Berita BorneoTribun: Naik Dango hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Naik Dango. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naik Dango. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Maret 2026

Tradisi Naik Dango Tetap Dijaga, Karolin Ingatkan Hemat Pangan, Petani Dapat Alsintan dan Edukasi Modern

Bupati Karolin ingatkan petani Landak hadapi kemarau panjang 2026, salurkan alsintan dan dorong efisiensi serta ketahanan pangan.
Bupati Karolin ingatkan petani Landak hadapi kemarau panjang 2026, salurkan alsintan dan dorong efisiensi serta ketahanan pangan.

NGABANG - Pemerintah Kabupaten Landak mulai bergerak cepat mengantisipasi potensi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun 2026. Salah satu langkah utama yang ditekankan adalah memastikan petani tidak terlambat memasuki masa tanam guna menghindari risiko kekeringan dan gagal panen.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa, menyampaikan langsung imbauan tersebut saat mengunjungi Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang, Jumat (27/3/2026). Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi pertanian yang menopang kebutuhan pangan daerah.

“Hari ini kita hadir di Desa Amboyo Selatan yang merupakan salah satu daerah pertanian di Kabupaten Landak. Saya berpesan kepada masyarakat agar memanfaatkan lahan sebaik mungkin dan mengikuti petunjuk dari pemerintah, termasuk penyuluh pertanian lapangan,” ujar Karolin.

Bantuan Alsintan Dorong Produktivitas Petani

Sebagai bentuk dukungan konkret, Pemkab Landak juga menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) kepada kelompok tani. Sebanyak lima unit alsintan diserahkan kepada lima kelompok tani untuk meningkatkan efisiensi kerja di lapangan.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat proses pengolahan lahan sekaligus meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

Kunjungan tersebut turut dihadiri Camat Ngabang serta sejumlah kepala dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Landak. Kehadiran mereka menjadi bukti komitmen bersama dalam memperkuat sektor pertanian, mulai dari hulu hingga hilir.

Dorongan Menuju Pertanian Modern

Karolin menegaskan bahwa peningkatan hasil pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga kemampuan petani dalam mengelola pertanian secara tepat.

Ia mendorong petani untuk terus belajar mengenai penggunaan pupuk, pemilihan bibit unggul, hingga teknik pengolahan lahan yang efektif.

“Petani juga harus belajar mengenai jenis-jenis pupuk, pengolahan lahan, serta bibit yang digunakan. Harapan kita, pertanian kita bisa menuju pertanian modern, hasilnya meningkat, dan kesejahteraan petani ikut terangkat,” katanya.

Waspada Kemarau Panjang, Jangan Tunda Masa Tanam

Di tengah prediksi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya, ketepatan waktu tanam menjadi faktor krusial.

Karolin mengingatkan agar petani tidak menunda masa tanam, karena keterlambatan bisa berujung pada kekeringan yang berdampak pada gagal panen.

“Kita mengingatkan agar masyarakat mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan cukup panjang. Jangan sampai terlambat menanam, karena bisa mengalami kekeringan dan terancam gagal panen,” tegasnya.

Tradisi Naik Dango Tetap Dijaga, Namun Harus Bijak

Di sela kegiatan, Karolin juga menyinggung tradisi Naik Dango atau Roah yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Dayak di Landak.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk syukur atas hasil panen, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.

“Ini adalah tradisi masyarakat Dayak sebagai bentuk syukur setelah panen, sekaligus memohon kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Jubata, agar hasil pertanian ke depan tetap baik dan terhindar dari marabahaya,” tuturnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar perayaan adat dilakukan secara bijak, terutama dalam situasi yang menuntut kewaspadaan terhadap ketahanan pangan.

“Saya berpesan, dalam melaksanakan Naik Dango atau Roah tidak euforia berlebihan. Secukupnya saja, dan tetap menghemat pangan. Beras jangan dijual semua, harus ada yang disimpan untuk cadangan pangan keluarga,” tutup Karolin.

FAQ

1. Mengapa petani diminta tidak terlambat tanam?

Karena keterlambatan tanam bisa membuat tanaman masuk fase pertumbuhan saat musim kemarau, sehingga berisiko kekeringan dan gagal panen.

