Berita BorneoTribun: Pertumbuhan Ekonomi hari ini

Kode Recentpos Berita

Kode Recentpost Grid

iklan

Iklan ucapan DPRD Sanggau

iklan banner
Tampilkan postingan dengan label Pertumbuhan Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertumbuhan Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Maret 2026

Investasi dan Infrastruktur Dorong Ekonomi Mahulu Tumbuh 5,11 Persen

Ekonomi Mahakam Ulu tumbuh 5,11 persen pada 2025, didorong sektor pertanian, infrastruktur, transportasi, dan investasi yang terus meningkat.
Ekonomi Mahakam Ulu tumbuh 5,11 persen pada 2025, didorong sektor pertanian, infrastruktur, transportasi, dan investasi yang terus meningkat.

Mahulu, Kaltim - Pertumbuhan ekonomi di Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2025. Pemerintah daerah mencatat laju pertumbuhan mencapai 5,11 persen, melampaui target awal sebesar 3,5 persen.

Bupati Mahulu, Angela Idang Belawan, menyebut capaian ini sebagai indikator nyata membaiknya kondisi ekonomi daerah dibanding tahun sebelumnya.

“Pertumbuhan ekonomi daerah mencapai 5,11 persen, ini melampaui target yang telah ditetapkan,” ujarnya di Ujoh Bilang, Senin.

Empat Sektor Jadi Penopang Utama

Kinerja ekonomi Mahulu ditopang oleh empat sektor unggulan, yakni pertanian, infrastruktur dasar, transportasi, serta penanaman modal.

Sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi fondasi utama karena menyangkut kebutuhan pangan sekaligus sumber penghidupan masyarakat lokal. Pemerintah daerah terus mendorong penguatan sektor ini demi menciptakan kemandirian pangan.

Sementara itu, pembangunan infrastruktur dasar juga memberikan dampak signifikan. Pada 2025, alokasi belanja untuk sektor ini mencapai lebih dari 40 persen dari total anggaran, sehingga mampu menggerakkan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.

Di sisi lain, sektor transportasi dan pergudangan turut berperan sebagai pengungkit Pendapatan Asli Daerah (PAD), terutama dalam mendukung distribusi barang dan mobilitas ekonomi.

Investasi Meningkat, Tembus Rp497 Miliar

Dari sisi investasi, realisasi penanaman modal menunjukkan peningkatan signifikan. Baik Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai total Rp497 miliar sepanjang 2025.

Capaian ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap potensi ekonomi Mahulu, termasuk sektor sumber daya alam dan pembangunan daerah.

Realisasi Anggaran Dan Kinerja Keuangan

Dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Anggaran 2025, pemerintah daerah mencatat pendapatan sebesar Rp1,9 triliun atau 85,21 persen dari target Rp2,2 triliun.

Sementara itu, realisasi belanja daerah mencapai Rp2,4 triliun dari total anggaran Rp2,9 triliun, atau sekitar 81,74 persen. Anggaran tersebut digunakan untuk mendukung program pembangunan strategis.

Indikator Sosial Ikut Membaik

Tak hanya ekonomi, indikator kesejahteraan masyarakat juga menunjukkan perbaikan. Tingkat kemiskinan berhasil ditekan menjadi 10,09 persen, lebih rendah dari target 10,5 persen.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Mahulu mencapai 71,53, melampaui target 70,48. Hal ini mencerminkan peningkatan kualitas hidup masyarakat, termasuk di sektor pendidikan dan kesehatan.

Infrastruktur Dan Lingkungan Makin Berkualitas

Kemajuan juga terlihat pada sektor infrastruktur dan pelayanan dasar. Akses jalan, air minum, serta rumah layak huni mengalami peningkatan.

Selain itu, kualitas lingkungan hidup tetap terjaga dengan indeks mencapai 86,62. Angka ini menunjukkan kondisi udara, air, dan kelestarian alam masih dalam kategori baik.

