Berita BorneoTribun: Kripto hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Kripto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kripto. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Januari 2026

Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah

Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)
Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pernah bertanya, apa yang dilakukan “ikan paus” saat pasar kripto lagi tidak ramah?
Jawabannya: bukan panik, tapi mengatur napas dan memindahkan risiko. Itulah yang baru saja dilakukan Trend Research, salah satu dana kripto besar, di tengah tekanan harga Ethereum (ETH) yang belum juga pulih.

Dalam waktu kurang dari 9 jam, Trend Research terpantau memindahkan dana jumbo senilai sekitar Rp1,7 triliun dari Binance ke platform DeFi Aave. Langkah ini langsung menarik perhatian pelaku pasar dan memicu berbagai spekulasi.

Dana Dipindah, Bukan Dijual: Sinyal Hati-Hati, Bukan Panik

Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)
Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)

Berdasarkan data on-chain, Trend Research memindahkan USDT senilai sekitar Rp1,7 triliun ke Aave. Tujuannya jelas: mengurangi risiko likuidasi, bukan untuk kabur dari pasar.

Di saat yang sama, mereka masih menggenggam 661.272 ETH, dengan harga beli rata-rata sekitar Rp48,7 juta per ETH. Masalahnya, harga ETH saat ini masih berada di bawah level tersebut, sehingga posisi mereka tercatat mengalami kerugian belum terealisasi sekitar Rp3 triliun.

Artinya, kerugian itu masih di atas kertas—belum benar-benar terjadi selama ETH belum dijual.

Psikologi Pasar: Ketika Pemain Besar Mulai Lebih Waspada

Perpindahan dana dari bursa terpusat seperti Binance ke protokol DeFi memberi sinyal penting bagi pasar. Investor besar tampaknya sedang menarik likuiditas dari bursa dan memilih platform yang memberi kontrol lebih besar atas aset mereka.

Langkah ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian terhadap:

  • Risiko likuidasi mendadak

  • Ketidakpastian pasar

  • Volatilitas harga ETH yang masih tinggi

Tak heran, di media sosial mulai ramai diskusi soal manajemen risiko, strategi lindung nilai, hingga perbandingan keamanan antara bursa terpusat dan DeFi.

Belajar dari Masa Lalu, Bersiap untuk Masa Depan

Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)
Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)

Jika menengok ke belakang, strategi seperti ini bukan hal baru. Saat crash kripto besar Mei 2021, banyak institusi memindahkan aset ke protokol DeFi untuk menghindari likuidasi paksa dan risiko sistemik bursa.

Ke depan, ada dua skenario utama:

  • Jika ETH masih bertahan di bawah Rp48 juta, tekanan pada posisi Trend Research bisa bertambah.

  • Namun jika ETH bangkit ke kisaran Rp50–52 juta, tekanan tersebut berpotensi mereda dan posisi mereka kembali aman.

Manajemen likuiditas seperti ini menunjukkan bahwa pemain institusional memilih bertahan dengan strategi, bukan bereaksi secara emosional.

Efek Domino: Akankah Investor Besar Lain Mengikuti?

Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)
Diam-Diam Pindahkan Dana Raksasa, Trend Research Geser Rp1,7 Triliun dari Binance ke Aave Saat ETH Masih Merah. (Gambar ilustrasi)

Pergerakan Trend Research bisa menjadi contoh bagi pemegang besar lainnya. Jika semakin banyak dana berpindah ke DeFi:

  • Aktivitas pinjam-meminjam di Aave dan platform serupa bisa meningkat

  • Likuiditas di bursa terpusat berpotensi menurun

  • Risiko sistemik bisa muncul jika penarikan dana terjadi serentak

Di sisi lain, kerugian besar yang masih “menggantung” juga menegaskan betapa sensitifnya harga ETH terhadap sentimen negatif, yang bisa ikut menekan altcoin lain.

Strategi Investasi: Tahan Posisi, Jangan Gegabah

Rekomendasi: HOLD (Tahan)

Langkah Trend Research bukan tanda menyerah, melainkan reposisi defensif. Mereka tidak menjual ETH, hanya mengatur ulang risiko.

