Berita BorneoTribun: Pasar Modal hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Pasar Modal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar Modal. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 April 2026

Jumlah Investor Pasar Modal Kalteng Melonjak, Transaksi Tembus Rp701 Miliar

OJK Kalteng mencatat jumlah investor saham mencapai 159.483 hingga akhir 2025, naik 49,5 persen yoy dengan nilai transaksi tembus Rp701 miliar.
OJK Kalteng mencatat jumlah investor saham mencapai 159.483 hingga akhir 2025, naik 49,5 persen yoy dengan nilai transaksi tembus Rp701 miliar.

PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah (Kalteng) mencatat perkembangan positif di sektor pasar modal daerah. Hingga Desember 2025, jumlah investor saham di provinsi tersebut mengalami peningkatan signifikan, menunjukkan semakin tingginya minat masyarakat terhadap investasi.

Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menyampaikan bahwa jumlah investor saham di wilayahnya meningkat tajam secara tahunan atau year-on-year (yoy).

"Hal ini bisa kita lihat dari jumlah investor saham hingga Desember 2025 yang mengalami peningkatan sebanyak 52.802 investor atau 49,50 persen secara yoy, dari sebelumnya 106.681 investor menjadi 159.483 investor," ujar Primandanu di Palangka Raya, Senin.

Nilai Transaksi Saham Ikut Melonjak

Tak hanya jumlah investor yang meningkat, nilai transaksi saham di Kalimantan Tengah juga menunjukkan tren yang sama. Pada Desember 2025, nilai transaksi saham tercatat mencapai Rp701,02 miliar, meningkat sebesar Rp352,44 miliar atau 101,11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebelumnya, nilai transaksi saham di wilayah tersebut berada di angka Rp348,58 miliar, namun dalam satu tahun berhasil melonjak lebih dari dua kali lipat.

Peningkatan ini menunjukkan bahwa aktivitas pasar modal di Kalimantan Tengah tidak hanya ramai dari sisi jumlah investor, tetapi juga dari sisi transaksi yang semakin aktif.

Nasabah Reksa Dana Tumbuh Signifikan

Selain saham, sektor reksa dana juga mengalami pertumbuhan positif. Jumlah nasabah melalui Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD), baik perorangan maupun perusahaan, terus meningkat setiap tahun.

Sejalan dengan hal tersebut, nilai penjualan produk reksa dana juga mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Hingga Desember 2025, nilai penjualan tercatat sebesar Rp79,15 miliar, meningkat Rp67,21 miliar atau 562,67 persen yoy dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp11,94 miliar.

Menurut Primandanu, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi pemulihan ekonomi daerah sekaligus menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap produk pasar modal.

"Kondisi ini menunjukkan sektor pasar modal di Kalimantan Tengah mengalami pemulihan ekonomi dan stabilitas pasar yang berpengaruh pada meningkatnya partisipasi masyarakat dalam produk," jelasnya.

Peran Sektor Jasa Keuangan Sangat Penting

Lebih lanjut, OJK menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan menjadi fondasi utama dalam menjaga pertumbuhan ekonomi daerah yang berkualitas dan berkelanjutan.

Menurut Primandanu, penguatan ekosistem keuangan yang stabil, inklusif, dan terpercaya menjadi kunci penting dalam mendorong kesejahteraan masyarakat.

Untuk itu, diperlukan kolaborasi antara lembaga jasa keuangan, pemerintah daerah, serta masyarakat dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

"Penguatan ekosistem keuangan yang terintegrasi dan berkelanjutan menjadi langkah strategis dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan," tutupnya.

Sumber Informasi:
Data resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Tengah.

Kredibilitas Narasumber:
Informasi disampaikan langsung oleh Kepala OJK Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, sebagai otoritas resmi di sektor jasa keuangan daerah.

Validitas Data:
Seluruh angka pertumbuhan investor, nilai transaksi saham, dan penjualan reksa dana merujuk pada laporan resmi hingga Desember 2025.

