Berita BorneoTribun: Perang hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perang. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Februari 2026

Rusia Lagi Krisis Pekerja, Perekrutan Sampai Menyebar ke Asia!

Rusia Lagi Krisis Pekerja, Perekrutan Sampai Menyebar ke Asia. (Gambar ilustrasi)
Rusia Lagi Krisis Pekerja, Perekrutan Sampai Menyebar ke Asia. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA -- Rusia sedang menghadapi masalah serius: kekurangan pekerja yang cukup parah akibat perang di Ukraina. Selama bertahun-tahun, negara ini mengandalkan migran dari Asia Tengah untuk menutup kekosongan tenaga kerja. Tapi sekarang, krisisnya lebih besar dari sebelumnya—hingga membuat perekrutan tenaga kerja meluas ke negara-negara padat penduduk di Asia.

Pemerintah Rusia sendiri memprediksi ekonomi mereka bakal butuh tambahan sekitar 11 juta pekerja hingga akhir dekade ini agar pertumbuhan ekonomi tetap stabil. Ini angka yang bikin pengusaha dan pejabat pusing tujuh keliling.

Dampak nyata dari krisis ini bisa terlihat dari lonjakan izin kerja bagi warga asing. Misalnya, jumlah izin kerja untuk warga India melonjak dari sekitar 5.000 pada 2021 menjadi lebih dari 56.000 tahun lalu. Total izin kerja bagi pekerja asing di Rusia juga mencapai lebih dari 240.000 pada 2025, angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Ini bukti betapa mendesaknya situasi tenaga kerja di negara itu.

Salah satu langkah konkret Rusia adalah membuat kesepakatan dengan negara-negara Asia untuk menyederhanakan prosedur migrasi sementara. Kesepakatan ini dibahas dalam kunjungan Presiden Rusia ke New Delhi, India. Dengan aturan baru, pekerja dari negara-negara Asia bisa lebih mudah masuk dan bekerja di Rusia, membantu menutup celah kekurangan tenaga kerja.

Kenapa ini penting untuk kita ketahui? Selain soal ekonomi Rusia, fenomena ini menunjukkan dampak perang dan krisis demografi yang nyata. Ketika suatu negara kekurangan pekerja, aktivitas bisnis bisa terganggu, harga barang naik, dan layanan publik bisa tersendat. Jadi, pengelolaan tenaga kerja internasional menjadi salah satu strategi penting agar ekonomi tetap berjalan lancar.

Bagi pekerja dari negara lain, ini jadi peluang besar. Selain pengalaman kerja internasional, mereka bisa mendapatkan penghasilan yang mungkin lebih tinggi dibandingkan di negara asal. Namun, ada hal yang perlu diperhatikan: memahami aturan kerja, budaya kerja baru, serta hak dan kewajiban sebagai pekerja migran. Ini penting supaya pengalaman kerja di luar negeri berjalan aman dan lancar.

Bagi pemerintah atau perusahaan, krisis ini memberi pelajaran: pentingnya investasi pada tenaga kerja lokal dan migran. Pengembangan keterampilan, pelatihan, dan regulasi yang jelas bisa mencegah masalah serupa di masa depan. Di sisi lain, warga yang ingin bekerja di luar negeri harus siap dengan adaptasi budaya, bahasa, dan sistem kerja yang berbeda.

Kesimpulannya, krisis pekerja di Rusia akibat perang bukan cuma masalah lokal, tapi memberi dampak luas. Dengan perekrutan meluas ke Asia, negara-negara pengirim pekerja punya peluang sekaligus tanggung jawab untuk mempersiapkan tenaga kerjanya. Solusinya sederhana tapi menantang: kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan pekerja untuk memastikan kebutuhan tenaga kerja terpenuhi tanpa menimbulkan masalah sosial baru.

Rusia membuktikan, di dunia yang semakin terhubung, masalah tenaga kerja tidak lagi mengenal batas negara. Jadi, siap atau tidak, negara mana pun harus mulai memikirkan strategi tenaga kerja yang cerdas dan adaptif untuk menghadapi tantangan global.

Senin, 19 Januari 2026

Peringatan Keras Presiden Iran Pezeshkian Serang Khamenei Sama Artinya Perang Terbuka dengan Iran

Peringatan Keras Presiden Iran Pezeshkian Serang Khamenei Sama Artinya Perang Terbuka dengan Iran
Peringatan Keras Presiden Iran Pezeshkian Serang Khamenei Sama Artinya Perang Terbuka dengan Iran.

JAKARTA - Presiden Iran Masoud Pezeshkian melontarkan peringatan keras yang langsung menggema ke panggung politik global. Ia menegaskan, siapa pun yang berani menyerang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akan dianggap telah menyatakan perang terbuka terhadap seluruh bangsa Iran.

Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian sebagai respons atas komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyinggung kemungkinan mencari pemimpin baru untuk Iran. Menurut Pezeshkian, ucapan tersebut bukan sekadar opini politik, melainkan ancaman serius terhadap kedaulatan negaranya.

“Menyerang pemimpin besar negara kami sama saja dengan memicu perang skala penuh dengan rakyat Iran,” tegas Pezeshkian dalam unggahan di media sosial X, seperti dikutip dari AFP, Senin 19 Januari 2026.

Ia menekankan bahwa Ayatollah Ali Khamenei bukan hanya pemimpin tertinggi secara struktural, tetapi juga simbol persatuan nasional yang menyatukan rakyat Iran di tengah tekanan internasional. Karena itu, segala bentuk ancaman terhadap Khamenei dipandang sebagai serangan langsung terhadap negara.

Di sisi lain, Ayatollah Ali Khamenei sebelumnya juga melontarkan tudingan keras kepada Amerika Serikat dan Israel. Ia menuduh pihak-pihak yang memiliki keterkaitan dengan kedua negara tersebut sebagai dalang di balik kerusuhan besar yang terjadi saat gelombang protes anti-pemerintah melanda Iran.

Menurut Khamenei, aksi demonstrasi yang berlangsung selama lebih dari dua minggu itu berubah menjadi kekerasan yang menelan korban jiwa dalam jumlah besar. Ia menyebut ribuan orang tewas akibat kerusuhan yang, menurutnya, tidak lepas dari campur tangan asing.

“Mereka yang terhubung dengan Israel dan Amerika Serikat telah menyebabkan kerusakan besar dan membunuh ribuan orang selama protes yang mengguncang Iran,” ujar Khamenei, dikutip dari Al Jazeera, Minggu 18 Januari.

Tak berhenti di situ, Khamenei juga secara langsung menuding Presiden AS Donald Trump terlibat dalam eskalasi konflik tersebut. Ia bahkan menyebut Trump sebagai kriminal dan menilai situasi kali ini berbeda karena adanya keterlibatan pribadi dari presiden Amerika Serikat.

Pemberontakan anti-Iran terbaru ini berbeda, karena presiden AS terlibat secara langsung,” kata Khamenei.

Pernyataan saling serang dari kedua negara ini menandakan meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat. Banyak pihak menilai, situasi tersebut berpotensi memicu konflik yang lebih luas jika tidak segera diredam melalui jalur diplomasi.

@borneotribun.com Balas Pernyataan Trump, Presiden Iran Ancam Perang Besar Jika Khamenei Diserang Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengeluarkan peringatan keras yang langsung menarik perhatian dunia. Ia menegaskan, setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, akan dianggap sebagai deklarasi perang terhadap bangsa Iran. Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian melalui media sosial X, menanggapi komentar Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang sebelumnya menyebut soal kemungkinan mencari pemimpin baru untuk Iran. Dalam pernyataannya, Pezeshkian menegaskan bahwa Ayatollah Khamenei adalah simbol persatuan nasional Iran. Menurutnya, menyerang pemimpin tertinggi negara sama artinya dengan memicu perang skala penuh dengan rakyat Iran. Di sisi lain, Ayatollah Ali Khamenei juga melontarkan tudingan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Ia menuduh aktor-aktor yang terkait dengan kedua negara tersebut bertanggung jawab atas kematian ribuan orang selama aksi protes anti-pemerintah yang berlangsung selama beberapa pekan di Iran. Kunjungi & Ikuti: https://www.borneotribun.com/ https://www.youtube.com/@borneotribun https://www.instagram.com/borneotribun https://www.tiktok.com/@borneotribun.com https://www.threads.com/@borneotribun https://x.com/borneotribun https://id.pinterest.com/borneotribun/ #iran #timurtengah #beritadunia #politikglobal #trump ♬ suara asli - Borneotribun

Rabu, 14 Agustus 2024

Trump dan Elon Musk Bahas Imigrasi hingga Perang Nuklir

Trump dan Elon Musk Bahas Imigrasi hingga Perang Nuklir
Trump dan Elon Musk Bahas Imigrasi hingga Perang Nuklir.
JAKARTA - Pada Senin lalu, mantan Presiden Donald Trump dan CEO Tesla sekaligus pemilik X, Elon Musk, mengadakan percakapan ramah di platform X setelah wawancara mereka sempat tertunda lebih dari 40 menit karena kendala teknis. 

Wawancara ini menjadi sorotan, karena menandai kembalinya Trump ke X setelah hampir setahun tidak aktif.

Penundaan ini menjadi salah satu rintangan terbaru dalam kampanye Trump yang sedang berusaha mendapatkan kembali momentum, terutama setelah Partai Demokrat bersatu di belakang Wakil Presiden Kamala Harris. 

Trump dan Elon Musk Bahas Imigrasi hingga Perang Nuklir
Mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Ini juga menjadi kali kedua Musk mengalami kesulitan teknis saat mencoba meluncurkan X Space dengan seorang kandidat presiden.

Percakapan ini dipenuhi dengan pujian dari kedua belah pihak. Trump berterima kasih kepada Musk atas dukungannya, sementara Musk mengungkapkan pandangannya bahwa dunia sedang berada di persimpangan jalan, dan Trump adalah "jalan yang benar" untuk diambil. 

Tak ketinggalan, Trump juga sempat membahas berbagai topik mulai dari kebijakan energi, perubahan iklim, hingga ancaman perang nuklir.

