Berita BorneoTribun: Pariwisata Nasional hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pariwisata Nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 April 2026

Dermaga Pasar Terapung TMII Perkuat Identitas Budaya Banjar Nasional

Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR menyambut positif pembangunan dermaga Pasar Terapung di TMII sebagai upaya memperkuat budaya Banjar dan meningkatkan wisata Kalimantan Selatan.
Wali Kota Banjarmasin Muhammad Yamin HR menyambut positif pembangunan dermaga Pasar Terapung di TMII sebagai upaya memperkuat budaya Banjar dan meningkatkan wisata Kalimantan Selatan.

BANJARMASIN — Wali Kota Banjarmasin, H Muhammad Yamin HR, menyambut positif pembangunan dermaga Pasar Terapung di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sebagai langkah strategis dalam memperkuat identitas budaya Banjar di tingkat nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Yamin saat menghadiri peresmian Dermaga Pasar Terapung di TMII pada Sabtu (11/4/2026). Ia menilai kehadiran fasilitas ini bukan hanya sekadar destinasi wisata, tetapi juga menjadi simbol penting pelestarian budaya sungai khas Kalimantan Selatan.

Menurut Yamin, Pasar Terapung merupakan tradisi masyarakat Banjar yang hidup di sepanjang aliran Sungai Martapura. Aktivitas jual beli menggunakan perahu atau sampan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat sejak lama.

“Peresmian Dermaga Pasar Terapung di TMII ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan budaya sungai khas Banua kepada masyarakat luas. Ini bukan sekadar destinasi wisata, tetapi representasi jati diri urang Banjar yang harus terus kita jaga dan kembangkan,” ujar Yamin.

Pasar Terapung selama ini dikenal sebagai salah satu ikon budaya dan pariwisata Kalimantan Selatan yang memiliki daya tarik hingga mancanegara.

Di wilayah Kota Banjarmasin sendiri, kegiatan Pasar Terapung masih rutin digelar, termasuk Pasar Terapung dadakan setiap Sabtu dan Minggu di kawasan Siring Sungai Martapura, Jalan Piare Tendean, Banjarmasin Tengah.

Selain itu, Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar juga masih aktif dan menjadi salah satu destinasi wisata favorit yang banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Miniatur Pasar Terapung yang kini hadir di TMII menjadi bukti bahwa budaya sungai Banjar terus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah hingga pemerintah provinsi.

Yamin menilai pembangunan dermaga Pasar Terapung di TMII akan memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi masyarakat, khususnya pelaku usaha lokal dan industri kreatif.

Dengan meningkatnya promosi budaya Banjar di tingkat nasional, diharapkan kunjungan wisatawan ke Banjarmasin dan wilayah Kalimantan Selatan akan semakin meningkat.

“Harapan kami, kehadiran Pasar Terapung di TMII bisa menjadi pintu masuk wisatawan untuk mengenal langsung budaya Banjar dan akhirnya berkunjung ke daerah asalnya,” tambahnya.

Selain menampilkan aktivitas perdagangan menggunakan sampan, kawasan Pasar Terapung di TMII juga memperkenalkan berbagai produk unggulan khas Kalimantan Selatan.

Produk-produk tersebut meliputi kerajinan kain Sasirangan, kuliner tradisional, hingga berbagai hasil usaha masyarakat lokal yang menjadi bagian dari ekonomi kreatif daerah.

Pemprov Kalsel Perkuat Posisi Budaya Sungai

Gubernur Kalimantan Selatan, Muhidin, turut menyampaikan bahwa pembangunan dermaga Pasar Terapung di TMII menjadi kemajuan signifikan dalam pengembangan sektor pariwisata.

Ia menegaskan bahwa Kalimantan Selatan memiliki kekuatan utama pada warisan budaya sungai yang unik dan berbeda dari daerah lain di Indonesia.

Menurut Muhidin, kehadiran dermaga ini akan memperkuat posisi Kalimantan Selatan sebagai pusat warisan budaya sungai nasional.

Selain memperkenalkan budaya lokal, kegiatan ini juga menjadi sarana promosi produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) khas daerah.

Momentum Promosi Budaya Banjar Ke Tingkat Nasional

Kehadiran Pasar Terapung di TMII dinilai sebagai langkah konkret dalam memperluas jangkauan promosi budaya Banjar kepada masyarakat luas.

Selain menjadi sarana edukasi budaya, fasilitas ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata baru yang mampu meningkatkan minat masyarakat untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat sungai di Kalimantan Selatan.

Dengan semakin dikenalnya budaya Banjar, pemerintah daerah berharap sektor pariwisata akan terus berkembang dan memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat lokal.

FAQ

Apa itu Pasar Terapung Banjar?
Pasar Terapung Banjar adalah aktivitas jual beli tradisional yang dilakukan di atas perahu atau sampan di sungai, terutama di Sungai Martapura, Kalimantan Selatan.

Di mana lokasi Pasar Terapung yang terkenal di Kalimantan Selatan?
Beberapa lokasi terkenal adalah Pasar Terapung Lok Baintan di Kabupaten Banjar dan Pasar Terapung di kawasan Siring Sungai Martapura, Banjarmasin.

Apa tujuan pembangunan Dermaga Pasar Terapung di TMII?
Tujuannya untuk memperkenalkan budaya Banjar secara nasional, memperkuat identitas budaya daerah, dan meningkatkan sektor pariwisata.

