Hidup di Tengah Genangan, Warga Kotim Menunggu Air Kapan Akan Pergi

CSS/JS FIT

CSS IKLAN

Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.

Minggu, 17 Mei 2026

Hidup di Tengah Genangan, Warga Kotim Menunggu Air Kapan Akan Pergi

Ikuti kami:
Google
Banjir di Kotawaringin Timur merendam enam desa dan 219 warga terdampak. BPBD lakukan kaji cepat serta pantau luapan Sungai Mentaya di wilayah hulu.
Banjir di Kotawaringin Timur merendam enam desa dan 219 warga terdampak. BPBD lakukan kaji cepat serta pantau luapan Sungai Mentaya di wilayah hulu.

SAMPIT - Banjir yang merendam enam desa di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, kembali menegaskan betapa wilayah hulu Sungai Mentaya menjadi salah satu titik paling rentan saat curah hujan meningkat. 

Dalam beberapa hari terakhir, luapan air tidak hanya menggenangi permukiman warga, tetapi juga mulai mengganggu akses jalan dan fasilitas publik.

Sebanyak 99 kepala keluarga atau 219 jiwa tercatat terdampak dalam peristiwa banjir yang mulai terjadi sejak Kamis (14/5) dan masih berlangsung hingga Sabtu (16/5) malam di wilayah utara kabupaten tersebut. 

Air yang berasal dari hulu sungai perlahan menyebar ke sejumlah desa yang berada di sepanjang aliran Sungai Mentaya.

Enam desa yang terdampak masing-masing Desa Sungai Hanya, Tumbang Mujan, Tumbang Sangai, Bawan, Tanjung Jariangau, dan Kawan Baru. 

Di sejumlah titik, air bahkan telah merendam rumah warga, tempat ibadah, fasilitas pendidikan, hingga gedung pemerintahan desa.

Tidak hanya itu, sekitar 1.500 meter jalan desa dan kabupaten ikut tergenang, membuat mobilitas warga terganggu. 

Tercatat 154 rumah terendam, sementara di wilayah Kelurahan Kuala Kuayan, genangan juga mulai meluas hingga ketinggian 25–75 sentimeter di atas badan jalan.

BPBD Kotawaringin Timur melalui Tim Reaksi Cepat terus melakukan pemantauan debit air dan berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan, dinas terkait, serta relawan desa. 

Pola banjir yang bergerak bertahap dari hulu ke hilir membuat potensi dampak masih bisa meluas dalam beberapa hari ke depan.

Kepala Pelaksana BPBD Kotawaringin Timur, Multazam, menyebutkan bahwa Desa Hanjalipan di Kecamatan Kota Besi kini menjadi salah satu wilayah yang disiapkan untuk status siaga darurat. 

Wilayah ini diprediksi menjadi titik akumulasi terakhir dari luapan Sungai Mentaya.

Selain banjir, BPBD juga mulai menyiapkan langkah lanjutan untuk asesmen area longsor di Desa Tumbang Mujam setelah kondisi air surut. 

Kajian kerusakan akan dilakukan bersama perangkat daerah teknis untuk menentukan penanganan lanjutan.

Di sisi lain, berdasarkan pemantauan BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit, curah hujan di Kotawaringin Timur diperkirakan mulai menurun pada Dasarian III Mei 2026. 

Kondisi ini diharapkan dapat membantu mempercepat surutnya genangan di sejumlah wilayah terdampak.

Meski demikian, masyarakat di bantaran Sungai Mentaya masih diminta tetap waspada. Sebab, pola banjir estafet dari hulu ke hilir masih berpotensi membuat beberapa wilayah lain ikut terdampak dalam waktu dekat.

Ad
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari dan tingkatkan visibilitas bisnis Anda.
Google Logo Add on Google
Fanky Iskandar
Fanky Iskandar
Editor / Wartawan
Wartawan dan editor berpengalaman dalam liputan berita daerah, nasional, sosial, dan politik. Aktif menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan mudah dipahami pembaca.
  

Bagikan artikel ini

Konten berbayar berikut dibuat dan disajikan Advertiser. Borneotribun.com tidak terkait dalam pembuatan konten ini.

IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.
IKLAN
Pasang Iklan di Borneotribun.com
Jangkau puluhan ribu pembaca setiap hari!
Promosikan bisnis & produk Anda lebih luas dan efektif.