Trump dan Musk juga membicarakan isu imigrasi, di mana Trump kembali menekankan rencananya untuk melakukan deportasi besar-besaran jika terpilih kembali. 

Musk, di sisi lain, mengusulkan pembentukan komisi presiden baru yang fokus pada "efisiensi pemerintahan" dan bahkan menawarkan dirinya untuk memimpin komisi tersebut, yang disambut hangat oleh Trump.

Selama wawancara, Trump juga mengulang berbagai klaim yang sering ia sampaikan, termasuk tuduhan tanpa bukti bahwa Demokrat berencana untuk menggulingkan Presiden Joe Biden dari pemilihan. 

Selain itu, ia mengkritik kondisi mental Biden dan mengomentari sampul majalah Time yang menampilkan Harris.

Percakapan ini menarik perhatian, terutama ketika Trump terdengar seperti mengalami kesulitan berbicara pada beberapa kesempatan. 

Trump dan Elon Musk Bahas Imigrasi hingga Perang Nuklir
Elon Musk.
Meskipun begitu, juru bicara kampanye Trump, Steven Cheung, menepis kekhawatiran tersebut dengan menyatakan bahwa hal itu mungkin disebabkan oleh masalah pendengaran dari pihak penonton.

Kampanye Harris tak ketinggalan memberikan respons, menyebut Trump dan Musk sebagai "orang kaya yang egois" yang hanya peduli pada kepentingan mereka sendiri.

Wawancara ini mungkin menandai awal dari lebih banyak kolaborasi antara Trump dan Musk di masa depan. 

Dengan berbagai topik menarik yang dibahas, dari energi hingga AI, "Trump Musk interview" ini memberikan gambaran tentang bagaimana keduanya mungkin bekerja sama jika Trump kembali ke Gedung Putih.

Kamis, 13 Mei 2021

40 orang di Jalur Gaza dan Yerusalem tewas dalam pertempuran Hamas dan Israel

Peluncuran roket menuju Israel dari Kota Gaza, dikendalikan oleh gerakan Hamas Palestina, pada 11 Mei 2021. (Foto: AFP/Mahmud Hams)

BorneoTribun Internasional -- Sedikitnya 40 orang di Jalur Gaza dan Yerusalem telah tewas dalam pertempuran antara Hamas dan pasukan keamanan Israel yang meningkat hari Rabu (12/5).

Israel meluncurkan serangan udara baru terhadap Gaza pada Rabu (12/5) pagi, menarget instalasi polisi dan keamanan. Sebuah bangunan tempat tinggal dan kantor berlantai banyak rusak berat akibat serangan itu. Tidak seorang pun berada di dalam bangunan itu pada waktu serangan udara.

Serangan sebelumnya pada hari Selasa (11/5), meratakan bangunan hunian beberapa tingkat yang juga dihuni beberapa kantor Hamas. Warga di gedung itu dan daerah sekitarnya diperingatkan untuk mengungsi sebelum bangunan itu dihancurkan.

Serangan udara itu, yang menurut pasukan militer Israel menarget lokasi-lokasi peluncuran roket, kantor-kantor intelijen dan rumah para pemimpin Hamas, telah menewaskan 35 orang di Gaza, termasuk 10 anak-anak, kata Kementerian Kesehatan Gaza. Lebih dari 200 lainnya cedera akibat serangan udara itu.

Sementara itu, lima orang Israel tewas dalam serangan roket Hamas hari Selasa dan Rabu pagi, termasuk dua orang di kota Ashkelon. Hamas telah menembakkan ratusan roket ke arah kota Tel Aviv, Israel, dan sekitarnya sejak Senin, termasuk peluncuran 130 misil pada Selasa malam sebagai tanggapan atas penghancuran bangunan tinggi di Gaza.

Serangan maut dengan saling menembakkan roket dan serangan udara, pertempuran terbesar antara kelompok militan Palestina itu dan pasukan Israel sejak perang 2014 di Gaza, dipicu oleh kerusuhan yang kian besar terkait kontrol atas Yerusalem dan upaya-upaya pemukim Yahudi untuk mengambil alih komunitas yang dikuasai warga Arab.

Ketegangan meluas ke Tepi Barat, di mana ratusan warga di komunitas Arab di berbagai penjuru Israel melancarkan protes semalam menentang aksi pasukan keamanan Israel baru-baru ini terhadap warga Palestina.

Lebih dari 700 orang Palestina cedera dalam pertempuran di kota Yerusalem yang diperebutkan dan di berbagai penjuru Tepi Barat.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki, Selasa (12/5), mengatakan AS mengecam serangan roket oleh Hamas dan kelompok-kelompok teroris lainnya, dan mengatakan dukungan Presiden Joe Biden bagi keamanan Israel, atas hak sahnya untuk membela diri dan rakyatnya, merupakan hal mendasar dan tidak akan goyah.”

Ia menambahkan pemerintahan AS yang sekarang mendukung solusi dua negara bagi konflik puluhan tahun ini. [uh/ab]

Oleh: VOA