Orang Tua, Begini Cara Efektif Batasi Anak SMA Pakai Ponsel Tanpa Ribet!
![]() |
| Orang Tua, Begini Cara Efektif Batasi Anak SMA Pakai Ponsel Tanpa Ribet! |
Jakarta – Banyak orang tua sering khawatir melihat anak SMA terlalu lama menatap layar ponsel. Tapi tahukah Anda, larangan keras justru jarang berhasil? Psikolog klinis lulusan Universitas Indonesia, Kasandra Putranto, punya tips ampuh agar orang tua bisa membatasi penggunaan ponsel anak remaja dengan cara yang lebih efektif dan bersahabat.
Menurut Kasandra, kunci sukses bukan melarang anak secara emosional atau memberi hukuman, tapi membuat pembatasan berbasis fungsi dan waktu. Dengan pendekatan ini, remaja tetap merasa dipercaya, tapi tetap diarahkan.
“Orang tua bisa menyepakati aturan penggunaan ponsel dari segi fungsi. Misalnya, ponsel boleh digunakan untuk mengerjakan tugas sekolah atau komunikasi sosial, tapi hanya di jam tertentu,” jelas Kasandra kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Selain itu, orang tua juga bisa menerapkan aturan berbasis waktu, seperti tidak menggunakan ponsel saat jam makan, jam belajar, atau sebelum tidur.
“Pendekatan ini terbukti lebih efektif dibanding larangan keras karena remaja merasa dipercaya sekaligus diarahkan,” tambahnya.
Kasandra menyarankan agar orang tua dan anak bersama-sama membuat kesepakatan soal batas waktu layar, misalnya maksimal 2–3 jam untuk hiburan digital setiap hari. Transparansi sangat penting; orang tua harus menjelaskan alasan aturan tersebut, bukan sekadar “pokoknya begitu”. Contohnya, jika jam belajar sudah ditetapkan, orang tua juga ikut disiplin, karena remaja mudah menangkap ketidakkonsistenan.
Meskipun anak SMA sudah lebih mandiri, pembatasan penggunaan ponsel tetap penting. Menurut Kasandra, pada usia ini otak remaja—terutama prefrontal cortex yang mengatur kontrol diri dan pengambilan keputusan—masih berkembang hingga usia awal 20-an. Akibatnya, mereka mudah terdistraksi dan rentan kecanduan digital.
“Pembatasan bukan berarti larangan total, melainkan kerangka aturan yang melatih regulasi diri. Orang tua berperan sebagai pemandu, bukan pengawas mutlak,” kata Kasandra.
Dengan strategi ini, anak tetap bisa menikmati ponsel untuk hal yang bermanfaat, sementara orang tua tetap punya kontrol tanpa harus menciptakan konflik. Jadi, daripada melarang total, lebih baik ajak anak berdiskusi dan buat kesepakatan yang jelas. Hasilnya, anak belajar mengatur diri, dan hubungan keluarga tetap harmonis.
Sumber: ANTARA/Fitra Ashari

