Berita BorneoTribun: MotoGP News hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label MotoGP News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MotoGP News. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2026

Jorge Martin Optimistis Usai Libur Panjang, Siap Kejar Gelar MotoGP

Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.
Jorge Martin menilai jeda panjang MotoGP membantu pemulihan fisiknya dan meningkatkan performa Aprilia dalam persaingan gelar musim ini.

JAKARTA - Pembalap asal Spanyol, Jorge Martín, menilai jeda panjang dalam kalender MotoGP musim ini bisa menjadi keuntungan besar bagi kondisi fisiknya. Meski di sisi lain, jeda tersebut juga berpotensi mengganggu momentum kuat tim Aprilia Racing yang tampil impresif di awal musim.

Jeda satu bulan antara seri di Circuit of the Americas (COTA) dan balapan di Circuito de Jerez terjadi akibat penundaan seri MotoGP Qatar Grand Prix. Situasi ini memberi waktu bagi tim-tim besar seperti Ducati Lenovo Team untuk menyusun ulang strategi dan memperbaiki performa.

Namun bagi Martin, yang masih dalam tahap pemulihan pasca operasi musim dingin akibat cedera tahun lalu, jeda ini justru sangat dibutuhkan.

“Jeda panjang ini jelas akan membantu kondisi saya. Saya selalu merasa ketika mendorong tubuh sampai batas, lalu beristirahat, saat kembali mendorong batas itu jadi lebih jauh,” ujar Martin.

Ia mengakui saat tampil di COTA, kondisi fisiknya sudah berada di ambang batas, sehingga membutuhkan waktu istirahat agar performanya tetap stabil sepanjang musim.

Strategi Hemat Energi Berbuah Manis di COTA

Saat menjalani akhir pekan di Amerika Serikat, Martin mengaku fokus utamanya bukan hanya menang, tetapi memastikan bisa menyelesaikan balapan dengan aman.

Pendekatan itu terbukti efektif. Ia berhasil mencatat kemenangan Sprint pertamanya bersama Aprilia dengan menyalip pembalap Francesco Bagnaia pada lap terakhir, berkat strategi pemilihan ban belakang yang cerdas.

Tak berhenti di situ, pada balapan utama Grand Prix, Martin kembali tampil solid dengan finis di posisi kedua di belakang rekan setimnya, Marco Bezzecchi.

Hasil tersebut membuat Martin pulang ke Eropa hanya tertinggal empat poin dari Bezzecchi yang memimpin klasemen sementara.

Dua Gaya Berbeda, Satu Tujuan Juara Dunia

Menariknya, meski berasal dari tim yang sama, Martin dan Bezzecchi memiliki pendekatan berbeda dalam meraih poin.

Bezzecchi tampil dominan dengan memenangi tiga Grand Prix berturut-turut, meski sempat terjatuh di dua Sprint Race. Sementara itu, Martin menunjukkan konsistensi tinggi dengan selalu finis di enam balapan pertama, mengoleksi satu kemenangan Sprint dan dua podium Grand Prix.

Perbedaan gaya ini berpotensi menciptakan duel internal yang menarik sepanjang musim, terutama jika keduanya bersaing ketat dalam perebutan gelar juara dunia.

Motivasi Tambahan Usai Drama Kontrak

Musim lalu menjadi periode sulit bagi Martin, bukan hanya secara profesional tetapi juga secara personal. Ia sempat menghadapi dinamika kontrak yang cukup kompleks sebelum akhirnya memutuskan tetap bersama Aprilia untuk musim 2026.

“Tahun lalu sangat berat, baik secara profesional maupun personal. Tapi saat saya membuat keputusan, saya langsung menjalankannya 100 persen,” ungkap Martin.

Ia juga menegaskan bahwa dukungan penuh dari tim Aprilia membuatnya mampu tampil maksimal sejauh ini.

Menurutnya, jika progres performa saat ini bisa terus dijaga, peluang untuk meraih pencapaian besar di akhir musim sangat terbuka.

Pengalaman Juara Jadi Modal Mental Penting

Martin bukan sosok baru dalam menghadapi tekanan tinggi. Ia sudah membuktikan kemampuannya dengan meraih gelar juara dunia MotoGP musim 2024 bersama tim Prima Pramac Racing, meski saat itu sudah menandatangani kontrak dengan Aprilia.

