuh, tetapi juga mengurangi sumber pendanaan untuk anggaran militer Rusia," ujar sumber tersebut.

Jarak antara kota Kharkiv di Ukraina timur laut, dekat perbatasan dengan Rusia, dan kota Volgograd di Rusia selatan lebih dari 600 kilometer.

Jumat, 26 Januari 2024

PBB Kecam Insiden Pesawat Militer Rusia di Perbatasan Rusia-Ukraina

Fragmen jet militer Sukhoi Su-34 terlihat di lokasi kecelakaan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat pada Kamis (25/1) setelah sebuah pesawat transpor militer Rusia jatuh di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.(Foto: AFP)
Fragmen jet militer Sukhoi Su-34 terlihat di lokasi kecelakaan. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan mengadakan pertemuan darurat pada Kamis (25/1) setelah sebuah pesawat transpor militer Rusia jatuh di dekat perbatasan Rusia-Ukraina.(Foto: AFP)
JAKARTA - Dewan Keamanan PBB menggelar pertemuan darurat pada Kamis (25/1) menyusul kejadian dramatis jatuhnya pesawat transpor militer Rusia di dekat perbatasan Rusia-Ukraina. Kecelakaan tersebut memicu tuntutan akan penyelidikan menyeluruh dari kedua negara terlibat.

"Pesawat itu membawa 74 orang, 65 di antaranya adalah orang Ukraina yang menjadi tawanan perang yang akan dipertukarkan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan.

Menanggapi tragedi ini, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menuduh Ukraina atas insiden tersebut. "Tawanan perang Ukraina diangkut ke kawasan Belgorod untuk pertukaran tahanan yang disepakati antara Moskow dan Kyiv," ujarnya kepada wartawan. "Alih-alih, pihak Ukraina malah meluncurkan rudal pertahanan udara dari kawasan Kharkiv, menargetkan pesawat dan ini merupakan serangan yang fatal."

Di sisi lain, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa pemerintahannya menyerukan penyelidikan internasional terkait kejadian tersebut. "Semua fakta harus dibuktikan," kata Zelenskyy. "Sebisa mungkin, mengingat pesawat itu jatuh di wilayah Rusia yang berada di luar kendali kami."

Zelenskyy menambahkan, "Rusia mempermainkan nyawa para tawanan perang Ukraina, perasaan kerabat mereka, dan emosi masyarakat kita."

Militer Ukraina belum memberikan tanggapan langsung terhadap klaim Rusia, namun mengonfirmasi bahwa telah terjadi insiden terkait pendaratan pesawat militer Rusia di Belgorod. Mereka juga menyatakan bahwa akan menargetkan pesawat-pesawat militer Rusia yang diduga membawa rudal untuk serangan pada masa mendatang.

Video kecelakaan yang diunggah di media sosial memperlihatkan pesawat jatuh dari angkasa dalam posisi miring sebelum meledak dan membentuk bola api raksasa saat menghantam tanah di Belgorod, wilayah di pedesaan di Rusia Barat yang bersalju.

Belgorod berbatasan dengan Kharkiv, wilayah Ukraina. Kedua pihak telah melakukan banyak pertukaran tahanan sejak Rusia menginvasi Ukraina hampir dua tahun yang lalu.

Selasa, 07 Maret 2023

Serangan Pasukan Rusia ke Bakhmut, Ukraina: Warga Terperangkap dalam Kondisi Kritis

Serangan Pasukan Rusia ke Bakhmut, Ukraina: Warga Terperangkap dalam Kondisi Kritis
Prajurit Ukraina menembakkan howitzer self-propelled 2S5 Giatsint-S ke arah pasukan Rusia di luar kota garis depan Bakhmut di wilayah Donetsk, Ukraina, di tengah serangan Rusia, 5 Maret 2023. (REUTERS/Anna Kudriavtseva)

UKRAINA - Warga di Bakhmut, Ukraina, menggambarkan kondisi mengerikan di kota mereka ketika pasukan Rusia menyerang untuk merebutnya di Ukraina timur. Sementara pasukan Ukraina dan Ukraina berjuang untuk mempertahankan kota, warga kota semakin sulit bertahan hidup. Koresponden VOA Veronica Balderas Iglesias melaporkan tentang berbagai tantangan seiring dengan upaya diplomatik Ukraina untuk memperoleh dukungan internasional.

Pada hari Minggu (5/3), saat pertempuran semakin intensif di pinggiran Bakhmut, berbagai laporan muncul bahwa tentara Ukraina berusaha membantu warga sipil untuk melarikan diri. Menurut Natalia Ishkova, seorang penduduk lokal, kehidupan warga sangat terganggu oleh gerak maju tentara Rusia dan pasukan tentara bayaran yang dikenal sebagai Grup Wagner. “Ada masalah dengan makanan. Bantuan kemanusiaan hanya diberikan kepada kami sebulan sekali. Tidak ada listrik, tidak ada air, tidak ada gas,” jelasnya.

Serangan Pasukan Rusia ke Bakhmut, Ukraina: Warga Terperangkap dalam Kondisi Kritis
Penduduk setempat berlindung di tempat penampungan bawah tanah di desa Chasiv Yar, dekat kota Bakhmut di wilayah Donbas, di tengah invasi Rusia ke Ukraina, 5 Maret 2023. (Aris Messinis/AFP)

Pasukan Ukraina berkomitmen untuk memukul mundur pasukan Rusia, kata seorang komandan bernama “Kurt”. “Mereka (pasukan Rusia) berharap untuk merebut kota (Bakhmut) tanpa kerugian besar, tetapi mereka telah kehilangan begitu banyak orang,” ujarnya.

Menteri Pertahanan AS, Lloyd Austin, pada hari Senin (6/3) mengatakan bahwa menurutnya jika Bakhmut jatuh ke tangan pasukan Rusia, hal tersebut tidak akan menjadi "kemunduran operasional atau strategis" bagi Ukraina.