2. Apa itu alsintan yang diberikan Pemkab Landak?

Alsintan adalah alat dan mesin pertanian yang membantu mempercepat dan mempermudah proses kerja petani di lapangan.

3. Apa tujuan bantuan alsintan bagi petani?

Untuk meningkatkan efisiensi kerja, produktivitas, serta mendorong pertanian yang lebih modern.

4. Apa itu tradisi Naik Dango?

Naik Dango adalah tradisi masyarakat Dayak sebagai bentuk syukur atas hasil panen sekaligus doa untuk hasil pertanian yang lebih baik.

5. Apa pesan utama Bupati Karolin kepada petani?

Petani diminta memanfaatkan lahan dengan optimal, mengikuti arahan penyuluh, tidak terlambat tanam, serta menjaga cadangan pangan keluarga.

Minggu, 01 Maret 2026

Pertemuan Hangat Sultan Pontianak dan DAD, Ormas Melayu Siap Sukseskan Gawai Naik Dango 2026

Foto: Pertemuan Sultan Pontianak dan DAD, Ormas Melayu di Satu Rasa Kopi, Jalan Antasari, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, Sabtu (28/2/2026) malam.
Foto: Pertemuan Sultan Pontianak dan DAD, Ormas Melayu di Satu Rasa Kopi, Jalan Antasari, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, Sabtu (28/2/2026) malam.

PONTIANAK - Komitmen menjaga pelestarian adat, budaya, dan semangat toleransi di Kota Pontianak kembali ditegaskan dalam pertemuan antara Sultan Pontianak, Syarif Machmud Melvin Alkadrie, dengan jajaran Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak dan sejumlah organisasi kemasyarakatan (ormas) Melayu, Sabtu (28/2/2026) malam.

Pertemuan yang berlangsung di Satu Rasa Kopi, Jalan Antasari, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, tersebut dihadiri Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, Wakil Ketua DAD Kota Pontianak, Alexandra Djaong, beserta jajaran pengurus DAD Kota Pontianak.

Selain itu, sejumlah ormas Melayu turut hadir, antara lain LPM, BP, Bala Komando, SPM, serta Pemuda Pancasila, bersama beberapa organisasi kemasyarakatan lainnya.

Dalam kesempatan tersebut, Sultan Pontianak bersama para tokoh ormas Melayu menyampaikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan Gawai Naik Dango ke-3 yang digelar oleh DAD Kota Pontianak pada 20 hingga 25 April 2026 mendatang.

Sultan Pontianak, Syarif Machmud Melvin Alkadrie menyampaikan bahwa pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai dan penuh keakraban tersebut menghasilkan kesepakatan bersama untuk mendukung suksesnya perhelatan budaya tahunan tersebut, baik dari sisi pelestarian kebudayaan maupun aspek keamanan.

Foto: Pertemuan Sultan Pontianak dan DAD, Ormas Melayu di Satu Rasa Kopi, Jalan Antasari, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, Sabtu (28/2/2026) malam.
Foto: Pertemuan Sultan Pontianak dan DAD, Ormas Melayu di Satu Rasa Kopi, Jalan Antasari, Pontianak Kota, Kalimantan Barat, Sabtu (28/2/2026) malam.

“Alhamdulillah, melalui pertemuan ini kita sepakat untuk terus kompak dan mendukung penuh Gawai Naik Dango ke-3. Dukungan tidak hanya dalam bentuk partisipasi budaya, tetapi juga kesiapan membantu dari sisi keamanan apabila diperlukan,” ujarnya.

Ia menegaskan, seluruh ormas yang hadir menyatakan kesiapan untuk berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan yang menjadi simbol syukur dan warisan budaya masyarakat Dayak tersebut.

Selain dukungan pengamanan, sejumlah organisasi juga berencana ambil bagian dalam kegiatan display budaya untuk memeriahkan rangkaian acara yang dimulai pada 20 April mendatang.

Partisipasi tersebut diharapkan semakin memperkuat nilai persatuan dan kebersamaan antar warga lintas etnis dan organisasi di Kota Pontianak.

Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, menyambut baik dukungan tersebut dan menilai sinergi antara Kesultanan Pontianak, DAD, serta berbagai ormas Melayu menjadi wujud nyata harmoni dan toleransi yang telah lama terjalin di Kota Pontianak.

Gawai Naik Dango sendiri merupakan agenda adat tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan simbol pelestarian tradisi Dayak. Penyelenggaraan tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi ajang budaya, tetapi juga mempererat persaudaraan antar umat dan elemen masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak. (Red/Ms)

Kamis, 01 Mei 2025

Naik Dango Pontianak 2025: Perayaan Budaya Dayak yang Penuh Warna dan Jadi Magnet Wisata

Naik Dango Pontianak 2025: Perayaan Budaya Dayak yang Penuh Warna dan Jadi Magnet Wisata
Naik Dango Pontianak 2025: Perayaan Budaya Dayak yang Penuh Warna dan Jadi Magnet Wisata.

Pontianak – Setelah berlangsung meriah selama hampir seminggu, Festival Naik Dango II yang digelar oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak resmi ditutup pada Rabu malam, 30 April 2025. Event budaya ini berhasil menyedot ribuan penonton dari berbagai penjuru, baik dari dalam kota maupun wilayah sekitar seperti Kubu Raya dan Mempawah.

Penutupan acara berlangsung penuh semangat dan emosional, ditandai dengan pesta kembang api, doa bersama, serta penampilan artis-artis Dayak yang memukau. Momen ini benar-benar jadi penutup manis bagi rangkaian acara yang dimulai sejak 25 April lalu.

Antusiasme Tinggi dan Apresiasi dari Pemerintah

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Rizal Almutahar, menyampaikan apresiasinya atas suksesnya penyelenggaraan festival ini. Menurutnya, Naik Dango II bukan cuma perayaan adat biasa, tapi juga bukti nyata bagaimana keberagaman bisa dirayakan dalam satu panggung kebudayaan.

“Salut buat DAD Kota Pontianak dan seluruh panitia. Luar biasa sekali antusiasme masyarakat. Ini bukan hanya tradisi Dayak, tapi sudah jadi milik bersama dan bisa jadi andalan pariwisata kita,” ujar Rizal saat menutup acara mewakili Wali Kota.

Ia juga menambahkan, Disporapar siap mendukung agar event ini masuk ke dalam kalender tahunan pariwisata dan terus berkembang, bahkan bisa menarik wisatawan dari luar negeri.

Lebih dari Sekadar Festival, Ini Wujud Syukur dan Identitas Budaya

Naik Dango Pontianak 2025: Perayaan Budaya Dayak yang Penuh Warna dan Jadi Magnet Wisata
Naik Dango Pontianak 2025: Perayaan Budaya Dayak yang Penuh Warna dan Jadi Magnet Wisata.

Yohanes Nenes, Ketua DAD Kota Pontianak, menegaskan bahwa Naik Dango punya makna mendalam bagi masyarakat Dayak. Bukan cuma sekadar pesta, tapi juga bentuk rasa syukur kepada Tuhan dan Jubata atas hasil panen dan berkah kehidupan.

“Naik Dango adalah pengingat bagi kita semua bahwa hidup harus dijalani dengan gotong royong, hormat pada alam, dan tetap menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi. Kita boleh maju, tapi jangan sampai kehilangan jati diri,” jelas Yohanes dengan penuh semangat.

Ia pun berharap event ini bisa terus didukung oleh pemerintah dan pelaku pariwisata agar bisa mengangkat potensi lokal, khususnya UMKM dan ekonomi kreatif.

Panggung Ekspresi Budaya dan Persatuan

Ketua Panitia Naik Dango II, Vinsensius Lintas, juga tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Ia menyebut bahwa selama enam hari, event ini telah menjadi wadah ekspresi budaya yang menyatukan berbagai sub-suku Dayak dalam semangat persaudaraan.

“Alhamdulillah semua rangkaian acara berjalan aman dan lancar. Dari upacara adat, lomba budaya, sampai malam hiburan—semuanya penuh semangat dan partisipasi aktif. Terima kasih buat semua pihak yang mendukung, termasuk aparat keamanan, relawan, sponsor, dan tentunya warga Pontianak,” tutur Vinsensius.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada media yang telah membantu menyebarluaskan informasi tentang Naik Dango hingga menjangkau masyarakat luas, bahkan ke mancanegara.