Strategi yang bisa dipertimbangkan investor:

  • Tetap memegang ETH sambil memantau area dukungan di kisaran Rp48–50 juta

  • Gunakan trailing stop jika harga mulai rebound

  • Hindari penjualan panik agar kerugian tidak berubah jadi nyata

  • Diversifikasi aset untuk meredam volatilitas

Pergerakan senyap Trend Research mengingatkan kita satu hal penting:
di pasar kripto, yang bertahan bukan yang paling berani, tapi yang paling disiplin mengelola risiko.

Saat pasar masih goyah, para pemain besar memilih bertahan dengan kepala dingin. Pertanyaannya sekarang, apakah investor ritel siap belajar dari strategi mereka?

Senin, 24 Februari 2025

Bursa Bybit Kehilangan $1,5 Miliar dalam Peretasan Kripto Terbesar

Bursa Bybit Kehilangan $1,5 Miliar dalam Peretasan Kripto Terbesar
Bursa Bybit Kehilangan $1,5 Miliar dalam Peretasan Kripto Terbesar. (Gambar ilustrasi)
JAKARTA - Dunia kripto kembali diguncang oleh peretasan besar-besaran! Bursa kripto asal Dubai, Bybit, mengalami pencurian aset digital senilai $1,5 miliar, menjadikannya sebagai salah satu insiden peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto.

Bybit mengungkap kejadian ini pada Jumat (21/2), di mana para peretas berhasil mengeksploitasi celah keamanan dalam proses transaksi. Akibatnya, aset dalam jumlah besar berhasil dipindahkan ke alamat yang tidak dikenal. 

CEO sekaligus pendiri Bybit, Ben Zhou, dalam sebuah obrolan daring, menegaskan kepada para pengguna bahwa "dana Anda aman." Bybit juga mengumumkan di platform X bahwa mereka telah memulai program pengembalian dana bagi pengguna yang terkena dampak peretasan ini. 

"Bybit berkomitmen melindungi komunitas kami dan akan sepenuhnya mengganti rugi semua pengguna yang terdampak," tulis perusahaan tersebut dalam pengumuman resminya.

Salah satu aset yang paling terdampak adalah dompet luring (cold wallet) yang menyimpan Ethereum (ETH). Dalam aksi pencurian ini, sebanyak 400.000 ETH berhasil dicuri oleh peretas pada Jumat pagi. Setelah insiden ini, harga ETH turun hampir empat persen menjadi $2.641,41.

Sebagai informasi, Ethereum adalah mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan nilai pasar setelah Bitcoin. Peretasan ini pun memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pengguna kripto di seluruh dunia.

Bybit mengelola aset klien senilai $20 miliar dan memastikan bahwa dana yang hilang akan dikembalikan. Zhou menegaskan bahwa perusahaan akan menutup dana yang belum dikembalikan menggunakan kas internal atau pinjaman dari mitra mereka.

"Kami tidak akan membiarkan pengguna kami dirugikan. Bybit akan bertanggung jawab penuh terhadap insiden ini," kata Zhou.

Skala pencurian ini bahkan melampaui peretasan sebelumnya pada Ronin Network pada 2022, di mana Ethereum dan USD Coin senilai $620 juta berhasil dicuri oleh kelompok peretas yang diduga berasal dari Korea Utara, Lazarus Group.

Bybit sendiri didirikan pada 2018 dan dikenal sebagai salah satu bursa kripto yang berkembang pesat. Menurut data dari Pitchbook, Peter Thiel—seorang investor ternama dan sekutu dekat Donald Trump—merupakan salah satu pendukung awal bursa ini.

Dengan insiden ini, industri kripto kembali diingatkan akan pentingnya keamanan dalam penyimpanan aset digital. Para pengguna pun diharapkan lebih waspada dan berhati-hati dalam menjaga aset mereka dari ancaman siber yang semakin canggih.