Berita BorneoTribun: Nilai Tukar Rupiah hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Nilai Tukar Rupiah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nilai Tukar Rupiah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Maret 2026

Rupiah Sentuh Rp16.990 Per Dolar AS Saat Harga Minyak Dunia Tembus 100 Dolar

Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.
Rupiah melemah hingga Rp16.990 per dolar AS seiring konflik Iran-AS dan lonjakan harga minyak dunia. Ekonom menilai tekanan global masih berpotensi menahan penguatan rupiah.

JAKARTA -- Ketegangan geopolitik di Timur Tengah dinilai masih memberi tekanan besar terhadap nilai tukar rupiah. Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, memandang rupiah berpotensi bertahan di sekitar level terlemah saat ini dan bahkan masih berpeluang melemah apabila konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel belum mereda.

Josua menjelaskan, ketidakpastian justru meningkat setelah muncul dinamika pergantian kepemimpinan di Iran. Proses suksesi berlangsung di tengah perang, sementara elite politik di negara tersebut juga dilaporkan terbelah.

Dalam situasi tersebut, figur Mojtaba Khamenei disebut menjadi sosok yang menguat. Ia dikenal memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi Iran dan dipandang memiliki sikap politik yang lebih keras.

“Dalam keadaan seperti ini, pasar cenderung mempertahankan permintaan dolar AS dan mengurangi penempatan dana di negara berkembang, sehingga rupiah sulit pulih cepat,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Senin.

Tekanan tersebut tercermin pada perdagangan awal pekan ini. Pada Senin, rupiah sempat menyentuh level Rp16.990 per dolar AS ketika harga minyak dunia menembus 100 dolar AS per barel.

Menurut Josua, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) saat ini cukup penting untuk menjaga pasar tetap terkendali. Kebijakan tersebut dinilai mampu menahan gejolak agar pelemahan rupiah tidak bergerak secara tidak teratur.

Namun demikian, ia menilai kebijakan tersebut belum tentu cukup untuk membalikkan arah rupiah selama tekanan eksternal masih kuat. Faktor utama yang memengaruhi pergerakan kurs saat ini berasal dari konflik geopolitik, lonjakan harga minyak, dan arus modal global.

Sebagai informasi, pada Februari 2026 lalu Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Kebijakan itu difokuskan pada upaya memperkuat stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global.

Selain itu, bank sentral juga memperkuat intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar domestik maupun internasional. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan likuiditas pasar tetap terjaga.

“Artinya, kebijakan Bank Indonesia saat ini lebih tepat dibaca sebagai upaya meredam kepanikan dan smoothing pergerakannya, bukan menjamin rupiah segera kembali menguat,” ujar Josua.

Dari sisi cadangan devisa, Josua menilai posisi Indonesia masih cukup kuat untuk menjadi bantalan stabilitas. Cadangan devisa pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar 151,9 miliar dolar AS, setara dengan 6,1 bulan impor.

Kondisi tersebut memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk melakukan stabilisasi apabila pasar mengalami tekanan. Meski demikian, penggunaan cadangan devisa tetap perlu dilakukan secara terukur.

Menurutnya, fungsi cadangan devisa adalah untuk meredam gejolak dan menjaga kelancaran kebutuhan valuta asing, bukan mempertahankan satu tingkat kurs tertentu secara terus-menerus ketika tekanan eksternal masih tinggi.

“Cadangan devisa masih kuat, tetapi efektivitasnya akan jauh lebih besar bila tekanan geopolitik mulai mereda,” kata Josua.

Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia juga menjadi faktor penting yang memengaruhi kondisi ekonomi global. Selama gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas energi masih terjadi, harga minyak diperkirakan tetap tinggi.

Josua menilai harga minyak sangat mungkin bertahan di atas 100 dolar AS per barel dan tetap bergejolak. Bahkan pasar sempat menguji kisaran 120 dolar AS per barel dalam beberapa waktu terakhir.

Ia mengingatkan bahwa dampak konflik tersebut bisa berlangsung cukup lama. Proses pemulihan pengiriman dan produksi energi tidak dapat dilakukan secara instan, sehingga ketidakpastian pasar dapat bertahan selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Bagi Indonesia, dampak terhadap inflasi dalam jangka pendek kemungkinan masih relatif tertahan. Pemerintah sebelumnya menyatakan akan menambah subsidi energi dan belum berencana menaikkan harga bahan bakar bersubsidi setidaknya hingga Lebaran.

Namun jika konflik berkepanjangan, tekanan ekonomi diperkirakan akan mulai merambat ke berbagai sektor. Biaya transportasi, logistik, pangan, hingga barang impor berpotensi meningkat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat serta meningkatkan tekanan harga domestik. Risiko ini dinilai perlu diwaspadai, mengingat inflasi Indonesia pada Februari 2026 tercatat 4,76 persen.