Apa dampak ekonomi dari pembangunan ini?
Pembangunan dermaga diharapkan mendorong penjualan produk lokal seperti kain Sasirangan, kuliner tradisional, serta meningkatkan kunjungan wisata.

Kapan dermaga Pasar Terapung diresmikan?
Dermaga Pasar Terapung di TMII diresmikan pada Sabtu, 11 April 2026.

Rabu, 04 Februari 2026

Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK

Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK
Industri Hotel Bersiap Hadapi Tekanan Ekonomi, Bos Mora Group Buka Strategi Bertahan Tanpa PHK.

JAKARTA -- Di tengah tantangan ekonomi yang mulai terasa di berbagai sektor, industri perhotelan ternyata tidak tinggal diam. Para pelaku usaha hotel sudah menyiapkan strategi antisipatif agar bisnis tetap berjalan, meski pendapatan berpotensi menurun sementara biaya operasional masih tinggi.

Founder dan CEO perusahaan manajemen hospitality Mora Group, Andhy Irawan, mengungkapkan bahwa industri perhotelan kini berada pada fase “siaga”. Hal ini disampaikannya dalam diskusi Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bertajuk “Di Balik Klaim Pertumbuhan Pariwisata: Perspektif Bisnis Hotel” yang digelar di Press Room Kementerian Pariwisata, Selasa.

Menurut Andhy, pelaku industri hotel sudah menyiapkan berbagai skenario terburuk sejak awal. Namun, ia menegaskan bahwa kondisi saat ini masih jauh dari situasi ekstrem seperti saat pandemi.

“Untuk hotel yang sudah berjalan, kami sudah menyiapkan skenario terburuk. Tapi ini tidak separah pandemi,” ujarnya.

Strategi Bertahan: Penyesuaian, Bukan PHK

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi industri hotel adalah ketimpangan antara pendapatan dan biaya. Saat pemasukan menurun, pengeluaran operasional tetap harus berjalan. Meski begitu, Andhy menegaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi opsi terakhir yang ingin dihindari.

Sebagai langkah antisipasi, industri lebih memilih melakukan penyesuaian internal. Mulai dari pengaturan ulang jam kerja, hingga penerapan skema cuti tidak berbayar (unpaid leave) jika kondisi ekonomi memburuk.

“Pendapatan bisa turun, tapi biaya tetap jalan. Prinsipnya, kami tidak mau memecat karyawan. Kalau terpaksa, penyesuaian bisa dilakukan, misalnya gaji dibayarkan 60 persen,” jelasnya.

Pendekatan ini dinilai lebih manusiawi sekaligus menjaga stabilitas operasional jangka panjang.

Belajar dari Krisis, Industri Lebih Siap

Andhy menilai tekanan ekonomi saat ini memang berdampak pada kinerja hotel, namun skalanya masih bisa dikendalikan. Pengalaman menghadapi krisis sebelumnya, terutama pandemi, menjadi bekal penting bagi industri untuk bersikap lebih adaptif.

“Kalau krisis pasti ada dampak. Tapi ini bukan kembali ke masa pandemi. Kita sudah belajar dari pengalaman sebelumnya,” katanya.

Kinerja Positif Masih Terlihat di Sejumlah Daerah

Menariknya, di tengah tantangan ekonomi, beberapa unit hotel yang dikelola Mora Group justru masih menunjukkan performa yang solid. Beberapa daerah bahkan mencatat tingkat okupansi yang sangat baik.

“Secara keseluruhan masih oke. Surabaya masih leading, Banjarbaru juga sangat kuat. Bahkan ada hotel yang sampai harus menolak tamu karena penuh,” ungkap Andhy.

Hal ini menunjukkan bahwa peluang di industri perhotelan masih terbuka, terutama bagi pelaku usaha yang mampu membaca pasar dengan tepat.

Kunci Bertahan: Selektif dan Fokus Target

Menurut Andhy, strategi selektif menjadi faktor penentu agar bisnis hotel tetap bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi. Fokus pada target pasar dan segmentasi yang jelas membuat pengelolaan bisnis lebih efisien dan terarah.

“Sekarang saya jauh lebih selektif. Karena saya tahu apa tujuan dan targetnya,” ujarnya.

Pendekatan ini dinilai penting agar investasi dan operasional tidak berjalan tanpa arah.

Tata Kelola dan Perizinan Jadi Tantangan Lain

Selain faktor ekonomi, Andhy juga menyoroti persoalan tata kelola industri, khususnya terkait perizinan dan pengawasan akomodasi non-hotel. Ia menilai pemerintah daerah memiliki peran krusial dalam menciptakan iklim usaha yang sehat dan adil.

“Kuncinya kembali ke pengaturan. Kalau aturannya jelas dan adil, industri juga akan sehat,” tegasnya.

Ia menyinggung maraknya akomodasi berbasis sewa jangka pendek yang dinilai perlu pengawasan lebih ketat agar tidak menimbulkan persaingan tidak seimbang dengan hotel.

“Bukan soal ada atau tidak ada, tapi bagaimana cara mengaturnya,” tambahnya.

Industri Hotel Tetap Tangguh, Asal Tata Kelola Diperkuat

Andhy menutup dengan menegaskan bahwa penguatan tata kelola dan regulasi yang adil menjadi fondasi penting agar industri perhotelan tetap tangguh menghadapi tekanan ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan pariwisata nasional.

Dengan strategi yang tepat, pengalaman dari krisis sebelumnya, serta kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah, industri hotel diyakini masih memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh.