Iklan Tutup X
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peristiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2026

“Kami Akan Perbaiki Ini” Disdik Kalteng Bergerak Cepat Usai Video Pelajar di Kelas Jadi Sorotan

Disdik Kalteng evaluasi sekolah di Palangka Raya usai video pelajar viral, siapkan pengawasan CCTV dan penguatan karakter siswa di lingkungan pendidikan. (Foto ilustrasi)
Disdik Kalteng evaluasi sekolah di Palangka Raya usai video pelajar viral, siapkan pengawasan CCTV dan penguatan karakter siswa di lingkungan pendidikan. (Foto ilustrasi)

Palangka Raya, Kalteng — Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Kalimantan Tengah melakukan evaluasi terhadap sebuah sekolah di Palangka Raya pada Sabtu (Juni 2026) setelah video pelajar yang diduga melakukan tindakan tidak pantas di ruang kelas beredar luas dan memicu perhatian publik.

Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, Reza Prabowo, mengatakan pihaknya langsung berkoordinasi dengan kepala sekolah serta memanggil orang tua dari kedua siswa yang terlibat. Langkah ini dilakukan untuk menyelesaikan persoalan secara menyeluruh sekaligus memberikan pembinaan kepada para pelajar.

Selain itu, siswa yang terlibat telah dikenai sanksi dan diwajibkan menjalani pembinaan rutin melalui guru Bimbingan Konseling (BK).

Video Viral Terjadi Saat Jam Istirahat

Video tersebut diketahui mulai beredar sejak awal Juni 2026. Peristiwa yang terekam terjadi di lingkungan sekolah saat jam istirahat, bukan pada saat proses belajar mengajar berlangsung.

Meski demikian, Disdik Kalteng menilai kejadian tersebut tetap serius karena terjadi di area sekolah dan mencerminkan perlunya penguatan pengawasan serta pembinaan karakter siswa.

“Ini tentu menjadi perhatian kita bersama. Hal-hal yang tidak baik di sekolah akan kita evaluasi,” ujar Reza Prabowo di Palangka Raya.

Ia menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah, sesuai arahan Gubernur Agustiar Sabran, menaruh perhatian besar pada pembentukan karakter peserta didik. Siswa diharapkan tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki etika, akhlak, dan sopan santun yang baik.

Reza juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut dan memastikan evaluasi menyeluruh akan dilakukan terhadap sistem pengawasan sekolah.

Sebagai langkah pencegahan, Disdik Kalteng berencana meningkatkan sistem pengawasan di lingkungan sekolah, termasuk mengusulkan pemasangan kamera CCTV di ruang kelas dan area sekolah.

“Kami akan mencoba mengusulkan agar setiap sekolah dapat dipantau melalui CCTV sehingga memberikan rasa aman, tertib, dan dapat meminimalisir kejadian serupa,” jelasnya.

Selain itu, Disdik Kalteng juga memperkuat program pembinaan karakter siswa secara berkelanjutan agar lingkungan pendidikan tetap kondusif.

Pemerintah daerah menegaskan bahwa kasus ini menjadi bahan evaluasi penting untuk memperkuat sistem pendidikan di Kalimantan Tengah, terutama dalam aspek pengawasan dan pembinaan perilaku siswa.

“Kami mohon doa dan dukungan semua pihak agar pendidikan di Kalimantan Tengah berjalan lebih baik, dan anak-anak kita memiliki adab serta etika yang sesuai harapan masyarakat,” tutup Reza.

Sabtu, 20 Juni 2026

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang

Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya. (Foto ilustrasi)

SINTANG - Seorang remaja berusia 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dilaporkan tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan berusaha diselamatkan warga yang berada di sekitar lokasi.

Korban sebelumnya terlihat dalam kondisi membutuhkan bantuan. Sejumlah warga yang mengetahui kejadian itu langsung berupaya memberikan pertolongan.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Salah seorang warga bahkan berhasil menjangkau korban dan sempat memegang tubuhnya. Namun nahas, korban terlepas dari pegangan saat proses penyelamatan berlangsung.

Korban kemudian tenggelam dan menghilang di perairan Danau Biru Sintang.

Informasi yang diperoleh menyebutkan korban merupakan warga Baning, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Sebelum tenggelam, korban sempat meminta tolong kepada warga yang berada di sekitar lokasi.

Upaya Penyelamatan Gagal, Remaja 17 Tahun Tenggelam di Danau Biru Sintang
Remaja 17 tahun asal Baning, Kabupaten Sintang, tenggelam di Danau Biru Sintang setelah sempat meminta pertolongan dan terlepas dari pegangan warga yang berusaha menyelamatkannya.

Meski warga telah berupaya melakukan penyelamatan dengan cepat, korban tidak berhasil dipertahankan dan akhirnya hilang di dalam danau.

Pria Ditemukan Meninggal di Rumah Kosong, Polisi: Tidak Ada Tanda Kekerasan

Foto: Lokasi Penemuan Mayat Seorang Pria di Rumah Kosong 

SUNGAI RAYA - Seorang pria ditemukan meninggal dunia di teras rumah kosong di Jalan Parit Nomor 2, Gang Flamboyan 2, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Jumat 19 Juni 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Penemuan bermula dari laporan sekelompok anak yang mencium aroma tidak sedap saat bermain di sekitar lokasi. Mereka kemudian mendapati sesosok pria terbujur kaku di teras rumah kosong dan langsung melapor ke warga sekitar.

Warga yang menerima laporan segera mendatangi lokasi dan menghubungi Polsek Sungai Raya. Tim Identifikasi Polres Kubu Raya bersama personel Polsek Sungai Raya langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).

Kasubsie Penamas Polres Kubu Raya Aiptu Ade membenarkan peristiwa tersebut. Korban diketahui berinisial WH, 31 tahun, warga setempat.

“Saat ditemukan, jenazah WH berada dalam posisi telentang di teras rumah dengan mengenakan kaos berwarna cokelat dan celana pendek abu-abu. Di sekitar lokasi dipenuhi tumpukan sampah plastik,” ujar Ade, Sabtu 19 Juni 2026.

Hasil pemeriksaan luar Tim Identifikasi tidak menemukan luka menganga atau tanda-tanda kekerasan fisik pada tubuh maupun kepala korban. Dari keterangan saksi dan keluarga, diketahui korban mengalami gangguan jiwa semasa hidupnya.

Pihak keluarga telah menyatakan ikhlas dan menolak dilakukan visum maupun autopsi. Jenazah kemudian diserahkan kepada keluarga dan pengurus Yayasan Budi Bhakti Marga Chai untuk dimakamkan. Situasi di lokasi saat ini sudah kondusif. (Tim)


Jumat, 19 Juni 2026

Guru SD di Mempawah Hulu Tersambar Petir Saat Perbaiki Saluran Air

Foto Ini Hanya Ilustrasi Kejadian

LANDAK (BORNEOTRIBUN.COM), – Seorang warga bernama Ferdinan Tolan, S.TH. (50), yang berprofesi sebagai guru SD dan merupakan warga Dusun Batu Catur, Desa Sabaka, Kecamatan Mempawah Hulu, meninggal dunia pada Kamis (18/06/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, diduga akibat tersambar petir.

Berdasarkan keterangan keluarga, sebelum kejadian korban pergi untuk memperbaiki saluran air bersih meskipun kondisi cuaca sedang hujan disertai petir. Setelah selesai memperbaiki saluran air, korban diduga berhenti di sekitar pohon durian yang berada tidak jauh dari lokasi.

