Berita BorneoTribun: Pasar Kripto hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Pasar Kripto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Kripto. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Februari 2026

Investor Kakap Kripto Mulai Waspada, Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Kritis

Investor Kakap Kripto Mulai Waspada, Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Kritis. (Gambar ilustrasi)
Investor Kakap Kripto Mulai Waspada, Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Kritis. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Pasar kripto kembali memasuki fase yang bikin deg-degan. Sejumlah investor institusional besar kini berada di titik harga krusial, di mana keuntungan dan kerugian yang selama ini “mengambang” mulai mendekati kenyataan. Analisis terbaru dari Yu Jin menyoroti bahwa tekanan di level ini bisa menjadi pemicu perubahan besar di pasar kripto global.

Salah satu sorotan utama tertuju pada MicroStrategy, perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia. Saat ini, harga Bitcoin bergerak sangat dekat dengan harga beli rata-rata perusahaan tersebut. Artinya, MicroStrategy nyaris tidak memiliki keuntungan di atas kertas. Kondisi ini membuat ruang gerak mereka semakin terbatas, apakah akan bertahan, mengamankan posisi, atau bersiap mengambil langkah defensif jika pasar kembali melemah.

Sementara itu, tekanan justru terasa lebih berat di sisi Ethereum. Perusahaan investasi kripto Bitmine tercatat menanggung kerugian tidak terealisasi yang sangat besar, mencapai lebih dari Rp95 triliun (setara US$5,9 miliar), setelah harga ETH merosot ke kisaran Rp38 juta per koin. Kerugian ini setara dengan lebih dari 36 persen dari nilai investasi mereka—angka yang jelas tidak bisa dianggap sepele.

Situasi makin genting bagi Trend Research, yang diketahui memiliki posisi Ethereum dengan leverage tinggi. Ambang likuidasi mereka berada di sekitar harga Rp29,8 juta per ETH. Jika level ini ditembus, risiko likuidasi paksa bisa memicu tekanan jual tambahan dan memperburuk kondisi pasar.

Sentimen Pasar Mulai Berubah, Investor Cenderung Main Aman

Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian di kalangan investor institusional. Harga Bitcoin yang mendekati titik impas MicroStrategy berpotensi memicu keraguan, bahkan aksi perlindungan modal. Di sisi lain, kerugian besar pada posisi Ethereum memperkuat kekhawatiran akan volatilitas dan efek domino likuidasi.

Dampaknya mulai terasa di pasar. Volume perdagangan terlihat lebih tenang, pelaku pasar cenderung mengurangi risiko, dan aktivitas di pasar derivatif menunjukkan sikap yang lebih defensif. Di media sosial, diskusi seputar potensi likuidasi paksa dan kemungkinan aksi jual besar-besaran pun semakin ramai.

Belajar dari Masa Lalu, Sejarah Bisa Terulang

Jika menengok ke belakang, situasi serupa pernah terjadi saat pasar kripto anjlok pada 2018 dan pertengahan 2022. Kala itu, pemegang aset besar yang mendekati harga modal dihadapkan pada dua pilihan: bertahan atau menjual. Keputusan mereka terbukti sangat berpengaruh, baik dalam membentuk dasar harga maupun mempercepat penurunan.

Menariknya, langkah MicroStrategy mengakumulasi Bitcoin saat pasar tertekan di masa lalu justru berujung manis. Hal ini memberi harapan bahwa tekanan saat ini juga bisa menjadi peluang—tentu dengan risiko yang tetap harus diperhitungkan.

Ke Mana Arah Pasar Selanjutnya?

Ke depan, jika harga Bitcoin dan Ethereum mampu bertahan atau memantul di atas level biaya institusional, kepercayaan pasar berpeluang pulih. Hal ini bisa mendorong kembali pola akumulasi atau strategi “hold” oleh investor besar.

Namun sebaliknya, jika level krusial ini gagal dipertahankan, risiko likuidasi berantai dan tekanan jual tambahan sangat terbuka. Dalam skenario konservatif, Bitcoin berpotensi menguji area support di sekitar Rp1,2 miliar per BTC, sementara Ethereum bisa kembali mendekati zona likuidasi Rp29,8 juta per ETH.

Risiko Sistemik Mengintai Pasar Kripto

Kerugian mengambang yang besar dan posisi leverage tinggi berpotensi memicu perilaku risk-off di pasar kripto. Likuidasi paksa, terutama di Ethereum, bukan hanya berdampak pada ETH, tetapi juga bisa menular ke pasar altcoin. Jika ini terjadi, kepercayaan investor bisa terganggu dan aliran dana institusional berisiko melambat.

Strategi Bijak di Tengah Ketidakpastian

Investor Kakap Kripto Mulai Waspada, Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Kritis. (Gambar ilustrasi)
Investor Kakap Kripto Mulai Waspada, Bitcoin dan Ethereum Masuk Zona Kritis. (Gambar ilustrasi)

Sinyal pasar saat ini menunjukkan posisi yang netral namun penuh kehati-hatian. Kedekatan harga Bitcoin dengan titik impas MicroStrategy bisa menjadi indikasi dasar harga, tetapi risiko dari posisi Ethereum dengan leverage tinggi tetap perlu diwaspadai.

