Berita BorneoTribun: PP Tunas hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label PP Tunas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PP Tunas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2026

TikTok Ikuti Arahan Pemerintah, Akun Anak Di Bawah 16 Tahun Bisa Dinonaktifkan

TikTok membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun sesuai aturan PP Tunas dari Komdigi. Akun yang melanggar bisa dinonaktifkan, pengguna dapat ajukan verifikasi usia.
TikTok membatasi akses pengguna di bawah 16 tahun sesuai aturan PP Tunas dari Komdigi. Akun yang melanggar bisa dinonaktifkan, pengguna dapat ajukan verifikasi usia.

JAKARTA - Platform media sosial TikTok menyatakan komitmennya untuk mengikuti arahan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) terkait pembatasan akses bagi pengguna berusia di bawah 16 tahun. Kebijakan ini merupakan bagian dari implementasi regulasi terbaru pemerintah untuk memperkuat perlindungan anak di ruang digital.

Dalam keterangan resmi perusahaan yang dikonfirmasi pada Selasa, TikTok menegaskan bahwa pihaknya menghormati arahan pemerintah yang menetapkan bahwa platform digital harus secara jelas menyatakan bahwa layanan tersebut diperuntukkan bagi pengguna berusia 16 tahun ke atas.

“Kami sangat menghormati arahan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), yang menetapkan bahwa platform digital, termasuk TikTok, harus secara jelas menyatakan bahwa platform tersebut diperuntukkan bagi pengguna berusia 16 tahun ke atas,” demikian pernyataan TikTok dalam keterangan pers resmi.

Komitmen TikTok Patuhi PP Tunas

Langkah pembatasan usia ini merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Peraturan tersebut mulai diberlakukan secara resmi pada 28 Maret 2026 di Indonesia dan menjadi dasar bagi platform digital untuk memperketat sistem perlindungan pengguna anak dan remaja.

TikTok menyampaikan bahwa perusahaan telah menyiapkan berbagai mekanisme teknis untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi tersebut, termasuk melalui halaman Pusat Dukungan yang berisi panduan usia pengguna khusus untuk Indonesia.

Menurut informasi resmi, akun pengguna berusia di bawah 16 tahun di Indonesia berpotensi dinonaktifkan, dan pengguna akan menerima pemberitahuan terlebih dahulu sebelum proses penonaktifan dilakukan.

Pengguna Bisa Ajukan Banding Jika Akun Terdampak

TikTok juga memberikan ruang bagi pengguna yang sebenarnya berusia di atas 16 tahun namun terdampak penonaktifan akun.

Pengguna dalam kategori tersebut dapat mengajukan banding verifikasi usia untuk memastikan bahwa akun mereka dapat diaktifkan kembali.

Selain itu, TikTok menyatakan akan terus menjalankan proses penilaian mandiri terhadap implementasi Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026, yang merupakan aturan turunan dari PP Tunas.

“Kami akan melanjutkan proses penilaian mandiri dengan berkolaborasi erat bersama Kementerian serta mematuhi ketentuan batas usia sesuai dengan hasil penilaian tersebut,” ujar pihak TikTok.

Lebih Dari 50 Fitur Keamanan Sudah Disiapkan

Sebagai bagian dari upaya meningkatkan keamanan digital, TikTok mengungkapkan bahwa hingga saat ini perusahaan telah menyediakan lebih dari 50 pengaturan keamanan, privasi, dan keselamatan yang aktif secara otomatis, khususnya bagi pengguna remaja.

Fitur-fitur tersebut mencakup pembatasan interaksi, pengaturan privasi akun, serta sistem moderasi konten yang terus diperbarui sesuai dengan Panduan Komunitas TikTok.

TikTok juga menegaskan akan terus menyesuaikan sistem pengamanan sesuai dengan perkembangan regulasi pemerintah di Indonesia.

“Ke depannya, kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan harapan regulasi, sekaligus terus memperkuat sistem pengamanan kami,” kata pihak TikTok.

Delapan Platform Digital Masuk Tahap Awal Pengawasan

Dalam tahap awal implementasi PP Tunas, pemerintah menetapkan delapan platform digital berisiko tinggi yang menjadi fokus pengawasan.