Pada hari Sabtu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia, Igor Konashenkov, mengatakan pasukan Moskow telah menghancurkan beberapa kendaraan infanteri Ukraina dan menewaskan banyak tentara di wilayah Donetsk. “Selama operasi aktif yang sedang berlangsung dari unit kelompok pasukan selatan, serangan udara dan tembakan artileri, hingga 490 prajurit Ukraina tewas dan terluka setiap hari,” ungkapnya.

Kementerian pertahanan Rusia juga merilis gambar Menteri Pertahanan Sergei Shoigu yang sedang memeriksa pos komando di wilayah Donetsk, Ukraina timur, wilayah di mana kota Bakhmut berada.

Pada akhir pekan, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy bertemu dengan Presiden Parlemen Eropa Roberta Metsola dan menguraikan tujuannya. “Tugasnya adalah mempersiapkan segala sesuatunya seaktif mungkin untuk keanggotaan negara kita di Uni Eropa, meningkatkan pasokan senjata ke Ukraina, dan memperkuat sanksi terhadap Rusia,” jelasnya.

Roberta Metsola menyerukan pembentukan pengadilan khusus untuk menyelidiki kejahatan perang. “Kami akan bertemu dengan personel PBB. Kami perlu memastikan bahwa kami memiliki mekanisme, pertama-tama, untuk mengumpulkan bukti, lalu menuntut mereka,” pungkasnya.

Oleh: VOA Indonesia/Editor: Yakop

Senin, 06 Maret 2023

Perang Ukraina-Rusia: Pasukan Rusia Mengandalkan Senjata Lawas dalam Pertempuran Brutal di Bakhmut

Perang Ukraina-Rusia: Pasukan Rusia Mengandalkan Senjata Lawas dalam Pertempuran Brutal di Bakhmut
Anggota pasukan Ukraina masih bertahan di Bakhmut di tengah pengepungan oleh Rusia, 4 Maret 2023.

UKRAINA - Kementerian Pertahanan Inggris hari Minggu (5/3) mengatakan sebagian besar invasi yang dilakukan Rusia di bagian timur Ukraina setahun terakhir ini telah bergulir menjadi pertempuran infanteri karena sebagian besar pasukan Rusia tidak memiliki amunisi artileri yang cukup.

Dalam kajian terbarunya, Inggris mengatakan, “Bukti terbaru menunjukkan meningkatnya pertempuran jarak dekat di Ukraina. Ini mungkin akibat komando dari Rusia yang bersikeras melakukan tindakan ofensif tetapi menurunkan serangan infanteri.”

Rusia Menggunakan Senjata Sekop Tua dalam Mobilisasi Pasukan Cadangan ke Ukraina, Inggris Mengomentari Teknologi Rendah Perang

Kementerian itu mengatakan akhir bulan lalu Rusia memobilisasi pasukan cadangan yang “diperintahkan untuk menyerang satu titik di Ukraina dengan hanya bersenjatakan senjata api dan sekop. “Sekop” kemungkinan adalah alat pertahanan yang digunakan untuk pertempuran jarak dekat.

Laporan itu menyatakan “kematian akibat alat MPL-50 edisi standar seperti sekop itu secara khusus ada dalam mitologi Rusia,” dan “hanya sedikit perubahan dibanding desain tahun 1869.”

Pejabat pertahanan Inggris mengatakan “penggunaan berkelanjutan MPL-50 sebagai senjata telah menyoroti pertempuran brutal dan teknologi rendah yang menjadi ciri sebagian besar perang. Salah satu personil pasukan cadangan itu menggambarkan kesiapannya “baik secara fisik maupun psikologis.”

Hadapi Serangan Hebat Rusia, Bahkmut Masih Terkendali

Sementara itu pasukan Ukraina yang bertahan di Bakhmut menghadapi tekanan yang kian meningkat dari Rusia akhir pekan ini, sehingga banyak warga sipil melarikan diri dari kota yang terkepung itu. Seorang personil tentara Ukraina mengatakan kepada Associated Press bahwa sebenarnya saat ini terlalu berbahaya untuk meninggalkan Bakhmut. Tentara Ukraina mendirikan jembatan sehingga warga sipil dapat mencapai desa terdekat, Khromove.

Seorang tentara lain yang membantu warga mengatakan seorang perempuan tewas dan dua laki-laki luka parah ketika mencoba melarikan diri melalui jembatan darurat itu.

Menurut pejabat-pejabat intelijen militer Inggris dan analis Barat lainnya, pasukan Ukraina telah menghancurkan dua jembatan utama di luar kota, termasuk satu jembatan ke arah Chasiv Yar, memotong rute pasokan terakhir yang tersisa. Penghancuran jembatan itu mungkin merupakan isyarat bahwa pasukan Ukraina bersiap meninggalkan wilayah itu.

Ini Dia! Taktik Terobosan Pasukan Ukraina: Menghancurkan Jembatan untuk Menghindar dari Kejaran Pasukan Rusia

Institute for the Study of War mengatakan dengan menghancurkan jembatan ke arah Chasiv Yar itu, pasukan Ukraina dapat “melakukan penarikan pasukan secara terbatas dan terkendali dari bagian yang sangat sulit di timur Bakhmut itu,” sambil mempersulit pasukan Rusia mengejar mereka.

Jika tentara Rusia berhasil merebut Bahkmut, itu akan menjadi kemenangan langka di medan perang setelah kemunduran Rusia selama beberapa bulan terakhir. Keberhasilan ini akan memungkinkan Rusia untuk memotong jalur pasokan Ukraina dan menekan kubu Ukraina lain di wilayah Donetsk.

Pasukan Ukraina Berhasil Menahan Serangan Rusia, Kota Bakhmut Masih Dikuasai

Menurut Wakil Panglima Garda Nasional Ukraina, Volodymyr Nazarenko, pihaknya masih mengendalikan kota itu meskipun ada serangan intensif dan berkelanjutan dari pasukan Rusia. "Setiap jam di Bakhmut ini seperti di neraka. Musuh berhasil masuk di bagian utara dan barat daya Bakhmut pekan lalu, tetapi pasukan Ukraina melawan. Berkat upaya dan kerja keras, dalam beberapa hari terakhir ini, kami berhasil menguasai kembali garis depan," ujarnya.