Pengalaman tersebut menjadi bekal mental penting dalam menghadapi musim panjang yang penuh tantangan.

Ke depan, Martin juga diperkirakan akan bergabung dengan Yamaha Factory Racing Team pada era mesin baru 850cc yang dijadwalkan mulai tahun 2027.

Dampak Jeda Panjang: Risiko dan Peluang

Jeda panjang di tengah musim memang membawa dua sisi berbeda. Di satu sisi, tim-tim rival seperti Ducati punya waktu untuk mengejar ketertinggalan. Namun di sisi lain, pembalap yang membutuhkan pemulihan fisik seperti Martin bisa memanfaatkan waktu tersebut untuk kembali ke kondisi terbaik.

Jika kondisi fisiknya benar-benar pulih, bukan tidak mungkin performa Martin akan semakin stabil di paruh kedua musim.

Dan jika konsistensi tetap terjaga, peluang perebutan gelar dunia bisa menjadi lebih sengit dari yang diperkirakan.

FAQ

1. Mengapa jeda panjang MotoGP dianggap penting bagi Jorge Martin?
Karena ia masih dalam masa pemulihan cedera. Waktu istirahat tambahan membantu tubuhnya pulih dan meningkatkan performa fisik.

2. Apa pencapaian Jorge Martin di seri COTA?
Ia memenangkan Sprint Race dan finis kedua pada balapan Grand Prix utama.

3. Siapa pesaing terdekat Jorge Martin saat ini?
Rekan setimnya di Aprilia, Marco Bezzecchi, yang memimpin klasemen sementara.

4. Apakah Jorge Martin akan tetap di Aprilia?
Untuk musim 2026 ia tetap bersama Aprilia, namun diperkirakan pindah ke Yamaha pada era 850cc tahun 2027.

5. Apa dampak jeda panjang bagi tim lain?
Tim rival seperti Ducati mendapatkan waktu tambahan untuk memperbaiki performa dan strategi.

Minggu, 12 Oktober 2025

Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience

Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience
Pecco Bagnaia Surprised to Be Marc Marquez’s Teammate at Ducati, But Says It’s Been a Positive Experience.

Double MotoGP world champion Pecco Bagnaia admitted he was surprised that being Marc Marquez’s teammate at the Ducati factory team in 2025 turned out to be a much more positive experience than he expected.

Marc Marquez made headlines in the rider market last year when he publicly rejected an offer to join the Pramac Ducati team for the 2025 season, insisting that he wanted a full factory bike—either with Gresini or the official Ducati team.

Eventually, Ducati gave in to his demands and signed Marquez to the factory squad, forcing the team to reverse its earlier plan to promote 2024 world champion Jorge Martin.

When Marquez joined Ducati, many expected sparks to fly between him and Bagnaia. But the reality has been quite the opposite.

This season, Bagnaia has struggled to match Marquez’s performance. The six-time MotoGP world champion has been dominant and is on track to secure the 2025 title, while Bagnaia has only managed two Grand Prix victories so far—down from 11 wins last season.

In an interview with Gazzetta dello Sport, Bagnaia dismissed claims that having Marquez as a teammate had affected him psychologically.

“At first, I was a little worried,” Bagnaia said. “He used to say that he liked to mess with his teammates, but instead, it’s been the opposite. It’s actually been very positive. My experience working with him has been really enjoyable.”

Bagnaia also shared a fun moment they had together in Japan after Marquez clinched his seventh world title. “We went to a karaoke bar, drank sake, and had a good time. Marc is one of the strongest riders in history. In recent years, he’s been dominant. You can only learn from someone like him,” he added.

Meanwhile, Marquez will miss the upcoming Australian and Malaysian Grands Prix due to a right shoulder injury sustained in a first-lap crash with Marco Bezzecchi during the Indonesian round. Ducati’s test rider Michele Pirro will fill in for Marquez, though for now, only for the Australian Grand Prix.

Bagnaia seemed to make progress in Japan when he performed strongly on a bike fitted with several GP24 parts that helped him regain lost confidence. However, in Mandalika, he struggled again, dropping down the order and recording two DNFs.