“Ini menandakan pembangunan berjalan seimbang antara ekonomi dan lingkungan,” kata Angela.

FAQ

1. Berapa pertumbuhan ekonomi Mahakam Ulu tahun 2025?
Pertumbuhan ekonomi Mahakam Ulu mencapai 5,11 persen, melampaui target 3,5 persen.

2. Apa sektor utama penopang ekonomi Mahulu?
Empat sektor utama adalah pertanian, infrastruktur, transportasi, dan investasi.

3. Berapa nilai investasi yang masuk ke Mahulu?
Total investasi pada 2025 mencapai Rp497 miliar dari PMDN dan PMA.

4. Apakah tingkat kemiskinan di Mahulu menurun?
Ya, turun menjadi 10,09 persen dari target 10,5 persen.

5. Bagaimana kondisi lingkungan di Mahulu?
Indeks kualitas lingkungan mencapai 86,62, menunjukkan kondisi yang masih terjaga baik.

Selasa, 10 Februari 2026

Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia

Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia
Keponakan Presiden Prabowo, Thomas Djiwandono, Resmi Jadi Deputi Gubernur BI, Harapan Baru Ekonomi Indonesia.

Jakarta – Momen penting bagi ekonomi Indonesia terjadi hari ini. Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia untuk periode 2026-2031.

Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan awal dari harapan baru untuk sinergi lebih kuat antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menekankan optimisme itu dengan nada santai tapi penuh makna:

“Kalau biasa makan siang bareng aja lancar, apalagi nanti kerja bareng,” ucap Purbaya sambil tersenyum. Ia yakin Thomas, yang juga keponakan Presiden Prabowo, siap menghadapi tanggung jawab besar ini.

“Lebih pintar dari saya, jadi nggak perlu banyak wejangan. Dia memang sudah profesional,” tambahnya.

Wakil Menkeu, Suahasil Nazara, menegaskan harapannya agar koordinasi kebijakan fiskal dan moneter semakin solid. Kehadiran Thomas diyakini membuat sinergi Kemenkeu dan BI lebih lancar, mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke arah positif.

Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyoroti peran penting Thomas dalam membangun komunikasi strategis dengan lembaga domestik dan internasional. Hal ini sangat vital untuk menjaga citra ekonomi Indonesia di mata investor asing.

Thomas menggantikan Juda Agung, yang mengundurkan diri Januari lalu. Meski belum memberi pernyataan resmi, senyum hangat dan lambaian tangannya kepada media menunjukkan sikap rendah hati sekaligus kesiapan menghadapi tantangan besar.

Acara pelantikan yang singkat namun khidmat ini dihadiri keluarga Thomas dan sejumlah tokoh penting, termasuk Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, serta Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Budisatrio Djiwandono.

Dengan masa jabatan hingga 2031, harapan kini tertumpu pada Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, bukan hanya untuk menjaga stabilitas moneter, tetapi juga menjadi simbol optimisme dan sinergi bagi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kuat.

Selasa, 05 Agustus 2025

Investasi Melambat, Belanja Negara Turut Terkontraksi di Kuartal II-2025

Grafik pertumbuhan investasi dan belanja negara Indonesia kuartal II-2025
Grafik pertumbuhan investasi dan belanja negara Indonesia kuartal II-2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan investasi Indonesia tercatat melambat pada kuartal II-2025. Kementerian Investasi/BKPM mengumumkan bahwa realisasi investasi sepanjang April hingga Juni 2025 mencapai Rp 477,7 triliun, tumbuh 11,5% secara tahunan (yoy). Meski masih tumbuh, laju pertumbuhannya jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sempat tembus 22,5%.

Data ini dirilis oleh Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Realisasi tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp 231,2 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 246,5 triliun. Namun, perlu dicatat bahwa data ini tidak mencakup investasi di sektor migas dan keuangan yang biasanya juga mempengaruhi pergerakan angka nasional secara keseluruhan.