Platform tersebut meliputi:

  • Instagram

  • Facebook

  • Threads

  • X

  • Bigo Live

  • YouTube

  • TikTok

  • Roblox

Berdasarkan evaluasi yang dilakukan pada Kamis (9/4), beberapa platform dinilai telah sepenuhnya mematuhi regulasi, di antaranya layanan milik Meta seperti Instagram, Facebook, dan Threads, serta X dan Bigo Live.

Sementara itu, TikTok dan Roblox dinilai telah mematuhi sebagian ketentuan, dan Google sebagai pemilik YouTube disebut masih dalam proses menunjukkan komitmen kepatuhan terhadap aturan tersebut.

Dampak Kebijakan Bagi Pengguna dan Orang Tua

Penerapan batas usia ini menjadi langkah penting dalam menjaga keamanan anak di dunia digital. Bagi orang tua, kebijakan ini bisa membantu mengontrol aktivitas digital anak dan meminimalkan risiko paparan konten yang tidak sesuai usia.

Di sisi lain, pengguna remaja yang mendekati usia minimum diharapkan lebih memahami pentingnya penggunaan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.

FAQ

1. Apakah pengguna di bawah 16 tahun langsung diblokir dari TikTok?

Tidak langsung. Pengguna akan menerima pemberitahuan terlebih dahulu sebelum akun dinonaktifkan.

2. Bagaimana jika akun saya dinonaktifkan padahal sudah berusia 16 tahun?

Pengguna dapat mengajukan banding dengan melakukan verifikasi usia sesuai prosedur yang disediakan TikTok.

3. Kapan aturan PP Tunas mulai berlaku?

Peraturan ini resmi berlaku mulai 28 Maret 2026 di Indonesia.

4. Apakah hanya TikTok yang terdampak aturan ini?

Tidak. Ada delapan platform digital yang masuk tahap awal pengawasan, termasuk Instagram, Facebook, YouTube, dan Roblox.

5. Apa tujuan utama pembatasan usia ini?

Untuk melindungi anak dan remaja dari risiko konten berbahaya serta meningkatkan keamanan di platform digital.

Sabtu, 28 Maret 2026

YouTube Fokus Lindungi Anak Di Dunia Digital Lewat Fitur Canggih Terbaru

YouTube perkuat fitur perlindungan anak dan remaja seiring penerapan PP Tunas 2025, hadirkan kontrol orang tua hingga teknologi verifikasi usia berbasis AI. (Gambar ilustrasi)
YouTube perkuat fitur perlindungan anak dan remaja seiring penerapan PP Tunas 2025, hadirkan kontrol orang tua hingga teknologi verifikasi usia berbasis AI. (Gambar ilustrasi)

Jakarta – Platform video terbesar dunia, YouTube, terus memperkuat komitmennya dalam melindungi anak dan remaja di ruang digital. Langkah ini sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Dalam keterangan resminya, YouTube Indonesia menegaskan bahwa pendekatan perlindungan anak tidak harus berbasis pelarangan total.

“Pendekatan ini memberikan insentif untuk terciptanya fitur perlindungan terintegrasi serta pengalaman digital yang sesuai usia,” ujar perwakilan YouTube Indonesia.

Orang Tua Jadi Kunci Utama Pengawasan Digital

YouTube kini menghadirkan berbagai fitur yang menempatkan orang tua sebagai pengendali utama aktivitas anak di dunia digital.

Salah satu fitur unggulannya adalah pengaturan durasi tayangan, khususnya pada YouTube Shorts. Orang tua bisa membatasi waktu menonton bahkan hingga nol menit.

Tak hanya itu, melalui aplikasi Google Family Link, orang tua dapat:

  • Mengatur jadwal penggunaan perangkat

  • Mengunci layar dari jarak jauh

  • Memberikan pengingat waktu istirahat dan tidur

  • Memantau aktivitas aplikasi anak

Teknologi AI Untuk Verifikasi Usia

YouTube juga mengembangkan teknologi verifikasi usia berbasis kecerdasan buatan (AI). Sistem ini mampu mengidentifikasi kelompok usia pengguna untuk memberikan pengalaman yang sesuai.