FAQ

1. Berapa jumlah investor saham di Kalimantan Tengah pada 2025?

Jumlah investor saham di Kalimantan Tengah mencapai 159.483 investor hingga Desember 2025.

2. Seberapa besar kenaikan jumlah investor saham di Kalteng?

Jumlah investor meningkat sebanyak 52.802 investor atau 49,50 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

3. Berapa nilai transaksi saham di Kalteng pada 2025?

Nilai transaksi saham mencapai Rp701,02 miliar, naik lebih dari dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

4. Apa penyebab meningkatnya jumlah investor di Kalteng?

Peningkatan ini dipengaruhi oleh stabilitas sektor jasa keuangan, pemulihan ekonomi daerah, serta meningkatnya literasi keuangan masyarakat.

5. Apakah investasi reksa dana juga meningkat di Kalteng?

Ya, nilai penjualan reksa dana meningkat tajam menjadi Rp79,15 miliar, naik lebih dari 500 persen secara tahunan.

Senin, 09 Maret 2026

Harga Minyak Tembus 100 Dolar, IHSG Berpotensi Melemah Pada Perdagangan Senin

IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)
IHSG diproyeksi melemah pada perdagangan Senin seiring lonjakan harga minyak global akibat konflik Timur Tengah yang memicu kekhawatiran pasar energi dunia. (Gambar ilustrasi AI)

JAKARTA -- Analis pasar memproyeksikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada perdagangan Senin (9/3). Sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan pasar berasal dari lonjakan harga minyak global yang telah menembus level 100 dolar Amerika Serikat per barel.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus atau Nico, menilai tekanan eksternal masih cukup kuat mempengaruhi pergerakan IHSG dalam jangka pendek.

"Berdasarkan analisis teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan level support dan resistance di kisaran 7.460–7.860," ujar Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.

Kenaikan harga minyak dunia dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Pasukan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan menargetkan sejumlah fasilitas militer serta infrastruktur energi Iran, termasuk depot penyimpanan minyak di sekitar Teheran dan provinsi Alborz.

Serangan tersebut memicu kebakaran besar di beberapa fasilitas energi strategis. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.

Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal balistik dan drone yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas distribusi energi, khususnya di jalur pelayaran Selat Hormuz. Jalur tersebut diketahui menyalurkan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Pada pukul 07.50 WIB, harga minyak mentah dunia menunjukkan lonjakan signifikan. Crude Oil WTI tercatat menyentuh 109,82 dolar AS per barel, sementara Brent Oil berada di level 109,53 dolar AS per barel.

Menurut Nico, peningkatan serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi semakin mendorong kenaikan harga minyak global. Risiko gangguan pasokan dinilai meningkat apabila konflik turut mempengaruhi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.

Dari dalam negeri, pemerintah juga tengah mempertimbangkan opsi penyesuaian anggaran untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau kemungkinan kenaikan harga BBM bersubsidi jika lonjakan harga minyak dunia menekan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.

Tanpa penyesuaian kebijakan, defisit APBN diperkirakan berpotensi melebar hingga 3,6 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah dapat menempuh langkah efisiensi belanja dan menunda sejumlah proyek infrastruktur untuk menjaga disiplin fiskal. Namun kebijakan tersebut berpotensi memperlambat realisasi pembangunan serta aktivitas ekonomi di sektor konstruksi.

Nico menambahkan, jika pemerintah akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya dapat memicu kenaikan inflasi serta meningkatkan biaya transportasi dan logistik yang pada akhirnya menekan daya beli masyarakat.

Sementara itu, tekanan juga datang dari bursa global. Pada perdagangan Jumat (6/3), indeks saham utama di Wall Street ditutup melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,95 persen ke level 47.501,55. Indeks S&P 500 terkoreksi 1,33 persen ke posisi 6.740,02, sedangkan Nasdaq Composite turun 1,59 persen ke level 22.387,68.

Di dalam negeri, IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (6/3) juga tercatat melemah 124,85 poin atau 1,62 persen ke posisi 7.585,68. Sementara indeks LQ45 turun 11,77 poin atau 1,49 persen ke posisi 776,04.