Strategi yang dinilai paling masuk akal saat ini adalah menahan posisi tanpa melakukan pembelian atau penjualan besar. Investor disarankan memantau level teknikal penting, seperti Bitcoin di kisaran Rp1,2 miliar dan Ethereum di sekitar Rp29,8 juta. Penggunaan trailing stop juga bisa menjadi langkah cerdas untuk melindungi keuntungan dan membatasi kerugian.

Tak kalah penting, manajemen risiko harus diperketat. Diversifikasi aset, pemantauan data on-chain, serta pergerakan investor institusional perlu dilakukan secara rutin. Jika tren negatif berlanjut atau justru berbalik arah dengan jelas, rebalancing sebagian portofolio dapat dipertimbangkan.

Di tengah pasar yang serba tak pasti ini, disiplin dan kehati-hatian menjadi kunci—sebuah pendekatan yang juga diterapkan oleh investor institusional dan hedge fund dalam menjaga keseimbangan antara peluang dan risiko.

Jumat, 30 Januari 2026

Ethereum Whale Rugi Fantastis Rp1,25 Triliun! Posisi ETH Bisa Terlikuidasi di Rp34 Jutaan

Ethereum Whale Rugi Fantastis Rp1,25 Triliun! Posisi ETH Bisa Terlikuidasi di Rp34 Jutaan
Ethereum Whale Rugi Fantastis Rp1,25 Triliun! Posisi ETH Bisa Terlikuidasi di Rp34 Jutaan. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Hook: Bayangkan seorang investor kripto besar tiba-tiba melihat keuntungan Rp2,13 triliun berubah menjadi kerugian Rp1,25 triliun hanya karena harga Ethereum bergerak sedikit. 

Inilah yang kini dialami oleh whale Ethereum terkenal bernama Hyperliquid, dan pergerakannya bisa mengguncang pasar kripto secara luas.

Whale Ethereum Terjebak Floating Loss Fantastis

Hyperliquid, salah satu whale Ethereum terbesar, memegang posisi long 212.000 ETH senilai sekitar Rp8,94 triliun

Namun, ketika harga ETH turun dari sekitar Rp46,5 juta menjadi Rp42 juta, posisi ini berubah drastis: keuntungan Rp2,13 triliun lenyap, berganti menjadi kerugian terapung Rp1,25 triliun.

Yang lebih menegangkan, ambang likuidasi posisi ini berada di Rp34 juta per ETH

Artinya, jika harga ETH terus jatuh hingga level tersebut, Hyperliquid bisa terpaksa menjual paksa, yang berpotensi memicu efek domino di pasar.

Dampak Psikologi Pasar

Berita tentang kerugian whale sebesar ini tidak hanya menekan sentimen investor besar, tetapi juga bisa memengaruhi trader ritel. 

Banyak yang memantau aktivitas whale sebagai indikator pasar, sehingga kecemasan dan spekulasi tentang kemungkinan likuidasi bisa meningkatkan volatilitas.

Di media sosial, diskusi tentang “efek domino likuidasi” kemungkinan besar meningkat, memicu lebih banyak transaksi dan fluktuasi harga. 

Jadi, harga di sekitar ambang likuidasi Rp34 juta akan menjadi titik krusial untuk diamati.

Sejarah & Prediksi

  • Masa Lalu: Sejarah mencatat bahwa likuidasi whale besar pernah memicu koreksi tajam pada ETH, misalnya crash pertengahan 2021. Posisi leverage tinggi menyebabkan penjualan berantai dan tekanan harga signifikan.

  • Masa Depan: Jika harga ETH menembus Rp34 juta, tekanan jual paksa bisa terjadi lagi. Sebaliknya, jika ETH bertahan di atas Rp42 juta dan mulai pulih, whale ini bisa kembali meraih keuntungan dan mengurangi risiko likuidasi. Secara matematis, penurunan sekitar 14% dari harga saat ini sudah cukup untuk memicu likuidasi.

Efek Riak ke Pasar Kripto

Likuidasi besar seperti ini tidak hanya berdampak pada ETH. Altcoin yang terkait bisa ikut terpengaruh, sementara pasar derivatif juga menghadapi tekanan. 

Di sisi lain, jika pasar tetap stabil, ini menjadi bukti ketahanan pasar terhadap risiko terkonsentrasi whale besar.

Strategi Investasi yang Disarankan

Rekomendasi: HOLD

  • Alasan: Meskipun whale besar menghadapi kerugian, kepanikan jual tidak disarankan. Menahan posisi memungkinkan investor memantau level support kritis, khususnya Rp42 juta dan Rp34 juta.

  • Eksekusi: Pertahankan posisi sambil mengamati harga ETH mendekati Rp34 juta. Pertimbangkan pembelian bertahap jika muncul sinyal pemulihan, misalnya pola candlestick bullish atau indikator RSI dari jenuh jual.

  • Manajemen Risiko: Gunakan trailing stop-loss untuk melindungi keuntungan atau membatasi kerugian. Diversifikasi portofolio juga penting agar risiko tidak terkonsentrasi hanya pada ETH.

Pendekatan ini meniru strategi institusional ala Wall Street, menyeimbangkan kesabaran dan kontrol risiko, terutama saat menghadapi tekanan pasar dari whale besar.