Senin, 02 Maret 2026

Pasar Saham Indonesia Diuji Risiko Global dan Tekanan Fiskal

IHSG diproyeksikan bergerak volatile dan konsolidasi akibat risiko geopolitik global, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, serta tekanan fiskal Indonesia. (Gambar ilustrasi AI)
IHSG diproyeksikan bergerak volatile dan konsolidasi akibat risiko geopolitik global, kenaikan harga minyak, kebijakan tarif AS, serta tekanan fiskal Indonesia. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini akan cenderung volatile dan bergerak dalam fase konsolidasi. 

Proyeksi tersebut disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta, Senin, dengan level support di 8.031 dan resistance di 8.437 sebagai rentang teknikal yang patut dicermati investor.

Menurut Imam, meningkatnya ketegangan geopolitik global menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pasar. 

Eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, khususnya di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan premi risiko global. 

Jalur pelayaran ini merupakan rute vital distribusi energi dunia, yang setiap hari dilalui sekitar 20–25 persen pasokan minyak mentah dan LNG global.

Kondisi tersebut menciptakan ketidakpastian di pasar keuangan internasional. Dalam situasi seperti ini, investor global cenderung melakukan rotasi dana ke aset safe haven, memperkuat dolar AS, dan mengurangi eksposur terhadap emerging markets termasuk Indonesia. 

Dampaknya, arus modal asing berpotensi tertekan dan meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah serta pergerakan IHSG.

Harga Energi Jadi Pedang Bermata Dua

Kenaikan harga minyak dan batu bara akibat risiko geopolitik memang bisa menjadi sentimen positif bagi saham sektor energi dan pertambangan di Bursa Efek Indonesia. 

Indonesia sebagai eksportir batu bara dan sejumlah komoditas energi berpeluang menikmati kenaikan average selling price (ASP) serta potensi perbaikan margin emiten terkait.

Dalam kondisi global yang tidak pasti, saham berbasis komoditas sering kali menjadi instrumen lindung nilai terhadap risiko inflasi dan geopolitik. 

Artinya, jika harga energi bertahan di level tinggi namun tetap terkendali, sektor energi dapat menjadi penopang IHSG.

Namun, Imam mengingatkan bahwa lonjakan harga energi yang terlalu tajam dan berkepanjangan justru dapat menimbulkan tekanan baru. 

Risiko inflasi global berpotensi meningkat, sementara rupiah bisa mengalami depresiasi akibat membengkaknya impor migas. 

Tekanan ini dapat memperlebar defisit transaksi berjalan serta meningkatkan volatilitas pasar obligasi.

Jika rupiah melemah dan imbal hasil obligasi global naik, investor asing cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko di negara berkembang. Situasi tersebut dapat memperbesar tekanan pada IHSG dalam jangka pendek.

Dampak Kebijakan Perdagangan Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik, perubahan kebijakan perdagangan Amerika Serikat juga menjadi perhatian pasar. 

Mahkamah Agung AS membatalkan sebagian tarif impor global era Presiden Donald Trump karena dinilai melampaui kewenangan hukum. 

Namun, Trump kemudian merespons dengan mengumumkan rencana kenaikan tarif impor global menjadi 15 persen.

Di sisi lain, Departemen Perdagangan AS menetapkan bea masuk anti-subsidi untuk panel surya dari sejumlah negara, termasuk Indonesia, dengan tarif antara 86 persen hingga 143,3 persen. 

Kebijakan ini berpotensi menekan ekspor sektor energi terbarukan Indonesia ke pasar AS serta memberikan tekanan tambahan pada neraca perdagangan sektor terkait.

Ketidakpastian kebijakan dagang global ini menambah beban psikologis investor, terutama ketika pasar tengah sensitif terhadap risiko geopolitik dan inflasi.

Peringatan Fiskal dari S&P Global Ratings

Dari dalam negeri, S&P Global Ratings memperingatkan adanya tekanan fiskal yang meningkat di Indonesia. 

Rasio pembayaran bunga utang terhadap pendapatan negara diperkirakan telah atau berpotensi bertahan di atas level 15 persen, yang menjadi indikator penting dalam penilaian kesehatan fiskal.

Apabila rasio tersebut tetap tinggi dalam jangka menengah, risiko penurunan peringkat kredit (downgrade) dapat muncul, meskipun saat ini outlook Indonesia masih stabil. 

Peringatan ini mendorong pelaku pasar dan pembuat kebijakan untuk lebih berhati-hati dalam mengelola risiko eksternal dan domestik secara bersamaan.