“We tried many things, but for some reason, nothing clicked. It’s been a tough season, but I’m still pushing to find a solution,” Bagnaia admitted.

Although this season hasn’t gone as planned, the good relationship between Ducati’s star riders has become one of MotoGP’s most unexpected storylines. Instead of turning into bitter rivals, Bagnaia and Marquez have shown respect and teamwork both on and off the track.

Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif

Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif
Pecco Bagnaia Akui Kaget Jadi Rekan Setim Marc Marquez di Ducati, Tapi Justru Dapat Banyak Hal Positif.

JAKARTA - Pecco Bagnaia, juara dunia MotoGP dua kali, mengaku terkejut karena pengalaman menjadi rekan setim Marc Marquez di tim pabrikan Ducati pada musim 2025 ternyata jauh lebih positif dari yang ia bayangkan.

Marc Marquez sempat menjadi sorotan besar di bursa pembalap tahun lalu. Ia secara terbuka menolak tawaran bergabung dengan tim Pramac Ducati untuk musim 2025 dan menuntut agar bisa membalap dengan motor pabrikan, baik di tim Gresini atau langsung di tim utama Ducati.

Akhirnya, Ducati mengabulkan keinginan Marquez dan merekrutnya ke tim pabrikan. Keputusan ini membuat Ducati harus mengubah rencana awal mereka yang sebelumnya ingin mempromosikan Jorge Martin, juara dunia 2024, ke tim utama.

Dengan bergabungnya Marquez ke Ducati, banyak yang memprediksi akan terjadi rivalitas panas antara dirinya dan Pecco Bagnaia. Namun kenyataannya justru berbeda.

Musim ini, Bagnaia memang kesulitan menandingi performa Marquez. Sang juara dunia enam kali MotoGP itu tampil dominan dan sudah hampir memastikan gelar juara dunia 2025. Sementara Bagnaia hanya mampu meraih dua kemenangan grand prix sejauh ini, jauh menurun dibanding 11 kemenangan yang ia raih musim lalu.

Dalam wawancaranya bersama Gazzetta dello Sport, Bagnaia membantah isu bahwa kehadiran Marquez membuatnya tertekan secara mental.

“Awalnya, saya sempat khawatir,” kata Bagnaia. “Dia pernah bilang kalau dia suka mengganggu bahkan rekan setimnya sendiri. Tapi ternyata berbeda, dia justru sangat positif. Pengalamanku bersamanya sebagai rekan setim sangat menyenangkan.”

Bagnaia juga menceritakan momen santai mereka di Jepang setelah Marquez meraih gelar juara dunia ketujuhnya. “Kami pergi ke bar karaoke, minum sake, dan bersenang-senang. Marc adalah salah satu pembalap terkuat dalam sejarah. Dalam beberapa tahun terakhir, dia benar-benar mendominasi. Dari dia, kamu hanya bisa belajar banyak,” tambahnya.

Sementara itu, Marc Marquez akan absen di dua seri berikutnya, yaitu Grand Prix Australia dan Malaysia. Ia mengalami cedera bahu kanan setelah terlibat insiden di lap pertama bersama Marco Bezzecchi pada balapan di Indonesia. Ducati menunjuk pembalap tes Michele Pirro untuk menggantikan Marquez, meski sejauh ini hanya untuk seri Australia.

Bagnaia sendiri sempat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan di Jepang setelah tampil impresif dengan motor yang sudah menggunakan beberapa komponen dari GP24. Namun di Mandalika, performanya kembali menurun drastis dan gagal finis dua kali. Ia pun mengaku belum tahu apa penyebabnya.

“Kami sudah mencoba banyak hal, tapi entah kenapa semuanya terasa tidak nyambung. Ini musim yang sulit, tapi saya tetap berusaha mencari solusi,” ujar Bagnaia.

Meski musim ini tidak berjalan mulus, hubungan baik antara dua pembalap top Ducati ini menjadi cerita menarik di paddock MotoGP. Bukannya menjadi rival sengit, keduanya justru menunjukkan rasa saling menghormati dan semangat kerja sama yang tinggi.