Teknologi inferensi usia ini bahkan direncanakan hadir sebelum tenggat implementasi PP Tunas pada Maret 2027.

Langkah ini dianggap penting untuk memastikan anak-anak tidak mengakses konten yang tidak sesuai usia mereka.

Fitur Tambahan Demi Kesehatan Digital

Selain kontrol orang tua, YouTube juga menghadirkan sejumlah fitur perlindungan bawaan, seperti:

  • Pengingat untuk beristirahat

  • Pembatasan notifikasi mulai pukul 22.00

  • Penonaktifan autoplay untuk pengguna di bawah 18 tahun

Fitur-fitur ini dirancang untuk menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kesehatan mental remaja.

Larangan Total Dinilai Tidak Efektif

YouTube Indonesia menilai pembatasan total terhadap pengguna di bawah 16 tahun justru bisa berdampak negatif.

Pasalnya, pengguna muda bisa kehilangan akses ke fitur keamanan, pengawasan orang tua, serta perlindungan yang sudah terintegrasi dalam sistem akun yang diawasi.

Dorong Literasi Digital Dan Kolaborasi

Selain teknologi, YouTube juga aktif dalam edukasi digital. Beberapa inisiatif yang sudah berjalan antara lain:

  • Pelatihan bagi 2.500 guru BK bersama Pemprov DKI Jakarta

  • Penyusunan panduan kesejahteraan digital bersama

    • Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia

    • Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo

    • Universitas Indonesia

  • Program Youth Champions untuk edukasi peer-to-peer

Ke depan, YouTube mendorong pemerintah untuk terus melibatkan berbagai pihak dalam menyusun kebijakan yang adaptif dan berbasis risiko.

Platform ini juga siap berpartisipasi dalam implementasi PP Tunas melalui mekanisme penilaian mandiri.

FAQ (Pertanyaan Umum)

1. Apa itu PP Tunas 2025?
PP Tunas adalah regulasi pemerintah Indonesia yang mengatur perlindungan anak dalam sistem elektronik dan ruang digital.

2. Apa fungsi fitur Family Link?
Fitur ini membantu orang tua mengontrol penggunaan perangkat anak, termasuk waktu layar dan aktivitas aplikasi.

3. Apakah YouTube aman untuk anak?
Dengan fitur pengawasan orang tua dan AI verifikasi usia, YouTube kini lebih aman, asalkan tetap diawasi.

4. Kenapa tidak langsung melarang anak di bawah 16 tahun?
Karena larangan total justru bisa menghilangkan fitur perlindungan dan kontrol yang tersedia.

5. Kapan fitur AI verifikasi usia diterapkan?
Direncanakan sebelum Maret 2027, sesuai tenggat implementasi PP Tunas.

Jumat, 20 Maret 2026

Perayaan Idul Fitri 1447H Di Indonesia, Ini 5 Ide Main Bareng Keluarga Tanpa Gawai

Perayaan Idul Fitri 1447H di Indonesia makin hangat dengan 5 ide permainan keluarga tanpa gawai sesuai anjuran pemerintah untuk kurangi screen time anak.
Perayaan Idul Fitri 1447H di Indonesia makin hangat dengan 5 ide permainan keluarga tanpa gawai sesuai anjuran pemerintah untuk kurangi screen time anak. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1447H mulai dirayakan di Indonesia dengan penuh suka cita. Momen kemenangan setelah sebulan berpuasa ini nggak cuma soal silaturahmi dan makanan enak, tapi juga jadi waktu terbaik buat quality time bareng keluarga.

Menariknya, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak masyarakat untuk merayakan Lebaran dengan cara yang lebih bermakna, salah satunya dengan mengurangi paparan gawai, terutama bagi anak-anak.

Ajakan ini sejalan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau yang dikenal sebagai PP Tunas.

Lewat unggahan resmi Instagram @kemkomdigi pada Rabu (18/3), dibagikan lima ide permainan seru yang bisa dimainkan bersama keluarga tanpa gadget. Yuk, simak!