Hal senada disampaikan Wakil Walikota Bakhmut, Oleksandr Marchenko, kepada BBC, "berkat pasukan bersenjata Ukraina, Rusia masih belum dapat menguasai kota ini."

Marchenko menambahkan bahwa sekitar 4.000 warga sipil masih tinggal di kota yang sebelumnya memiliki 70.000 penduduk. Mereka tinggal di tempat penampungan tanpa gas, listrik, atau air bersih. [em/jm]

Joe Biden Tekan Pemimpin Negara Baltik untuk Lawan Rusia, Konflik Ukraina Dipengaruhi?

Joe Biden Tekan Pemimpin Negara Baltik untuk Lawan Rusia, Konflik Ukraina Dipengaruhi?
Presiden AS Joe Biden berjalan meninggalkan Gedung Putih selepas berbicara dengan para wartawan di Washington, pada 24 Februari 2023. (Foto: Reuters/Evelyn Hockstein)

JAKARTA - Dalam laporan dari The Wall Street Journal, disebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Joe Biden memberikan tekanan kepada pemimpin negara-negara Baltik selama kunjungannya ke Warsawa.

Hal itu karena sering mengeluarkan seruan untuk mengalahkan Rusia serta terlihat mengedepankan sikap rasis terhadap orang Rusia.

Tindakan dari negara-negara tersebut dapat memiliki dampak negatif pada upaya menyelesaikan konflik di Ukraina secara diplomatis. 

Beberapa anggota NATO dari Eropa Timur khawatir bahwa Ukraina akan terbujuk untuk melakukan negosiasi daripada melanjutkan konflik.

Sebelumnya, mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji untuk menyelesaikan konflik Ukraina dalam waktu satu hari jika ia terpilih sebagai kepala negara. 

Namun, ia tidak menjelaskan bagaimana caranya. 

Trump juga menyebut bahwa Amerika Serikat telah memberikan bantuan senilai 140 miliar dolar kepada Ukraina, sedangkan negara-negara NATO hanya memberikan sebagian kecil bantuan tersebut. 

Menurut Trump, konflik di Ukraina lebih penting bagi NATO karena lokasi konflik tersebut. 

Pada bulan Februari, Trump juga menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak perlu mengirimkan bantuan militer yang besar ke Kiev.

Editor: Yakop

Minggu, 05 Maret 2023

Konflik Ukraina Semakin Memanas: Pasukan Rusia dan Tentara Bayaran Wagner Melakukan Serangan Terakhir ke Kota Bakhmut

Konflik Ukraina Semakin Memanas: Pasukan Rusia dan Tentara Bayaran Wagner Melakukan Serangan Terakhir ke Kota Bakhmut
Tentara Ukraina memuat peluru 152 mm ke howitzer Msta-B untuk ditembakkan ke posisi pasukan Rusia yang kini mengepung kota Bakhmut (2/2).

CHASIV YAR, UKRAINA - Pasukan Rusia dan tentara bayaran Wagner menembaki dengan artileri jalur akses terakhir ke kota Bakhmut di Ukraina Timur yang sedang terkepung pada Jumat (3/3). 

Tindakan ini membuat Moskow semakin dekat meraih kemenangan pertama setelah pertempuran paling sengit Rusia selama setengah tahun.

Kepala tentara bayaran Rusia "Wagner" mengatakan bahwa hampir seluruh kota yang telah hancur akibat serangan Rusia selama lebih dari tujuh bulan telah dikelilingi oleh pasukan Rusia, dan hanya satu jalur akses yang masih terbuka untuk pasukan Ukraina. 

Reuters melaporkan bahwa penembakan Rusia terhadap jalur akses menuju barat dari Bakhmut semakin intens, dalam upaya untuk memblokir akses pasukan Ukraina masuk dan keluar kota. 

Jembatan di kota terdekat Khromove juga rusak akibat tembakan tank Rusia.

Konflik Ukraina Semakin Memanas: Pasukan Rusia dan Tentara Bayaran Wagner Melakukan Serangan Terakhir ke Kota Bakhmut
Gambar yang diambil dari video yang dirilis 2 Maret 2023 menunjukkan apa yang dikatakan sebagai pejuang Grup Wagner, tentara bayaran Rusia, berdiri dengan bendera di atas sebuah gedung di kota Bakhmut, Ukraina.

Tentara Ukraina sedang bekerja untuk memperbaiki jalan yang rusak dan menambah pasukan di garis depan, menunjukkan bahwa mereka belum siap menyerahkan kota tersebut. 

Di sebelah barat, Ukraina juga sedang menggali parit baru untuk posisi bertahan.

Kantor berita RIA Rusia merilis sebuah video yang menunjukkan pejuang Wagner yang berjalan di sekitar fasilitas industri yang rusak. 

Salah satu pejuang mengatakan bahwa tentara Ukraina sedang menghancurkan infrastruktur di permukiman dekat Bakhmut untuk mencegah pengepungan Rusia.

Komandan pasukan darat Ukraina, Oleksandr Syrskyi, mengunjungi Bakhmut pada hari Jumat untuk memberikan arahan dengan komandan setempat tentang cara meningkatkan kapasitas pertahanan pasukan di garis depan.

Konflik Ukraina, Kemenangan Rusia di Bakhmut

Kemenangan Rusia di Bakhmut, yang memiliki populasi sekitar 70.000 sebelum Konflik Ukraina, akan memberikan hadiah besar pertama dari serangan musim dingin yang mahal setelah Rusia memanggil ratusan ribu pasukan cadangan tahun lalu. 

Rusia mengatakan ini akan menjadi batu loncatan untuk merebut kawasan industri Donbas di sekitarnya, tujuan perang yang penting bagi Moskow.

Sebelum Konflik Ukraina, Bakhmut terkenal dengan tambang garam dan gipsum. 