Karena korban tidak kunjung pulang, pihak keluarga menyuruh anak bungsunya untuk menyusul. Setibanya di lokasi, korban ditemukan dalam keadaan tergeletak dan tidak sadarkan diri di bawah pohon durian. Korban kemudian dibawa pulang ke rumah oleh keluarga.

Bidan yang melakukan pemeriksaan awal menyatakan korban telah meninggal dunia. Pada tubuh korban ditemukan luka yang diduga akibat sambaran petir, berupa bekas luka bakar pada bagian belakang kepala serta luka melepuh pada bagian belakang pinggang.

Kapolsek Mempawah Hulu Iptu Freddy Surya Purnama menyampaikan, bahwa berdasarkan hasil pengecekan awal tidak ditemukan indikasi tindak pidana dalam peristiwa tersebut. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan visum maupun autopsi.

"Jenazah saat ini disemayamkan di rumah duka dan direncanakan akan dimakamkan pada Jumat (19/06/2026) besok."ujar Kapolsek.

Ia juga mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan saat cuaca ekstrem, khususnya menghindari aktivitas di area terbuka maupun berteduh di bawah pohon saat hujan disertai petir guna mencegah kejadian serupa.

"Intinya kita harus ekstra hati hati apalagi cuaca sedang tidak mendukung, kalau bisa jika cuaca ekstrem sebaiknya berada di rumah saja." tutup Kapolsek.

Selasa, 16 Juni 2026

Rumah Warga di Sungai Kakap Hangus Terbakar Diduga Akibat Korsleting Listrik

Foto: Puing-puing bangunan pasca kebakaran 

KUBU RAYA - Satu unit rumah tinggal milik Haryono (52) di Dusun Merak, RT 003/RW 009, Desa Sungai Kakap, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, hangus terbakar api pada Selasa 16 Juni 2026 siang.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 10.50 WIB ini mengejutkan warga sekitar setelah kobaran api cepat membesar dan meluas ke badan bangunan.

Kapolsek Sungai Kakap Iptu Widiharso melalui Kasubsie Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade menjelaskan, titik api pertama kali diketahui dari teriakan histeris warga di luar rumah. 

Saat kejadian, anak pemilik rumah berada di dalam dan sedang mengerjakan tugas kuliah di ruang tengah. Setelah mendengar teriakan warga, ia menuju dapur dan mendapati api sudah membumbung tinggi dari arah belakang kulkas.

Korban sempat berupaya memadamkan api dengan air seadanya, namun material yang mudah terbakar membuat api cepat menyebar. Korban kemudian menyelamatkan diri dan menghubungi pemadam kebakaran serta Polsek Sungai Kakap.

Personel Polsek Sungai Kakap dan tim pemadam kebakaran tiba di lokasi sekitar pukul 11.00 WIB. Sebanyak 8 unit pemadam gabungan dikerahkan untuk melokalisir api agar tidak merembet ke pemukiman padat penduduk.

Aiptu Ade menegaskan kehadiran polisi di TKP untuk mengamankan lokasi, memastikan jalur evakuasi dan pergerakan armada pemadam tidak terhambat, serta mengantisipasi potensi penjarahan.

Api berhasil dipadamkan total pada pukul 11.35 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam kejadian ini. Kerugian materil masih dalam proses pendataan.

Berdasarkan hasil olah TKP awal dan keterangan saksi, kebakaran diduga kuat akibat korsleting arus listrik pada kabel kulkas di dapur korban.

Polres Kubu Raya mengimbau masyarakat agar rutin memeriksa kelayakan instalasi listrik dan penggunaan elektronik di rumah untuk mencegah kejadian serupa. (Tim/Jm)

Sempat Terlihat Kelelahan, Abang To Ditemukan Meninggal di Jalan Botong Sekadau

Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.
Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.

SEKADAU – Penemuan mayat seorang pria lanjut usia di Jalan Botong, Dusun Selabi, Desa Seberang Kapuas, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, mengundang perhatian warga setempat. Korban diketahui bernama Abang To (64), warga Desa Seberang Kapuas, yang ditemukan meninggal dunia pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 17.30 WIB.

Peristiwa tersebut segera dilaporkan kepada perangkat desa dan diteruskan kepada pihak kepolisian. Menindaklanjuti laporan warga, Tim Inafis Satreskrim Polres Sekadau bersama personel Polsek Sekadau Hilir langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) serta pemeriksaan awal guna memastikan penyebab kematian korban.

Sempat Terlihat Kelelahan, Abang To Ditemukan Meninggal di Jalan Botong Sekadau
Penemuan mayat Abang To di Dusun Selabi, Sekadau, ditangani Tim Inafis Polres Sekadau. Hasil olah TKP memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan maupun unsur tindak pidana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun polisi, Abang To sebelumnya berangkat menuju pondok miliknya di wilayah Mungguk Botong pada Minggu (14/6/2026) sekitar pukul 07.00 WIB. Pondok tersebut biasa digunakan korban sebagai tempat beristirahat maupun bermalam saat mengurus kebun.

Sehari kemudian, korban sempat terlihat berjalan turun dari arah Mungguk Botong menuju Dusun Selabi. Kepala Dusun Selabi, Yohanes, menyebut korban terlihat melintas pada Senin (15/6/2026) sekitar pukul 13.00 WIB dan tampak dalam kondisi kelelahan setelah perjalanan dari kawasan kebun.

Beberapa jam setelah itu, warga menemukan korban dalam keadaan tidak bernyawa di Jalan Botong. Penemuan mayat tersebut sempat menimbulkan pertanyaan mengenai penyebab kematian korban sehingga polisi melakukan pemeriksaan secara menyeluruh di lokasi kejadian.

Kasat Reskrim Polres Sekadau IPTU Zainal Abidin menjelaskan, hasil olah TKP dan pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi tindak pidana pada tubuh korban.

"Dari hasil olah TKP dan pemeriksaan awal yang dilakukan, petugas tidak menemukan tanda-tanda kekerasan maupun indikasi tindak pidana pada tubuh korban," ujar IPTU Zainal.

Dalam pemeriksaan di lokasi, petugas menemukan luka lecet pada bagian kaki dan tangan kanan korban. Namun, luka tersebut diduga terjadi akibat gesekan dengan ilalang atau vegetasi di sekitar lokasi penemuan. Selain itu, petugas juga mendapati semut api mengerumuni tubuh korban saat proses identifikasi dilakukan.

Menurut IPTU Zainal, kondisi lingkungan sekitar lokasi menjadi faktor yang diduga menyebabkan munculnya luka-luka ringan tersebut. Hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya bekas penganiayaan maupun tanda kekerasan lain yang mengarah pada tindakan kriminal.

"Hasil pemeriksaan tidak menemukan adanya tanda kekerasan. Luka yang ditemukan diduga dipengaruhi kondisi lingkungan di sekitar lokasi," jelasnya.

Setelah seluruh rangkaian olah TKP selesai dilakukan, jenazah korban dievakuasi dan diserahkan kepada keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Desa Seberang Kapuas. Pihak keluarga menerima peristiwa tersebut sebagai musibah dan tidak mengajukan permintaan pemeriksaan lanjutan.

Penanganan cepat yang dilakukan warga, perangkat desa, Bhabinkamtibmas, hingga Tim Inafis Polres Sekadau memungkinkan proses identifikasi dan pemeriksaan berlangsung dengan lancar. Berdasarkan hasil penyelidikan awal yang dilakukan kepolisian, tidak ditemukan unsur pidana dalam kematian Abang To.