Deputi Bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM Nurul Ichwan menjelaskan, perlambatan pertumbuhan investasi ini perlu jadi perhatian karena investasi diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. "Momentum pertumbuhan masih ada, tapi perlambatannya menunjukkan kita harus kerja ekstra untuk dorong hilirisasi dan efisiensi birokrasi," katanya dalam konferensi pers daring, Senin (4/8/2025).

Di sisi lain, belanja negara yang selama ini menjadi pendorong pertumbuhan juga tercatat mengalami kontraksi. Kementerian Keuangan mencatat realisasi belanja negara kuartal II-2025 hanya Rp 785,7 triliun, turun tipis 0,05% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal pada kuartal II-2024, belanja negara tumbuh cukup signifikan hingga 6,7%.

Kondisi ini dikhawatirkan bisa menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal II-2025. Dengan konsumsi rumah tangga yang juga melambat dan ekspor belum pulih sepenuhnya, perlambatan di sektor investasi dan belanja negara membuat tantangan pemulihan ekonomi makin berat. Pemerintah kini didorong untuk mempercepat pencairan anggaran, menyederhanakan izin investasi, dan memperkuat koordinasi antar lembaga.

PMI Manufaktur Indonesia Terus Kontraksi Selama Kuartal II-2025, Ekonomi Nasional Tertekan

Grafik tren PMI Manufaktur Indonesia April hingga Juli 2025 menunjukkan penurunan berturut-turut ke bawah level 50
Grafik tren PMI Manufaktur Indonesia April hingga Juli 2025 menunjukkan penurunan berturut-turut ke bawah level 50. (Gambar ilustrasi)

Jakarta – Aktivitas manufaktur Indonesia terus menunjukkan pelemahan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di zona kontraksi selama empat bulan berturut-turut, yakni April hingga Juli 2025. 

Sepanjang kuartal II-2025, angka PMI tidak pernah menembus level 50, menandakan aktivitas manufaktur nasional mengalami penurunan akibat lesunya permintaan baru dari konsumen.

PMI pada April tercatat 46,7, naik tipis menjadi 47,4 pada Mei, namun kembali turun ke 46,9 di Juni. 

Kondisi ini menegaskan bahwa sektor manufaktur belum pulih sepenuhnya dari tekanan permintaan yang lemah. 

Turunnya pesanan baru menjadi indikator utama penyebab kontraksi ini, yang juga mencerminkan perlambatan konsumsi masyarakat secara umum.

“Sektor manufaktur memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Kontraksi yang berlarut-larut tentu berpengaruh terhadap kinerja PDB,” ujar Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede. 

Menurutnya, dampak ini bisa menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan pemerintah pada 2025.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat sektor industri pengolahan sebagai kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. 

Jika sektor ini melemah, otomatis akan menekan output nasional sekaligus berimbas pada pendapatan tenaga kerja. 

Imbas lanjutan adalah menurunnya daya beli dan konsumsi rumah tangga komponen terbesar dalam struktur PDB Indonesia.

Pemerintah diharapkan segera mendorong stimulus fiskal dan memperkuat permintaan domestik untuk memulihkan sektor manufaktur. 

Jika tidak, risiko pelemahan ekonomi bisa berlanjut hingga kuartal III. Seiring berjalannya waktu, pelaku usaha juga berharap ada peningkatan permintaan menjelang akhir tahun agar tren PMI bisa kembali ke zona ekspansi.

Konsumsi Masih Lemah, Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II-2025 Tertahan

Grafik pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia kuartal II-2025
Grafik pertumbuhan konsumsi rumah tangga Indonesia kuartal II-2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 kembali dibayangi tekanan akibat melambatnya konsumsi rumah tangga, yang selama ini menyumbang sekitar 53-56% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. 