Meskipun Ukraina mengatakan kota itu memiliki nilai strategis yang kecil, kehilangan pasukan di sana dapat mempengaruhi jalannya konflik.

Dia juga mendesak Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk memerintahkan pasukan Ukraina mundur dari Bakhmut untuk menyelamatkan nyawa tentara mereka. [pp/ft]

Oleh: VOA Indonesia/Editor; Yakop

Senin, 23 Januari 2023

Peran Melawan Rusia, Prancis dan Jerman berjanji terus dukung Ukraina

Peran Melawan Rusia, Prancis dan Jerman berjanji terus dukung Ukraina
Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz.
Berlin - Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Olaf Scholz pada Senin berjanji untuk terus mendukung Ukraina dalam perangnya melawan Rusia.

“Kami bertekad untuk terus membantu Ukraina sejauh dan selama diperlukan. Kami akan berada di sana sebagai orang Eropa ketika Ukraina membutuhkan kami," kata Macron pada konferensi pers bersama dengan Scholz di Paris.

Pemimpin Prancis tersebut tidak mengesampingkan kemungkinan mengirim tank Leclerc untuk Ukraina, akan tetapi menekankan bahwa setiap keputusan harus dikoordinasikan dengan negara-negara Barat sekutu Prancis.

‘Mengenai Leclerc, saya minta menteri pertahanan untuk mengusahakannya, tetapi tidak ada yang dikesampingkan," ucap Macron.

Macron menambahkan bahwa pengiriman tank tidak boleh memperburuk situasi, harus diperhitungkan waktu yang dibutuhkan untuk melatih Ukraina agar efektif, dan tidak boleh membahayakan keamanan Prancis sendiri.

Sementara itu, Scholz mengulang pernyataan Macron bahwa kedua negara akan terus memberikan dukungan kepada Ukraina, “selama diperlukan.”

“Kedua negara telah melakukan banyak hal untuk mendukung Ukraina, baik secara keuangan maupun kemanusiaan, serta persenjataan. Kami khawatir perang akan berlangsung lama dan sangat penting bagi Ukraina untuk mengetahui bahwa kami tidak akan mengurangi dukungan,” ungkap Scholz.

Dalam pernyataan bersama usai pertemuan menteri Prancis dan Jerman itu, kedua negara mengutuk serangan Rusia terhadap Ukraina. 

Prancis dan Jerman juga berjanji "melanjutkan dukungan kuat untuk Ukraina di semua bidang yang kami bisa, terutama di bidang politik, militer, ekonomi, keuangan, kemanusiaan, sosial, budaya."

KTT Prancis-Jerman secara mendalam membahas dukungan militer untuk Ukraina, selain topik ekonomi, energi, keamanan, dan pertahanan.

Pertemuan tersebut awalnya direncanakan dilaksanakan pada Oktober tetapi kemudian dibatalkan atas perbedaan pandangan soal pertahanan dan energi.

Macron dan Scholz, bersama sejumlah menteri dan anggota parlemen kedua negara, berkumpul di Paris untuk menghadiri berbagai perayaan dan sejumlah pertemuan selama satu hari dalam rangka memperingati 60 tahun perjanjian persahabatan Elysee.

Oleh : Yoanita Hastryka Djohan/Antara
Editor : Yakop

Selasa, 19 April 2022

Lima senjata mematikan yang dituduh digunakan Rusia di Ukraina

Lima senjata mematikan yang dituduh digunakan Rusia di Ukraina
Lima senjata mematikan yang dituduh digunakan Rusia di Ukraina.

Borneo Tribun, Jakarta -- Rusia telah dituduh menggunakan segala sesuatu mulai dari apa yang disebut bom vakum hingga senjata kimia saat berjuang untuk menyalip Ukraina.


Beberapa senjata terburuk yang diduga digunakan Moskow tidak pandang bulu, memicu kekhawatiran tentang dampaknya terhadap penduduk sipil dari pejabat Ukraina, barat, dan kelompok hak asasi manusia yang memantau perang.


“Ada penargetan yang disengaja terhadap penduduk sipil dan non-kombatan, yang bertentangan dengan hukum internasional,” kata John Erath, penasihat kebijakan senior untuk Pusat Pengendalian dan Nonproliferasi Senjata. “Dan itu benar-benar tidak masalah jenis senjata apa yang digunakan. Itu sangat buruk.”


Berikut adalah lima senjata terburuk yang dituduh digunakan Rusia dalam invasinya.


Munisi Tandan

Munisi tandan, yang dirancang untuk digunakan melawan beberapa target sekaligus, terdiri dari sebuah wadah yang berisi banyak submunisi kecil dan bom yang tersebar di area yang luas.


Selain ancaman yang mereka timbulkan saat diluncurkan, terkadang amunisi yang lebih kecil gagal meledak saat terjadi benturan — mengakibatkan ancaman baru bagi warga sipil yang dapat bertahan bahkan setelah konflik awal berakhir.


Konvensi Munisi Tandan, yang menjadi hukum internasional yang mengikat pada 2010, melarang penggunaan senjata tersebut. Hingga saat ini,  123 negara  telah menjadi pihak dalam perjanjian tersebut, meskipun Rusia, Ukraina, dan AS tidak termasuk di antara mereka. 


Tuduhan bahwa Rusia menggunakan munisi tandan melawan Ukraina pertama kali muncul pada hari-hari awal perang, ketika organisasi hak asasi manusia seperti  Human Rights Watch  dan  Amnesty International  melaporkan bahwa pasukan Rusia menggunakan senjata tersebut pada hari-hari perang.


Pada Rabu, 30 Maret, kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa Michelle Bachelet mengatakan ada " tuduhan yang kredibel " bahwa pasukan Rusia menggunakan munisi tandan setidaknya 24 kali, mencatat bahwa organisasi itu juga menyelidiki tuduhan bahwa mereka digunakan oleh pasukan Ukraina. 


Senjata termobarik

Senjata termobarik, sering disebut sebagai "bom vakum," terdiri dari wadah bahan bakar dengan dua bahan peledak terpisah, menurut  Pusat Pengendalian Senjata dan Non-Proliferasi .