1. Tebak-Tebakan, Game Klasik Pencair Suasana

Siapa sih yang nggak kenal tebak-tebakan? Permainan ini simpel tapi selalu sukses bikin suasana jadi cair dan penuh tawa.

Mulai dari kategori hewan, benda, artis, sampai lagu, semua bisa jadi bahan pertanyaan. Cara mainnya juga gampang—satu orang kasih petunjuk, yang lain menebak.

Yang paling cepat jawab? Dia juaranya!

2. ABC 5 Dasar, Game Favorit Gen Z

Permainan yang satu ini pasti familiar buat milenial dan Gen Z. ABC 5 Dasar mengandalkan kecepatan berpikir dan refleks.

Cara mainnya: semua pemain mengangkat jari secara bebas, lalu dihitung sesuai urutan abjad. Misalnya berhenti di huruf “B”, maka semua harus cepat menyebutkan kata sesuai kategori, seperti nama hewan.

Yang telat? Siap-siap kena hukuman seru!

3. Rubik, Tantangan Seru Asah Fokus

Rubik jadi pilihan permainan yang nggak cuma seru tapi juga melatih konsentrasi.

Balok warna-warni 3x3 ini bisa dimainkan bareng keluarga, bahkan dijadikan lomba kecil siapa paling cepat menyusun warna dengan benar.

Selain seru, anak-anak juga bisa belajar fokus dan problem solving.

4. Kartu UNO, Adu Strategi Dan Keberuntungan

UNO jadi salah satu permainan kartu yang nggak pernah gagal bikin suasana jadi heboh.

Permainan ini menggabungkan strategi dan keberuntungan. Pemain harus pintar memilih kartu sambil mengantisipasi langkah lawan.

Cocok banget dimainkan saat kumpul keluarga, bahkan saat perjalanan mudik—asal kondisi kendaraan aman ya!

5. Ludo, Game Papan Klasik Sepanjang Masa

Ludo adalah permainan klasik yang tetap relevan sampai sekarang.

Dengan empat bidak dan satu dadu, permainan ini mengajarkan strategi sekaligus kesabaran.

Supaya lebih nyaman, disarankan pakai papan ludo magnet agar bidak nggak mudah bergeser. Kalau nggak memungkinkan, versi digital juga bisa jadi alternatif, sambil tetap mengedukasi anak soal penggunaan gadget yang bijak.

Lebaran Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Momen Kebersamaan

Mengurangi penggunaan gawai saat Lebaran bukan berarti membatasi hiburan, justru membuka ruang interaksi yang lebih hangat antar anggota keluarga.

Di tengah era digital seperti sekarang, momen seperti Idul Fitri jadi kesempatan langka untuk benar-benar hadir secara fisik dan emosional.

Jadi, nggak ada salahnya mulai mencoba permainan sederhana tapi penuh makna ini bersama keluarga tercinta.

FAQ

1. Kenapa dianjurkan mengurangi gawai saat Lebaran?
Karena Lebaran adalah momen kebersamaan keluarga, sehingga interaksi langsung lebih penting dibandingkan screen time.

2. Apakah permainan tanpa gadget cocok untuk anak?
Sangat cocok. Bahkan bisa melatih fokus, kreativitas, dan kemampuan sosial anak.

3. Apakah permainan seperti UNO dan Ludo aman untuk anak-anak?
Ya, selama dimainkan dengan pengawasan dan aturan yang jelas.

4. Apakah boleh tetap menggunakan gadget saat Lebaran?
Boleh, tapi sebaiknya dibatasi agar tidak mengganggu interaksi keluarga.

5. Apa manfaat bermain bersama keluarga saat Lebaran?
Meningkatkan kedekatan emosional, menciptakan kenangan indah, dan memperkuat hubungan keluarga.

Rabu, 25 Februari 2026

Verifikasi Usia Digital Diperkuat dengan Teknologi Age Inferential

Pemerintah dan platform digital bentuk sistem pengawasan bersama melalui dashboard terpadu dan teknologi age inferential untuk memperkuat perlindungan anak dari konten negatif di ruang digital.
Pemerintah dan platform digital bentuk sistem pengawasan bersama melalui dashboard terpadu dan teknologi age inferential untuk memperkuat perlindungan anak dari konten negatif di ruang digital.