Data Ekonomi Penting Awal Maret 2026

Memasuki awal Maret 2026, pasar juga akan mencermati sejumlah rilis data ekonomi penting, antara lain:

  • PMI Manufaktur Indonesia Februari 2026

  • Neraca Perdagangan Indonesia Januari 2026

  • Inflasi Indonesia Februari 2026

  • PMI ISM Manufaktur AS Februari 2026

  • PMI ISM Jasa AS Februari 2026

  • PMI NBS China Februari 2026

  • Initial Jobless Claims AS

  • Cadangan Devisa Indonesia

  • Non-Farm Payrolls AS

  • Tingkat Pengangguran AS

Data-data tersebut berpotensi memicu pergerakan signifikan di pasar saham, terutama jika hasilnya menyimpang dari ekspektasi pasar.

Arah IHSG Sangat Bergantung pada Stabilitas Energi

Secara keseluruhan, arah IHSG dalam jangka pendek akan sangat ditentukan oleh dinamika harga energi dan stabilitas makroekonomi global. 

Jika kenaikan harga komoditas bersifat terkendali dan mendukung kinerja emiten energi, maka tekanan pada IHSG bisa relatif terbatas.

Namun, jika lonjakan harga energi berubah menjadi shock inflasi global yang memperlemah rupiah dan meningkatkan imbal hasil obligasi global, maka volatilitas pasar saham Indonesia berpotensi meningkat.

Bagi investor, periode seperti ini menuntut strategi yang lebih selektif dan disiplin dalam manajemen risiko. 

Memahami faktor global dan domestik secara menyeluruh akan membantu Anda mengambil keputusan investasi yang lebih rasional di tengah ketidakpastian.

FAQ Seputar Proyeksi IHSG Pekan Ini

1. Mengapa IHSG diproyeksikan volatile?
Karena meningkatnya risiko geopolitik global, ketegangan di Selat Hormuz, serta perubahan kebijakan perdagangan AS yang memicu ketidakpastian pasar.

2. Apa arti support 8.031 dan resistance 8.437?
Support adalah batas bawah yang berpotensi menahan penurunan indeks, sedangkan resistance adalah batas atas yang menjadi area tekanan jual.

3. Apakah sektor energi akan diuntungkan?
Jika harga minyak dan batu bara tetap tinggi namun stabil, sektor energi dan pertambangan berpotensi mencatat kinerja lebih baik.

4. Bagaimana dampak terhadap rupiah?
Lonjakan harga energi yang ekstrem dapat meningkatkan impor migas, menekan neraca transaksi berjalan, dan memicu pelemahan rupiah.

5. Apa yang perlu diperhatikan investor minggu ini?
Investor perlu mencermati rilis data ekonomi domestik dan global serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Selasa, 30 Januari 2024

Pasar Waspadai Kebijakan Bank Sentral AS, Rupiah Terkerek

Petugas menunjukkan uang dolar AS dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT. Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta, Selasa (31/1/2023). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom/pri. (ANTARA FOTO/RENO ESNIR)
Petugas menunjukkan uang dolar AS dan uang rupiah di salah satu kantor cabang PT. Bank Mandiri Persero Tbk, Jakarta, Selasa (31/1/2023). ANTARA FOTO/Reno Esnir/tom/pri. (ANTARA FOTO/RENO ESNIR)
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada awal perdagangan di Jakarta, Selasa, menguat seiring pasar mewaspadai kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed ke depan.

Kurs rupiah terhadap dolar AS dibuka meningkat empat poin atau 0,03 persen menjadi Rp15.806 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.810 per dolar AS.

"Ada peluang penguatan rupiah tapi mungkin tidak besar. Pelaku pasar masih mewaspadai hasil The Fed di Kamis dini hari nanti," kata pengamat pasar uang Ariston Tjendra kepada ANTARA di Jakarta.

Ariston menuturkan rupiah kemungkinan masih berkonsolidasi di kisaran Rp15.800 terhadap dolar AS. Pagi ini indeks dolar AS terlihat bergerak sedikit melemah menjadi 103,4 dibandingkan pagi sebelumnya sebesar 103,6.

Ada ekspektasi berkembang di pasar bahwa pernyataan The Fed mungkin akan lebih dovish atau sudah menghilangkan kemungkinan kenaikan suku bunga acuan di 2024 pada pengumuman hasil keputusan rapat kebijakan moneter.

Di sisi lain, ketegangan geopolitik global masih membayangi pergerakan pasar keuangan. Konflik yang setiap saat memanas bisa mendorong pelaku pasar masuk kembali ke aset aman di dolar AS dan emas.

Potensi penguatan rupiah terhadap dolar AS ke kisaran support Rp15.800 per dolar AS, dengan potensi pelemahan ke kisaran Rp15.850 per dolar AS hari ini.

Sumber: Antara/Martha Herlinawati S
Editor: Yakop