Ketika senjata dijatuhkan atau diluncurkan, muatan pertama meledak untuk membubarkan partikel bahan bakar, dan kemudian muatan kedua menyalakan bahan bakar dan oksigen yang tersebar, menciptakan gelombang kedua tekanan dan panas ekstrem yang dapat menciptakan vakum parsial di ruang terbatas. 


Ada lebih dari satu jenis senjata termobarik, kata Erath. Dia mencatat bahwa Rusia menggunakan bom barel, yang biasanya dijatuhkan dari pesawat atau helikopter.


Duta Besar Ukraina untuk AS Oksana Markarova mengatakan kepada wartawan pada 28 Februari bahwa Rusia telah menggunakan bom vakum sebelumnya hari itu. 


Pada 9 Maret, Kementerian Pertahanan Inggris  mentweet  bahwa Rusia telah mengkonfirmasi penggunaan sistem TOS-1A, peluncur roket yang dapat menembakkan roket dengan hulu ledak termobarik. 


Senjata kimia

AS dan sekutunya telah menyatakan ketakutan bahwa Rusia dapat mengerahkan senjata kimia terhadap pasukan dan warga sipil Ukraina, tetapi telah menahan diri untuk mengkonfirmasi laporan yang muncul awal pekan lalu bahwa senjata terlarang itu dikerahkan di kota Mariupol.


Michael Carpenter, Duta Besar AS untuk Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa, mengatakan pada 13 April bahwa ada “informasi yang dapat dipercaya” bahwa pasukan Rusia “mungkin telah menggunakan” campuran agen pengendali kerusuhan, seperti gas air mata, dicampur dengan bahan kimia. untuk melumpuhkan pejuang Ukraina dan warga sipil.


Namun pernyataannya ditolak oleh Departemen Luar Negeri beberapa jam kemudian, dengan juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price mengatakan bahwa Carpenter mengacu pada informasi bahwa pasukan Rusia menimbun senjata dan mampu melakukan serangan semacam itu, tetapi AS tidak dapat mengonfirmasi bahwa mereka telah melakukannya. melakukannya.


"Kami terlibat dalam percakapan langsung dengan mitra kami untuk mencoba dan menentukan apa yang sebenarnya terjadi di Mariupol," kata juru bicara Departemen Luar Negeri kepada The Hill, Senin.


Tuduhan senjata kimia dibuat pada 11 April oleh kelompok paramiliter Ukraina sayap kanan Azov Batalyon, tetapi tidak dikonfirmasi secara independen.


Matthew Kroenig, direktur Inisiatif Strategi Scowcroft Dewan Atlantik, tidak jelas agen apa yang bisa digunakan, tetapi mengatakan itu masuk ke dalam buku pedoman Rusia yang mungkin untuk menguji tingkat respons internasional.


“Mungkin apa yang kadang-kadang disebut sebagai 'salami slicing' oleh Putin, coba sedikit dan lihat apa responsnya, jika tidak ada respons besar, lakukan sedikit lagi, tidak ada respons besar, untuk sedikit lagi — mencoba untuk melihat seberapa banyak dia bisa lolos, ”katanya.


Rudal hipersonik

Rusia mengklaim  pada 19 Maret  bahwa mereka menembakkan senjata hipersonik ke fasilitas penyimpanan senjata bawah tanah di desa Deliatyn Ukraina di wilayah Ivano-Frankivsk.


Pentagon tidak dapat memverifikasi atau membantah klaim tersebut pada saat itu. Menteri Pertahanan Lloyd Austin bahkan mengatakan kepada CBS " Face the Nation " bahwa sementara rudal hipersonik akan menjadi eskalasi dalam perang, dia "tidak akan melihatnya sebagai pengubah permainan."


Namun, Komandan Eropa AS Tod Wolters mengatakan kepada komite Angkatan Bersenjata Senat pada 29 Maret bahwa Rusia telah meluncurkan "beberapa" hipersonik di Ukraina.


“Ada beberapa peluncuran. Sebagian besar dari mereka diarahkan ke sasaran militer, ”kata Wolters. 


Hipersonik dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan sekitar lima kali kecepatan suara, membuatnya sulit untuk dideteksi.


Washington telah berlomba untuk bersaing dengan Rusia dan China, yang juga berbalik arah dengan uji coba senjata hipersonik akhir tahun lalu.


Sekitar waktu yang sama Rusia mengklaim meluncurkan hipersoniknya di Ukraina bulan lalu, AS juga berhasil menguji rudal hipersonik, tetapi tetap diam untuk menghindari meningkatnya ketegangan dengan Rusia.


Flechette

The Washington Post  melaporkan  pada hari Senin bahwa Rusia mungkin telah menggunakan proyektil kecil yang disebut fléchettes dalam sebuah insiden pada akhir Maret.


Proyektil 3 sentimeter, yang digunakan dalam Perang Dunia 1 dan di Vietnam, kemungkinan berasal dari amunisi Rusia yang dapat membawa proyektil.


Senjata itu kontroversial karena sifatnya yang tidak pandang bulu, tetapi tidak secara eksplisit dilarang oleh konvensi internasional.


(YK/ER)

Zelensky mengatakan Rusia telah memulai 'pertempuran untuk Donbas'

Dalam gambar dari video yang disediakan oleh Kantor Pers Kepresidenan Ukraina, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy berbicara selama pertemuan dengan Perdana Menteri Slovenia Janez Jansa, Perdana Menteri Republik Ceko Petr Fiala, Perdana Menteri Polandia Mateusz Morawiecki dan Wakil Perdana Menteri Polandia Jaroslaw Kaczynski atas nama Dewan Eropa, di Kyiv, Ukraina, pada hari Selasa, 15 Maret 2022. Di sebelah kanan adalah Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal. (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina via AP)


Borneo Tribun, Jakarta -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan pada hari Senin bahwa Rusia telah memulai pertempurannya untuk Donbas, setelah berkumpul kembali menjelang serangan yang diharapkan di wilayah timur negara itu.