Pemerintah dan Platform Digital Bentuk Sistem Pengawasan Bersama Lindungi Anak dari Konten Negatif

JAKARTA -- Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital bersama sejumlah platform digital resmi membentuk sistem pengawasan bersama untuk memperkuat perlindungan anak dari paparan konten negatif di ruang digital. Langkah ini dibahas dalam sejumlah pertemuan dan menjadi tindak lanjut implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa mekanisme pengawasan telah disepakati bersama para Penyelenggara Sistem Elektronik atau platform digital. Pernyataan tersebut disampaikan dalam siniar di Antara Heritage Center, Jakarta, Selasa.

Menurut Nezar, pemerintah dan platform digital sepakat membangun dashboard bersama sebagai sistem monitoring dan pelaporan. Dashboard ini akan menjadi pusat laporan dari para PSE untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan perlindungan anak di ruang digital.

Langkah strategis ini merupakan bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 atau PP Tunas, yang dirancang untuk memperkuat tata kelola sistem elektronik agar lebih ramah dan aman bagi anak.

Dashboard Bersama untuk Pengawasan Digital

Melalui dashboard bersama, pemerintah dapat memantau laporan secara lebih terintegrasi dan real-time. Sistem ini memungkinkan pengawasan terhadap konten yang berpotensi membahayakan anak, termasuk kekerasan, pornografi, hingga eksploitasi digital.

Kehadiran sistem ini menegaskan bahwa perlindungan anak di era digital tidak bisa hanya dibebankan kepada orang tua atau sekolah. Anak dapat mengakses internet kapan saja melalui gawai pribadi, sehingga tanggung jawab juga melekat pada penyelenggara platform digital.

Dorongan Fitur Screen Time dan Digital Wellness

Pemerintah juga mendorong platform digital untuk memperkuat fitur pengaturan waktu layar atau screen time serta fitur digital wellness. Tujuannya agar penggunaan gawai oleh anak lebih terkontrol dan seimbang.

Fitur-fitur ini diharapkan mampu membantu orang tua memantau aktivitas anak sekaligus mendorong kebiasaan digital yang sehat. Dengan kolaborasi teknologi dan regulasi, perlindungan anak menjadi lebih komprehensif.

Teknologi Age Inferential Jadi Solusi Baru

Salah satu inovasi yang didorong adalah teknologi age inferential. Teknologi ini memungkinkan algoritma membaca pola perilaku pengguna untuk memperkirakan usia berdasarkan konten yang dikonsumsi.

Jika sistem mendeteksi pola penggunaan yang menunjukkan perilaku anak pada akun yang terdaftar sebagai dewasa, maka akses terhadap konten berisiko dapat dibatasi secara otomatis.

Nezar menilai metode ini lebih akurat dibandingkan verifikasi usia konvensional yang hanya mengandalkan input tanggal lahir saat registrasi. Beberapa platform digital global bahkan tengah melakukan uji coba untuk menguji efektivitas teknologi tersebut.

Langkah ini menunjukkan keseriusan pemerintah dan platform digital dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman, sehat, dan ramah anak.

FAQ Seputar Sistem Pengawasan Digital untuk Perlindungan Anak

Apa itu dashboard pengawasan bersama?
Dashboard ini adalah sistem terpadu yang digunakan pemerintah dan platform digital untuk memantau serta menerima laporan terkait perlindungan anak di ruang digital.

Apa tujuan PP Tunas?
PP Tunas bertujuan memperkuat tata kelola sistem elektronik agar lebih melindungi anak dari paparan konten negatif dan risiko digital lainnya.

Bagaimana cara kerja teknologi age inferential?
Teknologi ini membaca pola perilaku pengguna berdasarkan aktivitas dan konten yang dikonsumsi untuk memperkirakan usia secara otomatis.

Apakah orang tua masih memiliki peran penting?
Tentu. Meski ada sistem teknologi dan regulasi, pengawasan dan edukasi dari orang tua tetap menjadi fondasi utama perlindungan anak.