Dengan berbagai sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan konflik geopolitik dan pergerakan harga minyak global yang dapat mempengaruhi arah IHSG dalam waktu dekat.

Minggu, 01 Februari 2026

Purbaya Pastikan Jeffrey Hendrik Jadi Pjs Dirut BEI, Pasar Modal Tetap Aman dan Terkendali

Purbaya Pastikan Jeffrey Hendrik Jadi Pjs Dirut BEI, Pasar Modal Tetap Aman dan Terkendali
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

JAKARTA -- Kepastian soal kepemimpinan sementara di tubuh PT Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya terjawab. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Jeffrey Hendrik resmi dipercaya sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI.

“Iya, Jeffrey menjadi Pjs Dirut BEI,” ujar Purbaya singkat namun tegas saat dikonfirmasi awak media usai rapat bersama Menko Perekonomian, Danantara, OJK, dan BEI di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu malam.

Penunjukan ini menjadi sorotan, terutama di tengah perhatian publik terhadap kondisi pasar modal Indonesia. 

Purbaya menjelaskan, Jeffrey bersama jajaran manajemen BEI akan menjadi wakil resmi BEI dalam pertemuan penting dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 2 Februari.

Menariknya, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tidak ikut campur dalam proses tersebut. 

Menurutnya, seluruh langkah yang diambil BEI dilakukan sesuai mekanisme internal dan tata kelola yang berlaku.

“Semua diselesaikan sesuai prosedur internal mereka. Pemerintah tidak melakukan intervensi,” kata Purbaya.

Di sisi lain, Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menyampaikan bahwa pengumuman resmi terkait Pjs Dirut BEI akan dilakukan sebelum pembukaan perdagangan Bursa pada Senin pagi. 

Langkah ini diharapkan memberi kepastian sekaligus menenangkan pelaku pasar.

Sebagai informasi, Jeffrey Hendrik saat ini masih menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI dan telah hadir mewakili BEI dalam rapat strategis di Wisma Danantara.

Dalam konferensi pers, Jeffrey menegaskan bahwa operasional BEI tetap berjalan normal. 

Ia memastikan tidak ada gangguan dalam proses pengambilan keputusan manajemen, meski terjadi pergantian pimpinan.

“Kami memastikan seluruh aktivitas Bursa tetap berjalan sebagaimana mestinya. Tidak ada yang terganggu,” ujar Jeffrey dengan nada optimistis.

Tak hanya itu, Jeffrey juga menegaskan komitmen BEI untuk terus membawa pasar modal Indonesia ke level global. 

Fokusnya tidak hanya pada nilai transaksi dan kapitalisasi pasar, tetapi juga pada transparansi dan tata kelola yang setara dengan standar internasional.

“Kami berkomitmen membangun pasar modal Indonesia yang berkelas dunia, baik dari sisi transparansi maupun governance,” tegasnya.

Jeffrey menambahkan, BEI saat ini aktif berkomunikasi dengan sejumlah Indeks Provider Global.

Semua masukan dan harapan yang disampaikan telah dicatat dan akan segera direalisasikan demi memberikan rasa aman dan perlindungan bagi investor.

“Kami ingin memastikan investor global dan domestik merasa nyaman, terlindungi, dan percaya terhadap pasar modal Indonesia,” ujarnya.

Sebelumnya, pada Jumat pagi, 30 Januari, Iman Rachman secara resmi mengundurkan diri dari jabatan Direktur Utama BEI. 

Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab atas kondisi pasar modal Indonesia yang sempat mengalami penurunan tajam harga saham.

Untuk menjaga stabilitas dan kesinambungan kepemimpinan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan akan menunjuk pelaksana tugas Direktur Utama BEI sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Dengan langkah cepat dan terukur ini, publik diharapkan tetap tenang. Pasar modal Indonesia diyakini masih berada di jalur yang aman, transparan, dan terus bergerak menuju standar global.