“Sekarang dapat dinyatakan bahwa pasukan Rusia telah memulai pertempuran untuk Donbas, yang telah mereka persiapkan sejak lama,” kata Zelensky dalam sebuah pidato . “Sebagian besar dari seluruh tentara Rusia sekarang fokus pada serangan ini.”


“Tidak peduli berapa banyak tentara Rusia yang didorong ke sana, kami akan bertarung. Kami akan membela diri kami sendiri,” tambah presiden, seraya mengatakan dia berterima kasih kepada semua pejuang Ukraina, terutama di daerah-daerah yang terkena dampak parah seperti Donbas dan Mariupol. 


Juga pada hari Senin, Kementerian Pertahanan Ukraina mentweet bahwa "tentara genosida Moskow memusatkan pasukannya di Ukraina timur." 


“Serangan roket, pemboman, dan penembakan artileri tersebar luas,” katanya. "Mariupol sedang dihancurkan oleh bom udara multiton."


“Prajurit kami memukul dan akan terus mengalahkan musuh,” tambah kementerian itu.


Ukraina telah mempersiapkan kemungkinan serangan di wilayah timurnya sejak pasukan Rusia mengalihkan fokus mereka dari ibu kota Kyiv awal bulan ini.


Setelah pembicaraan damai, jumlah pasukan Rusia di kota Kyiv dan Chernihiv berkurang, sebuah langkah yang diklaim oleh AS dan Ukraina sebagai upaya untuk memfokuskan kembali wilayah Donbas. 


“Kami sebenarnya tidak melihat penarikan pasukan Rusia. Apa yang kami lihat adalah bahwa mereka memposisikan ulang mereka dan bahwa mereka merencanakan serangan yang lebih luas di wilayah Donbas,” kata Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg   saat itu .


Sekitar waktu itu, sekretaris pers Pentagon  John Kirby  mengatakan  bahwa Rusia “berusaha untuk memasok dan memperkuat upaya mereka di Donbas.”


“Tampaknya itu campuran personel yang membawa kendaraan serta kendaraan lapis baja dan mungkin beberapa artileri, mungkin beberapa kemampuan yang memungkinkan,” kata Kirby.


Sejak 2014, pasukan Ukraina telah berperang dengan separatis yang didukung Rusia di wilayah Donbas. 


(YK/ER)

Zelensky memberikan kuesioner lengkap kepada UE di Kiev

Zelensky memberikan kuesioner lengkap kepada UE di Kiev
Presiden Ukraina Vladimir Zelensky. (Kantor Pers Kepresidenan Ukraina melalui AP)


Borneo Tribun, Jakarta -- Presiden Ukraina Vladimir Zelensky memberikan kuesioner lengkap kepada kepala delegasi Uni Eropa di Kiev, yang merupakan langkah Ukraina untuk mendapatkan status calon anggota Uni Eropa, kata kantor kepresidenan Ukraina, Senin.


"Presiden Vladimir Zelensky menyerahkan kepada Kepala Delegasi Uni Eropa untuk Ukraina Matti Maasikas sebuah kuesioner yang telah diisi untuk negara kami untuk mendapatkan status calon anggota Uni Eropa," menurut sebuah pernyataan di situs web kepresidenan Ukraina.


"Rakyat Ukraina telah dipersatukan oleh tujuan ini untuk merasa menyatu dengan Eropa, bagian dari Eropa, bagian dari Uni Eropa," kata Zelensky.


Dia berterima kasih kepada Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan Josep Borrell dan Maasikas atas kerja cepat mereka dalam menyediakan kuesioner. 


"Ini adalah sinyal penting. Kami percaya bahwa kami akan menerima dukungan dan menjadi kandidat untuk masuk," kata Zelensky.


"Setelah itu, tahap berikutnya dan terakhir akan dimulai. Kami percaya bahwa prosedur ini akan berlangsung dalam beberapa minggu mendatang dan itu akan positif bagi sejarah rakyat kami."


Perdana Menteri Ukraina Denis Shmygal mengatakan bahwa pemerintah Ukraina, bersama dengan kantor presiden, segera menyiapkan jawaban atas pertanyaan kuesioner Uni Eropa dan sekarang "pekerjaan sedang dilakukan untuk mengintegrasikan Ukraina ke dalam Uni Eropa."


"Kami sudah terintegrasi ke dalam jaringan listrik Uni Eropa," katanya. "Sekarang kami terus bekerja dengan Komisi Eropa tentang integrasi dan jaringan umum roaming gratis, ruang pembayaran gratis."


Maasikas mengatakan dia juga "merasa menjadi bagian dari tim yang bekerja untuk menjadikan Ukraina status kandidat untuk keanggotaan UE," kata kantor presiden Ukraina. Menurut diplomat itu, jawaban Ukraina dalam kuesioner akan dianalisis dengan sangat cepat.


Tawaran Ukraina untuk bergabung dengan UE

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pada 8 April memberi Presiden Ukraina Vladimir Zelensky, selama konferensi pers di Ukraina, kuesioner yang, ketika selesai, akan memungkinkan Dewan Eropa untuk mulai memperdebatkan masalah apakah akan memulai pembicaraan tentang aksesi Ukraina ke blok tersebut. Dia berjanji untuk membantu menyelesaikannya dalam beberapa minggu, bukan tahun.


Rekomendasi Komisi Eropa kepada Dewan Eropa untuk meluncurkan negosiasi tentang penerimaan ke blok tersebut akan menjadi langkah resmi pertama menuju aksesi.


Selanjutnya, negara tersebut harus setuju dengan negosiator Eropa tentang serangkaian kondisi atau "bab negosiasi" yang harus dipenuhinya.


Proses negosiasi dapat memakan waktu mulai dari beberapa tahun hingga jangka waktu yang tidak terbatas. Finlandia adalah yang tercepat untuk menempuh jalan itu, memakan waktu 3 tahun, sementara Turki adalah yang paling lambat setelah memulai pembicaraan pada tahun 2005 dan masih belum memiliki prospek pasti untuk menyelesaikannya.