"Jenazah telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan dan olah TKP yang dilakukan, tidak ditemukan indikasi tindak pidana terkait peristiwa tersebut," pungkas IPTU Zainal.

Minggu, 14 Juni 2026

Tragis di Luwu Timur, Gadis 21 Tahun Tewas di Sawah, Pelakunya Ternyata Tetangga Sendiri

Pelajar SMA di Luwu Timur diduga bunuh tetangganya di sawah. Polisi ungkap motif cinta bertepuk sebelah tangan dan amankan pelaku dalam 9 jam. (Foto ilustrasi)
Pelajar SMA di Luwu Timur diduga bunuh tetangganya di sawah. Polisi ungkap motif cinta bertepuk sebelah tangan dan amankan pelaku dalam 9 jam. (Foto ilustrasi)

Pelajar SMA di Luwu Timur Diduga Bunuh Tetangga, Polisi Ungkap Motif Cinta Bertepuk Sebelah Tangan

Seorang pelajar SMA berinisial AD (17) ditangkap polisi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada Jumat (12/6/2026), setelah diduga membunuh tetangganya sendiri, Abi Limbong (21), yang bekerja sebagai cleaning service di Puskesmas Kalaena Kiri. Korban sebelumnya ditemukan tewas di area persawahan pada Kamis (11/6/2026) dini hari.

Peristiwa ini langsung menggegerkan warga sekitar karena pelaku dan korban diketahui tinggal berdampingan sebagai tetangga. Hubungan kedekatan lokasi tinggal itu justru berubah menjadi tragedi yang berujung kematian.

Berdasarkan keterangan kepolisian, korban saat itu berangkat kerja pada dini hari seperti biasanya. Dalam kondisi jalan desa yang masih gelap dan sepi, korban diduga sudah diikuti oleh pelaku sejak keluar rumah.

Saat berada di jalur persawahan, pelaku kemudian melakukan penyergapan hingga terjadi perlawanan antara keduanya. Korban sempat berusaha melarikan diri dan berteriak meminta pertolongan warga.

Namun, pelaku kembali mengejar korban hingga ke area sawah. Di lokasi tersebut, pelaku mengambil batu dan memukul bagian belakang kepala korban. Benturan keras itu membuat korban jatuh ke kubangan lumpur dan meninggal dunia di tempat.

Setelah kejadian, pelaku kembali ke rumahnya dengan kondisi tubuh dan pakaian penuh lumpur sawah. Jejak tersebut kemudian menjadi salah satu petunjuk penting yang mengarah pada penangkapannya.

Polisi dari Polsek Mangkutana berhasil mengamankan pelaku hanya sekitar sembilan jam setelah jasad korban ditemukan.

Wakapolres Luwu Timur, Kompol Hajri, menyebut motif sementara dari kasus ini berkaitan dengan obsesi pelaku terhadap korban.

“Pelaku sudah lama terobsesi dengan kemolekan tubuh korban hingga kerap mengintip saat korban mandi,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).

Pernyataan tersebut menguatkan dugaan bahwa tindakan pelaku dipicu oleh ketertarikan sepihak yang tidak terkendali hingga berujung tindakan kriminal.

Saat ini pelaku AD telah diamankan pihak kepolisian untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Karena masih di bawah umur, proses hukum terhadap pelaku akan mengikuti ketentuan perlindungan anak yang berlaku di Indonesia.

Polisi juga masih mendalami rangkaian peristiwa untuk memastikan kronologi lengkap, termasuk dugaan adanya kekerasan lain yang terjadi sebelum korban meninggal dunia.

Kasus ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga sekitar, terutama karena pelaku dan korban merupakan tetangga dekat. Aktivitas masyarakat di sekitar lokasi kejadian disebut sempat terganggu akibat peristiwa tersebut.

Tragedi ini juga kembali menyoroti pentingnya pengawasan sosial di lingkungan perumahan dan desa, terutama terkait perilaku remaja yang dapat berkembang tanpa kontrol yang tepat.

Pagi Air Sungai Mempawah Mendadak Jernih, Sejam Kemudian Jutaan Ikan Mulai Mengapung

Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.
Ribuan hingga jutaan ikan keramba di Sungai Mempawah mati mendadak. Pembudidaya mengalami kerugian besar dan terpaksa melakukan panen darurat dengan harga murah.

Kematian Massal Ikan di Sungai Mempawah, Ancaman Serius bagi Pembudidaya Keramba

MEMPAWAH - Kematian massal ikan yang terjadi di Sungai Mempawah, Kalimantan Barat, menjadi pukulan berat bagi para pembudidaya keramba apung. 

Dalam waktu singkat, ratusan ribu hingga diperkirakan jutaan ekor ikan budidaya ditemukan mati mendadak, menyebabkan kerugian ekonomi yang tidak sedikit bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan air tawar.

Peristiwa yang terjadi pada Rabu (10/6/2026) pagi itu mengundang perhatian banyak pihak. 

Sepanjang aliran Sungai Mempawah, ikan mas dan ikan nila terlihat mengapung dalam kondisi lemas sebelum akhirnya mati. 

Fenomena tersebut membuat permukaan sungai tampak berbeda dari biasanya karena dipenuhi ikan yang timbul ke permukaan.

Bagi para pembudidaya, kejadian ini tidak hanya berdampak pada hasil panen saat ini, tetapi juga mengancam keberlangsungan usaha mereka dalam jangka panjang. 

Banyak ikan yang mati masih berukuran kecil dan belum layak jual. 

Artinya, modal yang telah dikeluarkan untuk bibit, pakan, dan perawatan selama berbulan-bulan berisiko hilang begitu saja.

Situasi darurat memaksa para pemilik keramba mengambil langkah cepat. Ikan yang masih hidup segera dipanen untuk menghindari kerugian yang lebih besar. 

Namun kondisi tersebut membuat harga jual turun drastis. 

Ikan hasil panen darurat hanya dilepas ke pasar sekitar Rp10 ribu per kilogram, jauh di bawah nilai yang diharapkan saat masa panen normal.

Selain kerugian ekonomi, kematian massal ikan juga menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi lingkungan perairan Sungai Mempawah. 

Hingga kini penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui. 

Sejumlah pembudidaya mengaku melihat perubahan mendadak pada kondisi air sungai beberapa saat sebelum ikan mulai menunjukkan gejala tidak normal.

Salah seorang pengelola keramba di Desa Pasir, Kecamatan Mempawah Hilir, menyebut air sungai tiba-tiba terlihat sangat jernih pada pagi hari. 

Awalnya kondisi itu diduga akibat masuknya air laut ke aliran sungai. 

Namun setelah dilakukan pengecekan sederhana, air tetap terasa tawar sehingga dugaan tersebut belum dapat dipastikan.

Tidak lama setelah perubahan kondisi air terjadi, ikan-ikan dalam keramba mulai naik ke permukaan dan terlihat kesulitan bertahan hidup. 

Dalam kurun waktu singkat, jumlah ikan yang mati terus bertambah hingga menimbulkan kerugian besar di berbagai titik budidaya.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa usaha budidaya ikan sangat bergantung pada stabilitas kualitas lingkungan perairan. 

Perubahan mendadak pada kondisi air, baik yang disebabkan faktor alam maupun faktor lainnya, dapat berdampak langsung terhadap kelangsungan hidup ikan dalam jumlah besar.

Sementara para pembudidaya berupaya menyelamatkan ikan yang tersisa, harapan kini tertuju pada adanya penyelidikan lebih lanjut untuk mengetahui penyebab kematian massal tersebut. 

Kepastian mengenai sumber masalah dinilai penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang dan mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada keramba apung di Sungai Mempawah.

Peristiwa ini tidak hanya menjadi kabar buruk bagi para pelaku usaha perikanan lokal, tetapi juga menunjukkan betapa rentannya sektor budidaya terhadap perubahan kondisi lingkungan yang terjadi secara mendadak. 

Dengan kerugian yang diperkirakan sangat besar, pemulihan usaha para pembudidaya diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Selasa, 19 Mei 2026

Cuci Pakaian, Ibu Muda Diduga Tercebur di Sungai Pawan Desa Pangkalan Teluk

Foto warga sedang mencari Sarina, diduga tercebur di sungai Pawan pada Selasa pagi (19/05/2026)

KETAPANG - Seorang wanita bernama Maga berusia sekitar 34 tahun dilaporkan hilang terseret arus sungai di desa Pangkalan Teluk kecamatan Nanga Tayap kabupaten Ketapang pada Selasa siang (19/05/2026) sekitar jam 10 pagi. 

Berdasarkan informasi dari seorang warga desa setempat bernama Joni menyampaikan bahwa, wanita tersebut diduga tercebur ke sungai saat sedang mencuci pakaian di jamban atau disebut warga setempat dengan sebutan Lanting. 

"Dia itu menurut keluarganya  sedang mencuci sekaligus mandi di lanting sungai, dak tau bagaimane sampai mungkin terjatuh, terseret arus sungai yang sedang deras," ujarnya.

Ia menyampaikan, saat kejadian, kondisi air sungai Pawan sedang pasang tinggi. Arus sungai juga sedang deras. Korban kemungkinan terpeleset dari lanting sehingga tercabur dan terseret arus.

Keluarga korban melaporkan kejadian ini kepada perangkat desa dan meneruskan laporan kejadian kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Sampai sore ini keluarga, warga desa dan petugas BPBD masih mencari korbann. Hingga sore ini, korban belum ditemukan. 

"Keluarga, warga desa dan petugas BPBD masih mencari sampai petang ini, korban belum ketemu," ujarnya. (*)

Sungai Barabai Meluap, Ribuan Rumah Warga HST Terdampak Banjir

Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.
Banjir HST merendam ribuan rumah di Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan akibat hujan lebat serta luapan Sungai Barabai.

BANJARMASIN - Banjir melanda tiga kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, Senin, setelah hujan lebat sejak dini hari menyebabkan sungai meluap. Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Batu Benawa, Barabai, dan Pandawan dengan ribuan rumah warga terendam.

Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD dan Damkar HST, Fitriadi, mengatakan tim masih melakukan pemantauan di lapangan karena kondisi air di setiap wilayah berbeda-beda.

“Tim kami masih terus melakukan pemantauan di lapangan. Untuk ketinggian air bervariasi,” kata Fitriadi di Barabai.

Hujan berintensitas tinggi membuat sungai meluap hingga menggenangi jalan, pekarangan, dan rumah warga. Kondisi banjir di Kecamatan Batu Benawa mulai berangsur surut.

Sementara itu, di Kecamatan Barabai, debit air sebagian wilayah masih bertahan dan cenderung meningkat. Adapun di Kecamatan Pandawan, ketinggian air masih terus mengalami kenaikan.

Fitriadi memastikan hingga sore hari belum ada laporan korban jiwa maupun korban luka akibat banjir tersebut.

Di tengah kondisi banjir, Bupati HST Samsul Rizal turun langsung meninjau sejumlah titik terdampak. Pemerintah daerah juga mengerahkan petugas gabungan untuk membersihkan ranting, kayu, dan sampah yang menyumbat aliran sungai.

“Secepatnya kita selesaikan sampah pohon menumpuk ini. Karena kalau sungai tertutup aliran sungai lambat. Hal ini yang membuat daerah perkotaan terendam,” ujar Samsul Rizal.

Menurutnya, luapan Sungai Barabai dipicu hujan deras sejak sehari sebelumnya dan berdampak pada sejumlah kawasan seperti Simpang Ulama, Sarigading, Kampung Kadi, Pasar Murakata, dan Bungur.

Luapan sungai juga membawa ranting pohon, bambu, dan sampah yang sempat menyumbat aliran air di bawah jembatan, termasuk di Jembatan Dharma.

Bupati memastikan material yang menyumbat sungai telah dibersihkan petugas gabungan bersama relawan Balakar 654 Murakata dan masyarakat setempat.

“Sampah pohon bambu tersebut telah bersih. Aliran sungai kembali normal. Cuaca juga kembali cerah,” katanya.

Pemerintah daerah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi banjir susulan dan segera menghubungi petugas apabila menghadapi kondisi darurat.

Senin, 18 Mei 2026

Awalnya Ban Kempes, Akhirnya Kecelakaan Serius di Jalan Sekadau–Sintang

Kecelakaan motor dan dump truk di Jalan Sekadau–Sintang, Sekadau Hilir, menyebabkan pengendara luka serius dan dilarikan ke RSUD Sekadau.
Kecelakaan motor dan dump truk di Jalan Sekadau–Sintang, Sekadau Hilir, menyebabkan pengendara luka serius dan dilarikan ke RSUD Sekadau. (Foto ilustrasi)

SEKADAU - Di jalur utama Sekadau–Sintang, sebuah kecelakaan lalu lintas kembali menegaskan betapa kecilnya ruang kesalahan di jalan yang dilalui kendaraan berat dan kendaraan roda dua secara bersamaan. 

Insiden yang terjadi di Dusun Entada, Desa Bokak Sebumbun, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, Senin pagi (18/5/2026) sekitar pukul 08.00 WIB itu melibatkan sepeda motor dan sebuah dump truk, dan berujung pada luka serius yang dialami satu pengendara.

Peristiwa bermula dari kondisi yang sebenarnya cukup umum di jalan lintas antarwilayah: sepeda motor Yamaha Vega Force yang dikendarai S (51) mengalami ban belakang kempes saat melaju dari arah Sekadau menuju Sintang. 

Dalam situasi seperti ini, laju kendaraan biasanya melambat dan pengendara cenderung mencari tempat aman untuk berhenti.

Namun di titik inilah situasi berubah menjadi krusial. Pengendara motor diduga berhenti mendadak di lajur kiri jalan dengan asumsi terdapat bengkel tambal ban di sekitar lokasi. 

Keputusan itu diambil tanpa memastikan kondisi arus lalu lintas dari belakang, yang pada saat bersamaan sedang dilalui kendaraan lain.

Dari arah yang sama, sebuah dump truk Mitsubishi yang dikemudikan L (37) sudah berada cukup dekat. 

Upaya pengereman dan manuver menghindar ke sisi kiri tidak cukup untuk mencegah benturan. Jarak yang terlalu sempit membuat tabrakan tidak terhindarkan.

Benturan tersebut berdampak serius bagi pengendara motor. Kaki kiri korban terlindas ban belakang truk, menyebabkan patah tulang dan luka terbuka. 

Korban segera dievakuasi ke RSUD Sekadau untuk mendapatkan penanganan medis, sementara pengemudi truk dilaporkan selamat tanpa luka.

Awalnya Ban Kempes, Akhirnya Kecelakaan Serius di Jalan Sekadau–Sintang
Kecelakaan motor dan dump truk di Jalan Sekadau–Sintang, Sekadau Hilir, menyebabkan pengendara luka serius dan dilarikan ke RSUD Sekadau.

Kasi Humas Polres Sekadau AKP Triyono menjelaskan bahwa petugas kepolisian langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan penanganan awal. 

Ia juga menekankan bahwa faktor kehati-hatian menjadi sorotan utama dalam insiden ini.

“Keselamatan berlalu lintas harus menjadi perhatian utama, termasuk memastikan kendaraan dalam kondisi layak jalan sebelum digunakan,” ujarnya.

Kecelakaan ini kembali menyoroti risiko tinggi di ruas jalan lintas Sekadau–Sintang yang kerap dilalui kendaraan pribadi dan angkutan barang dalam waktu bersamaan. 

Kombinasi kecepatan, jarak pandang, dan keputusan spontan di jalan sering kali menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah perjalanan berakhir aman atau sebaliknya.

Peristiwa di Bokak Sebumbun ini menjadi pengingat bahwa di jalan raya, keputusan dalam hitungan detik dapat membawa konsekuensi besar. 

Polisi mengimbau pengendara untuk tidak berhenti mendadak di badan jalan serta memastikan kondisi sekitar benar-benar aman sebelum mengambil tindakan.

Sementara itu, korban masih menjalani perawatan intensif di RSUD Sekadau. Peristiwa ini kini dalam penanganan lebih lanjut oleh pihak kepolisian guna memastikan seluruh kronologi dan faktor penyebab kecelakaan dapat diungkap secara menyeluruh.

Minggu, 17 Mei 2026

Hidup di Tengah Genangan, Warga Kotim Menunggu Air Kapan Akan Pergi

Banjir di Kotawaringin Timur merendam enam desa dan 219 warga terdampak. BPBD lakukan kaji cepat serta pantau luapan Sungai Mentaya di wilayah hulu.
Banjir di Kotawaringin Timur merendam enam desa dan 219 warga terdampak. BPBD lakukan kaji cepat serta pantau luapan Sungai Mentaya di wilayah hulu.

SAMPIT - Banjir yang merendam enam desa di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali menegaskan betapa wilayah hulu Sungai Mentaya menjadi salah satu titik paling rentan saat curah hujan meningkat. 

Dalam beberapa hari terakhir, luapan air tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga mulai mengganggu akses jalan dan fasilitas publik.

Sebanyak 99 kepala keluarga atau 219 jiwa tercatat terdampak dalam peristiwa banjir yang mulai terjadi sejak Kamis (14/5) dan masih berlangsung hingga Sabtu (16/5) malam di wilayah utara kabupaten tersebut. 

Air yang berasal dari hulu sungai perlahan menyebar ke sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Mentaya.

Enam desa yang terdampak masing-masing Desa Sungai Hanya, Tumbang Mujan, Tumbang Sangai, Bawan, Tanjung Jariangau, dan Kawan Baru. 

Di sejumlah titik, air bahkan telah merendam rumah warga, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, hingga gedung pemerintahan desa.

Tidak hanya itu, sekitar 1.500 meter jalan desa dan kabupaten ikut tergenang, membuat mobilitas warga terganggu. 

Tercatat 154 rumah terendam, sementara di wilayah Kelurahan Kuala Kuayan, genangan juga mulai meluas hingga ketinggian 25–75 sentimeter di atas badan jalan.

BPBD Kotawaringin Timur melalui Tim Reaksi Cepat terus melakukan pemantauan debit air dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, dinas terkait, serta relawan desa. 

Pola banjir yang bergerak bertahap dari hulu ke hilir membuat potensi dampak masih bisa meluas dalam beberapa hari ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyebutkan bahwa Desa Hanjalipan di Kecamatan Kota Besi kini menjadi salah satu wilayah yang disiapkan untuk status siaga darurat. 

Wilayah ini diprediksi menjadi titik akumulasi terakhir dari luapan Sungai Mentaya.

Selain banjir, BPBD juga mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk asesmen area longsor di Desa Tumbang Mujam setelah kondisi air surut. 

Kajian kerusakan akan dilakukan bersama perangkat daerah teknis untuk menentukan penanganan lanjutan.

Di sisi lain, berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, curah hujan di Kotawaringin Timur diperkirakan mulai menurun pada Dasarian III Mei 2026. 

Kondisi ini diharapkan dapat membantu mempercepat surutnya genangan di sejumlah wilayah terdampak.

Meski demikian, masyarakat di bantaran Sungai Mentaya masih diminta tetap waspada. Sebab, pola banjir estafet dari hulu ke hilir masih berpotensi membuat beberapa wilayah lain ikut terdampak dalam waktu dekat.

Sabtu, 16 Mei 2026

Kecelakaan Beruntun di Jalan Sekadau-Sanggau, Satu Pengendara Motor Tewas

Foto: Polisi identifikasi dan evakuasi korban kecelakaan di jalan Sekadau-Sanggau

SEKADAU - Kecelakaan lalu lintas beruntun melibatkan satu unit truk dan dua sepeda motor terjadi di Jalan Raya Sekadau-Sanggau, Desa Sungai Kunyit, Kecamatan Sekadau Hilir, Sabtu (16/5/2026) sekitar pukul 09.30 WIB. Satu orang pengendara motor meninggal dunia di lokasi kejadian.

Kecelakaan melibatkan mobil light truck Mitsubishi yang dikemudikan I (48) warga Kabupaten Kubu Raya. Selain itu, sepeda motor Yamaha RX-King yang dikendarai H (28) warga Kabupaten Sanggau dengan dua penumpang J (21) dan A (5), serta sepeda motor Yamaha RX-King lainnya yang dikendarai B (23) warga Kabupaten Sanggau dengan penumpang K (22).

Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kasi Humas AKP Triyono mengatakan, kecelakaan bermula saat dua sepeda motor melaju beriringan dari arah Sanggau menuju Sintang.

Saat melintas di ruas jalan menikung, pengendara H diduga berupaya mendahului kendaraan truk di depannya. Pada saat bersamaan, dari arah berlawanan datang mobil light truck Mitsubishi yang dikemudikan I.

“Karena jarak sudah terlalu dekat, sepeda motor yang dikendarai H menabrak bagian depan sebelah kanan kendaraan truk,” ujar AKP Triyono.

Benturan tersebut menyebabkan sepeda motor terjatuh di badan jalan. Sepeda motor lain yang dikendarai B bersama penumpangnya, K, yang melaju di belakang, kemudian turut menabrak kendaraan yang telah terjatuh tersebut.

Akibat kejadian itu, H meninggal dunia di tempat. J mengalami luka lecet pada tangan dan kaki, A mengalami luka ringan pada tangan serta memar di kepala. Sementara B mengalami luka ringan pada tangan, dan K mengalami luka memar di bagian kepala. Seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis.

Piket Lantas bersama piket Pamapta SPKT Polres Sekadau yang datang ke lokasi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan barang bukti, serta mengatur arus lalu lintas di sekitar lokasi.

Berkaitan dengan kejadian tersebut, AKP Triyono mengimbau pengendara agar lebih berhati-hati, terutama saat melintas di jalan menikung dengan jarak pandang terbatas.

