Berita BorneoTribun: Penyakit Menular hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Menular. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 April 2026

Dinkes Kaltim Perkuat Koordinasi Lintas Sektor Tekan Penyebaran Campak

Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)
Dinkes Kaltim tingkatkan koordinasi lintas sektor dan edukasi masyarakat untuk menekan penyebaran campak di tengah capaian imunisasi yang masih 60 persen. (Gambar ilustrasi)

Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor guna menekan penyebaran penyakit campak yang masih menjadi ancaman serius, khususnya bagi anak-anak.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kaltim, Fit Nawati, menegaskan bahwa mobilitas penduduk yang tinggi di wilayah ini menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko penularan.

“Campak adalah penyakit yang sangat menular dan berbahaya, terutama bagi anak-anak. Saat ini kita menghadapi tantangan untuk menekan penyebaran penyakit tersebut,” ujarnya dalam pertemuan Koordinasi Kewaspadaan Campak yang digelar secara daring, Rabu.

Menurut Fit, langkah koordinasi lintas sektor ini merupakan strategi penting untuk memperkuat kewaspadaan sekaligus meningkatkan edukasi masyarakat. Tidak hanya melibatkan instansi pemerintah, upaya ini juga menggandeng kader posyandu dan tokoh masyarakat sebagai ujung tombak di lapangan.

Cakupan Imunisasi Masih Rendah

Salah satu perhatian utama Dinkes Kaltim adalah rendahnya capaian imunisasi. Saat ini, cakupan imunisasi baru mencapai sekitar 60 persen, masih jauh dari target ideal sebesar 90 persen.

“Kami membutuhkan dukungan semua pihak untuk menyosialisasikan pentingnya imunisasi dan mendorong orang tua membawa bayi serta balita ke fasilitas kesehatan terdekat,” tegasnya.

Rendahnya angka imunisasi ini dinilai menjadi faktor utama meningkatnya potensi penyebaran campak di sejumlah wilayah.

Peran Masyarakat Jadi Kunci

Dinkes menilai bahwa penguatan sinergi lintas sektor dan program menjadi langkah krusial untuk memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan kesehatan melalui imunisasi.

Selain itu, evaluasi dan pemetaan wilayah kerja juga terus dilakukan untuk mendeteksi potensi munculnya kasus baru, terutama di daerah dengan cakupan vaksinasi rendah.

Mobilisasi sosial yang melibatkan kader kesehatan dan tokoh masyarakat disebut sebagai strategi efektif untuk menjangkau masyarakat hingga ke tingkat akar rumput.

“Kami berharap pertemuan ini tidak hanya menjadi forum formal, tetapi menghasilkan kolaborasi nyata yang berdampak langsung pada pencegahan penyebaran penyakit,” tambah Fit.

Ajak Masyarakat Lebih Aktif

Dinkes Kaltim juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kondisi kesehatan lingkungan sekitar. Peran aktif masyarakat dinilai sangat penting dalam mendeteksi dini serta mencegah penyebaran penyakit.

Upaya percepatan penanggulangan campak ini diharapkan bisa berjalan optimal melalui kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

FAQ

1. Apa itu penyakit campak?
Campak adalah penyakit infeksi virus yang sangat menular dan dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

2. Mengapa imunisasi penting untuk mencegah campak?
Imunisasi membantu tubuh membentuk kekebalan terhadap virus campak sehingga dapat mencegah penularan dan komplikasi.

3. Berapa target ideal imunisasi di suatu wilayah?
Target ideal cakupan imunisasi adalah minimal 90 persen untuk menciptakan kekebalan kelompok (herd immunity).

4. Apa yang harus dilakukan orang tua?
Orang tua diimbau membawa bayi dan balita ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi lengkap.

5. Siapa saja yang terlibat dalam pencegahan campak?
Pemerintah, tenaga kesehatan, kader posyandu, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum.

Sabtu, 28 Maret 2026

Kasus Suspek Capai 200, Balikpapan Imbau Isolasi Mandiri Cegah Campak

Kasus suspek campak di Balikpapan tembus 200 orang. Dinkes imbau warga isolasi mandiri dua pekan untuk cegah penularan usai Lebaran. (Gambar ilustrasi)
Kasus suspek campak di Balikpapan tembus 200 orang. Dinkes imbau warga isolasi mandiri dua pekan untuk cegah penularan usai Lebaran. (Gambar ilustrasi)

Balikpapan — Pemerintah Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyebaran campak. Hal ini menyusul lonjakan kasus suspek yang kini mencapai sekitar 200 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menegaskan bahwa isolasi mandiri selama kurang lebih dua pekan menjadi langkah penting untuk menekan penularan penyakit tersebut.