Sebelumnya, Zelensky, dalam pidatonya di Dewan Eropa, mengatakan bahwa Uni Eropa seharusnya tidak menunda keputusan untuk mengakui Ukraina ke dalam Uni Eropa. Sebelumnya, ia menegaskan bahwa Komisi Eropa akan memutuskan masalah pemberian keanggotaan Ukraina di Uni Eropa dalam beberapa bulan.


Pada akhir Februari, presiden Ukraina meminta UE untuk segera memberikan keanggotaan negara itu. Pada 1 Maret, kepala staf presiden Ukraina, Andrey Yermak, mengumumkan bahwa aplikasi untuk aksesi dipercepat negara itu ke UE telah diterima, terdaftar, dan sedang dipertimbangkan.


Para pemimpin Uni Eropa pada pertemuan puncak di Versailles pada bulan Maret tidak memberikan status calon kepada Ukraina untuk bergabung dengan blok tersebut, tetapi menyatakan dukungan penuh untuk aspirasi Kiev.


Presiden Prancis Emmanuel Macron kemudian mengatakan bahwa dia berpikir bahwa sementara Ukraina dalam keadaan perang, ini bukan saat yang tepat untuk memulai prosedur aksesi, tetapi tidak adil untuk menutup pintu di depan negara itu.


Menurut Kanselir Austria Karl Nehammer, diskusi serius tentang kemungkinan masuknya Ukraina ke dalam Uni Eropa dapat dimulai setelah pemulihan negara itu.


(YK/ER)

Senin, 18 April 2022

Juru bicara Kremlin mengatakan Rusia akan menghadapi kebuntuan dengan Barat

Juru bicara Kremlin mengatakan Rusia akan menghadapi kebuntuan dengan Barat
Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov. Foto: Sergei Bobylev/TASS


Borneo Tribun, Jakarta -- Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa dalam kondisi modern, satu negara tidak akan mampu mempertahankan dominasinya


Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan dia yakin Rusia akan menanggung konfrontasi saat ini dengan Barat.


"Kita bisa," katanya di televisi Rossiya-1 pada hari Minggu (17/4) kemarin, ketika ditanya oleh tuan rumah apakah Rusia, tidak seperti Uni Soviet, dapat bertahan dari kebuntuan dengan Barat.


Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan bahwa dalam kondisi modern, satu negara tidak akan mampu mempertahankan dominasinya.


Menurut presiden, dunia unipolar, yang terbentuk setelah runtuhnya Uni Soviet, saat ini sedang hancur berkeping-keping.


(YK/ER)

Pasukan Khusus Rusia Bebaskan Sandera dari Masjid di Mariupol

Pasukan Khusus Rusia Bebaskan Sandera dari Masjid di Mariupol
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov.


Borneo Tribun, Moskow -- Juru Bicara Kementerian Pertahanan Rusia Mayor Jenderal Igor Konashenkov pada hari Minggu (17/4) kemarin mengatakan pasukan khusus Rusia membebaskan sandera yang ditahan di sebuah masjid Turki di Mariupol.


"Operasi khusus untuk membebaskan sandera, yang ditahan di masjid Turki oleh Nazi Ukraina, dilakukan pada 16 April selama aksi ofensif untuk membebaskan Mariupol dan atas permintaan presiden Turki Recep Tayyip Erdogan," kata Jenderal Igor Konashenkov dikutip Tass.com.


Jenderal Igor Konashenkov mengungkapkan bahwa berkat tindakan tanpa pamrih oleh tim pasukan khusus Rusia, masjid itu tidak diblokir dan 29 gerilyawan, termasuk tentara bayaran asing, tewas. 


"Para sandera yang merupakan warga salah satu negara CIS dibebaskan dan dibawa ke lokasi yang aman," katanya.


(YK/ER)

Sabtu, 16 April 2022

Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina

Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina
Rusia mengirim surat resmi yang memperingatkan AS untuk berhenti mempersenjatai Ukraina.


BorneoTribun, Moskow -- Rusia telah mengirim surat resmi kepada AS yang memperingatkan bahwa pengiriman senjata sensitif dari Amerika Serikat dan NATO memperburuk ketegangan di Ukraina dan dapat menyebabkan "konsekuensi yang tidak dapat diprediksi," lapor The Washington Post .


Surat itu, yang dilihat oleh He Post, menambahkan bahwa AS telah melanggar aturan yang mengatur transfer senjata ke zona konflik.


Menurut surat tertanggal Selasa, Rusia menuduh NATO menghalangi negosiasi perdamaian awal dengan Ukraina "untuk melanjutkan pertumpahan darah."


Departemen Luar Negeri menolak untuk mengkonfirmasi korespondensi diplomatik pribadi. 


Namun, seorang juru bicara menambahkan bahwa itu dapat mengkonfirmasi bahwa bersama dengan sekutu dan mitra, “kami menyediakan Ukraina dengan bantuan keamanan senilai miliaran dolar, yang mitra Ukraina kami gunakan untuk efek luar biasa untuk mempertahankan negara mereka dari agresi tak beralasan dan tindakan mengerikan Rusia. dari kekerasan.” 


Berita tentang surat diplomatik itu muncul ketika Presiden  Biden  mengumumkan tambahan bantuan militer senilai $800 juta ke Ukraina minggu ini, yang untuk pertama kalinya termasuk amunisi canggih yang diminta oleh negara yang dilanda perang itu.


“Militer Ukraina telah menggunakan senjata yang kami sediakan untuk efek yang menghancurkan. Saat Rusia bersiap untuk mengintensifkan serangannya di wilayah Donbas, Amerika Serikat akan terus memberi Ukraina kemampuan untuk mempertahankan diri,”  kata Biden  .


Putaran terbaru bantuan keamanan AS mencakup campuran senjata dan pasokan lain yang telah diberikan Washington kepada Kyiv, serta kemampuan baru yang sebelumnya belum pernah dikirim. 