“Jangan memaksakan mendahului kendaraan di depan. Utamakan keselamatan saat berkendara,” imbaunya. (Red/Rh)

Minggu, 10 Mei 2026

Polisi Evakuasi Warga Gonis Tekam yang Alami Radang Usus Buntu ke RS Sekadau

Polisi Sekadau mengevakuasi warga Desa Gonis Tekam yang mengalami radang usus buntu ke RS Sekadau setelah keluarga kesulitan mencari kendaraan pada malam hari.
Polisi Sekadau mengevakuasi warga Desa Gonis Tekam yang mengalami radang usus buntu ke RS Sekadau setelah keluarga kesulitan mencari kendaraan pada malam hari.

SEKADAU - Kepolisian Sekadau mengevakuasi seorang warga Desa Gonis Tekam, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau, yang mendadak mengalami radang usus buntu pada Kamis kemarin (7/5/2026) malam. Pasien dibawa ke RS Sekadau menggunakan mobil patroli setelah keluarga kesulitan mencari kendaraan di tengah situasi darurat.

Laporan permintaan bantuan diterima Pos Jaga SPKT Polres Sekadau sekitar pukul 23.13 WIB. Setelah menerima informasi tersebut, personel Samapta II yang dipimpin IPDA Hendra langsung menuju lokasi.

SPKT Polres Sekadau, IPDA Subhan Syah Khan, mengatakan petugas menemukan warga bernama Wayan dalam kondisi kesakitan dan membutuhkan penanganan medis segera.

“Tanpa menunggu lama, personel langsung membawa pasien ke Rumah Sakit Sekadau menggunakan mobil patroli Samapta,” kata IPDA Subhan, Jumat (8/5).

Evakuasi dilakukan pada malam hari saat keluarga pasien kesulitan mendapatkan transportasi menuju rumah sakit. Kondisi tersebut membuat pihak keluarga meminta bantuan kepolisian.

Kapolres Sekadau AKBP Andhika Wiratama melalui Kasi Humas AKP Triyono mengatakan respons cepat personel merupakan bagian dari pelayanan kepolisian kepada masyarakat, khususnya dalam situasi kemanusiaan dan keadaan darurat.

“Dalam kondisi darurat, terutama di malam hari ketika masyarakat kesulitan menemukan kendaraan atau bantuan, kehadiran polisi diharapkan dapat membantu warga yang membutuhkan pertolongan dengan cepat,” ujar AKP Triyono.

Peristiwa ini menjadi salah satu bentuk respons cepat aparat kepolisian di wilayah Sekadau dalam membantu warga yang membutuhkan pertolongan medis darurat, terutama di malam hari saat akses transportasi terbatas.

Sabtu, 09 Mei 2026

Hujan Deras Picu Longsor Jalan Di Landak, Pengendara Diminta Hati-Hati

Jalan di Desa Angan Tembawang, Landak, amblas akibat banjir dan hujan deras. Polisi memasang peringatan serta mengimbau warga waspada saat melintas.
Jalan di Desa Angan Tembawang, Landak, amblas akibat banjir dan hujan deras. Polisi memasang peringatan serta mengimbau warga waspada saat melintas.

NGABANG - Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, memicu longsor pada ruas jalan di Desa Angan Tembawang. Kondisi tersebut membuat sebagian badan jalan amblas dan membahayakan pengguna jalan yang melintas.

Peristiwa itu terjadi setelah banjir merendam kawasan tersebut pada Rabu malam, 6 Mei 2026. Warga setempat menyebut debit air meningkat drastis sekitar pukul 19.00 WIB hingga 20.00 WIB sehingga arus banjir meluap ke badan jalan.

Ketinggian air saat itu diperkirakan mencapai 50 hingga 70 sentimeter. Arus yang deras diduga mengikis struktur tanah di bawah jalan hingga menyebabkan longsor setelah banjir surut.

Akibat kejadian tersebut, ruas jalan mengalami kerusakan cukup parah dengan diameter longsoran sekitar lima meter dan kedalaman mencapai kurang lebih 1,5 meter. Kondisi itu dinilai berisiko tinggi, terutama bagi pengendara roda dua maupun kendaraan yang melintas pada malam hari.

Mendapat laporan dari masyarakat, anggota Subsektor Jelimpo Polsek Ngabang langsung mendatangi lokasi pada Jumat, 8 Mei 2026, untuk melakukan pengecekan dan pemantauan situasi.

Kapolres Landak AKBP Devi Ariantari melalui Kapolsek Ngabang AKP Zuanda menjelaskan bahwa pihak kepolisian segera mengambil langkah pengamanan dengan memasang tanda peringatan di sekitar titik jalan amblas.

AKP Zuanda meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan saat melintas di lokasi terdampak, khususnya ketika hujan turun dan kondisi penerangan terbatas.

“Kami mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati saat melintas di lokasi jalan amblas tersebut, terutama pada malam hari dan saat cuaca hujan. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama,” ujar AKP Zuanda.

Selain melakukan pengamanan lokasi, Polsek Ngabang juga berkoordinasi dengan instansi terkait guna mempercepat penanganan dan perbaikan jalan agar aktivitas warga tidak terganggu dalam waktu lama.

Cuaca ekstrem yang masih terjadi dalam beberapa hari terakhir turut menjadi perhatian aparat kepolisian. Warga diminta segera melapor apabila menemukan kondisi jalan, jembatan, atau lingkungan yang berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat. (Tino)

Jumat, 08 Mei 2026

Korban Tenggelam Di Sungai Kapuas Belum Ditemukan, Tim SAR Akhiri Pencarian Hari Ketujuh

Operasi SAR korban tenggelam di Sungai Kapuas, Sanggau, resmi dihentikan setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil terhadap Dedi Kartika.
Operasi SAR korban tenggelam di Sungai Kapuas, Sanggau, resmi dihentikan setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil terhadap Dedi Kartika.

PONTIANAK - Tim SAR gabungan resmi menghentikan operasi pencarian terhadap korban tenggelam di Sungai Kapuas, Dusun Lalang, Desa Lalang, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Keputusan penghentian operasi dilakukan setelah pencarian berlangsung selama tujuh hari tanpa hasil.

Korban diketahui bernama Dedi Kartika (47), yang sebelumnya dilaporkan tenggelam saat beraktivitas menggunakan perahu kayu di Sungai Kapuas pada 28 April 2026 sekitar pukul 14.50 WIB.

Kepala Kantor SAR Pontianak, I Made Junetra, mengatakan laporan pertama diterima dari BPBD Kabupaten Sanggau pada 29 April 2026 pukul 00.05 WIB terkait kondisi membahayakan manusia di perairan Sungai Kapuas.

Menurut informasi yang dihimpun, Dedi Kartika terjatuh dari perahu kayu ketika bekerja di atas sungai. Setelah terjatuh, korban langsung tenggelam dan tidak kembali ke permukaan. Warga setempat sempat melakukan pencarian awal sebelum tim SAR gabungan turun ke lokasi.

Memasuki hari ketujuh operasi, tim SAR memperluas penyisiran hingga 24 nautical mile ke arah hilir dari titik awal kejadian. Namun hingga Selasa sore, pencarian belum membuahkan hasil.

“Setelah dilakukan penyisiran dan pemantauan secara maksimal, korban belum ditemukan. Maka operasi SAR dihentikan dengan hasil nihil,” kata I Made Junetra pada Rabu (6/5/2026).

Penutupan operasi dilakukan pada pukul 17.30 WIB setelah evaluasi bersama keluarga korban dan seluruh unsur yang terlibat dalam pencarian. Keputusan tersebut diambil atas usulan SAR Mission Coordinator (SMC) karena tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan korban hingga hari ketujuh.