Budaya Lokal Jadi Aset Global

Festival Naik Dango II tahun ini sekali lagi membuktikan bahwa budaya bukan cuma warisan masa lalu, tapi juga aset penting untuk masa depan. Semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal jadi kekuatan utama di balik kesuksesan acara ini.

Dengan penutupan yang meriah dan penuh makna, Pontianak kini punya panggung budaya yang bukan cuma bersinar secara lokal, tapi juga punya potensi untuk dikenal di kancah global.

Sampai jumpa di Festival Naik Dango 2026! Siap-siap meriah lagi, ya!

Penulis: TS/MS

Sabtu, 26 April 2025

Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata

Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

PONTIANAK – Suasana Kota Pontianak, Kalimantan Barat, semakin semarak dengan pelaksanaan Pawai Budaya Naik Dango II Tahun 2025 yang digelar Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Pontianak, Sabtu (26/4/2025). 

Ketua DAD Kota Pontianak, Yohanes Nenes, secara resmi melepas pawai dari Rumah Betang di Jalan Letjen Sutoyo. Para peserta kemudian bergerak melintasi Jalan Ahmad Yani I, Jalan Sultan Abdurrahman, hingga finis di Rumah Radangk, Jalan Sultan Syahrir.

Puluhan kendaraan hias dari enam kontingen DAD kecamatan se-Kota Pontianak turut memeriahkan pawai ini. Meski hujan mengguyur saat pelepasan, para peserta tetap bersemangat mengikuti pawai hingga akhir.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

Deru musik tradisional menggema di sepanjang rute, menambah semarak suasana. Personel Polresta Pontianak mengawal jalannya pawai untuk memastikan ketertiban dan keamanan, sementara dua kelompok petugas Pemadam Kebakaran swasta di Pontianak turut bersiaga mendukung kelancaran acara. 

Peserta pawai tampil disiplin karena panitia Naik Dango II juga melakukan penilaian terhadap penampilan mereka.

Ketua Panitia Naik Dango II, Vinsensius Lintas, menegaskan bahwa pawai ini menjadi bagian penting dalam upaya mempromosikan budaya Dayak dan pariwisata Kota Pontianak.

"Agenda pawai budaya ini bertujuan untuk mendukung promosi pariwisata budaya di Pontianak, sekaligus mengenalkan kekayaan tradisi Dayak kepada wisatawan. Meski hujan turun saat start, semangat peserta tidak luntur. Kami mengapresiasi partisipasi enam DAD kecamatan dan sanggar-sanggar budaya di Kota Pontianak," ungkap Vinsensius.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.

Setelah pawai berakhir, acara dilanjutkan dengan ritual adat Ngantat Panompok, sebuah prosesi sakral dalam tradisi Dayak Kanayatn. Enam kontingen DAD kecamatan mengikuti prosesi ini sambil diiringi alunan gamelan dan suling tradisional.

Ngantat Panompok, atau mengantar hasil pertanian ke tempat penyimpanan, menggambarkan rasa syukur atas hasil panen. Panitia dan pengurus DAD Kota Pontianak menyambut peserta ritual ini dengan penuh khidmat.

"Ritual ini mengajarkan kita mengingat kembali perjuangan leluhur, dari menanam padi hingga memanen. Tarian panompok menjadi simbol syukur kepada Jubata dan para leluhur atas hasil panen tahun lalu. Selanjutnya, hasil-hasil panen disimpan di dangau padi sebagai bentuk penghormatan," terang Vinsen.

Acara ini juga dihadiri tamu lintas etnis serta jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Pontianak. 

Panitia menyampaikan terima kasih kepada Polresta Pontianak atas dukungan penuh selama acara berlangsung. Panitia juga mengimbau seluruh peserta dan pengunjung untuk menjaga keamanan, kebersihan, serta kondusivitas hingga seluruh rangkaian acara selesai.
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata
Pawai Budaya Naik Dango II Warnai Kota Pontianak, Dorong Promosi Pariwisata.