Menurut Pentagon, paket bantuan termasuk 11 helikopter Mi-17, 300 drone Switchblade, 200 pengangkut personel lapis baja M113, 18 howitzer dan 40.000 peluru artileri, 10 radar kontra-artileri, 500 rudal Javelin, kapal pertahanan pantai tak berawak dan peralatan pelindung di peristiwa serangan senjata kimia atau biologi.


Presiden juga telah memberlakukan serangkaian sanksi terhadap Rusia sebagai tanggapan atas invasi tersebut.


Rusia telah menarik pasukan dari sekitar ibukota Ukraina setelah berminggu-minggu mencoba untuk menangkap Kyiv tidak berhasil dan diperkirakan akan memfokuskan serangan di selatan dan timur, termasuk wilayah Donbas.


(YK/ER)

Zelensky mengatakan dunia harus mempersiapkan Rusia untuk menggunakan Senjata Nuklir

Zelensky mengatakan dunia harus mempersiapkan Rusia untuk menggunakan Senjata Nuklir
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.


BorneoTribun Jakarta -- Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky  pada hari Jumat memperingatkan bahwa dunia harus menanggapi dengan serius dan mempersiapkan kemungkinan bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir dalam serangannya ke Ukraina. 


"Bukan hanya saya - saya pikir seluruh dunia, semua negara, harus khawatir, karena itu mungkin bukan informasi yang nyata, tetapi itu bisa menjadi kebenaran," kata Zelensky  kepada Jake Tapper dari CNN  ketika ditanya apakah dia khawatir dengan Presiden Rusia Vladimir . Putin mungkin menggunakan senjata nuklir taktis di Ukraina. 


Zelensky juga mengatakan Moskow dapat dengan mudah menggunakan senjata nuklir atau kimia, karena Putin tidak menghargai nyawa warga Ukraina.  


“Mereka bisa melakukannya, bagi mereka kehidupan orang-orang [tidak berarti] apa-apa,” kata Zelensky. “Kita harus berpikir, jangan takut, bersiaplah. Tapi itu bukan pertanyaan … hanya untuk Ukraina tetapi untuk seluruh dunia, saya pikir begitu.” 


Pesan Zelensky adalah perubahan mencolok dari  komentar yang dia buat bulan lalu , ketika dia mengatakan ancaman Putin  untuk menggunakan kekuatan nuklir jika Barat terlibat dalam perang adalah “gertakan.”  


Pada saat itu,  Putin baru-baru ini memerintahkan  agar pasukan nuklirnya disiagakan lebih tinggi setelah Zelensky berulang kali meminta NATO untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Ukraina. 


“Saya pikir ancaman perang nuklir adalah gertakan. Menjadi seorang pembunuh adalah satu hal. Lain halnya dengan bunuh diri. Setiap penggunaan senjata nuklir berarti akhir bagi semua pihak, tidak hanya bagi orang yang menggunakannya,” kata Zelensky pada awal Maret.  


Komentar baru Zelensky juga mengikuti yang dibuat oleh Direktur CIA  William Burns  pada hari Kamis, ketika dia mengatakan bahwa AS tidak dapat "menganggap enteng" kesempatan bahwa Rusia dapat menggunakan senjata nuklir karena semakin putus asa dalam invasinya, sekarang di hari ke-51. 


“Mengingat potensi keputusasaan Presiden  Putin  dan kepemimpinan Rusia, mengingat kemunduran yang mereka hadapi sejauh ini secara militer, tidak ada dari kita yang dapat menganggap enteng ancaman yang ditimbulkan oleh potensi penggunaan senjata nuklir taktis atau senjata nuklir hasil rendah,” Burns mengatakan Kamis setelah pidato di Georgia Tech.   


Dunia sekarang menyaksikan dan menunggu ketika pasukan Kremlin — yang mundur dari sebagian besar Ukraina utara setelah gagal merebut ibu kota Kyiv — berkumpul kembali untuk serangan baru di wilayah Donbas di timur. 


(YK/ER)

Pentagon mendukung klaim Ukraina mengenai kapal perang Rusia dengan dua rudal

Pentagon mendukung klaim Ukraina mengenai kapal perang Rusia dengan dua rudal
Pentagon mendukung klaim Ukraina mengenai kapal perang Rusia dengan dua rudal.


BorneoTribun, New York -- Pasukan Ukraina menghantam kapal perang Rusia Moskva dengan dua rudal Neptunus, menyebabkannya terbakar dan tenggelam di Laut Hitam, kata Pentagon dikutip The Hill Friday.  


“Kami dapat memastikan kapal Rusia Moskva dihantam oleh dua rudal Neptunus Ukraina,” kata seorang pejabat senior pertahanan.  


Pernyataan AS mendukung laporan pasukan Ukraina, yang pada hari Kamis mengklaim telah menyerang Moskow dengan rudal jelajah anti-kapal, merusak secara serius apa yang dikenal sebagai kapal utama armada Laut Hitam Rusia.  


Rusia hanya mengakui bahwa seluruh awak kapal terpaksa dievakuasi setelah kebakaran semalam menyebabkan amunisi yang disimpan kapal meledak tetapi tidak menyebutkan serangan.  


Angkatan Laut Rusia kemudian berusaha untuk menarik kapal ke pelabuhan di semenanjung Krimea untuk perbaikan, tetapi tenggelam. 


Moskva – yang dapat membawa sekitar 500 awak – menjadi terkenal pada awal invasi ketika memerintahkan pasukan Ukraina di Pulau Ular untuk menyerah, hanya untuk diberitahu “f—” sendiri. Momen itu dibagikan secara luas sebagai seruan dan tanda perlawanan Ukraina.


Tenggelamnya kapal tersebut dapat mendorong peningkatan serangan Kremlin di Ukraina. Kementerian Pertahanan Rusia memperingatkan akan meningkatkan serangan sebagai pembalasan atas serangan terhadap aset Moskow, bahkan ketika terus menyangkal kapal telah berhasil diserang.  


Pasukan Rusia juga bersiap untuk serangan baru di wilayah Donbas di Ukraina timur.  


(YK/ER)