“Isolasi mandiri penting untuk memutus rantai penularan campak di tengah tingginya mobilitas masyarakat pasca-Lebaran,” ujarnya, Jumat.

Menurutnya, isolasi mandiri merupakan salah satu cara paling efektif, terutama untuk mencegah penyebaran di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar. Meski demikian, pasien tetap mendapatkan pengobatan sesuai kondisi masing-masing.

Campak Mudah Menular Lewat Udara

Campak merupakan penyakit akibat infeksi virus yang sangat mudah menyebar melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin. Penyakit ini paling sering menyerang anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Namun, orang dewasa dengan daya tahan tubuh rendah juga tetap berisiko terinfeksi.

Alwiati mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit ini. Meskipun sebagian kasus terlihat ringan, penularannya bisa berlangsung sangat cepat, khususnya pada individu yang belum memiliki kekebalan.

Belum Masuk Kategori Endemis

Sebagian besar kasus suspek ditemukan melalui pemantauan di fasilitas kesehatan. Meski jumlahnya meningkat, Balikpapan masih belum masuk kategori daerah endemis campak.

Artinya, belum diperlukan langkah Outbreak Response Immunization (ORI) dari pemerintah pusat.

Program Imunisasi Digenjot

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan terus menggencarkan program kejar imunisasi bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin campak secara lengkap.

Program ini difokuskan pada kelompok rentan yang berisiko mengalami gejala lebih berat jika terinfeksi.

Selain itu, edukasi tentang perilaku hidup bersih dan sehat juga semakin diperkuat di masyarakat.

Kebiasaan Saat Lebaran Jadi Sorotan

Salah satu perhatian utama adalah kebiasaan masyarakat saat momen Lebaran, seperti menyentuh atau mencium bayi tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.

Kebiasaan ini dinilai berisiko karena seseorang bisa saja membawa virus tanpa disadari.

Surat Edaran Kewaspadaan Diterbitkan

Dinas Kesehatan juga telah menerbitkan surat edaran kewaspadaan yang ditujukan kepada fasilitas kesehatan dan masyarakat.

Tenaga kesehatan diminta aktif melakukan deteksi dini, pemantauan, serta pelacakan apabila ditemukan indikasi penularan di suatu wilayah.

Pengobatan Gratis dan Imbauan Tetap Tenang

Pemerintah memastikan bahwa pengobatan campak dapat diakses secara gratis di fasilitas kesehatan.

Pasien juga diminta untuk beristirahat total dan menghindari kontak dengan orang lain selama masa pemulihan.

Meski situasi perlu diwaspadai, masyarakat diminta tetap tenang. Langkah sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan lingkungan, dan melengkapi imunisasi anak menjadi kunci utama pencegahan.

Dengan kombinasi isolasi mandiri, imunisasi kejar, dan peningkatan kesadaran masyarakat, penyebaran campak di Balikpapan diharapkan dapat segera terkendali tanpa harus masuk fase darurat.

FAQ

Q: Apa itu penyakit campak?
A: Campak adalah infeksi virus yang sangat menular melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin.

Q: Berapa lama isolasi mandiri untuk campak?
A: Sekitar 14 hari atau hingga pasien dinyatakan pulih.

Q: Siapa yang paling berisiko terkena campak?
A: Anak-anak yang belum imunisasi dan orang dengan daya tahan tubuh lemah.

Q: Apakah campak berbahaya?
A: Bisa berbahaya jika tidak ditangani, terutama pada kelompok rentan.

Q: Bagaimana cara mencegah campak?
A: Imunisasi, menjaga kebersihan, mencuci tangan, dan menghindari kontak dengan penderita.

Jumat, 06 Februari 2026

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)
Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)

Nama virus Nipah kembali ramai diperbincangkan publik, seiring meningkatnya kewaspadaan dunia terhadap kemunculan kasus di India. Namun, tahukah Anda bahwa nama penyakit mematikan ini ternyata bukan berasal dari India, melainkan punya akar kuat dari wilayah Melayu?