Meski operasi resmi dihentikan, Kantor SAR Pontianak memastikan pemantauan di lapangan tetap dilakukan. Jika di kemudian hari muncul informasi baru atau ditemukan tanda-tanda keberadaan korban, operasi pencarian dapat kembali dibuka.

Operasi SAR tersebut melibatkan sejumlah unsur gabungan, mulai dari Kantor SAR Pontianak, Babinsa TNI AD, Polsek Tayan Hilir, BPBD Kabupaten Sanggau, Puskesmas Tayan Hilir, pihak perusahaan PT ICA, potensi SAR Kabupaten Sanggau, aparat Desa Lalang, keluarga korban, hingga masyarakat setempat.

FAQ

Mengapa operasi SAR dihentikan?

Operasi SAR dihentikan karena pencarian selama tujuh hari tidak menemukan korban maupun tanda-tanda keberadaan korban di Sungai Kapuas.

Siapa korban yang tenggelam di Sungai Kapuas?

Korban diketahui bernama Dedi Kartika (47).

Kapan peristiwa tenggelam terjadi?

Peristiwa terjadi pada 28 April 2026 sekitar pukul 14.50 WIB.

Di mana lokasi kejadian?

Lokasi kejadian berada di Dusun Lalang, Desa Lalang, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.

Apakah operasi SAR bisa dibuka kembali?

Kantor SAR Pontianak menyatakan operasi dapat dibuka kembali apabila ditemukan petunjuk baru terkait keberadaan korban.

Kamis, 07 Mei 2026

Mobil Merah Keluar Jalur Di Kawasan Wisata Pancur Aji Sanggau

Kecelakaan mobil merah terjadi di kawasan wisata Pancur Aji Sanggau. Kendaraan keluar jalur dan menjadi perhatian warga di sekitar lokasi. (Sumber Foto Media Sosial Facebook)
Kecelakaan mobil merah terjadi di kawasan wisata Pancur Aji Sanggau. Kendaraan keluar jalur dan menjadi perhatian warga di sekitar lokasi. (Sumber Foto Media Sosial Facebook)

SANGGAU - Sebuah mobil berwarna merah mengalami kecelakaan di kawasan wisata Pancur Aji, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kendaraan tersebut terlihat keluar dari badan jalan hingga menarik perhatian warga yang berada di sekitar lokasi.

Dalam foto yang beredar, mobil tampak berada di luar jalur jalan dengan posisi miring di area pinggir kawasan wisata. Sejumlah warga terlihat mendekati lokasi untuk menyaksikan kondisi kendaraan usai insiden tersebut.

Belum diketahui secara pasti kapan kecelakaan itu terjadi. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi resmi terkait penyebab kecelakaan maupun kondisi pengemudi dan penumpang mobil.

Pihak berwenang juga belum memberikan keterangan resmi mengenai insiden tersebut. Informasi lebih lanjut masih menunggu hasil pendataan dan konfirmasi dari aparat terkait.

Kawasan wisata Pancur Aji dikenal sebagai salah satu lokasi rekreasi yang cukup ramai dikunjungi masyarakat di Kabupaten Sanggau, terutama saat akhir pekan dan hari libur.

Motor Honda Blade Yang Sempat Dikira Hilang Usai Tabrakan Ditemukan Di Semak Nanga Taman

Honda Blade yang sempat dikira hilang usai kecelakaan di Nanga Taman, Sekadau, akhirnya ditemukan polisi di semak-semak dekat lokasi tabrakan.
Honda Blade yang sempat dikira hilang usai kecelakaan di Nanga Taman, Sekadau, akhirnya ditemukan polisi di semak-semak dekat lokasi tabrakan.

SEKADAU – Sebuah sepeda motor Honda Blade yang sempat diduga hilang setelah kecelakaan lalu lintas di Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, akhirnya ditemukan aparat kepolisian di semak-semak pinggir jalan.

Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa malam, 5 Mei 2026 sekitar pukul 23.00 WIB di ruas jalan dekat SMAN 1 Nanga Taman.

Kasi Humas Polres Sekadau AKP Triyono menjelaskan, kecelakaan bermula saat sepeda motor Yamaha Mio yang dikendarai F melaju dari arah Rawak dan menabrak bagian belakang Honda Blade yang dikendarai S.

Benturan di jalan lurus tersebut membuat kedua pengendara terjatuh. Pengendara Honda Blade bahkan sempat kehilangan kesadaran beberapa saat setelah insiden terjadi.

“Pengendara hanya mengalami luka ringan berupa lecet di tangan dan kaki,” ujar AKP Triyono, Kamis (7/5/2026).

Setelah kondisi membaik, kedua pengendara mencoba memeriksa situasi di lokasi kejadian. Namun Honda Blade yang sebelumnya terlibat kecelakaan sudah tidak terlihat di sekitar jalan.

Kondisi malam hari dengan penerangan minim membuat kendaraan tersebut sempat diduga hilang. Kedua pengendara sempat melakukan pencarian mandiri, tetapi hasilnya nihil.

Keesokan harinya, pengendara Honda Blade bersama keluarga mendatangi Polsek Nanga Taman untuk melaporkan kejadian tersebut. Polisi kemudian memanggil pengendara Yamaha Mio dan melakukan pengecekan ulang ke lokasi kecelakaan.

Menurut AKP Triyono, kedua pengendara diketahui berasal dari Desa Lubuk Tajau, Kecamatan Nanga Taman, meski berbeda kampung.

Dalam proses pencarian bersama, polisi akhirnya menemukan Honda Blade sekitar 50 meter dari titik tabrakan. Motor tersebut berada di semak-semak pinggir jalan sehingga sulit terlihat dari badan jalan.

Saat ditemukan, kondisi motor mengalami sejumlah kerusakan seperti knalpot patah dan pedal bengkok. Posisi transmisi kendaraan juga masih berada di gigi empat.

Polisi menduga benturan dari belakang membuat motor tetap melaju tanpa kendali hingga keluar jalur dan masuk ke area semak dekat rumah warga.

Kasus tersebut akhirnya diselesaikan secara kekeluargaan oleh kedua pihak tanpa proses hukum lanjutan.

AKP Triyono juga mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati saat berkendara pada malam hari, terutama di jalan dengan penerangan terbatas.

“Jaga jarak aman dan kurangi kecepatan untuk menghindari kecelakaan lalu lintas,” kata AKP Triyono.

FAQ

Bagaimana kronologi kecelakaan di Nanga Taman?

Kecelakaan terjadi ketika Yamaha Mio menabrak bagian belakang Honda Blade di jalan dekat SMAN 1 Nanga Taman pada malam hari.

Mengapa Honda Blade sempat dikira hilang?

Motor tidak terlihat setelah kecelakaan karena masuk ke semak-semak sekitar 50 meter dari lokasi tabrakan.

Di mana motor ditemukan?

Honda Blade ditemukan polisi di semak pinggir jalan dekat rumah warga, tidak jauh dari lokasi kecelakaan.

Apakah ada korban serius dalam kecelakaan tersebut?

Tidak ada korban serius. Kedua pengendara hanya mengalami luka ringan pada tangan dan kaki.

Bagaimana penyelesaian kasus kecelakaan ini?

Kedua pengendara sepakat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan.