Data sementara menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat masih belum pulih sepenuhnya, berdampak langsung terhadap laju ekonomi nasional yang belum bisa menembus angka pertumbuhan di atas 5%.

Sejumlah indikator menunjukkan lesunya daya beli masyarakat. Pertama, tren pertumbuhan kredit konsumsi tercatat mengalami perlambatan dalam beberapa bulan terakhir. 

Kedua, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang dirilis Bank Indonesia masih stagnan di level rendah, menandakan kehati-hatian masyarakat dalam membelanjakan uangnya. 

Tak hanya itu, aktivitas manufaktur dalam negeri juga mengalami kontraksi, ditandai oleh Purchasing Managers' Index (PMI) yang turun di bawah ambang batas ekspansi. 

Penjualan kendaraan bermotor pun dilaporkan menurun, memperkuat sinyal bahwa konsumsi belum sepenuhnya pulih.

"Lesunya konsumsi masyarakat masih menjadi tantangan utama pemulihan ekonomi domestik. Kinerja sektor-sektor yang mengandalkan permintaan lokal pun ikut terdampak," ujar Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (4/8/2025). 

Ia menambahkan bahwa kepercayaan konsumen yang belum membaik juga bisa dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap kondisi global dan inflasi dalam negeri.

Pemerintah pun disebut terus memantau situasi ini, terutama menjelang rilis resmi data pertumbuhan ekonomi dari Badan Pusat Statistik (BPS). 

Jika konsumsi tidak membaik dalam kuartal berikutnya, target pertumbuhan ekonomi tahun 2025 yang dipatok 5,2% bisa terancam meleset. 

Dalam jangka pendek, pelaku usaha pun diminta menyesuaikan strategi agar tetap bertahan di tengah tekanan permintaan domestik yang melemah.

Ekonomi RI Diprediksi Melemah, Sri Mulyani Tetap Optimis Tumbuh 5 Persen

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat memberikan paparan pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2025. (Gambar ilustrasi)

JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2025 diperkirakan melambat. Konsensus yang dihimpun CNBC Indonesia memperkirakan angka pertumbuhan hanya akan mencapai 4,78% (yoy), lebih rendah dibandingkan proyeksi pemerintah yang optimis bisa mendekati 5%. 

Proyeksi ini diumumkan saat Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memaparkan hasil Rapat KSSK Triwulan II pada Senin (28/7/2025) di Jakarta.

Sri Mulyani yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyampaikan bahwa meski ada tekanan dari sisi global dan konsumsi yang melambat, ekonomi Indonesia masih bertahan berkat dorongan konsumsi rumah tangga, daya beli masyarakat, serta ketahanan dunia usaha. 

Menurutnya, APBN tetap memainkan peran penting sebagai penyangga melalui kebijakan countercyclical yang digulirkan sejak awal tahun.

“Dorongan program-program strategis pemerintah yang mulai berjalan juga dukungan sektor-sektor prioritas memberikan kontribusi terhadap bertahannya pertumbuhan ekonomi,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers usai rapat KSSK.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemerintah akan terus memperkuat peran swasta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. 

Salah satu caranya adalah dengan mempercepat proses deregulasi serta mendorong pemanfaatan Dana Nasional Terpadu (Danantara) secara optimal. 

“Strategi yang kami lakukan bertujuan untuk menciptakan efek ganda (multiplier effect) agar pertumbuhan ekonomi tahun ini tetap berada di kisaran 5%,” tegasnya.

Jika realisasi pertumbuhan hanya menyentuh angka 4,78%, maka kondisi ekonomi saat ini menjadi yang paling lemah sejak kuartal III-2021, masa di mana Indonesia terdampak parah oleh gelombang Delta COVID-19. 

Hal ini menunjukkan bahwa perlambatan ekonomi saat ini tidak bisa dianggap enteng dan memerlukan sinergi lebih erat antara sektor publik dan swasta.

Sumber: CNBC Indonesia