Hal itu diungkapkan oleh Adjunct Professor Griffith University, Prof. Tjandra Yoga Aditama, yang menjelaskan sejarah penamaan virus Nipah secara runtut dan ilmiah, namun mudah dipahami masyarakat awam.

“Kita semua mengikuti dengan waspada perkembangan penyakit akibat virus Nipah, yang saat ini kasusnya muncul di India. Tapi perlu diketahui, kata ‘Nipah’ itu bukan bahasa India. Itu bahasa Melayu yang sangat kita kenal,” ujar Prof. Tjandra dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.

Awal Mula Virus Nipah Bermula di Malaysia

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)
Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)

Prof. Tjandra memaparkan, berdasarkan penyelidikan epidemiologi secara menyeluruh, klaster pertama virus Nipah justru muncul pada akhir September 1998, di sekitar kota Ipoh, negara bagian Perak, Malaysia.

Tak lama berselang, klaster kedua kembali terdeteksi di sekitar kota Sikamat, Negeri Sembilan, pada periode Desember 1998 hingga Januari 1999. Saat itu, dunia medis belum mengenali penyakit ini secara pasti.

“Pada fase awal, penyakit ini bahkan belum diketahui sebagai virus baru. Awalnya diduga sebagai Japanese Encephalitis (radang otak Jepang),” jelasnya.

Salah Diagnosa Hingga Wabah Besar Terjadi

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)
Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)

Kesalahan dugaan tak berhenti di situ. Penyakit tersebut sempat disangka sebagai penyakit Hendra, karena gejalanya yang mirip dan asal virusnya yang berdekatan. Hal ini bahkan tercatat dalam jurnal ilmiah Morbidity Mortality Weekly Report (MMWR) edisi April 1999, dengan judul Outbreak of Hendra-Like Virus—Malaysia and Singapore, 1998–1999.

Namun, situasi berubah drastis saat klaster ketiga muncul dan berkembang menjadi wabah terbesar, yang berpusat di Kampung Sungai Nipah dan Bukit Pelandok, wilayah Port Dickson, Negeri Sembilan, mulai Desember 1998.

Karena tingkat penularan yang mengkhawatirkan, Kampung Sungai Nipah akhirnya di-lockdown oleh pemerintah setempat.

Dari Nama Desa, Lahir Nama Virus Dunia

Dari penelitian mendalam yang dilakukan di Kampung Sungai Nipah inilah, para ahli akhirnya menyimpulkan bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh virus baru yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi.

Virus itu kemudian diberi nama Virus Nipah, diambil langsung dari nama desa tempat virus tersebut pertama kali diidentifikasi secara resmi.

“Buku Nipah Virus Infection terbitan WHO Southeast Asia Regional Office (SEARO) tahun 2008 juga menegaskan bahwa penamaan virus ini merujuk pada desa di Malaysia tempat virus itu ditemukan,” ungkap mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut.

Bagian dari Keluarga Virus Berbahaya

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)
Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)

Prof. Tjandra menambahkan, alasan awal penyakit ini disangka sebagai Japanese Encephalitis karena keduanya sama-sama menyerang otak dan menyebabkan ensefalitis. Sementara dugaan sebagai penyakit Hendra muncul karena kemiripan gejala dan asal virus.

Pada akhirnya, virus Nipah bersama virus Hendra membentuk kelompok gen virus baru bernama Henipavirus (gabungan dari Hendra dan Nipah), yang masuk dalam keluarga Paramyxoviridae—kelompok virus yang dikenal berbahaya dan berpotensi memicu wabah besar.

Kenapa Ini Penting untuk Kita Ketahui?

Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)
Asal Usul Nama Virus Nipah Terungkap, Ternyata Berakar dari Desa Melayu. (Gambar ilustrasi IA)

Memahami asal-usul virus Nipah bukan sekadar cerita sejarah medis. Informasi ini penting agar masyarakat lebih sadar akan bahaya penyakit zoonosis, yakni penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia, serta pentingnya kewaspadaan dini terhadap wabah baru.

Dengan pengetahuan yang tepat, kita tidak mudah panik, tapi juga tidak lengah. Karena seperti yang ditunjukkan sejarah, virus kecil bisa membawa dampak besar bagi dunia.

Editor: Yakop | Sumber: ANTARA/Hreeloita Dharma Shanti