Empat ABK TB Samudra Jaya 1 Tewas Diduga Keracunan Gas Di Barito Kuala

Empat ABK TB Samudra Jaya 1 meninggal diduga akibat paparan gas beracun di ruang terbatas kapal di Sungai Tunjang, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. (FOTO ILUSTRASI)
Empat ABK TB Samudra Jaya 1 meninggal diduga akibat paparan gas beracun di ruang terbatas kapal di Sungai Tunjang, Barito Kuala, Kalimantan Selatan. (FOTO ILUSTRASI)

BANJARMASIN - Tim SAR gabungan mengevakuasi empat anak buah kapal (ABK) TB Samudra Jaya 1 yang ditemukan meninggal dunia di ruang terbatas kapal di perairan Sungai Tunjang, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Korban diduga terpapar gas beracun saat berada di dalam manhole kapal.

Kepala Operasi Kantor SAR Banjarmasin, I Putu Sudayana, menyampaikan laporan kejadian diterima dari anggota Ditpolair Polda Kalimantan Selatan Bripka Priyo pada Rabu sekitar pukul 17.20 Wita. Informasi awal menyebut empat kru kapal terjebak di dalam ruang sempit kapal.

Setelah menerima laporan, Kantor SAR Banjarmasin langsung mengerahkan tim gabungan menuju lokasi kejadian. Operasi melibatkan Ditpolair Polda Kalimantan Selatan, Polair Polres Barito Kuala, Polsek Cerbon, TNI AL Banjarmasin, Karantina, hingga KSOP Sungai Putting.

Tim SAR tiba di lokasi sekitar pukul 19.10 Wita dan segera melakukan asesmen untuk menentukan metode penyelamatan paling aman. Proses evakuasi menjadi cukup sulit karena korban berada di ruang terbatas dengan dugaan kandungan gas berbahaya yang membahayakan personel penyelamat.

Untuk mengurangi risiko paparan gas beracun, tim menggunakan perlengkapan khusus seperti Self Contained Breathing Apparatus (SCBA) dan alat pendeteksi gas selama operasi berlangsung.

Korban pertama berinisial S (27) berhasil dievakuasi pada pukul 20.49 Wita. Selanjutnya korban ZMH (34) dievakuasi pukul 21.51 Wita. Korban HHA (28) berhasil diangkat pada Kamis dini hari sekitar pukul 00.20 Wita. Sementara korban TRZ (38) juga ditemukan meninggal dunia di lokasi kejadian.

I Putu Sudayana menjelaskan operasi evakuasi berlangsung dengan tingkat risiko tinggi karena ruang yang sangat sempit dan potensi gas beracun yang masih ada di dalam kapal. Seluruh personel penyelamat tetap menjalankan prosedur keselamatan secara ketat agar tidak menambah korban.

Kantor SAR Banjarmasin juga mengingatkan seluruh pihak di sektor pelayaran dan perkapalan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap standar keselamatan kerja, khususnya saat melakukan aktivitas di ruang terbatas kapal.

Menurut I Putu Sudayana, setiap pekerjaan di ruang tertutup wajib dilengkapi prosedur keselamatan yang ketat, termasuk pemeriksaan kandungan gas dan penggunaan alat perlindungan pernapasan untuk mencegah kejadian serupa.

Operasi SAR terhadap empat ABK TB Samudra Jaya 1 resmi ditutup setelah seluruh korban berhasil dievakuasi sekitar pukul 00.40 Wita. Seluruh unsur SAR kemudian kembali ke satuan masing-masing.

FAQ

Apa penyebab empat ABK TB Samudra Jaya 1 meninggal?

Empat ABK diduga meninggal akibat paparan gas beracun di ruang terbatas atau manhole kapal.

Di mana lokasi kejadian TB Samudra Jaya 1?

Peristiwa terjadi di perairan Sungai Tunjang, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan.

Siapa saja yang terlibat dalam operasi evakuasi?

Operasi melibatkan SAR Banjarmasin, Ditpolair Polda Kalsel, Polair Barito Kuala, TNI AL, KSOP Sungai Putting, dan sejumlah unsur lainnya.

Apa tantangan utama saat proses evakuasi?

Tim menghadapi ruang sempit dan potensi kandungan gas berbahaya yang mengancam keselamatan personel penyelamat.

Peralatan apa yang digunakan tim SAR?

Tim menggunakan SCBA atau alat bantu pernapasan serta gas detector untuk mendeteksi kandungan gas beracun.

Sabtu, 02 Mei 2026

Proyek PLTA Upper Cisokan Dilanda Longsor

Longsor di proyek PLTA Upper Cisokan Bandung Barat dipicu hujan lebat. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dan segera lakukan peninjauan lokasi. (Ilustrasi)
Longsor di proyek PLTA Upper Cisokan Bandung Barat dipicu hujan lebat. BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dan segera lakukan peninjauan lokasi. (Ilustrasi)

Bandung Barat — Peristiwa longsor terjadi di kawasan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Upper Cisokan, Kabupaten Bandung Barat. Meski sempat memicu kekhawatiran, otoritas setempat memastikan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Kepala Pelaksana BPBD Bandung Barat, Asep Sehabbudin, menegaskan bahwa hingga saat ini laporan resmi tidak mencatat adanya korban. Informasi tersebut diperoleh dari hasil koordinasi intensif dengan pihak Kecamatan Rongga.

Menurut Asep Sehabbudin, komunikasi dengan pemerintah kecamatan terus dilakukan guna memastikan kondisi lapangan tetap terkendali. Langkah lanjutan juga telah disiapkan dengan rencana peninjauan langsung ke lokasi longsor.

Peninjauan tersebut dijadwalkan dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur terkait, termasuk aparat kecamatan serta pihak pengelola proyek. Tujuannya adalah untuk memetakan dampak longsor sekaligus mengantisipasi kemungkinan risiko lanjutan di area pembangunan.

Sementara itu, Camat Rongga, Asep Badrup, mengungkapkan bahwa hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut diduga kuat menjadi pemicu longsor. Kejadian dilaporkan berlangsung sekitar pukul 02.00 dini hari.

Asep Badrup memastikan bahwa tidak adanya korban jiwa juga dipengaruhi oleh kondisi hari libur, sehingga aktivitas pekerja di lokasi proyek relatif minim saat kejadian berlangsung.

Longsor terjadi di area yang dikenal warga sebagai Bukit Pasir Datar. Lokasi tersebut berada di atas jalur terowongan air yang menjadi bagian penting dari sistem PLTA, khususnya untuk mengalirkan air dari turbin menuju reservoir.

Titik longsor disebut berada di area proyek tunnel, tepatnya di zona Tailrace Tunnel Outlet (TTO). Kawasan proyek PLTA Upper Cisokan sendiri terletak di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur, sekitar 50–60 kilometer dari pusat pemerintahan di Padalarang.

Hingga kini, pihak terkait masih terus memantau kondisi lapangan untuk memastikan tidak ada potensi longsor susulan yang dapat mengganggu keselamatan maupun kelangsungan proyek.

FAQ

1. Apakah ada korban jiwa dalam longsor PLTA Upper Cisokan?
Tidak ada korban jiwa berdasarkan laporan resmi BPBD Bandung Barat.

2. Apa penyebab utama longsor?
Diduga dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi sebelum kejadian.

3. Di mana lokasi tepat longsor terjadi?
Di area proyek tunnel, tepatnya di Tailrace Tunnel Outlet (TTO), Bukit Pasir Datar.

4. Kapan kejadian longsor terjadi?
Sekitar pukul 02.00 dini hari.

5. Apa langkah selanjutnya dari BPBD?
Melakukan peninjauan langsung dan pemetaan risiko untuk mencegah dampak lanjutan.